Sabtu, 25 Januari 2014

Pemimpin dan Calon Pemimpin Masa Depan Indonesia


Menjadi pemimpin itu bukan soal kecerdasan, kharisma, komunikasi, tampilan, dan segala macam atribut yang biasa dilekatkan pada figur pemimpin. Disebut pemimpin atau tidak ini adalah soal ada atau tidaknya yang mengikuti. Hadirnya pengakuan dan kepengikutan itu yang mengubah seseorang jadi pemimpin. Menjadi pemimpin adalah soal pengakuan dari yang dipimpin, sebuah rumusan sederhana yang sering terlupakan.


1. Seseorang diakui sebagai pemimpin bila kepadanya diberikan kepercayaan. Pemimpin adalah orang yang diikuti kata-kata dan perbuatannya.
Dia diikuti karena dipercaya. Kepercayaan adalah pilar utama pemimpin. Kepercayaan adalah kombinasi dari kompetensi, integritas, dan kedekatan. Ketiga faktor itu meningkatkan tingkat kepercayaan. Tapi ada sebuah faktor yang mampu memelorotkan kepercayaan memimpin yaitu self-interest dan dalam menyamakan self-interestnya-nya dengan kepentingan kolektif bisa membuat pemimpin mengalami erosi kepercayaan. Pemimpin terpercaya bisa selalu menomorsatukan kepentingan kolektifnya. Kecintaannya pada kepentingan kolektif itu memberikan efek yang besar. Kini dan kelak bangsa ini selalu membutuhkan pemimpin yang mencintai bangsanya melebihi cintanya pada dirinya. Kehadiran pemimpin seperti itu bisa luar biasa dahsyat dalam menggerakkan seluruh bangsa untuk meraih cita-cita kolektif.


2. Pemimpin dan pemimpi bedanya di huruf N. N-nya adalah Nyali.
Pemimpin pada dasarnya adalah pemimpi. Pemimpi yang mimpi-mimpinya dipercaya dan diikuti. Pemimpi yang mampu mengonversi mimpi jadi realita bisa disebut sebagai pemimpin. Wajar jika pemimpin menitipkan mimpinya pada imaginasi, dan membiarkan imaginasinya itu terbang amat tinggi lalu ia bekerja amat cerdas dan keras menggerakkan seluruh daya yang tersedia untuk meraih dan melampaui mimpinya. Disinilah sebuah huruf N sebenarnya itu mewakili komponen amat kompleks menyangkut kemampuan meraih mimpi dan melampaui mimpi.


3. Pemimpin selalu disorot.
Pemimpin adalah manusia yang harus selalu menyadari kemanusiaannya dan sempurna bukanlah atribut yang manusiawi. Karena itu pemimpin harus selalu sadar bahwa ia berada dalam sorotan di saat ia jauh dari kesempurnaan. Efeknya simpel, pemimpin itu jadi kotak pos untuk pujian dan kritikan. Maka itu jika tidak ingin dikritik maka jangan sesekali mau jadi pemimpin. Pemimpin yang matang itu menjalani perannya dengan menempatkan cita-cita bersama sebagai rujukan. Karena itu ia matang dan mantap menjalaninya. Bisa dikatakan bahwa pemimpin yang tulus pada cita-cita kolektifnya itu takkan terbang bila dipuji dan takkan tumbang bila dicaci.


4. Pemimpin yang kita ingin lihat adalah yang tidak mengejar penghormatan, tapi ia menjaga kehormatan.

Penghormatan itu memang bisa dipanggungkan dan bisa dibeli karenanya mudah didapat. Sementara kehormatan itu tidak untuk diperjualbelikan. Pemimpin yang gagasan dan langkahnya terhormat, dengan sendirinya akan dapat kehormatan. Mencari rujukan tentang pemimpin itu sesungguhnya mudah. Ada terlalu banyak contoh pemimpin di sekitar kita. Di republik ini masih amat banyak pemimpin yang solid, yang keteladanannya jadi rujukan, yang gagasannya diikuti, yang langkahnya menginspirasi. Masalahnya adalah banyak dari mereka justru tidak berada di panggung penting republik ini. Di panggung-panggung penting justru sering ditemui orang-orang berkuasa tanpa kepemimpinan. Di sisi lain, banyak pemimpin yang kepemimpinannya solid tapi tanpa kuasa dan otoritas.


Jika kita menengok pada sejarah negeri besar ini maka kita temui catatan gemilang sebuah generasi. Republik ini didirikan oleh orang-orang yang berintegritas. Integritas itu membuat mereka jadi pemberani dan tak gentar hadapi apa pun. Integritas dan keseharian yang apa adanya membuat mereka memesona. Orang-orang yang sudah selesai dengan dirinya. Mereka jadi cerita teladan di seantero negeri.


