Sabtu, 12 April 2014

Teruntuk Almamater




Salam semangat penuh cinta untuk seluruh mahasiswa terutama mahasiswa kesehatan masyarakat di Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta, 

Untuk rekan-rekan dan adik-adik satu almamater Kesmas UAD, almamater orange yang akan menjadi kebanggaan kita. Karena, kalau bukan kita yang bangga, siapa lagi …

Sebentar lagi ujian. Sebuah rutinitas agenda akademik untuk mengukur bagaimana hasil belajar selama kita kuliah. Kenapa hasil belajar? Dan kenapa selama kita kuliah. 

Sejatinya, pekerjaan utama kita Mahasiswa sekarang adalah belajar, satu hal (belajar) yang sering dilupakan karena bisa jadi tujuan kita kuliah belum kuat. Apa itu kesmas? Apa untungnya belajar kesmas? Dan apa hubungannya kesmas untuk negri? Dan kenapa kita harus benar-benar menguasai apa itu ilmu kesmas sehingga bisa “bekerja” dalam kondisi layak suatu saat nanti. Maka bisa jadi PR untuk kita sekarang, sebelum semua terlambat, sebelum semua terlewat. 

Pernyataan kedua, kenapa hasil belajar selama kuliah? Maka perlu kita sadari bahwa ilmu dari semester satu sampai selanjutnya akan selalu bersinambung. Satu kesatuan tiap mata kuliah yang akan dipelajari tahap demi tahap akan menjadikan satu ilmu kesmas yang utuh. Sedari dulu itu rumus cross sectional, kohort, case control saat di berikan di semester 2 atau sebelumnya, akan sama di semester 6, bahkan 7 bahkan seterusnya. Analisis SWOT dalam sebuah organisasi, prinsip-prinsip untuk mengetahui posisi organisasi akan selalu sama. Ya, setiap waktu sebenarnya kita memiliki konsekuensi untuk semakin mendalaminya. 

Rekan-rekan dan adik-adik satu almamater Kesmas UAD 

Tahun 2015 adalah tahun pembuktian bahwa Indonesia harus mampu memiliki SDM yang ber-kapasitas. Termasuk seluruh tenaga kesehatan, tidak terkecuali tenaga kesehatan masyarakat yang harus mampu menguasai kompetensi untuk melakukan pelayanan kesehatan. Aku, kamu, dan kita semua. WTO (World Trade Organization) adalah sebuah perjanjian tata-perdagangan barang, jasa dan trade related intellectual property rights (TRIPS) atau hak atas kepemilikan intelektual yang terkait dengan perdagangan. Indonesia ikut perjanjian itu semenjak tahun 1995. Tahun 2015, tenaga kesehatan masyarakat dari manca negara akan masuk ke Indonesia, begitu sebaliknya. Maka hal yang perlu direnungi, sudahkah kita siap? 

Ujian Tengah Semester akan segera dimulai. Maka harapannya, UTS ini menjadi langkah kecil untuk mengukur kemampuan kita, serta tingkat kepahaman kita. Kalau kita lemah, tentu dunia akan memperdaya kita. Kalau kita berbuat buruk saat ujian, misal mencontek, sesungguhnya itu perbuatan menciderai diri kita sendiri.

 Untuk menghadapi hari esok yang lebih baik, pastinya kita mempersiapkan hari ini dengan cara yang baik, dan usaha terbaik. 

Selamat belajar,
Jaga semangat dan kesehatan, 

Keep Fight & Learn ...

Salam kontribusi tiada henti untuk Negri
-ISMKMI-



Kamis, 10 April 2014

Allah, Ajari untuk lelah dan payah, Agar Aku ikhlas




Saat kau terpuruk dan terjatuh
pakai pundakku dan kita lawan terpuruk itu
karena TUHAN TAHU KITA MAMPU, KITA MAMPU
saat beban penuhi pundakmu
genggam bahuku dan kita bagi bebanmu itu
karena TUHAN TAHU KITA MAMPU, KITA MAMPU
(Tuhan Tahu Kita Mampu by Ali Sastra ft. The Jenggot)

Hanya kepada Allah kita berpasrah, memanjatkan segala lelah. Dengan begitu hati tetap terjaga, niat terus selalu teringat bahwa segala apapun akan sirna kecuali hanya tertuju kepada Allah. Niat urusan kita dengan Allah, sehingga sedikit saja hati memohon sebuah penilaian kepada makhluk terhadap apa yang kita lakukan, kholas. Selesai. 

