Tampilkan postingan dengan label Jurnalis. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Jurnalis. Tampilkan semua postingan

Minggu, 20 Oktober 2013

Berbagi Kebaikan*

Berbagi (ilustrasi)

antara

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh; Fariq Gasim Anuz
Imam Dzahabi dalam kitab Siyar A'lam an-Nubala (8/114) menyebutkan, al-Hafidz Ibnu Abdil Barr berkata dalam buku At-Tamhid, “Aku tuliskan ini dari hafalanku, karena buku aslinya tidak ada padaku.”

Abdullah al-Umari al-Abid menulis surat kepada Imam Malik menasihati beliau untuk banyak menyendiri dengan  berzikir dan beribadah sunah. 

Imam Malik menulis jawaban kepadanya, “Sesungguhnya Allah membagi amalan sebagaimana membagi rezeki. Boleh jadi Allah mudahkan dan memberikan taufik-Nya kepada seseorang untuk banyak melakukan shalat sunah, tapi tidak dalam puasa sunah.”

“Orang lain lagi, Allah memudahkan kepadanya untuk banyak bersedekah, ada lagi yang Allah mudahkan dan beri kelebihan kepada seseorang dalam berjihad. Menyebarluaskan ilmu juga merupakan amal kebaikan yang sangat utama. Saya ridha dengan taufik-Nya yang telah memudahkan untukku dalam menyebarkan ilmu syar'i. Saya kira amalan yang kulakukan ini tidak lebih rendah dari amalanmu. Saya berharap kita semuanya dalam kebaikan.”

Ada beberapa pelajaran dan hikmah dari kisah di atas. Pertama, kehati-hatian ulama dalam menukil atau menceritakan ucapan seseorang. 

Imam Ibnu Abdil Barr mengatakan, redaksi cerita ini dari hafalannya, bukan redaksi Imam Malik. Hendaknya kita berupaya membawakan hadis Nabi SAW yang sahih agar tidak terjerumus berdusta atas nama beliau.

Pesan kepada para wartawan dan jurnalis, baik di media cetak maupun elektronik, hendaknya lebih berhati-hati dalam memberikan informasi kepada masyarakat. Jangan sampai berbohong kepada publik. 

Hendaknya kita lebih selektif dalam memilih, memuat, dan menyebarkan berita. Agar informasi yang disampaikan berupa informasi yang membangun, menyejukkan, memperbaiki, dan menyatukan.

Kedua, pentingnya saling menasihati sesama Muslim. Jika kita mengetahui kekurangan dan aib pada saudara kita, janganlah kita menyebarkan aibnya. Ingatkanlah dia. 

Jika sulit untuk berjumpa, kirimlah surat dengan ungkapan yang baik. Agar orang yang dinasihati tidak tersinggung, bahkan malah menyadari dan segera memperbaiki kesalahannya.

Ketiga, bagi yang dinasihati, jika isi nasihat tidak tepat atau bahkan salah alamat, janganlah marah atau tersinggung. Bergembiralah dengan kritikan saudara kita, karena nasihat merupakan bentuk perhatian dan rasa sayang kepada sesama saudara. 

Keempat, jawablah nasihat yang kurang tepat dengan jawaban yang sopan. Berilah permisalan dan bantahlah dengan tegas tapi tetap menjaga keadilan dan penuh rasa kasih sayang.

Kelima, Allah memberikan potensi dan kelebihan yang beragam kepada hamba-hamba-Nya. Janganlah saling merendahkan, janganlah saling menyombongkan diri.
Hendaklah umat Islam saling bersinergi, bekerja sama dalam kebaikan dan takwa, serta saling menguatkan satu sama lain. 

Allah berfirman, “Taatilah Allah dan Rasul-Nya dan janganlah kalian berselisih, yang menyebabkan kalian menjadi gentar dan kekuatan kalian hilang dan bersabarlah. Sungguh, Allah bersama orang-orang yang sabar.” (QS al-Anfal: 46).

Rasululullah SAW bersabda, “Mukmin yang kuat itu lebih baik dan lebih dicintai Allah dari mukmin yang lemah, dan pada keduanya terdapat kebaikan.” (HR Muslim). “Seorang mukmin bagi mukmin lainnya bagai sebuah bangunan yang saling menguatkan satu sama lainnya.” (HR Bukhari dan Muslim).
Redaktur : Damanhuri Zuhri

*Diambil di web republika.co.id

Ingin sekali menjadi jurnalis. Seorang wanita yang selalu istiqomah berbagi kebaikan, wanita cerdas dan mencerdaskan, menjadi pendidik minimal (insyaallah) di keluarga kecil. Bismillah, semoga Engkau mudahkan Ya Rabb. Pernah bermimpi memiliki pendamping yang tak jauh dari profesi ini, tapi ketetapanMu adalah yang terbaik. Hanya satu pinta, apapun profesiku esok, jiwa jurnalis inilah yg akan melekat. Ia adalah salah satu jalan untuk lebih peka ... 

Jumat, 14 Juni 2013

Bener-Bener Menguji Kenaikan


Wacana BBM naik. Bukan Blackberry. Akan tetapi bahan baku motor. Eh bukan juga. Tepatnya bahan bakar minyak. BBM naik, menguji isi dompet dan biaya-biaya “hidup” yang lain. Biaya kuliah, mengisi jiwa dengan buku, mengisi tubuh dengan asupan gizi. Belum biaya yang lain lagi. (Belum) biaya anak eh, biaya beli sabun cuci eh, biaya beli pakaian penutup aurat, dan yang lain-lain.

