Saat kau terpuruk dan terjatuh
pakai pundakku dan kita lawan terpuruk itu
karena TUHAN TAHU KITA MAMPU, KITA MAMPU
saat beban penuhi pundakmu
genggam bahuku dan kita bagi bebanmu itu
karena TUHAN TAHU KITA MAMPU, KITA MAMPU
pakai pundakku dan kita lawan terpuruk itu
karena TUHAN TAHU KITA MAMPU, KITA MAMPU
saat beban penuhi pundakmu
genggam bahuku dan kita bagi bebanmu itu
karena TUHAN TAHU KITA MAMPU, KITA MAMPU
(Tuhan Tahu Kita Mampu by Ali Sastra ft. The Jenggot)
Hanya kepada Allah kita berpasrah,
memanjatkan segala lelah. Dengan begitu hati tetap terjaga, niat terus selalu
teringat bahwa segala apapun akan sirna kecuali hanya tertuju kepada Allah. Niat
urusan kita dengan Allah, sehingga sedikit saja hati memohon sebuah penilaian
kepada makhluk terhadap apa yang kita lakukan, kholas. Selesai.
Pernah merasa terpuruk? Dengan jalan
yang sudah kau pilih. Pernah merasa capek? Dengan beban pundak yang kau rasakan
berat. Pernah merasa ingin menghilang dengan apa yang harus dihadapi? Maka
ingatlah Allah, sebaik-baik penguat hati kita. Dia, sebaik-baik “pundak” untuk
meletakkan segala hati.
Jalan cinta ini memang akan terasa
nikmat ketika kita lelah. Ini aku sebut jalan cinta, bukanlah sembarang jalan.
Sebuah jalan yang tak hanya meminta sedikit pengorbanan, tapi pikiranmu,
fisikmu, waktumu, bahkan seluruh apa yang kamu miliki. Akan terkuras habis
selayaknya seorang pedagang yang dagangannya habis dibeli pembeli.
Di jalan ini, akan kita temui saat-saat
kondisi yang membuat kita bimbang. Antara kebutuhan pribadi atau kebutuhan
kolektif yang harus kita tunaikan. Akan ada saat ketika teman kita
berjalan-jalan, sedang kita harus menghadiri forum-forum diskusi untuk sebuah
langkah eksekusi. Ada saatnya pula, teman yang lain terlelap, kita masih harus
terjaga dengan aktifitas tanggungjawab pekerjaan lain. Disaat yang lain
layaknya berjalan normal untuk urusan-urusan akademis, kita harus berlari
sekencang mungkin untuk menyamakan ritme agar kita pun tetap tak tertinggal.
Pernahkah atau sudah merasakan?
Ada saatnya memang hati maupun fisik
bisa lelah. Ia membutuhkan energi untuk tetap semangat. Mungkin, dengan menjadi anak kecil yang
selalu tersenyum dengan bahagia. Berlari sekencang mungkin dipelataran rerumput
hijau mengejar kupu-kupu. Bermain ayunan, merasakan betapa banyaknya nikmat
yang Allah kepada kita.
Maka, yang perlu dilakukan ketika kita
lelah dan merasa tak mampu, hanya butuh merenung. Mengingat segala apa yang
Allah beri, mensyukuri setiap ketetapan apa yang ditetapkan kepada kita.
Meningkatkan kualitas hubungan kita kepada Allah. Boleh jadi, hati lelah karena
ia begitu jauh dengan Sang Pemilik hati. Mengingat sebuah mimpi-mimpi mulia
yang hanya dapat didapatkan dengan kerja ikhlas, cerdas, dan kerja keras. Lelah
itu nikmat ketika kita merasakan dengan sepenuh jiwa, hanya dengan lelah kita
dapat merasakan, “Oh begini jalan sebuah cinta.” Cinta perjuangan dan kedudukan
kemuliaan di hadapan-Nya.
“Jangan bersedih,
niscahya Allah mudahkan segala
urusanmu karena engkau memudahkan urusan-Nya”
Tugas kita berdoa, berikhtiar terbaik dan terakhir menyerahkan segala
hasil urusan kepada-Nya
assalamualaikum kakaa :)
BalasHapusfollow blog pipit yah kak