5. Hari ini, republik membutuhkan pemimpin yang berani tegakkan integritas. 
Berani perangi “jual-beli” kebijakan dan jabatan, dan pemimpin yang mau bertindak tegas kepentingan rakyat “dijarah” oleh mereka yang punya akses. Republik ini butuh pemimpin yang bernyali dan menggerakkan dalam menebas penyeleweng tanpa pandang posisi atau partai. Bukan pemimpin yang serba mendiamkan seakan tidak pernah terjadi apa-apa. Pemimpin yang bisa jadi bersahabat tampilannya, sopan dan simpel tuturnya, tapi amat besar nyalinya, dan amat tegas sikapnya. Tidak selalu nyaring, tapi selalu bernyali karena nyali itu memang beda dengan nyaring.

Republik ini perlu pemimpin yang bisa mengajak semua untuk mendorong yang macet, membongkar yang buntu, dan memangkas berbenalu. Pemimpin yang tanggap memutuskan, cepat bertindak, dan tidak toleran pada keterlambatan. Pemimpin yang siap untuk “lecet-lecet” melawan status quo yang merugikan rakyat, berani bertarung untuk melunasi tiap janjinya. Republik ini perlu pemimpin yang memesona bukan saja saat dilihat dari jauh, tetapi pemimpin yang justru lebih memesona dari dekat dan saat kerja bersama.

Bukan pemimpin yang selalu enggan memutuskan dan suka melimpahkan kesalahan. Bukan pemimpin yang diam saat rakyat didera, lembek saat republik dihardik. Pemimpin yang tak gentar dikatakan mengintervensi karena mengintervensi adalah bagian dari tugas pemimpin dan pembiaran tidak boleh masuk dalam daftar tugas seorang pemimpin. Kelugasan, ketegasan, keberanian, kecepatan, keterbukaan, kewajaran, kemauan buat terobosan, dan perlindungan kepada anak buah bahkan kesederhanaan dalam keseharian itu semua bisa menular. Tapi kebimbangan, kehati-hatian berlebih, kelambatan, ketertutupan, formalitas, kekakuan, pembicaraan masalah, orientasi kepada citra dan ketaatan buta pada prosedur itu juga menular. Menular jauh lebih cepat dan sangat sistemik.


6. Pemimpin bisa menentukan suasana.

Pemimpin adalah dirigen yang menghadirkan energi, nuansa, dan aurora dalam sebuah orkestra. Setiap pemain memiliki peran, dan tanpa dirigen-pun instrument musik bisa dijalankan tapi orkestra itu tidak ada jiwa-nya. Pemimpin hadir membawa suasana. Memberikan arah dan greget. Pemimpin membawa misi dan menularkannya pada semua. Pemimpin meraup aspirasi dan energi dari semua yang dipimpinnya, lalu mengkonversinya menjadi cita-cita kolektif dan energi besar untuk semua bekerja bersama meraihnya. Memang pemimpin bukan dewa atau superman. Tidak pantas semua masalah dititipkan, ditumpahkan ke pundak pemimpin.


7. Kita amat membutuhkan pemimpin yang berorientasi pada gerakan.
Pemimpin menjadikan semua merasa ikut memiliki tanggung jawab, merasa ikut memiliki masalah. Pendekatannya movement bukan programmatic sehingga semua merasa terpanggil untuk terlibat. Pemimpin yang bisa membuat semua merasa perlu berhenti lipat tangan, lalu terpanggil untuk gandeng tangan dan turun tangan. Pemimpin yang menggerakkan. Akhir-akhir ini kita sering menyaksikan pemimpin hadir untuk “menyelesaikan” tantangan dan masalah. Menyelesaikan tantangan dan masalah itu baik-baik saja. Tetapi sesungguhnya yang diperlukan justru bukan itu. Kita memerlukan pemimpin yang kehadirannya bukan sekadar hadir untuk “menyelesaikan” masalah dan tantangan tapi kehadirannya untuk “mengajak semua pihak turun-tangan” menyelesaikan masalah dan tantangan.

8. Kita memerlukan pemimpin yang menginspirasi, membukakan perspektif baru, menyodorkan kesadaran baru dan menyalakan harapan jadi lebih terang.

Pemimpin yang membuat semua terpanggil untuk turun tangan, untuk bekerja bersama meraih cita-cita bersama. Pemimpin yang kata-kata dan perbuatannya menjadi pesan solid yang dijalankan secara kolosal. Kita memerlukan pemimpin yang menggerakkan!


Untuk ISMKMI, Untuk Indonesia
Untuk Kesehatan Indonesia, Mahasiswa Indonesia !!!
Aku Mencintai Kalian^^

(Bukan kampanye, Murni AMBILAH ilmu definisi pemimpin)
http://aniesbaswedan.com/tulisan/Pemimpin-dan-Calon-Pemimpin-Masa-Depan-Indonesia

Sabtu, 16 November 2013

Tsummastaqim


Sudah lama sekali blog ini tidak terisi. Ah, jadi teringat definisi istiqomah yang disampaikan oleh seorang guru. Istiqomah itu urusannya hati. Qulamantu billahi, tsummastaqim. Sebuah hadist pendek yang dibincangkan di forum selasa sore itu membuat hati dan lisan merenung. Ya, katakanlah, aku beriman kepada Allah, lalu istiqomahlah

Semangat itupun kadang naik turun. Ya, aku pun merasakannya. Naik, hingga produktifitas menulis bisa bersambung. Turun, sampai-sampai mengintip blogpun tidak. Jadi malu dengan janji-janji itu. Menghibahkan diri dalam urusan kebaikan dengan sarana pena.