Pernah merasa terpuruk? Dengan jalan yang sudah kau pilih. Pernah merasa capek? Dengan beban pundak yang kau rasakan berat. Pernah merasa ingin menghilang dengan apa yang harus dihadapi? Maka ingatlah Allah, sebaik-baik penguat hati kita. Dia, sebaik-baik “pundak” untuk meletakkan segala hati. 

Jalan cinta ini memang akan terasa nikmat ketika kita lelah. Ini aku sebut jalan cinta, bukanlah sembarang jalan. Sebuah jalan yang tak hanya meminta sedikit pengorbanan, tapi pikiranmu, fisikmu, waktumu, bahkan seluruh apa yang kamu miliki. Akan terkuras habis selayaknya seorang pedagang yang dagangannya habis dibeli pembeli. 

Di jalan ini, akan kita temui saat-saat kondisi yang membuat kita bimbang. Antara kebutuhan pribadi atau kebutuhan kolektif yang harus kita tunaikan. Akan ada saat ketika teman kita berjalan-jalan, sedang kita harus menghadiri forum-forum diskusi untuk sebuah langkah eksekusi. Ada saatnya pula, teman yang lain terlelap, kita masih harus terjaga dengan aktifitas tanggungjawab pekerjaan lain. Disaat yang lain layaknya berjalan normal untuk urusan-urusan akademis, kita harus berlari sekencang mungkin untuk menyamakan ritme agar kita pun tetap tak tertinggal. Pernahkah atau sudah merasakan?

Ada saatnya memang hati maupun fisik bisa lelah. Ia membutuhkan energi untuk tetap semangat.  Mungkin, dengan menjadi anak kecil yang selalu tersenyum dengan bahagia. Berlari sekencang mungkin dipelataran rerumput hijau mengejar kupu-kupu. Bermain ayunan, merasakan betapa banyaknya nikmat yang Allah kepada kita. 

Maka, yang perlu dilakukan ketika kita lelah dan merasa tak mampu, hanya butuh merenung. Mengingat segala apa yang Allah beri, mensyukuri setiap ketetapan apa yang ditetapkan kepada kita. Meningkatkan kualitas hubungan kita kepada Allah. Boleh jadi, hati lelah karena ia begitu jauh dengan Sang Pemilik hati. Mengingat sebuah mimpi-mimpi mulia yang hanya dapat didapatkan dengan kerja ikhlas, cerdas, dan kerja keras. Lelah itu nikmat ketika kita merasakan dengan sepenuh jiwa, hanya dengan lelah kita dapat merasakan, “Oh begini jalan sebuah cinta.” Cinta perjuangan dan kedudukan kemuliaan di hadapan-Nya. 

“Jangan bersedih,
 niscahya Allah mudahkan segala urusanmu karena engkau memudahkan urusan-Nya”
Tugas kita berdoa, berikhtiar terbaik dan terakhir menyerahkan segala hasil urusan kepada-Nya




Rabu, 05 Maret 2014

INDONESIA


INDONESIA. Aku mencintainya untuk sebuah Surga, kebahagiaan untuk selamanya. Ujung barat sampai ujung timur seraya menyimpan benih-benih perjuangan. Untuk Indonesia, untuk rakyat Indonesia, untuk Kesehatan Indonesia. Aku mencintainya karena sebuah ruh suci, untuk Indonesia sehat dari segala aspek kehidupan. Ruh itu bernama "Public Health."(Kuliah Seminar Kesehatan)

Salam Cinta, dari ISMKMI untuk Indonesia.
Merasakan begitu kebenaran atau kebaikan itu butuh stategi untuk ditegakkan

Sabtu, 25 Januari 2014

Pemimpin dan Calon Pemimpin Masa Depan Indonesia


Menjadi pemimpin itu bukan soal kecerdasan, kharisma, komunikasi, tampilan, dan segala macam atribut yang biasa dilekatkan pada figur pemimpin. Disebut pemimpin atau tidak ini adalah soal ada atau tidaknya yang mengikuti. Hadirnya pengakuan dan kepengikutan itu yang mengubah seseorang jadi pemimpin. Menjadi pemimpin adalah soal pengakuan dari yang dipimpin, sebuah rumusan sederhana yang sering terlupakan.