BBM bener-bener menguji. Sepuluh ribu untuk dua hari mengisi SiGaza sepertinya tak cukup. Ujung Bantul barat bernama Pajangan menuju titik timur Kota Yogya, beranjak titik tengah kota : Tugu Yogya tak cukup dengan sepuluh ribu. Butuh stok lebih lembaran uang yang harus dicakke kalau bener-bener BBM naik. Oh iya, sebelumnya kenalkan dulu motor ku namanya SiGaza. Saking rindunya sosok pejuang-pejuang Palestina, ya sudah, cukup SiGaza menjadi sarana ikhtiar lebih mengenalnya. Mengenal sebuah “Cinta”. Cinta yang jika dihijrahkan dari kata benda menjadi kata kerja ( Salim A Fillah) akan melahirkan kerja-kerja besar bagi Dien ini. Em, berharap menjadi bagian dari kerja-kerja itu sebagai alasan layaknya seorang Atik Setyoasih diberi Surga oleh-Nya. Butuh doa itu.

BBM naik. Gaji naik. Logikanya seperti itu bukan? Tapi, awal tahun sudah “demo” minta naik gaji. Pertengahan tahun dan yang sebentar lagi Ramadhan datang (sudah siap naa?) mau minta lagi. Begitulah nasib buruh. Buruh oh buruh. Sebentar lagi semoga tak jadi buruh.

Teringat kemudian setelah direnungi lagi dan nurani selalu menjadi pengingat, “Jangan pernah mengeluh dan putus asa”. Mengeluh hanya membuat “kecil” dan tak segera bergegas dalam pekerjaan-pekerjaan yang berujung kebaikan. Putus asa, kata Uztadz Fatan bukankah memutus tali pertolongan Allah. Dialah sebaik-baik tempat meminta pertolongan. Mungkin dengan berdoa supaya BBM tak naik. Lebih penting minta kenaikan Iman kita. Iya kan? Atau Biaya-biaya (mau) Menikah tak jadi naik. Barokallah untuk sahabat-sahabat yang mau menikah.

Jika PNS saja dijamin negara untuk biaya-biaya hidup di dunia, kenapa masih ragu dengan “asuransi” hidup jika saat ini kita memilih jalan menjadi pekerja Allah. Ya, sebagai budak-Nya untuk menjual diri kita untuk tegaknya Dien ini. Dengan segala apapun yang kita miliki, baik harta, jiwa, bahkan hidup kita. Bukankah Allah itu ghaniyun? Teramat kaya untuk kita mintai “uang”. Bukankah Allah itu Kuasa atas segala isi di dunia ini? Teramat kecil mengubah segala sesuatu didunia ini untuk kebaikan kita semua. Jadi, jangan khawatir. Sungguh, Allah akan membalas tiap tetes bensin kita. BBM naik, Iman harus Naik. Nah!

gambar : kamera-digital.com
@annafiahfirdaus

Rabu, 12 Juni 2013

Menata Lagi

Kredo itu belum lama. Kapan tepatnya tak tercatat dalam ingatan. Hanya semenjak Aku bertemu dengan orang-orang yang luar biasa. Persaudaraan yang makin menguatkan kredo bahwa Kita ini hidup hanya untuk-Nya. Untuk Allah. Hanya untuk Allah.

Semenjak itu, aku lebih mencintai pekerjaan diluar rumah. Hanya beberapa jam terkadang bertemu keluarga. Menceritakan idealisme-idealisme itu. Memahamkan kepada orang tua bahwa ini sudah jalan pilihan. Mengabaikan sebuah pekerjaan bermateri tinggi demi idealisme itu. Em, semoga bukan sebuah peristiwa "Membantah" nasihat. Hanya butuh doa yang terucap oleh mereka berdua. Terutama, Ibuk.

Tapi nurani ini berkata, "Ah, hanya retorika dan wacana saja. Belum kulihat dirimu yang yakin dengan Idealisme itu"
Nurani itu sejalan dengan Annafi`ah Firdaus. Nama yang disematkan untuk hidup dan menghidupkan. Aku belum sejajar dengannya. Aku? Siapa itu? Atik kah? Padahal semangat idealisme itu mengakar kuat dan indah waktu kelas 3 SMP. Lama sekali. Kemana saja selama 5 tahun. Si Atik kecil itu menghilang. Padahal sudah ditemani Annafi`ah Firdaus.

Jurnalis. Entah apa yang membuat profesi itu membikin Aku terpana. Yang jelas, berharap diri ini menjadi jalan kebaikan bagi orang-orang di sekitarnya. Mampu hidup diatas idealisme hingga mampu menebarkannya tanpa perhitungan dan penghargaan.


Menata lagi. Menata jiwa untuk kuat dan yakin atas janji-Nya. Menata agar jiwa ini seperti para pejuang-pejuang Palestina. Pun agar Aku segera bertindak dan menyejarah dalam kejayaan Iman Islam di tiap insan. Pun sekarang sedang berfikir, "Apa yang bisa dilakukan ketika kabarnya ada delegasi dari Indonesia ke Israel ?"