Jumat, 26 Juli 2013

PERCAKAPAN 2N


Nurani : kamu tau gak artinya munafik?
Nafsu : Tau sih. Kenapa emang?
Nurani : Enggak papa, syukur kalau tau.
Nafsu : Kenapa emang? Kok tiba-tiba Tanya gitu? (geram si nafsu)
Nurani : Enggak papa ni? Nanti kamu marah lagi. Pekerjaan lho kan setengah marah setengah kalem. Tapi kayaknya kamu lagi ter terlihat lagi marah
Nafsu : Iye,
Nurani : Kamu galau ya?
Nafsu : Apa an sih kok nanya kek gitu. Aku selalu mengatakan ketemen-temen dan adik-adikku kalau gak boleh galau.
Nurani : Seek, definisi galau yang mana ni yang kamu maksud?
Nafsu : Galau yang itu tu, galau ama cinta cengeng.
Nurani : maksudnya?
Nafsu : Kamu tu berbelit-belit tanyanya padahal kamu kan tau tentang aku segalanya
Nurani : Iye, Cuma ngetes kok
Nafsu : Iye, galau yang ama lawan jenis. Gak boleh ya?
Nurani : Boleh gak ya ???
Nafsu : Ah, kelamaan jawabnya.
Nurani : Tanyakan kepada nurani
Nafsu : Lha ini lagi nanya, piye to?
Nurani : Sabar to, kamu tu nafsu, selalu tergesa-gesa kalau menjatuhkan.
Nafsu : Menjatuhkan apa?
Nurani : tadi katanya cinta cengeng. Gak punya prinsip. Ya, walaupun seingetku udah pernah nulis prinsip itu di buku rahasia kamu kan? Emang lupa?
Nafsu : Iye, ya maaf, sekarang aku menyesal. Tu nafsu jelek lagi semangat semangatnya. Sedangkan aku? nafsu baik sedang letoy ni
Nurani : Tu kamu nyadar. Kamu tu, tidur mulu, makan mulu, tu pekerjaan syetan. Kamu emang mau nemenin dia di neraka?
Nafsu : Dia sapa? Syetan? ya mana ada pingin yang jelek, maunya ya yang enak enak. Trus apalagi ni nasihat darimu Nur? Bener-bener parah ni, berantakan.
Nurani : Apanya yang berantakan?
Nafsu : semuanya!!! Gara-gara tu, cinta cinta apa tu, terlalu GR..hahaha
Nurani : Kamu tu, kalo mau ngapa-ngapain gak denger nasihatku dulu sih. Aku kan dekat dengan Allah
Nafsu : Iye, maaf lagi.
Nurani : Gimane udah banyakin ngaji kan? biar lebih deket dengan Allah. Bacaan mu gimana? Oia, sering dapet nasehat lagi gak ama pak ustadz?
Nafsu : Haha, Iye, sudah lebih tenang, apalagi seharian kalau pas senggang mantengin HP trus buka twiiter. Pak Ustadz, lagi gak berani ketemu beliau.
Nurani : Whats?
Nafsu : Santai ! aku bacanya situs berita. Perjuangan Palestina di Gaza, Mesir, sudah cukup menjadi alasan tak galau lagi.
Nurani : Hanya itu ?
Nafsu : mmmm, ada lagi ( sok mikir)
Nurani : Kamu tu, tentukan pilihan mu donk, trus inget konsekuensi nya.
