Minggu, 20 Oktober 2013

Berbagi Kebaikan*

Berbagi (ilustrasi)

antara

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh; Fariq Gasim Anuz
Imam Dzahabi dalam kitab Siyar A'lam an-Nubala (8/114) menyebutkan, al-Hafidz Ibnu Abdil Barr berkata dalam buku At-Tamhid, “Aku tuliskan ini dari hafalanku, karena buku aslinya tidak ada padaku.”

Abdullah al-Umari al-Abid menulis surat kepada Imam Malik menasihati beliau untuk banyak menyendiri dengan  berzikir dan beribadah sunah. 

Imam Malik menulis jawaban kepadanya, “Sesungguhnya Allah membagi amalan sebagaimana membagi rezeki. Boleh jadi Allah mudahkan dan memberikan taufik-Nya kepada seseorang untuk banyak melakukan shalat sunah, tapi tidak dalam puasa sunah.

Orang lain lagi, Allah memudahkan kepadanya untuk banyak bersedekah, ada lagi yang Allah mudahkan dan beri kelebihan kepada seseorang dalam berjihad. Menyebarluaskan ilmu juga merupakan amal kebaikan yang sangat utama. Saya ridha dengan taufik-Nya yang telah memudahkan untukku dalam menyebarkan ilmu syar'i. Saya kira amalan yang kulakukan ini tidak lebih rendah dari amalanmu. Saya berharap kita semuanya dalam kebaikan.”

Ada beberapa pelajaran dan hikmah dari kisah di atas. Pertama, kehati-hatian ulama dalam menukil atau menceritakan ucapan seseorang. 

Imam Ibnu Abdil Barr mengatakan, redaksi cerita ini dari hafalannya, bukan redaksi Imam Malik. Hendaknya kita berupaya membawakan hadis Nabi SAW yang sahih agar tidak terjerumus berdusta atas nama beliau.

Pesan kepada para wartawan dan jurnalis, baik di media cetak maupun elektronik, hendaknya lebih berhati-hati dalam memberikan informasi kepada masyarakat. Jangan sampai berbohong kepada publik. 

Hendaknya kita lebih selektif dalam memilih, memuat, dan menyebarkan berita. Agar informasi yang disampaikan berupa informasi yang membangun, menyejukkan, memperbaiki, dan menyatukan.

Kedua, pentingnya saling menasihati sesama Muslim. Jika kita mengetahui kekurangan dan aib pada saudara kita, janganlah kita menyebarkan aibnya. Ingatkanlah dia. 

Jika sulit untuk berjumpa, kirimlah surat dengan ungkapan yang baik. Agar orang yang dinasihati tidak tersinggung, bahkan malah menyadari dan segera memperbaiki kesalahannya.

Ketiga, bagi yang dinasihati, jika isi nasihat tidak tepat atau bahkan salah alamat, janganlah marah atau tersinggung. Bergembiralah dengan kritikan saudara kita, karena nasihat merupakan bentuk perhatian dan rasa sayang kepada sesama saudara. 

Keempat, jawablah nasihat yang kurang tepat dengan jawaban yang sopan. Berilah permisalan dan bantahlah dengan tegas tapi tetap menjaga keadilan dan penuh rasa kasih sayang.

Kelima, Allah memberikan potensi dan kelebihan yang beragam kepada hamba-hamba-Nya. Janganlah saling merendahkan, janganlah saling menyombongkan diri.
Hendaklah umat Islam saling bersinergi, bekerja sama dalam kebaikan dan takwa, serta saling menguatkan satu sama lain. 

Allah berfirman, “Taatilah Allah dan Rasul-Nya dan janganlah kalian berselisih, yang menyebabkan kalian menjadi gentar dan kekuatan kalian hilang dan bersabarlah. Sungguh, Allah bersama orang-orang yang sabar.” (QS al-Anfal: 46).

Rasululullah SAW bersabda, “Mukmin yang kuat itu lebih baik dan lebih dicintai Allah dari mukmin yang lemah, dan pada keduanya terdapat kebaikan.” (HR Muslim). “Seorang mukmin bagi mukmin lainnya bagai sebuah bangunan yang saling menguatkan satu sama lainnya.” (HR Bukhari dan Muslim).
Redaktur : Damanhuri Zuhri

*Diambil di web republika.co.id

Ingin sekali menjadi jurnalis. Seorang wanita yang selalu istiqomah berbagi kebaikan, wanita cerdas dan mencerdaskan, menjadi pendidik minimal (insyaallah) di keluarga kecil. Bismillah, semoga Engkau mudahkan Ya Rabb. Pernah bermimpi memiliki pendamping yang tak jauh dari profesi ini, tapi ketetapanMu adalah yang terbaik. Hanya satu pinta, apapun profesiku esok, jiwa jurnalis inilah yg akan melekat. Ia adalah salah satu jalan untuk lebih peka ... 