1. Seseorang diakui sebagai pemimpin bila kepadanya diberikan kepercayaan. Pemimpin adalah orang yang diikuti kata-kata dan perbuatannya.
Dia diikuti karena dipercaya. Kepercayaan adalah pilar utama pemimpin. Kepercayaan adalah kombinasi dari kompetensi, integritas, dan kedekatan. Ketiga faktor itu meningkatkan tingkat kepercayaan. Tapi ada sebuah faktor yang mampu memelorotkan kepercayaan memimpin yaitu self-interest dan dalam menyamakan self-interestnya-nya dengan kepentingan kolektif bisa membuat pemimpin mengalami erosi kepercayaan. Pemimpin terpercaya bisa selalu menomorsatukan kepentingan kolektifnya. Kecintaannya pada kepentingan kolektif itu memberikan efek yang besar. Kini dan kelak bangsa ini selalu membutuhkan pemimpin yang mencintai bangsanya melebihi cintanya pada dirinya. Kehadiran pemimpin seperti itu bisa luar biasa dahsyat dalam menggerakkan seluruh bangsa untuk meraih cita-cita kolektif.


2. Pemimpin dan pemimpi bedanya di huruf N. N-nya adalah Nyali.
Pemimpin pada dasarnya adalah pemimpi. Pemimpi yang mimpi-mimpinya dipercaya dan diikuti. Pemimpi yang mampu mengonversi mimpi jadi realita bisa disebut sebagai pemimpin. Wajar jika pemimpin menitipkan mimpinya pada imaginasi, dan membiarkan imaginasinya itu terbang amat tinggi lalu ia bekerja amat cerdas dan keras menggerakkan seluruh daya yang tersedia untuk meraih dan melampaui mimpinya. Disinilah sebuah huruf N sebenarnya itu mewakili komponen amat kompleks menyangkut kemampuan meraih mimpi dan melampaui mimpi.


3. Pemimpin selalu disorot.
Pemimpin adalah manusia yang harus selalu menyadari kemanusiaannya dan sempurna bukanlah atribut yang manusiawi. Karena itu pemimpin harus selalu sadar bahwa ia berada dalam sorotan di saat ia jauh dari kesempurnaan. Efeknya simpel, pemimpin itu jadi kotak pos untuk pujian dan kritikan. Maka itu jika tidak ingin dikritik maka jangan sesekali mau jadi pemimpin. Pemimpin yang matang itu menjalani perannya dengan menempatkan cita-cita bersama sebagai rujukan. Karena itu ia matang dan mantap menjalaninya. Bisa dikatakan bahwa pemimpin yang tulus pada cita-cita kolektifnya itu takkan terbang bila dipuji dan takkan tumbang bila dicaci.


4. Pemimpin yang kita ingin lihat adalah yang tidak mengejar penghormatan, tapi ia menjaga kehormatan.

Penghormatan itu memang bisa dipanggungkan dan bisa dibeli karenanya mudah didapat. Sementara kehormatan itu tidak untuk diperjualbelikan. Pemimpin yang gagasan dan langkahnya terhormat, dengan sendirinya akan dapat kehormatan. Mencari rujukan tentang pemimpin itu sesungguhnya mudah. Ada terlalu banyak contoh pemimpin di sekitar kita. Di republik ini masih amat banyak pemimpin yang solid, yang keteladanannya jadi rujukan, yang gagasannya diikuti, yang langkahnya menginspirasi. Masalahnya adalah banyak dari mereka justru tidak berada di panggung penting republik ini. Di panggung-panggung penting justru sering ditemui orang-orang berkuasa tanpa kepemimpinan. Di sisi lain, banyak pemimpin yang kepemimpinannya solid tapi tanpa kuasa dan otoritas.


Jika kita menengok pada sejarah negeri besar ini maka kita temui catatan gemilang sebuah generasi. Republik ini didirikan oleh orang-orang yang berintegritas. Integritas itu membuat mereka jadi pemberani dan tak gentar hadapi apa pun. Integritas dan keseharian yang apa adanya membuat mereka memesona. Orang-orang yang sudah selesai dengan dirinya. Mereka jadi cerita teladan di seantero negeri.