Entah. Mungkin hanya lupa dengan “ambisi” kala itu. Ambisi yang memancarkan pengaruh kuat untuk bergerak. Meringankan tiap kerja-kerja nyata untuk cita-cita itu. Ya, mungkin lupa…

Baiklah,

Dunia jurnalisme, aku lebih suka menyebutnya dengan kosa kata itu, mengenalnya semenjak empat tahunan yang lalu. Tertular secara langsung dari sebuah lingkungan yang sampai saat ini pun berkontribusi penuh membentuk apa yang ada dihati, dan pikiranku.

Dunia jurnalisme, ya, aku nyaman saja dengan dunia itu. Nyaman untuk membentuk diri, dengan terus menerus belajar. Dunia itulah yang memperkenalkanku pada sebuah bahasa. Memperkenalkanku dengan sebuah misi nilai. Hingga pernah berikrar diri, bahwa bahasa itulah yang akan membuatku hidup. Hidup untuk bahasa, dan bahasa yang akan “menghidupkanku.”
\
Sederhana. Aku. Ya aku. Seorang wanita dengan sederhananya alasan memilih jalan ini. Bisa dibilang egois, karena suatu kelak memiliki jawaban ketika hari pertanggungjawaban itu datang. Ketika ditanya apa bukti kamu benar-benar mencintai Dia. Ah, mencintai Dia? Benarkah?

Terlalu menghakimi nampaknya tidak baik. Karena apapun alasan kita berpayah-payah pada suatu pekerjaan, itu yang akan didapat. Aku masih selalu mengingat kalimat itu. Karena semenjak itu pula, apapun taqdir Allah kelak tentang sebuah pekerjaan ataupun taqdir-taqdir lain, menulis adalah sarana diri untuk minimal memperbaiki diri dan kemudian untuk orang lain. Memperbaiki bahasa hati, bahasa lisan dan bahasa pikiran. Begini redaksinya, “Jika ingin mengubah dunia, maka ubahlah bacaan mereka.”

Berawal dari niat sederhana itulah, sampai sekarang masih bertahan untuk membentuk diri, di NAH. Dan berawal dari niat sederhana tapi butuh kerja nyata dan besar itupun, tersambung dengan Ikatan Senat Mahasiswa Kesehatan Masyarakat Indonesia. Owh Allah, mencintaimu tak sekedar di hati dan lisan saja, namun ia menuntut sebuah perjuangan dan pengorbanan. Apapun itu. Mampukanku untuk selalu mencintai-Mu dalam kondisi apapun …

                                                                                    Memeluk rindu pada aku yang selalu bergairah
Di rumah tercinta
gambar : motemotemama.blogspot.com
@annafiahfirdaus


Minggu, 20 Oktober 2013

Berbagi Kebaikan*

Berbagi (ilustrasi)

antara

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh; Fariq Gasim Anuz
Imam Dzahabi dalam kitab Siyar A'lam an-Nubala (8/114) menyebutkan, al-Hafidz Ibnu Abdil Barr berkata dalam buku At-Tamhid, “Aku tuliskan ini dari hafalanku, karena buku aslinya tidak ada padaku.”

Abdullah al-Umari al-Abid menulis surat kepada Imam Malik menasihati beliau untuk banyak menyendiri dengan  berzikir dan beribadah sunah. 

Imam Malik menulis jawaban kepadanya, “Sesungguhnya Allah membagi amalan sebagaimana membagi rezeki. Boleh jadi Allah mudahkan dan memberikan taufik-Nya kepada seseorang untuk banyak melakukan shalat sunah, tapi tidak dalam puasa sunah.

Orang lain lagi, Allah memudahkan kepadanya untuk banyak bersedekah, ada lagi yang Allah mudahkan dan beri kelebihan kepada seseorang dalam berjihad. Menyebarluaskan ilmu juga merupakan amal kebaikan yang sangat utama. Saya ridha dengan taufik-Nya yang telah memudahkan untukku dalam menyebarkan ilmu syar'i. Saya kira amalan yang kulakukan ini tidak lebih rendah dari amalanmu. Saya berharap kita semuanya dalam kebaikan.”

Ada beberapa pelajaran dan hikmah dari kisah di atas. Pertama, kehati-hatian ulama dalam menukil atau menceritakan ucapan seseorang. 

Imam Ibnu Abdil Barr mengatakan, redaksi cerita ini dari hafalannya, bukan redaksi Imam Malik. Hendaknya kita berupaya membawakan hadis Nabi SAW yang sahih agar tidak terjerumus berdusta atas nama beliau.