Nafsu : Iye, mengingat adik-adik dan Masalah Kesehatan Indonesia sudah cukup menjadi ladang untuk beribadah dan membuat diri ini tak menjadi seonggok manusia tak bermanfaat
Nurani : Iye, inget ya, konsekuensinya kamu gak boleh cengeng. Tinggalkan juga tu yang galau galau. Kamu udah dipilih Allah untuk melakukan semua itu, dan inget, jangan sia-siakan dan nodai kepercayaan mereka. Ibu, bapak, adik-adik dan secara lebih luas Masyarakat. Iye kan?
Nafsu : Iye, bijak banget sih kamu kayak …. haha
Nurani : Hush kamu mulai lagi. Lupakan !!
Nafsu : Iye maaf, makanya aku selalu di ingetkan ya, kan kamu selalu mengarah dalam kebaikan
Nurani : Iye, apa kata dunia! Ntar casing mu terlihat kuat dalemnye,,,hadeee
Nafsu : Iye, aku udah paham lagi tentang Munafik tadi 
Nurani : Oiya, satu lagi, rasa itu fitrah, tapi tampakkan sesuai proporsinya. Kalau bisa hijrahkan kearah kebaikan, oke???
Nafsu : Maksud Loh ?
Nurani : kamu tu.. Cinta itu yang ku maksud adalah cinta dengan hati. Pake pertimbanganku. Ya, pake Nurani. Bukan kamu.
Nafsu : Kamu jahat banget sih !!!
Nurani : haha.. iye, kamu fitrahnya kadang selalu bisa baik dan benar, kalau aku itu lebih dekat dengan Allah sayang
nafsu : Iye, maaf aku telah mengambil pekerjaanmu
Nurani : Tak apa. Inget, kamu selalu denger pertimbanganku ya !!!
Nafsu : Iye
Nurani : Dan, sekali lagi , cinta yang benar menurut Ustadz Syatori pas KRPH tempo itu, Cinta dengan Nurani yang akan mendekatkan pemilik cinta dengan Sang Pemilik hatinya : Allah. Sebening Jiwa pengabdian kepada-Nya. Surga Naf balesannya. Dan Emang itu Layak diperjuangkan. Kau pun harus mengalah hehe
Nafsu : Makin jahat aja kamu. Terus pekerjaan ku apa donk !!
Nurani : ya tergantung kamu, kamu itu nafsu baik atau nafsu jelek hehehe
Nafsu : Iye, aku akan ngajak nafsu jelek tertunduk padaku dah hahaha
Nurani : Sip Dah
Nafsu : Yoi
Nurani : Jangan lupa, selalu dengerkan diriku, agar selalu dekat dengan pencipta kita.
Nafsu : Enjehhh
Nurani : Oiya, satu lagi 
Nafsu : Opo meneh. Banyak banget sih nasihatmu
Nurani : biar kamu nyadar, :P
Nafsu : Apa apa ?
Nurani : Cintai mereka dengan hati. Dan ketika ada masalah dengan hati, bukan dengan nafsu. Minta langsung Allah untuk membimbing. Seberapapun dan sedalam apapun kamu mencintai mereka, jika Allah berkehendak berbeda dengan keinginan kita, kamu dan aku harus terima itu. Itu yang terbaik buat hidupmu dan hidup mereka. Oke
Nafsu : Oyeee, makasih ya kamu Nur udah nasihatin aku 
Nurani : Same same