Minggu, 22 September 2013

Masihkah Bosan?

Kalau dalam kondisi seperti ini, jadi teringat sebuah petuah hati di sebuah majelis kala itu. Aku daftar jadi pendamping ospek kampus. Salah satu niatnya ingin melihat barisan baru untuk sebuah impian pekerjaan. Menjadi seorang kakak yang sejatinya masih sangat sedikit ilmu dan ingin belajar dari wajah penuh harap dari mereka.

Pekerjaan apapun itu akan berdampak disuatu saat nanti. Termasuk pendamping. Karena dengan dekat dengan mereka, kita sebagai seorang pendamping bisa mengarahkan tentang pilihan yang mereka ambil. Ah, aku merinding ketika menyebut nama ini : Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta. Sebuah profesi untuk mengabdikan diri menyerahkan seluruh hidup dan jiwa  untuk sebuah kesehatan. Tak perlu jauh dan meluas, minimal kesehatan jiwa kita dan lingkungan sekitar. Arahan itu, ya arahan itu yang saat inipun aku masih harus belajar untuk menancapkan diri dalam hati terdalam, karena konsekuensinya pun ternyata perlu kerja keras.

Pekan ini, entah menjadi pekan yang cukup menyita fisik dan pikiran. Pekan yang disetiap waktunya lumayan susah untuk bisa tidur siang ataupun sejenak ngobrol bersama adik dirumah. Atau sejenak saja ngobrol dengan orang rumah mengenai apa yang kulakukan dimana tiap paginya sudah harus berangkat, dan tak tanggung-tanggung, malam pun menjadi waktu destinasi untuk pulang.

Pekan yang akan kudapati sebuah rutinitas. Aku pingin mengingatnya. Kita mulai. Tiap pagi bakalan akan kudapati Ibuku yang bangun terlebih dahulu dariku. Aku malu. Sepertinya Ibuku tak pernah meninggalkan sebuah ruang dapur untuk menyiapkan keperluan orang rumah. Ya, tiap pagi seperti itu. Orang pertama dalam penglihatan sebuah rutinintas adalah Ibu. Dalam hati, tanya yang menggelitik : wajah ibuku sepertinya tidak pernah menunjukkan kebosanan …

Pagi, bersama matahari yang ia seakan berjalan dalam kuasa-Nya aku pun pergi meninggalkan sebuah Dusun Triwidadi. Dari titik depan rumah menuju titik sedayu sebagai persimpangan pertama untuk ditarik garis lurus ke Balai Kota Yogyakarta. Disitulah tanah edaran ditiap pagi : menuju sebuah salah satu kampus Muhammadiyah : UAD

Dalam perjalanan sebuah “rutinitas” pun aku lihat. Aku ingin menuliskannya dalam satu pekerjaan yang sama. Pekerjaan yang berhubungan dengan Koran. Pertama, seorang pemuda yang tiap harinya berlarian ditengah mobil dan motor untuk menjualkan Koran. Aku selalu lihat wajah tu pemuda. Tampak memerah wajahnya, sehat, dan menggeliat dengan cepat berlarian memakai jaket merahnya. Ah, pekerjaannya begitu mulia pemuda itu. Menghantarkan bacaan untuk mereka yang ingin paham dengan informasi yang mereka butuhkan.