Pesan kepada para wartawan dan jurnalis, baik di media cetak maupun elektronik, hendaknya lebih berhati-hati dalam memberikan informasi kepada masyarakat. Jangan sampai berbohong kepada publik. 

Hendaknya kita lebih selektif dalam memilih, memuat, dan menyebarkan berita. Agar informasi yang disampaikan berupa informasi yang membangun, menyejukkan, memperbaiki, dan menyatukan.

Kedua, pentingnya saling menasihati sesama Muslim. Jika kita mengetahui kekurangan dan aib pada saudara kita, janganlah kita menyebarkan aibnya. Ingatkanlah dia. 

Jika sulit untuk berjumpa, kirimlah surat dengan ungkapan yang baik. Agar orang yang dinasihati tidak tersinggung, bahkan malah menyadari dan segera memperbaiki kesalahannya.

Ketiga, bagi yang dinasihati, jika isi nasihat tidak tepat atau bahkan salah alamat, janganlah marah atau tersinggung. Bergembiralah dengan kritikan saudara kita, karena nasihat merupakan bentuk perhatian dan rasa sayang kepada sesama saudara. 

Keempat, jawablah nasihat yang kurang tepat dengan jawaban yang sopan. Berilah permisalan dan bantahlah dengan tegas tapi tetap menjaga keadilan dan penuh rasa kasih sayang.

Kelima, Allah memberikan potensi dan kelebihan yang beragam kepada hamba-hamba-Nya. Janganlah saling merendahkan, janganlah saling menyombongkan diri.
Hendaklah umat Islam saling bersinergi, bekerja sama dalam kebaikan dan takwa, serta saling menguatkan satu sama lain. 

Allah berfirman, “Taatilah Allah dan Rasul-Nya dan janganlah kalian berselisih, yang menyebabkan kalian menjadi gentar dan kekuatan kalian hilang dan bersabarlah. Sungguh, Allah bersama orang-orang yang sabar.” (QS al-Anfal: 46).

Rasululullah SAW bersabda, “Mukmin yang kuat itu lebih baik dan lebih dicintai Allah dari mukmin yang lemah, dan pada keduanya terdapat kebaikan.” (HR Muslim). “Seorang mukmin bagi mukmin lainnya bagai sebuah bangunan yang saling menguatkan satu sama lainnya.” (HR Bukhari dan Muslim).
Redaktur : Damanhuri Zuhri

*Diambil di web republika.co.id

Ingin sekali menjadi jurnalis. Seorang wanita yang selalu istiqomah berbagi kebaikan, wanita cerdas dan mencerdaskan, menjadi pendidik minimal (insyaallah) di keluarga kecil. Bismillah, semoga Engkau mudahkan Ya Rabb. Pernah bermimpi memiliki pendamping yang tak jauh dari profesi ini, tapi ketetapanMu adalah yang terbaik. Hanya satu pinta, apapun profesiku esok, jiwa jurnalis inilah yg akan melekat. Ia adalah salah satu jalan untuk lebih peka ... 

Minggu, 22 September 2013

Masihkah Bosan?

Kalau dalam kondisi seperti ini, jadi teringat sebuah petuah hati di sebuah majelis kala itu. Aku daftar jadi pendamping ospek kampus. Salah satu niatnya ingin melihat barisan baru untuk sebuah impian pekerjaan. Menjadi seorang kakak yang sejatinya masih sangat sedikit ilmu dan ingin belajar dari wajah penuh harap dari mereka.

Pekerjaan apapun itu akan berdampak disuatu saat nanti. Termasuk pendamping. Karena dengan dekat dengan mereka, kita sebagai seorang pendamping bisa mengarahkan tentang pilihan yang mereka ambil. Ah, aku merinding ketika menyebut nama ini : Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta. Sebuah profesi untuk mengabdikan diri menyerahkan seluruh hidup dan jiwa  untuk sebuah kesehatan. Tak perlu jauh dan meluas, minimal kesehatan jiwa kita dan lingkungan sekitar. Arahan itu, ya arahan itu yang saat inipun aku masih harus belajar untuk menancapkan diri dalam hati terdalam, karena konsekuensinya pun ternyata perlu kerja keras.

Pekan ini, entah menjadi pekan yang cukup menyita fisik dan pikiran. Pekan yang disetiap waktunya lumayan susah untuk bisa tidur siang ataupun sejenak ngobrol bersama adik dirumah. Atau sejenak saja ngobrol dengan orang rumah mengenai apa yang kulakukan dimana tiap paginya sudah harus berangkat, dan tak tanggung-tanggung, malam pun menjadi waktu destinasi untuk pulang.