gambar : hauradwityaprameswari.blogspot.com

Kamis, 18 Juli 2013

Konsekuensi Pilihan


Apa jadinya jika konsekuensi-konsekuensi itu kita abaikan? Konsekuensi yang didalamnya memuat segala hal yang akan kita terima saat pilihan harus diputuskan. Iya atau tidak. Ambil atau serahkan. Dikerjakan atau biarkan. Semua pilihan ada konsekuensinya. Konsekuensi yang tentu melibatkan lahir maupun batin.

Ya, tiap pilihan ada konsekuensinya. Menjadi muslim pun ada konsekuensinya. Taat dan patuh kepada Allah: begitu redaksinya. Memilih memiliki sebuah impian besar, kata seorang senior, ya kerja-kerja besar yang harus dilakukan. Atau memilih untuk berada disuatu tempat yang ritmenya belum se-lineaar dengan ritme pribadi, maka konsekuensinya adalah mengendalikan ritme tersebut, dipercepat ataukah diperlambat. Atau kita sudah telanjur terjebak dalam kondisi yang tak pernah jadi rencana atau malah sudah direncanakan, namun kemampuan diri belum pantas, maka konsekuensinya adalah tidak boleh mengeluh dan harus segera belajar dengan keras tentang kemampuan itu.

Ya, konsekuensi itu selalu mengikuti setiap pilihan. Tapi terkadang, apakah kita sadar dengan “makhluk” itu. Sebuah makhluk yang jika kita tak menyadari keberadaannya, maka akan secara otomatis akan menciderai niat itu sendiri. Itupun kalau niat kita di awal sudah benar, bahkan besar. Astaghfirullah. Benar yang kita suguhkan hanya untuk mengabdikan diri kepada-Nya dengan “menjual” diri dengan apa yang kita punya demi kebaikan tertebar. Atau besar yang meniatkan pilihan ini benar adanya ada kemanfaatan yang akan dirasakan oleh minimal perubahan diri kita bahkan lingkungan sekitar. Ah, niat itu seakan mudah berbelok tanpa arah, maka mari berdoa agar Allah menjaga niat kita.

Konsekuensi. Konsekuensi. Dan Konsekuensi. Kredo yang lagi selalu terngiang-ngiang dan berterbangan.. Sebagai contoh : Konsekuensi lahir yakni menyediakan waktu untuk melahirkan kerja-kerja nyata itu penting bukan? Bukan waktu waktu sisa kita, bukan pula energy sisa kita. Kemudian memprioritaskan konsekuensi itu diatas konsekuensi pilihan yang lain itu kewajiban bukan. Namanya juga konsekuensi yang harus kita terima. Bahkan diwaktu sesibuk dan selelah apapun yang kadang jadi alibi kita untuk menunda kebaikan, konsekuensi itu pun sesungguhnya harus kita prioritaskan.

Yaaa, hanya perlu ada akad yang jelas terhadap pilihan kita. Dan ketika memang saat ini Allah takdirkan kita disuatu tempat yang “berpeluang” melakukan banyak kebaikan, hanya satu pilihan. Kita belajar mencintai proses itu dan kita berusaha terbaik untuk melakukan yang terbaik sesuai kemampuan kita. Allah akan selalu bersama kita. Allah melihat kita. Dan Allah akan selalu menempatkan diri kita dengan parameter terbaik menurut-Nya.

Teringat lagi, satu nasihat : jika kita memulai karena Allah, jangan pula mengakhiri karena manusia. Sungguh, niat yang didalam sharah Arba`in itu didefinisikan kita melakukan dan tidak melakukan sesuatu karena Allah. Mari kita cek !!

gambar : inspirasidaily.com

Rabu, 26 Juni 2013

Ralat Amanah


Tujuh tahun lebih lamanya, seorang wanita berkepala empat itu terlihat jarang menampakkan kesedihan, penyesalan, kelelahan bahkan mengeluh dengan apa yang disebut nasib. Ia, dengan ke “sendiri” nya sudah tak seperti kebanyakan istri yang lain.

“Ya, ini mungkin sudah menjadi jalan hidup saya dan suami”


Wanita berkerudung itu melanjutkan ceritanya. Tiap pekan, sebanyak 3 kali, yakni hari Senin, Rabu, dan Jumat harus membersamai sang Suami tuk Cuci darah. Penyakit gagal ginjal yang menjangkit Sang Suami 52 tahun itu terjadi akibat penumpukan kinerja ginjal yang overload. Di lain hal, tiap hari Sang Suami memang harus mengonsumsi obat penyakit warisan orang tuanya : hipertensi.