5. Hari ini, republik membutuhkan pemimpin yang berani tegakkan integritas. 
Berani perangi “jual-beli” kebijakan dan jabatan, dan pemimpin yang mau bertindak tegas kepentingan rakyat “dijarah” oleh mereka yang punya akses. Republik ini butuh pemimpin yang bernyali dan menggerakkan dalam menebas penyeleweng tanpa pandang posisi atau partai. Bukan pemimpin yang serba mendiamkan seakan tidak pernah terjadi apa-apa. Pemimpin yang bisa jadi bersahabat tampilannya, sopan dan simpel tuturnya, tapi amat besar nyalinya, dan amat tegas sikapnya. Tidak selalu nyaring, tapi selalu bernyali karena nyali itu memang beda dengan nyaring.

Republik ini perlu pemimpin yang bisa mengajak semua untuk mendorong yang macet, membongkar yang buntu, dan memangkas berbenalu. Pemimpin yang tanggap memutuskan, cepat bertindak, dan tidak toleran pada keterlambatan. Pemimpin yang siap untuk “lecet-lecet” melawan status quo yang merugikan rakyat, berani bertarung untuk melunasi tiap janjinya. Republik ini perlu pemimpin yang memesona bukan saja saat dilihat dari jauh, tetapi pemimpin yang justru lebih memesona dari dekat dan saat kerja bersama.

Bukan pemimpin yang selalu enggan memutuskan dan suka melimpahkan kesalahan. Bukan pemimpin yang diam saat rakyat didera, lembek saat republik dihardik. Pemimpin yang tak gentar dikatakan mengintervensi karena mengintervensi adalah bagian dari tugas pemimpin dan pembiaran tidak boleh masuk dalam daftar tugas seorang pemimpin. Kelugasan, ketegasan, keberanian, kecepatan, keterbukaan, kewajaran, kemauan buat terobosan, dan perlindungan kepada anak buah bahkan kesederhanaan dalam keseharian itu semua bisa menular. Tapi kebimbangan, kehati-hatian berlebih, kelambatan, ketertutupan, formalitas, kekakuan, pembicaraan masalah, orientasi kepada citra dan ketaatan buta pada prosedur itu juga menular. Menular jauh lebih cepat dan sangat sistemik.


6. Pemimpin bisa menentukan suasana.

Pemimpin adalah dirigen yang menghadirkan energi, nuansa, dan aurora dalam sebuah orkestra. Setiap pemain memiliki peran, dan tanpa dirigen-pun instrument musik bisa dijalankan tapi orkestra itu tidak ada jiwa-nya. Pemimpin hadir membawa suasana. Memberikan arah dan greget. Pemimpin membawa misi dan menularkannya pada semua. Pemimpin meraup aspirasi dan energi dari semua yang dipimpinnya, lalu mengkonversinya menjadi cita-cita kolektif dan energi besar untuk semua bekerja bersama meraihnya. Memang pemimpin bukan dewa atau superman. Tidak pantas semua masalah dititipkan, ditumpahkan ke pundak pemimpin.


7. Kita amat membutuhkan pemimpin yang berorientasi pada gerakan.
Pemimpin menjadikan semua merasa ikut memiliki tanggung jawab, merasa ikut memiliki masalah. Pendekatannya movement bukan programmatic sehingga semua merasa terpanggil untuk terlibat. Pemimpin yang bisa membuat semua merasa perlu berhenti lipat tangan, lalu terpanggil untuk gandeng tangan dan turun tangan. Pemimpin yang menggerakkan. Akhir-akhir ini kita sering menyaksikan pemimpin hadir untuk “menyelesaikan” tantangan dan masalah. Menyelesaikan tantangan dan masalah itu baik-baik saja. Tetapi sesungguhnya yang diperlukan justru bukan itu. Kita memerlukan pemimpin yang kehadirannya bukan sekadar hadir untuk “menyelesaikan” masalah dan tantangan tapi kehadirannya untuk “mengajak semua pihak turun-tangan” menyelesaikan masalah dan tantangan.

8. Kita memerlukan pemimpin yang menginspirasi, membukakan perspektif baru, menyodorkan kesadaran baru dan menyalakan harapan jadi lebih terang.