Pekan yang akan kudapati sebuah rutinitas. Aku pingin mengingatnya. Kita mulai. Tiap pagi bakalan akan kudapati Ibuku yang bangun terlebih dahulu dariku. Aku malu. Sepertinya Ibuku tak pernah meninggalkan sebuah ruang dapur untuk menyiapkan keperluan orang rumah. Ya, tiap pagi seperti itu. Orang pertama dalam penglihatan sebuah rutinintas adalah Ibu. Dalam hati, tanya yang menggelitik : wajah ibuku sepertinya tidak pernah menunjukkan kebosanan …

Pagi, bersama matahari yang ia seakan berjalan dalam kuasa-Nya aku pun pergi meninggalkan sebuah Dusun Triwidadi. Dari titik depan rumah menuju titik sedayu sebagai persimpangan pertama untuk ditarik garis lurus ke Balai Kota Yogyakarta. Disitulah tanah edaran ditiap pagi : menuju sebuah salah satu kampus Muhammadiyah : UAD

Dalam perjalanan sebuah “rutinitas” pun aku lihat. Aku ingin menuliskannya dalam satu pekerjaan yang sama. Pekerjaan yang berhubungan dengan Koran. Pertama, seorang pemuda yang tiap harinya berlarian ditengah mobil dan motor untuk menjualkan Koran. Aku selalu lihat wajah tu pemuda. Tampak memerah wajahnya, sehat, dan menggeliat dengan cepat berlarian memakai jaket merahnya. Ah, pekerjaannya begitu mulia pemuda itu. Menghantarkan bacaan untuk mereka yang ingin paham dengan informasi yang mereka butuhkan.

Diperempatan berikutnya. Ah, tak tanggung-tanggung lagi. Disebuah perempatan dekat dengan sebuah SMA Muhammadiyah dimana tempat “ambisi” seorang aku untuk adikku. Aku yang ingin adikku menjdi seorang aktivis seperti definisiku. Maafkan aku adik. Disitu, Aku lihat seorang Ibu-ibu yang tiap harinya juga menjual Koran. Kupandangi wajah Ibu itu, begitu keras kah hidup ini? Seorang Ibu bersama anak kecil yang selalu ia gendong dengan selendang menghantarkan pula Koran-koran untuk para pengendara motor dan mobil. Wajah ibu itu nampaknya juga tak bosan. Sungguh mulia pekerjaan ibu itu. Pertanyaannya yang menggelitik : suaminya kemana ya? Ibu itu harus juga bekerja kah sedang pekerjaan utamanya sebenarnya membawa anak yang ia gendong bukan di tempat itu? Entah …

Perempatan berikutnya, aku juga menemukan seorang laki-laki. Kisaran 30an tahun. Dengan topi warna merah yang selalu aku lihat, ia berjalan dipinggiran trotoar dekat pemberhentian mobil dan motor disaat lampu merah. Memamerkan beberapa Koran untuk dijualkan. Suatu waktu ketika waktu Subuh Aku terjang juga dalam sebuah pemenuhan amanah, kulihat dalam kondisi petang ternyata laki laki itu sudah bersiap diri. Dalam hati ku bertanya menelisik, bukankah pagi memang waktu yang dalam hadist untuk menjemput rizki-Nya.
Dalam perempatan berikutnya, kini kudapati seorang laki-laki tua yang sepertinya sudah lanjut usia. Walau hanya dengan 2 merek Koran, ia dengan begitu tenangnya berdiri disamping kanan garis pembatas jalan. Akan bergerak ataupun berjalan ketika ada pembeli memanggilnya. Ah lagi-lagi kutemui seseorang melakukan pekerjaan mulia itu. Kala itu aku ingin melihat senyumnya seorang laki laki itu. Lalu aku panggil dan membeli salah satu Koran itu. Tapi sayang kenapa beliau tak senyum, kudapati aku sadar ternyata aku yang senyum melihat laki-laki itu.

Mereka tak terlihat bosan …

Seperti hal nya sebuah mesin motor, tak jauh-jauh motorku saja. Motor kalau tidak di service ya suatu saat dititik waktu tertentu juga akan bosan. Tak tanggung-tanggung ia akan mogok atau apalah yang menandakan bahwa motor ingin di service. Motor ingin meminta haknya untuk rehat sejenak. Mengisi ruang-ruang kosong dengan pelumasan oli atau cairan lain yang ia butuhkan untuk kuat dan siap digunakan kemana saja.
Nah bagaimana dengan hati kita? Pernah dalam titik jenuh kebosanan dalam sebuah rutinitas? Kalau motor saja iya, tentu hati lebih sangat membutuhkan sebuah maintenance atau pemeliharaan agar ia senantiasa tetap kuat dan mampu menguatkan orang lain lewat tindakan yang berasal dari hati.
Maka kisah berikut bisa menjadi hikmah. Seorang rekan seperjuangan dalam pena berkisah dalam forum pendamping itu : * 

“Bapak tidak bosan kah tiap hari bekerja membukakan pintu untuk masuk keruang ini?”
Lalu Bapak itu menjawab,” Saya akan sangat dibutuhkan ketika bencana itu datang. Saya akan membukakan pintu untuk orang-orang dalam situasi genting, dimana ada seorang ibu dengan keluarga dirumah, bapak sebagai seorang kepala keluarga yang menghidupi keluarganya, seorang pemuda yang dengan impiannya akan menyelamatkan hajat orang banyak. Kalau saya menyelamatkan mereka, maka saya pun ikut andil dalam menyelamatkan hajat orang banyak pula.”