Ibu itu masih cantik, ditambah dengan kerudung yang masih modis bagi seusia beliau. Selalu ceria dan tak menampakkan wajah sedih dan keluh kesahnya. Tak sungkan beliau cerita tentang keluarganya padaku. Sang suami yang membutuhkannya tiap waktu, serta kedua anaknya yang selalu bersikap manja. Entah, begitu penasaran diriku tentang apa yang membuatnya begitu kuat. Bayangkan, sudah tujuh tahun Ibu itu merawat Sang Suami yang ia harapkan seharusnya melindungi dan mendekapnya. Tapi selama tujuh tahun itu beliau rasa berbalik seratus delapan puluh derajat.

Ah, pikiranku saat iku memang tak jernih mungkin. Bisa-bisa nya aku berfikir, “Ibu secantik ini kok tidak berfikir meninggalkan Sang Suami saja”, ampuni aku Rabb. Benar-benar tak jernih fikiranku saat itu. Hingga sebuah statement itu keluar dan langsung menampar secara lembut dan menyejukkan, “Ya, semoga ini menjadi Ibadah. Merawat suami kan Ibadah seorang Istri.”

Deg. Ibu itu pun terlihat lega dan semakin cantik dengan senyumnya. Jawaban yang tak ada tawar menawar untuk di bantah. Ya, dalam kondisi apapun, ibu itu akan tetap setia. Tak lari bahkan semakin mendekap erat dalam ikatan karena-Nya. Hanya Allah yang ia harapkan sebagai sebaik-baik pemberi balasan. Hanya Dia, sebaik-baik tempat mengadu dan mengokohkan diri untuk tetap yakin akan jalan hidupnya.

Ya. Semua itu karena cinta. Jika kita sudah cinta, sesuai proporsinya, Allah pun akan mencintai kita lebih apapun dari bayangan kita. Begitu pula dengan amanah, apapun itu, jika kita mencintainya, tak selayaknya kita meninggalkannya dalam kondisi apapun. Pun sesuai dengan proporsi dan kemampuan. Tapi pertanyaannya, sudahkah kita mencintai amanah itu ?

Hasil ngobrol di dingklik depan kamar opname Bapak 18/6/13
RS PKU Muhammadiyah

gambar : http://satufikr.wordpress.com

Selasa, 25 Juni 2013

Berpindah Mulia


Cinta. Banyak definisinya. Ia bisa di jabarkan oleh siapapun yang sedang tergila-gila olehnya. Entah cinta yang mana. Cinta yang bagiku “cengeng” atau cinta yang begitu dahsyat hingga jiwanya ia pertaruhkan demi yang ia cintai. Yang kedua inilah yang aku sebut perjuangan. Kosa kata yang sejenak berfikir lalu tertawa, betapa masih dangkalnya definisi perjuangan dalam kamusku. Apalagi dalam penerapannya.

Baiklah. Aku tak akan membahas yang pertama. Cinta yang cengeng, cinta yang mendzolimi, cinta yang rapuh, cinta yang bagiku tak perlu dibahas ketika memang kita belum siap membahasnya untuk kehidupan kita sekarang. Bukankah masih banyak cinta-cinta yang bisa kita bahas. Cinta tuk gapai asa, impian, kebahagiaan dan kesuksesan di masa mendatang. Itulah cinta yang terwujud dalam perjuangan. Sebuah ikhtiar untuk membahagiakan orang-orang yang layak kita beri apa yang membuat bahagia. Dan tentu membuat mereka tambah mencintai kita. Rela selalu mendoakan sebuah kebaikan untuk kita ditiap kondisi apapun. Siapakah dia?

Jadi teringat kisah seorang yang begitu mudah berlain hati :“Ya Rasullullah”, kata Umar, “Mulai saat ini engkau lebih kucintai daripada apapun di dunia ini.”