Pemimpin yang membuat semua terpanggil untuk turun tangan, untuk bekerja bersama meraih cita-cita bersama. Pemimpin yang kata-kata dan perbuatannya menjadi pesan solid yang dijalankan secara kolosal. Kita memerlukan pemimpin yang menggerakkan!


Untuk ISMKMI, Untuk Indonesia
Untuk Kesehatan Indonesia, Mahasiswa Indonesia !!!
Aku Mencintai Kalian^^

(Bukan kampanye, Murni AMBILAH ilmu definisi pemimpin)
http://aniesbaswedan.com/tulisan/Pemimpin-dan-Calon-Pemimpin-Masa-Depan-Indonesia

Sabtu, 16 November 2013

Tsummastaqim


Sudah lama sekali blog ini tidak terisi. Ah, jadi teringat definisi istiqomah yang disampaikan oleh seorang guru. Istiqomah itu urusannya hati. Qulamantu billahi, tsummastaqim. Sebuah hadist pendek yang dibincangkan di forum selasa sore itu membuat hati dan lisan merenung. Ya, katakanlah, aku beriman kepada Allah, lalu istiqomahlah

Semangat itupun kadang naik turun. Ya, aku pun merasakannya. Naik, hingga produktifitas menulis bisa bersambung. Turun, sampai-sampai mengintip blogpun tidak. Jadi malu dengan janji-janji itu. Menghibahkan diri dalam urusan kebaikan dengan sarana pena.

Entah. Mungkin hanya lupa dengan “ambisi” kala itu. Ambisi yang memancarkan pengaruh kuat untuk bergerak. Meringankan tiap kerja-kerja nyata untuk cita-cita itu. Ya, mungkin lupa…

Baiklah,

Dunia jurnalisme, aku lebih suka menyebutnya dengan kosa kata itu, mengenalnya semenjak empat tahunan yang lalu. Tertular secara langsung dari sebuah lingkungan yang sampai saat ini pun berkontribusi penuh membentuk apa yang ada dihati, dan pikiranku.

Dunia jurnalisme, ya, aku nyaman saja dengan dunia itu. Nyaman untuk membentuk diri, dengan terus menerus belajar. Dunia itulah yang memperkenalkanku pada sebuah bahasa. Memperkenalkanku dengan sebuah misi nilai. Hingga pernah berikrar diri, bahwa bahasa itulah yang akan membuatku hidup. Hidup untuk bahasa, dan bahasa yang akan “menghidupkanku.”
\
Sederhana. Aku. Ya aku. Seorang wanita dengan sederhananya alasan memilih jalan ini. Bisa dibilang egois, karena suatu kelak memiliki jawaban ketika hari pertanggungjawaban itu datang. Ketika ditanya apa bukti kamu benar-benar mencintai Dia. Ah, mencintai Dia? Benarkah?

Terlalu menghakimi nampaknya tidak baik. Karena apapun alasan kita berpayah-payah pada suatu pekerjaan, itu yang akan didapat. Aku masih selalu mengingat kalimat itu. Karena semenjak itu pula, apapun taqdir Allah kelak tentang sebuah pekerjaan ataupun taqdir-taqdir lain, menulis adalah sarana diri untuk minimal memperbaiki diri dan kemudian untuk orang lain. Memperbaiki bahasa hati, bahasa lisan dan bahasa pikiran. Begini redaksinya, “Jika ingin mengubah dunia, maka ubahlah bacaan mereka.”

Berawal dari niat sederhana itulah, sampai sekarang masih bertahan untuk membentuk diri, di NAH. Dan berawal dari niat sederhana tapi butuh kerja nyata dan besar itupun, tersambung dengan Ikatan Senat Mahasiswa Kesehatan Masyarakat Indonesia. Owh Allah, mencintaimu tak sekedar di hati dan lisan saja, namun ia menuntut sebuah perjuangan dan pengorbanan. Apapun itu. Mampukanku untuk selalu mencintai-Mu dalam kondisi apapun …

                                                                                    Memeluk rindu pada aku yang selalu bergairah
Di rumah tercinta
gambar : motemotemama.blogspot.com
@annafiahfirdaus


Minggu, 20 Oktober 2013

Berbagi Kebaikan*

Berbagi (ilustrasi)

antara

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh; Fariq Gasim Anuz
Imam Dzahabi dalam kitab Siyar A'lam an-Nubala (8/114) menyebutkan, al-Hafidz Ibnu Abdil Barr berkata dalam buku At-Tamhid, “Aku tuliskan ini dari hafalanku, karena buku aslinya tidak ada padaku.”