Nah, kisah itu selalu nyess dihati. Bahwa ketika kita mulai bosan dengan sebuah rutinitas, mengingat akan tujuan jangka panjang kita adalah salah satu terapinya. Sekecil apapun, seremeh apapun, sesusah apapun pekerjaan yang jadi rutinitas saat ini benar-benar akan bernilai kebaikan dan berdampak besar untuk minimal diri kita dan maksimal untuk alam ini. Dengan satu pintu gerbang : niat benar dan ikhtiar terbaik kita. Tak perlu terlalu menyiksa diri, lakukan sesuai kemampuan, karena kewajiban kita hanyalah berusaha dan masalah hasil adalah urusan Allah.

*redaksi dirubah sesuai rasa ^_^ 
gambar : gampangnyasukses.wordpress.com
@annafiahfirdaus







Senin, 16 September 2013

Keep Hamasah

Benar yang dikatakan oleh seorang Uztadz, bahwa akar dari tiap masalah kitapun kurangnya ilmu kita. Kita yang sibuk dengan "gerak" terus tanpa di barengin dengan proses "belajar" yang sungguh-sungguh. Proses belajar adalah proses yang senantiasa mendekatkan hati kita dengan-Nya lewat ilmu, membersihkan diri dengan siraman ilmu bahwasanya kita ini diciptakan untuk beribadah kepada-Nya serta melaksanakan segala urusan tentunya dengan sebuah ilmu.

Ilmu mendahului amal dan iman pun mendahului amal dan ilmu. Sungguh hidup ini hanya sekali. Sungguh sia-sia kalau sampai sekarang kita tidak semakin dewasa dengan bertambahnya kualitas ilmu dan iman kita

Demi Rabb yang menguasai tiap ketetapan kami, bimbinglah kami dan kuatkan kami agar tetap mampu berjalan dalam jalan yang Engkau Ridhai. Cintailah kami serta orang- orang yang amat kami cintai karena Engkau.

Mudahkan segala urusan kami, mengokohkan perjuangan ini, serta menguatkan agamaMu tegak di manapun itu. Surga menanti :)
Kisah tentang Betapa Alloh sangat gembira dan amat senang kepada hambanya yang bertobat,

dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu:

لَلَّهُ أَشَدُّ فَرَحًا بِتَوْبَةِ عَبْدِهِ حِينَ يَتُوبُ إِلَيْهِ مِنْ أَحَدِكُمْ كَانَ عَلَى رَاحِلَتِهِ بِأَرْضِ فَلَاةٍ فَانْفَلَتَتْ مِنْهُ وَعَلَيْهَا طَعَامُهُ وَشَرَابُهُ فَأَيِسَ مِنْهَا فَأَتَى شَجَرَةً فَاضْطَجَعَ فِي ظِلِّهَا قَدْ أَيِسَ مِنْ رَاحِلَتِهِ فَبَيْنَا هُوَ كَذَلِكَ إِذَا هُوَ بِهَا قَائِمَةً عِنْدَهُ فَأَخَذَ بِخِطَامِهَا ثُمَّ قَالَ مِنْ شِدَّةِ الْفَرَحِ: اللَّهُمَّ أَنْتَ عَبْدِي وَأَنَا رَبُّكَ. أَخْطَأَ مِنْ شِدَّةِ الْفَرَحِ

“Benar-benar Allah sangat gembira dengan taubat hamba-Nya ketika dia bertaubat kepada-Nya, daripada salah seorang kamu yang berada di atas kendaraannya di sebuah tanah padang yang sunyi, lalu kendaraan itu lepas (lari) meninggalkannya, padahal di atasnya ada makanan dan minumannya. Akhirnya dia putus asa mendapatkannya kembali. Maka dia pun mendatangi sebatang pohon lalu berbaring di bawah naungannya, dalam keadaan putus asa dari kendaraannya. Ketika dia dalam keadaan demikian, ternyata tiba-tiba kendaraan itu berdiri di dekatnya. Lalu dia pun menggenggam tali kekangnya dan berkata saking gembiranya: ‘Ya Allah, Engkau hambaku dan aku Rabbmu.’ Dia salah ucap karena saking gembiranya.”
(HR Muslim)