Taukah, padahal sebelumnya Umar bin Khatab berbicara pada Rasulullah bahwa ia mencintai Baginda Nabi seperti dirinya sendiri. Ya, seperti dirinya sendiri. Tetapi, Rasullah memintanya agar ia lebih mencintai Rasul daripada dirinya sendiri dan bahkan keluarganya. Begitu mudah kemudian Umar mengubah cintanya dari yang pertama. Tanpa pikir panjang, apalagi kali lebar. Tak menghiraukan keluarganya, yang ia yakini bahwa mencintai Rasulullah adalah sebuah kemuliaan. Ya, kemuliaan baginya yang merupakan harga diri yang harus dijaga untuk Rabb dan Rasul-Nya. Pernah kita melakukannya? Mengubah perasaan cinta karena sebab mulia itu.

Cinta memang seni. Seni untuk mencintai. Ya, bagiku hanya mencintai saja. Tak memedulikan apakah ia mencintai kita atau tidak. Ia? Bentar, ia siapa maksudnya. Nah inilah. Cinta berseni membutuhkan pengetahuan dan perjuangan. Tak serta merta dengan hanya melihat paras wajahnya tanpa mengetahui apa yang ada didalam hatinya. Kemudian dengan dangkal kita dengan mudah mencintainya.

Butuh pengetahuan serta alasan apakah ia (seorang manusia itu) lebih pantas di cintai, sedangkan Allah dan orang-orang yang sudah berjasa pada kita tak kita cintai melebihi cinta yang cengeng itu. Orang tua, sahabat sejenis kita, dan impian kita.

Cinta selalu datang disertai alasan. Maka mari kita selalu tilik, apakah alasan kita mencintai sudah benar. Maka jika alasan itu begitu rapuh dan cengeng, mari kita beranjak menuju alasan-alasan yang begitu menegakkan dan mengokohkan kita sebagai seseorang yang bisa menjaga kehormatan kita. Sebuah harga diri (izzah) untuk kita tak perlu bersusah-susah menebar pesona luar saja. Karena dengan sendirinya, pesona dalam yang kuat dan tak tergadaikan dengan cinta yang cengeng itu, akan dengan sendirinya menjadi indah di mata-Nya dan semua makhluk.

Hanya ada satu kegilaan cinta yang pantas kita rasakan. Cinta pada-Nya, Rasul-Nya, ilmu, belajar, kebaikan, impian, dan perjuangan itu sendiri. Susah memang. Dan itulah mengapa Cinta yang suci dan bening itu kita upayakan dengan sepenuh jiwa dan raga kita. Cinta adalah kata kerja. Bukan kata benda yang menjadikan kita diperbudak oleh nafsu kita.
Sedang cinta kepada apapun yang menjadi titipan dari-Nya cukup sekedarnya saja. Tak berlebihan ataupun kekurangan. Karena Allah mengetahui apa yang terbaik kita. Hanya ikhitiar dan doa yang bisa kita lakukan untuk kebahagian diri kita dan orang-orang yang layak kita cintai.

“… Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal itu amat buruk bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu amat buruk bagimu…” QS [1: 216]

Terisnpirasi dari Jalan Cinta Para Pejuang -Salim A Fillah
dan terpantik menuliskannya untuk seorang sahabat. Pun aku selalu berusaha mengindahkan dan menghidupi apa yang kutulis.

Jumat, 14 Juni 2013

Bener-Bener Menguji Kenaikan


Wacana BBM naik. Bukan Blackberry. Akan tetapi bahan baku motor. Eh bukan juga. Tepatnya bahan bakar minyak. BBM naik, menguji isi dompet dan biaya-biaya “hidup” yang lain. Biaya kuliah, mengisi jiwa dengan buku, mengisi tubuh dengan asupan gizi. Belum biaya yang lain lagi. (Belum) biaya anak eh, biaya beli sabun cuci eh, biaya beli pakaian penutup aurat, dan yang lain-lain.