Abdullah al-Umari al-Abid menulis surat kepada Imam Malik menasihati beliau untuk banyak menyendiri dengan  berzikir dan beribadah sunah. 

Imam Malik menulis jawaban kepadanya, “Sesungguhnya Allah membagi amalan sebagaimana membagi rezeki. Boleh jadi Allah mudahkan dan memberikan taufik-Nya kepada seseorang untuk banyak melakukan shalat sunah, tapi tidak dalam puasa sunah.

Orang lain lagi, Allah memudahkan kepadanya untuk banyak bersedekah, ada lagi yang Allah mudahkan dan beri kelebihan kepada seseorang dalam berjihad. Menyebarluaskan ilmu juga merupakan amal kebaikan yang sangat utama. Saya ridha dengan taufik-Nya yang telah memudahkan untukku dalam menyebarkan ilmu syar'i. Saya kira amalan yang kulakukan ini tidak lebih rendah dari amalanmu. Saya berharap kita semuanya dalam kebaikan.”

Ada beberapa pelajaran dan hikmah dari kisah di atas. Pertama, kehati-hatian ulama dalam menukil atau menceritakan ucapan seseorang. 

Imam Ibnu Abdil Barr mengatakan, redaksi cerita ini dari hafalannya, bukan redaksi Imam Malik. Hendaknya kita berupaya membawakan hadis Nabi SAW yang sahih agar tidak terjerumus berdusta atas nama beliau.

Pesan kepada para wartawan dan jurnalis, baik di media cetak maupun elektronik, hendaknya lebih berhati-hati dalam memberikan informasi kepada masyarakat. Jangan sampai berbohong kepada publik. 

Hendaknya kita lebih selektif dalam memilih, memuat, dan menyebarkan berita. Agar informasi yang disampaikan berupa informasi yang membangun, menyejukkan, memperbaiki, dan menyatukan.

Kedua, pentingnya saling menasihati sesama Muslim. Jika kita mengetahui kekurangan dan aib pada saudara kita, janganlah kita menyebarkan aibnya. Ingatkanlah dia. 

Jika sulit untuk berjumpa, kirimlah surat dengan ungkapan yang baik. Agar orang yang dinasihati tidak tersinggung, bahkan malah menyadari dan segera memperbaiki kesalahannya.

Ketiga, bagi yang dinasihati, jika isi nasihat tidak tepat atau bahkan salah alamat, janganlah marah atau tersinggung. Bergembiralah dengan kritikan saudara kita, karena nasihat merupakan bentuk perhatian dan rasa sayang kepada sesama saudara. 

Keempat, jawablah nasihat yang kurang tepat dengan jawaban yang sopan. Berilah permisalan dan bantahlah dengan tegas tapi tetap menjaga keadilan dan penuh rasa kasih sayang.

Kelima, Allah memberikan potensi dan kelebihan yang beragam kepada hamba-hamba-Nya. Janganlah saling merendahkan, janganlah saling menyombongkan diri.
Hendaklah umat Islam saling bersinergi, bekerja sama dalam kebaikan dan takwa, serta saling menguatkan satu sama lain. 

Allah berfirman, “Taatilah Allah dan Rasul-Nya dan janganlah kalian berselisih, yang menyebabkan kalian menjadi gentar dan kekuatan kalian hilang dan bersabarlah. Sungguh, Allah bersama orang-orang yang sabar.” (QS al-Anfal: 46).

Rasululullah SAW bersabda, “Mukmin yang kuat itu lebih baik dan lebih dicintai Allah dari mukmin yang lemah, dan pada keduanya terdapat kebaikan.” (HR Muslim). “Seorang mukmin bagi mukmin lainnya bagai sebuah bangunan yang saling menguatkan satu sama lainnya.” (HR Bukhari dan Muslim).
Redaktur : Damanhuri Zuhri

*Diambil di web republika.co.id

Ingin sekali menjadi jurnalis. Seorang wanita yang selalu istiqomah berbagi kebaikan, wanita cerdas dan mencerdaskan, menjadi pendidik minimal (insyaallah) di keluarga kecil. Bismillah, semoga Engkau mudahkan Ya Rabb. Pernah bermimpi memiliki pendamping yang tak jauh dari profesi ini, tapi ketetapanMu adalah yang terbaik. Hanya satu pinta, apapun profesiku esok, jiwa jurnalis inilah yg akan melekat. Ia adalah salah satu jalan untuk lebih peka ... 