Jumat, 26 Juli 2013

PERCAKAPAN 2N


Nurani : kamu tau gak artinya munafik?
Nafsu : Tau sih. Kenapa emang?
Nurani : Enggak papa, syukur kalau tau.
Nafsu : Kenapa emang? Kok tiba-tiba Tanya gitu? (geram si nafsu)
Nurani : Enggak papa ni? Nanti kamu marah lagi. Pekerjaan lho kan setengah marah setengah kalem. Tapi kayaknya kamu lagi ter terlihat lagi marah
Nafsu : Iye,
Nurani : Kamu galau ya?
Nafsu : Apa an sih kok nanya kek gitu. Aku selalu mengatakan ketemen-temen dan adik-adikku kalau gak boleh galau.
Nurani : Seek, definisi galau yang mana ni yang kamu maksud?
Nafsu : Galau yang itu tu, galau ama cinta cengeng.
Nurani : maksudnya?
Nafsu : Kamu tu berbelit-belit tanyanya padahal kamu kan tau tentang aku segalanya
Nurani : Iye, Cuma ngetes kok
Nafsu : Iye, galau yang ama lawan jenis. Gak boleh ya?
Nurani : Boleh gak ya ???
Nafsu : Ah, kelamaan jawabnya.
Nurani : Tanyakan kepada nurani
Nafsu : Lha ini lagi nanya, piye to?
Nurani : Sabar to, kamu tu nafsu, selalu tergesa-gesa kalau menjatuhkan.
Nafsu : Menjatuhkan apa?
Nurani : tadi katanya cinta cengeng. Gak punya prinsip. Ya, walaupun seingetku udah pernah nulis prinsip itu di buku rahasia kamu kan? Emang lupa?
Nafsu : Iye, ya maaf, sekarang aku menyesal. Tu nafsu jelek lagi semangat semangatnya. Sedangkan aku? nafsu baik sedang letoy ni
Nurani : Tu kamu nyadar. Kamu tu, tidur mulu, makan mulu, tu pekerjaan syetan. Kamu emang mau nemenin dia di neraka?
Nafsu : Dia sapa? Syetan? ya mana ada pingin yang jelek, maunya ya yang enak enak. Trus apalagi ni nasihat darimu Nur? Bener-bener parah ni, berantakan.
Nurani : Apanya yang berantakan?
Nafsu : semuanya!!! Gara-gara tu, cinta cinta apa tu, terlalu GR..hahaha
Nurani : Kamu tu, kalo mau ngapa-ngapain gak denger nasihatku dulu sih. Aku kan dekat dengan Allah
Nafsu : Iye, maaf lagi.
Nurani : Gimane udah banyakin ngaji kan? biar lebih deket dengan Allah. Bacaan mu gimana? Oia, sering dapet nasehat lagi gak ama pak ustadz?
Nafsu : Haha, Iye, sudah lebih tenang, apalagi seharian kalau pas senggang mantengin HP trus buka twiiter. Pak Ustadz, lagi gak berani ketemu beliau.
Nurani : Whats?
Nafsu : Santai ! aku bacanya situs berita. Perjuangan Palestina di Gaza, Mesir, sudah cukup menjadi alasan tak galau lagi.
Nurani : Hanya itu ?
Nafsu : mmmm, ada lagi ( sok mikir)
Nurani : Kamu tu, tentukan pilihan mu donk, trus inget konsekuensi nya.
Nafsu : Iye, mengingat adik-adik dan Masalah Kesehatan Indonesia sudah cukup menjadi ladang untuk beribadah dan membuat diri ini tak menjadi seonggok manusia tak bermanfaat
Nurani : Iye, inget ya, konsekuensinya kamu gak boleh cengeng. Tinggalkan juga tu yang galau galau. Kamu udah dipilih Allah untuk melakukan semua itu, dan inget, jangan sia-siakan dan nodai kepercayaan mereka. Ibu, bapak, adik-adik dan secara lebih luas Masyarakat. Iye kan?
Nafsu : Iye, bijak banget sih kamu kayak …. haha
Nurani : Hush kamu mulai lagi. Lupakan !!
Nafsu : Iye maaf, makanya aku selalu di ingetkan ya, kan kamu selalu mengarah dalam kebaikan
Nurani : Iye, apa kata dunia! Ntar casing mu terlihat kuat dalemnye,,,hadeee
Nafsu : Iye, aku udah paham lagi tentang Munafik tadi 
Nurani : Oiya, satu lagi, rasa itu fitrah, tapi tampakkan sesuai proporsinya. Kalau bisa hijrahkan kearah kebaikan, oke???
Nafsu : Maksud Loh ?
Nurani : kamu tu.. Cinta itu yang ku maksud adalah cinta dengan hati. Pake pertimbanganku. Ya, pake Nurani. Bukan kamu.
Nafsu : Kamu jahat banget sih !!!
Nurani : haha.. iye, kamu fitrahnya kadang selalu bisa baik dan benar, kalau aku itu lebih dekat dengan Allah sayang
nafsu : Iye, maaf aku telah mengambil pekerjaanmu
Nurani : Tak apa. Inget, kamu selalu denger pertimbanganku ya !!!
Nafsu : Iye
Nurani : Dan, sekali lagi , cinta yang benar menurut Ustadz Syatori pas KRPH tempo itu, Cinta dengan Nurani yang akan mendekatkan pemilik cinta dengan Sang Pemilik hatinya : Allah. Sebening Jiwa pengabdian kepada-Nya. Surga Naf balesannya. Dan Emang itu Layak diperjuangkan. Kau pun harus mengalah hehe
Nafsu : Makin jahat aja kamu. Terus pekerjaan ku apa donk !!
Nurani : ya tergantung kamu, kamu itu nafsu baik atau nafsu jelek hehehe
Nafsu : Iye, aku akan ngajak nafsu jelek tertunduk padaku dah hahaha
Nurani : Sip Dah
Nafsu : Yoi
Nurani : Jangan lupa, selalu dengerkan diriku, agar selalu dekat dengan pencipta kita.
Nafsu : Enjehhh
Nurani : Oiya, satu lagi 
Nafsu : Opo meneh. Banyak banget sih nasihatmu
Nurani : biar kamu nyadar, :P
Nafsu : Apa apa ?
Nurani : Cintai mereka dengan hati. Dan ketika ada masalah dengan hati, bukan dengan nafsu. Minta langsung Allah untuk membimbing. Seberapapun dan sedalam apapun kamu mencintai mereka, jika Allah berkehendak berbeda dengan keinginan kita, kamu dan aku harus terima itu. Itu yang terbaik buat hidupmu dan hidup mereka. Oke
Nafsu : Oyeee, makasih ya kamu Nur udah nasihatin aku 
Nurani : Same same