Diperempatan berikutnya. Ah, tak tanggung-tanggung lagi. Disebuah perempatan dekat dengan sebuah SMA Muhammadiyah dimana tempat “ambisi” seorang aku untuk adikku. Aku yang ingin adikku menjdi seorang aktivis seperti definisiku. Maafkan aku adik. Disitu, Aku lihat seorang Ibu-ibu yang tiap harinya juga menjual Koran. Kupandangi wajah Ibu itu, begitu keras kah hidup ini? Seorang Ibu bersama anak kecil yang selalu ia gendong dengan selendang menghantarkan pula Koran-koran untuk para pengendara motor dan mobil. Wajah ibu itu nampaknya juga tak bosan. Sungguh mulia pekerjaan ibu itu. Pertanyaannya yang menggelitik : suaminya kemana ya? Ibu itu harus juga bekerja kah sedang pekerjaan utamanya sebenarnya membawa anak yang ia gendong bukan di tempat itu? Entah …

Perempatan berikutnya, aku juga menemukan seorang laki-laki. Kisaran 30an tahun. Dengan topi warna merah yang selalu aku lihat, ia berjalan dipinggiran trotoar dekat pemberhentian mobil dan motor disaat lampu merah. Memamerkan beberapa Koran untuk dijualkan. Suatu waktu ketika waktu Subuh Aku terjang juga dalam sebuah pemenuhan amanah, kulihat dalam kondisi petang ternyata laki laki itu sudah bersiap diri. Dalam hati ku bertanya menelisik, bukankah pagi memang waktu yang dalam hadist untuk menjemput rizki-Nya.
Dalam perempatan berikutnya, kini kudapati seorang laki-laki tua yang sepertinya sudah lanjut usia. Walau hanya dengan 2 merek Koran, ia dengan begitu tenangnya berdiri disamping kanan garis pembatas jalan. Akan bergerak ataupun berjalan ketika ada pembeli memanggilnya. Ah lagi-lagi kutemui seseorang melakukan pekerjaan mulia itu. Kala itu aku ingin melihat senyumnya seorang laki laki itu. Lalu aku panggil dan membeli salah satu Koran itu. Tapi sayang kenapa beliau tak senyum, kudapati aku sadar ternyata aku yang senyum melihat laki-laki itu.

Mereka tak terlihat bosan …

Seperti hal nya sebuah mesin motor, tak jauh-jauh motorku saja. Motor kalau tidak di service ya suatu saat dititik waktu tertentu juga akan bosan. Tak tanggung-tanggung ia akan mogok atau apalah yang menandakan bahwa motor ingin di service. Motor ingin meminta haknya untuk rehat sejenak. Mengisi ruang-ruang kosong dengan pelumasan oli atau cairan lain yang ia butuhkan untuk kuat dan siap digunakan kemana saja.
Nah bagaimana dengan hati kita? Pernah dalam titik jenuh kebosanan dalam sebuah rutinitas? Kalau motor saja iya, tentu hati lebih sangat membutuhkan sebuah maintenance atau pemeliharaan agar ia senantiasa tetap kuat dan mampu menguatkan orang lain lewat tindakan yang berasal dari hati.
Maka kisah berikut bisa menjadi hikmah. Seorang rekan seperjuangan dalam pena berkisah dalam forum pendamping itu : * 

“Bapak tidak bosan kah tiap hari bekerja membukakan pintu untuk masuk keruang ini?”
Lalu Bapak itu menjawab,” Saya akan sangat dibutuhkan ketika bencana itu datang. Saya akan membukakan pintu untuk orang-orang dalam situasi genting, dimana ada seorang ibu dengan keluarga dirumah, bapak sebagai seorang kepala keluarga yang menghidupi keluarganya, seorang pemuda yang dengan impiannya akan menyelamatkan hajat orang banyak. Kalau saya menyelamatkan mereka, maka saya pun ikut andil dalam menyelamatkan hajat orang banyak pula.”

Nah, kisah itu selalu nyess dihati. Bahwa ketika kita mulai bosan dengan sebuah rutinitas, mengingat akan tujuan jangka panjang kita adalah salah satu terapinya. Sekecil apapun, seremeh apapun, sesusah apapun pekerjaan yang jadi rutinitas saat ini benar-benar akan bernilai kebaikan dan berdampak besar untuk minimal diri kita dan maksimal untuk alam ini. Dengan satu pintu gerbang : niat benar dan ikhtiar terbaik kita. Tak perlu terlalu menyiksa diri, lakukan sesuai kemampuan, karena kewajiban kita hanyalah berusaha dan masalah hasil adalah urusan Allah.

*redaksi dirubah sesuai rasa ^_^ 
gambar : gampangnyasukses.wordpress.com
@annafiahfirdaus







Senin, 16 September 2013

Keep Hamasah

Benar yang dikatakan oleh seorang Uztadz, bahwa akar dari tiap masalah kitapun kurangnya ilmu kita. Kita yang sibuk dengan "gerak" terus tanpa di barengin dengan proses "belajar" yang sungguh-sungguh. Proses belajar adalah proses yang senantiasa mendekatkan hati kita dengan-Nya lewat ilmu, membersihkan diri dengan siraman ilmu bahwasanya kita ini diciptakan untuk beribadah kepada-Nya serta melaksanakan segala urusan tentunya dengan sebuah ilmu.