BBM bener-bener menguji. Sepuluh ribu untuk dua hari mengisi SiGaza sepertinya tak cukup. Ujung Bantul barat bernama Pajangan menuju titik timur Kota Yogya, beranjak titik tengah kota : Tugu Yogya tak cukup dengan sepuluh ribu. Butuh stok lebih lembaran uang yang harus dicakke kalau bener-bener BBM naik. Oh iya, sebelumnya kenalkan dulu motor ku namanya SiGaza. Saking rindunya sosok pejuang-pejuang Palestina, ya sudah, cukup SiGaza menjadi sarana ikhtiar lebih mengenalnya. Mengenal sebuah “Cinta”. Cinta yang jika dihijrahkan dari kata benda menjadi kata kerja ( Salim A Fillah) akan melahirkan kerja-kerja besar bagi Dien ini. Em, berharap menjadi bagian dari kerja-kerja itu sebagai alasan layaknya seorang Atik Setyoasih diberi Surga oleh-Nya. Butuh doa itu.

BBM naik. Gaji naik. Logikanya seperti itu bukan? Tapi, awal tahun sudah “demo” minta naik gaji. Pertengahan tahun dan yang sebentar lagi Ramadhan datang (sudah siap naa?) mau minta lagi. Begitulah nasib buruh. Buruh oh buruh. Sebentar lagi semoga tak jadi buruh.

Teringat kemudian setelah direnungi lagi dan nurani selalu menjadi pengingat, “Jangan pernah mengeluh dan putus asa”. Mengeluh hanya membuat “kecil” dan tak segera bergegas dalam pekerjaan-pekerjaan yang berujung kebaikan. Putus asa, kata Uztadz Fatan bukankah memutus tali pertolongan Allah. Dialah sebaik-baik tempat meminta pertolongan. Mungkin dengan berdoa supaya BBM tak naik. Lebih penting minta kenaikan Iman kita. Iya kan? Atau Biaya-biaya (mau) Menikah tak jadi naik. Barokallah untuk sahabat-sahabat yang mau menikah.

Jika PNS saja dijamin negara untuk biaya-biaya hidup di dunia, kenapa masih ragu dengan “asuransi” hidup jika saat ini kita memilih jalan menjadi pekerja Allah. Ya, sebagai budak-Nya untuk menjual diri kita untuk tegaknya Dien ini. Dengan segala apapun yang kita miliki, baik harta, jiwa, bahkan hidup kita. Bukankah Allah itu ghaniyun? Teramat kaya untuk kita mintai “uang”. Bukankah Allah itu Kuasa atas segala isi di dunia ini? Teramat kecil mengubah segala sesuatu didunia ini untuk kebaikan kita semua. Jadi, jangan khawatir. Sungguh, Allah akan membalas tiap tetes bensin kita. BBM naik, Iman harus Naik. Nah!

gambar : kamera-digital.com
@annafiahfirdaus

Rabu, 12 Juni 2013

Menata Lagi

Kredo itu belum lama. Kapan tepatnya tak tercatat dalam ingatan. Hanya semenjak Aku bertemu dengan orang-orang yang luar biasa. Persaudaraan yang makin menguatkan kredo bahwa Kita ini hidup hanya untuk-Nya. Untuk Allah. Hanya untuk Allah.

Semenjak itu, aku lebih mencintai pekerjaan diluar rumah. Hanya beberapa jam terkadang bertemu keluarga. Menceritakan idealisme-idealisme itu. Memahamkan kepada orang tua bahwa ini sudah jalan pilihan. Mengabaikan sebuah pekerjaan bermateri tinggi demi idealisme itu. Em, semoga bukan sebuah peristiwa "Membantah" nasihat. Hanya butuh doa yang terucap oleh mereka berdua. Terutama, Ibuk.

Tapi nurani ini berkata, "Ah, hanya retorika dan wacana saja. Belum kulihat dirimu yang yakin dengan Idealisme itu"
Nurani itu sejalan dengan Annafi`ah Firdaus. Nama yang disematkan untuk hidup dan menghidupkan. Aku belum sejajar dengannya. Aku? Siapa itu? Atik kah? Padahal semangat idealisme itu mengakar kuat dan indah waktu kelas 3 SMP. Lama sekali. Kemana saja selama 5 tahun. Si Atik kecil itu menghilang. Padahal sudah ditemani Annafi`ah Firdaus.