Minggu, 22 September 2013

Masihkah Bosan?

Kalau dalam kondisi seperti ini, jadi teringat sebuah petuah hati di sebuah majelis kala itu. Aku daftar jadi pendamping ospek kampus. Salah satu niatnya ingin melihat barisan baru untuk sebuah impian pekerjaan. Menjadi seorang kakak yang sejatinya masih sangat sedikit ilmu dan ingin belajar dari wajah penuh harap dari mereka.

Pekerjaan apapun itu akan berdampak disuatu saat nanti. Termasuk pendamping. Karena dengan dekat dengan mereka, kita sebagai seorang pendamping bisa mengarahkan tentang pilihan yang mereka ambil. Ah, aku merinding ketika menyebut nama ini : Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta. Sebuah profesi untuk mengabdikan diri menyerahkan seluruh hidup dan jiwa  untuk sebuah kesehatan. Tak perlu jauh dan meluas, minimal kesehatan jiwa kita dan lingkungan sekitar. Arahan itu, ya arahan itu yang saat inipun aku masih harus belajar untuk menancapkan diri dalam hati terdalam, karena konsekuensinya pun ternyata perlu kerja keras.

Pekan ini, entah menjadi pekan yang cukup menyita fisik dan pikiran. Pekan yang disetiap waktunya lumayan susah untuk bisa tidur siang ataupun sejenak ngobrol bersama adik dirumah. Atau sejenak saja ngobrol dengan orang rumah mengenai apa yang kulakukan dimana tiap paginya sudah harus berangkat, dan tak tanggung-tanggung, malam pun menjadi waktu destinasi untuk pulang.

Pekan yang akan kudapati sebuah rutinitas. Aku pingin mengingatnya. Kita mulai. Tiap pagi bakalan akan kudapati Ibuku yang bangun terlebih dahulu dariku. Aku malu. Sepertinya Ibuku tak pernah meninggalkan sebuah ruang dapur untuk menyiapkan keperluan orang rumah. Ya, tiap pagi seperti itu. Orang pertama dalam penglihatan sebuah rutinintas adalah Ibu. Dalam hati, tanya yang menggelitik : wajah ibuku sepertinya tidak pernah menunjukkan kebosanan …

Pagi, bersama matahari yang ia seakan berjalan dalam kuasa-Nya aku pun pergi meninggalkan sebuah Dusun Triwidadi. Dari titik depan rumah menuju titik sedayu sebagai persimpangan pertama untuk ditarik garis lurus ke Balai Kota Yogyakarta. Disitulah tanah edaran ditiap pagi : menuju sebuah salah satu kampus Muhammadiyah : UAD

Dalam perjalanan sebuah “rutinitas” pun aku lihat. Aku ingin menuliskannya dalam satu pekerjaan yang sama. Pekerjaan yang berhubungan dengan Koran. Pertama, seorang pemuda yang tiap harinya berlarian ditengah mobil dan motor untuk menjualkan Koran. Aku selalu lihat wajah tu pemuda. Tampak memerah wajahnya, sehat, dan menggeliat dengan cepat berlarian memakai jaket merahnya. Ah, pekerjaannya begitu mulia pemuda itu. Menghantarkan bacaan untuk mereka yang ingin paham dengan informasi yang mereka butuhkan.