Ilmu mendahului amal dan iman pun mendahului amal dan ilmu. Sungguh hidup ini hanya sekali. Sungguh sia-sia kalau sampai sekarang kita tidak semakin dewasa dengan bertambahnya kualitas ilmu dan iman kita

Demi Rabb yang menguasai tiap ketetapan kami, bimbinglah kami dan kuatkan kami agar tetap mampu berjalan dalam jalan yang Engkau Ridhai. Cintailah kami serta orang- orang yang amat kami cintai karena Engkau.

Mudahkan segala urusan kami, mengokohkan perjuangan ini, serta menguatkan agamaMu tegak di manapun itu. Surga menanti :)
Kisah tentang Betapa Alloh sangat gembira dan amat senang kepada hambanya yang bertobat,

dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu:

لَلَّهُ أَشَدُّ فَرَحًا بِتَوْبَةِ عَبْدِهِ حِينَ يَتُوبُ إِلَيْهِ مِنْ أَحَدِكُمْ كَانَ عَلَى رَاحِلَتِهِ بِأَرْضِ فَلَاةٍ فَانْفَلَتَتْ مِنْهُ وَعَلَيْهَا طَعَامُهُ وَشَرَابُهُ فَأَيِسَ مِنْهَا فَأَتَى شَجَرَةً فَاضْطَجَعَ فِي ظِلِّهَا قَدْ أَيِسَ مِنْ رَاحِلَتِهِ فَبَيْنَا هُوَ كَذَلِكَ إِذَا هُوَ بِهَا قَائِمَةً عِنْدَهُ فَأَخَذَ بِخِطَامِهَا ثُمَّ قَالَ مِنْ شِدَّةِ الْفَرَحِ: اللَّهُمَّ أَنْتَ عَبْدِي وَأَنَا رَبُّكَ. أَخْطَأَ مِنْ شِدَّةِ الْفَرَحِ

“Benar-benar Allah sangat gembira dengan taubat hamba-Nya ketika dia bertaubat kepada-Nya, daripada salah seorang kamu yang berada di atas kendaraannya di sebuah tanah padang yang sunyi, lalu kendaraan itu lepas (lari) meninggalkannya, padahal di atasnya ada makanan dan minumannya. Akhirnya dia putus asa mendapatkannya kembali. Maka dia pun mendatangi sebatang pohon lalu berbaring di bawah naungannya, dalam keadaan putus asa dari kendaraannya. Ketika dia dalam keadaan demikian, ternyata tiba-tiba kendaraan itu berdiri di dekatnya. Lalu dia pun menggenggam tali kekangnya dan berkata saking gembiranya: ‘Ya Allah, Engkau hambaku dan aku Rabbmu.’ Dia salah ucap karena saking gembiranya.”
(HR Muslim)