gambar : hauradwityaprameswari.blogspot.com

Kamis, 18 Juli 2013

Konsekuensi Pilihan


Apa jadinya jika konsekuensi-konsekuensi itu kita abaikan? Konsekuensi yang didalamnya memuat segala hal yang akan kita terima saat pilihan harus diputuskan. Iya atau tidak. Ambil atau serahkan. Dikerjakan atau biarkan. Semua pilihan ada konsekuensinya. Konsekuensi yang tentu melibatkan lahir maupun batin.

Ya, tiap pilihan ada konsekuensinya. Menjadi muslim pun ada konsekuensinya. Taat dan patuh kepada Allah: begitu redaksinya. Memilih memiliki sebuah impian besar, kata seorang senior, ya kerja-kerja besar yang harus dilakukan. Atau memilih untuk berada disuatu tempat yang ritmenya belum se-lineaar dengan ritme pribadi, maka konsekuensinya adalah mengendalikan ritme tersebut, dipercepat ataukah diperlambat. Atau kita sudah telanjur terjebak dalam kondisi yang tak pernah jadi rencana atau malah sudah direncanakan, namun kemampuan diri belum pantas, maka konsekuensinya adalah tidak boleh mengeluh dan harus segera belajar dengan keras tentang kemampuan itu.

Ya, konsekuensi itu selalu mengikuti setiap pilihan. Tapi terkadang, apakah kita sadar dengan “makhluk” itu. Sebuah makhluk yang jika kita tak menyadari keberadaannya, maka akan secara otomatis akan menciderai niat itu sendiri. Itupun kalau niat kita di awal sudah benar, bahkan besar. Astaghfirullah. Benar yang kita suguhkan hanya untuk mengabdikan diri kepada-Nya dengan “menjual” diri dengan apa yang kita punya demi kebaikan tertebar. Atau besar yang meniatkan pilihan ini benar adanya ada kemanfaatan yang akan dirasakan oleh minimal perubahan diri kita bahkan lingkungan sekitar. Ah, niat itu seakan mudah berbelok tanpa arah, maka mari berdoa agar Allah menjaga niat kita.

Konsekuensi. Konsekuensi. Dan Konsekuensi. Kredo yang lagi selalu terngiang-ngiang dan berterbangan.. Sebagai contoh : Konsekuensi lahir yakni menyediakan waktu untuk melahirkan kerja-kerja nyata itu penting bukan? Bukan waktu waktu sisa kita, bukan pula energy sisa kita. Kemudian memprioritaskan konsekuensi itu diatas konsekuensi pilihan yang lain itu kewajiban bukan. Namanya juga konsekuensi yang harus kita terima. Bahkan diwaktu sesibuk dan selelah apapun yang kadang jadi alibi kita untuk menunda kebaikan, konsekuensi itu pun sesungguhnya harus kita prioritaskan.

Yaaa, hanya perlu ada akad yang jelas terhadap pilihan kita. Dan ketika memang saat ini Allah takdirkan kita disuatu tempat yang “berpeluang” melakukan banyak kebaikan, hanya satu pilihan. Kita belajar mencintai proses itu dan kita berusaha terbaik untuk melakukan yang terbaik sesuai kemampuan kita. Allah akan selalu bersama kita. Allah melihat kita. Dan Allah akan selalu menempatkan diri kita dengan parameter terbaik menurut-Nya.

Teringat lagi, satu nasihat : jika kita memulai karena Allah, jangan pula mengakhiri karena manusia. Sungguh, niat yang didalam sharah Arba`in itu didefinisikan kita melakukan dan tidak melakukan sesuatu karena Allah. Mari kita cek !!

gambar : inspirasidaily.com