Diperempatan berikutnya. Ah, tak tanggung-tanggung lagi. Disebuah perempatan dekat dengan sebuah SMA Muhammadiyah dimana tempat “ambisi” seorang aku untuk adikku. Aku yang ingin adikku menjdi seorang aktivis seperti definisiku. Maafkan aku adik. Disitu, Aku lihat seorang Ibu-ibu yang tiap harinya juga menjual Koran. Kupandangi wajah Ibu itu, begitu keras kah hidup ini? Seorang Ibu bersama anak kecil yang selalu ia gendong dengan selendang menghantarkan pula Koran-koran untuk para pengendara motor dan mobil. Wajah ibu itu nampaknya juga tak bosan. Sungguh mulia pekerjaan ibu itu. Pertanyaannya yang menggelitik : suaminya kemana ya? Ibu itu harus juga bekerja kah sedang pekerjaan utamanya sebenarnya membawa anak yang ia gendong bukan di tempat itu? Entah …

Perempatan berikutnya, aku juga menemukan seorang laki-laki. Kisaran 30an tahun. Dengan topi warna merah yang selalu aku lihat, ia berjalan dipinggiran trotoar dekat pemberhentian mobil dan motor disaat lampu merah. Memamerkan beberapa Koran untuk dijualkan. Suatu waktu ketika waktu Subuh Aku terjang juga dalam sebuah pemenuhan amanah, kulihat dalam kondisi petang ternyata laki laki itu sudah bersiap diri. Dalam hati ku bertanya menelisik, bukankah pagi memang waktu yang dalam hadist untuk menjemput rizki-Nya.
Dalam perempatan berikutnya, kini kudapati seorang laki-laki tua yang sepertinya sudah lanjut usia. Walau hanya dengan 2 merek Koran, ia dengan begitu tenangnya berdiri disamping kanan garis pembatas jalan. Akan bergerak ataupun berjalan ketika ada pembeli memanggilnya. Ah lagi-lagi kutemui seseorang melakukan pekerjaan mulia itu. Kala itu aku ingin melihat senyumnya seorang laki laki itu. Lalu aku panggil dan membeli salah satu Koran itu. Tapi sayang kenapa beliau tak senyum, kudapati aku sadar ternyata aku yang senyum melihat laki-laki itu.

Mereka tak terlihat bosan …

Seperti hal nya sebuah mesin motor, tak jauh-jauh motorku saja. Motor kalau tidak di service ya suatu saat dititik waktu tertentu juga akan bosan. Tak tanggung-tanggung ia akan mogok atau apalah yang menandakan bahwa motor ingin di service. Motor ingin meminta haknya untuk rehat sejenak. Mengisi ruang-ruang kosong dengan pelumasan oli atau cairan lain yang ia butuhkan untuk kuat dan siap digunakan kemana saja.
Nah bagaimana dengan hati kita? Pernah dalam titik jenuh kebosanan dalam sebuah rutinitas? Kalau motor saja iya, tentu hati lebih sangat membutuhkan sebuah maintenance atau pemeliharaan agar ia senantiasa tetap kuat dan mampu menguatkan orang lain lewat tindakan yang berasal dari hati.
Maka kisah berikut bisa menjadi hikmah. Seorang rekan seperjuangan dalam pena berkisah dalam forum pendamping itu : * 

“Bapak tidak bosan kah tiap hari bekerja membukakan pintu untuk masuk keruang ini?”
Lalu Bapak itu menjawab,” Saya akan sangat dibutuhkan ketika bencana itu datang. Saya akan membukakan pintu untuk orang-orang dalam situasi genting, dimana ada seorang ibu dengan keluarga dirumah, bapak sebagai seorang kepala keluarga yang menghidupi keluarganya, seorang pemuda yang dengan impiannya akan menyelamatkan hajat orang banyak. Kalau saya menyelamatkan mereka, maka saya pun ikut andil dalam menyelamatkan hajat orang banyak pula.”

Nah, kisah itu selalu nyess dihati. Bahwa ketika kita mulai bosan dengan sebuah rutinitas, mengingat akan tujuan jangka panjang kita adalah salah satu terapinya. Sekecil apapun, seremeh apapun, sesusah apapun pekerjaan yang jadi rutinitas saat ini benar-benar akan bernilai kebaikan dan berdampak besar untuk minimal diri kita dan maksimal untuk alam ini. Dengan satu pintu gerbang : niat benar dan ikhtiar terbaik kita. Tak perlu terlalu menyiksa diri, lakukan sesuai kemampuan, karena kewajiban kita hanyalah berusaha dan masalah hasil adalah urusan Allah.

*redaksi dirubah sesuai rasa ^_^ 
gambar : gampangnyasukses.wordpress.com
@annafiahfirdaus