Jumat, 26 Juli 2013

PERCAKAPAN 2N


Nurani : kamu tau gak artinya munafik?
Nafsu : Tau sih. Kenapa emang?
Nurani : Enggak papa, syukur kalau tau.
Nafsu : Kenapa emang? Kok tiba-tiba Tanya gitu? (geram si nafsu)
Nurani : Enggak papa ni? Nanti kamu marah lagi. Pekerjaan lho kan setengah marah setengah kalem. Tapi kayaknya kamu lagi ter terlihat lagi marah
Nafsu : Iye,
Nurani : Kamu galau ya?
Nafsu : Apa an sih kok nanya kek gitu. Aku selalu mengatakan ketemen-temen dan adik-adikku kalau gak boleh galau.
Nurani : Seek, definisi galau yang mana ni yang kamu maksud?
Nafsu : Galau yang itu tu, galau ama cinta cengeng.
Nurani : maksudnya?
Nafsu : Kamu tu berbelit-belit tanyanya padahal kamu kan tau tentang aku segalanya
Nurani : Iye, Cuma ngetes kok
Nafsu : Iye, galau yang ama lawan jenis. Gak boleh ya?
Nurani : Boleh gak ya ???
Nafsu : Ah, kelamaan jawabnya.
Nurani : Tanyakan kepada nurani
Nafsu : Lha ini lagi nanya, piye to?
Nurani : Sabar to, kamu tu nafsu, selalu tergesa-gesa kalau menjatuhkan.
Nafsu : Menjatuhkan apa?
Nurani : tadi katanya cinta cengeng. Gak punya prinsip. Ya, walaupun seingetku udah pernah nulis prinsip itu di buku rahasia kamu kan? Emang lupa?
Nafsu : Iye, ya maaf, sekarang aku menyesal. Tu nafsu jelek lagi semangat semangatnya. Sedangkan aku? nafsu baik sedang letoy ni
Nurani : Tu kamu nyadar. Kamu tu, tidur mulu, makan mulu, tu pekerjaan syetan. Kamu emang mau nemenin dia di neraka?
Nafsu : Dia sapa? Syetan? ya mana ada pingin yang jelek, maunya ya yang enak enak. Trus apalagi ni nasihat darimu Nur? Bener-bener parah ni, berantakan.
Nurani : Apanya yang berantakan?
Nafsu : semuanya!!! Gara-gara tu, cinta cinta apa tu, terlalu GR..hahaha
Nurani : Kamu tu, kalo mau ngapa-ngapain gak denger nasihatku dulu sih. Aku kan dekat dengan Allah
Nafsu : Iye, maaf lagi.
Nurani : Gimane udah banyakin ngaji kan? biar lebih deket dengan Allah. Bacaan mu gimana? Oia, sering dapet nasehat lagi gak ama pak ustadz?
Nafsu : Haha, Iye, sudah lebih tenang, apalagi seharian kalau pas senggang mantengin HP trus buka twiiter. Pak Ustadz, lagi gak berani ketemu beliau.
Nurani : Whats?
Nafsu : Santai ! aku bacanya situs berita. Perjuangan Palestina di Gaza, Mesir, sudah cukup menjadi alasan tak galau lagi.
Nurani : Hanya itu ?
Nafsu : mmmm, ada lagi ( sok mikir)
Nurani : Kamu tu, tentukan pilihan mu donk, trus inget konsekuensi nya.
Nafsu : Iye, mengingat adik-adik dan Masalah Kesehatan Indonesia sudah cukup menjadi ladang untuk beribadah dan membuat diri ini tak menjadi seonggok manusia tak bermanfaat
Nurani : Iye, inget ya, konsekuensinya kamu gak boleh cengeng. Tinggalkan juga tu yang galau galau. Kamu udah dipilih Allah untuk melakukan semua itu, dan inget, jangan sia-siakan dan nodai kepercayaan mereka. Ibu, bapak, adik-adik dan secara lebih luas Masyarakat. Iye kan?
Nafsu : Iye, bijak banget sih kamu kayak …. haha
Nurani : Hush kamu mulai lagi. Lupakan !!
Nafsu : Iye maaf, makanya aku selalu di ingetkan ya, kan kamu selalu mengarah dalam kebaikan
Nurani : Iye, apa kata dunia! Ntar casing mu terlihat kuat dalemnye,,,hadeee
Nafsu : Iye, aku udah paham lagi tentang Munafik tadi 
Nurani : Oiya, satu lagi, rasa itu fitrah, tapi tampakkan sesuai proporsinya. Kalau bisa hijrahkan kearah kebaikan, oke???
Nafsu : Maksud Loh ?
Nurani : kamu tu.. Cinta itu yang ku maksud adalah cinta dengan hati. Pake pertimbanganku. Ya, pake Nurani. Bukan kamu.
Nafsu : Kamu jahat banget sih !!!
Nurani : haha.. iye, kamu fitrahnya kadang selalu bisa baik dan benar, kalau aku itu lebih dekat dengan Allah sayang
nafsu : Iye, maaf aku telah mengambil pekerjaanmu
Nurani : Tak apa. Inget, kamu selalu denger pertimbanganku ya !!!
Nafsu : Iye
Nurani : Dan, sekali lagi , cinta yang benar menurut Ustadz Syatori pas KRPH tempo itu, Cinta dengan Nurani yang akan mendekatkan pemilik cinta dengan Sang Pemilik hatinya : Allah. Sebening Jiwa pengabdian kepada-Nya. Surga Naf balesannya. Dan Emang itu Layak diperjuangkan. Kau pun harus mengalah hehe
Nafsu : Makin jahat aja kamu. Terus pekerjaan ku apa donk !!
Nurani : ya tergantung kamu, kamu itu nafsu baik atau nafsu jelek hehehe
Nafsu : Iye, aku akan ngajak nafsu jelek tertunduk padaku dah hahaha
Nurani : Sip Dah
Nafsu : Yoi
Nurani : Jangan lupa, selalu dengerkan diriku, agar selalu dekat dengan pencipta kita.
Nafsu : Enjehhh
Nurani : Oiya, satu lagi 
Nafsu : Opo meneh. Banyak banget sih nasihatmu
Nurani : biar kamu nyadar, :P
Nafsu : Apa apa ?
Nurani : Cintai mereka dengan hati. Dan ketika ada masalah dengan hati, bukan dengan nafsu. Minta langsung Allah untuk membimbing. Seberapapun dan sedalam apapun kamu mencintai mereka, jika Allah berkehendak berbeda dengan keinginan kita, kamu dan aku harus terima itu. Itu yang terbaik buat hidupmu dan hidup mereka. Oke
Nafsu : Oyeee, makasih ya kamu Nur udah nasihatin aku 
Nurani : Same same