Jurnalis. Entah apa yang membuat profesi itu membikin Aku terpana. Yang jelas, berharap diri ini menjadi jalan kebaikan bagi orang-orang di sekitarnya. Mampu hidup diatas idealisme hingga mampu menebarkannya tanpa perhitungan dan penghargaan.


Menata lagi. Menata jiwa untuk kuat dan yakin atas janji-Nya. Menata agar jiwa ini seperti para pejuang-pejuang Palestina. Pun agar Aku segera bertindak dan menyejarah dalam kejayaan Iman Islam di tiap insan. Pun sekarang sedang berfikir, "Apa yang bisa dilakukan ketika kabarnya ada delegasi dari Indonesia ke Israel ?"

Sabtu, 11 Mei 2013

Allah Maha Pirsa*




Sang surya dengan gagahnya memberikan kehangatan penduduk bumi. Begitupun pagi itu, semlenget sinarnya seakan menjadi pelajaran bagi mereka yang menyadarinya. Sinar yang dengan izin-Nya menumbuhkan perubahan-perubahan pada makhluk-Nya. Entah semakin sehat dengan kandungan Vitamin D-nya. Atau ia sebagai syarat adanya proses fotosintesis untuk hijaunya sebuah pemandangan. Bahkan mungkin membuat sakit? Dengan keluh kesahnya atas sinar yang "menggigit" kulit mereka.

Pagi itu pun akan jadi saksi. Bagi mereka yang malamnya "bercinta" dengan-Nya. Menumbuhkan dan menguatkan benih-benih pengabdian atas jiwa dan segalanya. Ya, mungkin pula pagi kala itu sebagai sebuah awalan atas kejernihan niat dan jiwa untuk lebih dekat dengan-Nya. Dengan apapun.

Bagai membelah sebuah kota, dari ujung barat menuju ruang lurus kota sebelah timur. Antara titik sedayu dan balai kota. Rute perjalanan yang kadang membosankan itu. Legowo cah! Ada yang begitu menggelitik saat itu. Ah, semoga kita bisa sama-sama mengambilnya.

Seperti biasa, sekitar jam 7 adalah kawasan "kekuasaan" ku. Sebuah daerah kekuasaan sebagai pola perjalanan ke kampus. Lantas disebuah perempatan, dengan mengendarai motor yang aku ikhtiarkan tuk kupertahankan. Secara spontan aku berbelok ke arah bersimpangan dengan jalan normal. Harusnya aku berhenti karena lampu merah. Harusnya aku lurus. Tahukah kenapa aku tak melakukannya? Ada pak Polisi yang siap menilang karena norma "kelalulintasan" akan aku langgar jika berhenti. Garis tengah sebagai pembatas ditambah benda warna orange berbentuk kerucut sudah diletakkan di posisinya. Tak ada ruang lagi tuk motorku. Dari arah barat dengan kecepatan yang tak lambat, langsung "menyelamatkan" diri. Tertawa tanpa suara. Langsung teringat dalam, lagi-lagi yang di tulis Nawawi di hadist pertamanya. IHSAN. Allah selalu melihat dan mengetahui apapun yang kita lakukan.

Kenapa harus karena pak polisi menaati peraturan itu? kenapa harus ada "sesuatu hal" kita lebih semangat dalam aktivitas? Kenapa kita selalu mempertimbangkan penilaian atas makhluk-Nya dalam bermuamalah. Sudah jelas, Allah itu mengetahui dan melihat kita. Terlebih, Allah pun mengetahui segala isi hati. Karena-Nya atau Makhluk-Nya?

gambar : blogbikinbetah.blogspot.com