gambar : hauradwityaprameswari.blogspot.com

Kamis, 18 Juli 2013

Konsekuensi Pilihan


Apa jadinya jika konsekuensi-konsekuensi itu kita abaikan? Konsekuensi yang didalamnya memuat segala hal yang akan kita terima saat pilihan harus diputuskan. Iya atau tidak. Ambil atau serahkan. Dikerjakan atau biarkan. Semua pilihan ada konsekuensinya. Konsekuensi yang tentu melibatkan lahir maupun batin.

Ya, tiap pilihan ada konsekuensinya. Menjadi muslim pun ada konsekuensinya. Taat dan patuh kepada Allah: begitu redaksinya. Memilih memiliki sebuah impian besar, kata seorang senior, ya kerja-kerja besar yang harus dilakukan. Atau memilih untuk berada disuatu tempat yang ritmenya belum se-lineaar dengan ritme pribadi, maka konsekuensinya adalah mengendalikan ritme tersebut, dipercepat ataukah diperlambat. Atau kita sudah telanjur terjebak dalam kondisi yang tak pernah jadi rencana atau malah sudah direncanakan, namun kemampuan diri belum pantas, maka konsekuensinya adalah tidak boleh mengeluh dan harus segera belajar dengan keras tentang kemampuan itu.

Ya, konsekuensi itu selalu mengikuti setiap pilihan. Tapi terkadang, apakah kita sadar dengan “makhluk” itu. Sebuah makhluk yang jika kita tak menyadari keberadaannya, maka akan secara otomatis akan menciderai niat itu sendiri. Itupun kalau niat kita di awal sudah benar, bahkan besar. Astaghfirullah. Benar yang kita suguhkan hanya untuk mengabdikan diri kepada-Nya dengan “menjual” diri dengan apa yang kita punya demi kebaikan tertebar. Atau besar yang meniatkan pilihan ini benar adanya ada kemanfaatan yang akan dirasakan oleh minimal perubahan diri kita bahkan lingkungan sekitar. Ah, niat itu seakan mudah berbelok tanpa arah, maka mari berdoa agar Allah menjaga niat kita.

Konsekuensi. Konsekuensi. Dan Konsekuensi. Kredo yang lagi selalu terngiang-ngiang dan berterbangan.. Sebagai contoh : Konsekuensi lahir yakni menyediakan waktu untuk melahirkan kerja-kerja nyata itu penting bukan? Bukan waktu waktu sisa kita, bukan pula energy sisa kita. Kemudian memprioritaskan konsekuensi itu diatas konsekuensi pilihan yang lain itu kewajiban bukan. Namanya juga konsekuensi yang harus kita terima. Bahkan diwaktu sesibuk dan selelah apapun yang kadang jadi alibi kita untuk menunda kebaikan, konsekuensi itu pun sesungguhnya harus kita prioritaskan.

Yaaa, hanya perlu ada akad yang jelas terhadap pilihan kita. Dan ketika memang saat ini Allah takdirkan kita disuatu tempat yang “berpeluang” melakukan banyak kebaikan, hanya satu pilihan. Kita belajar mencintai proses itu dan kita berusaha terbaik untuk melakukan yang terbaik sesuai kemampuan kita. Allah akan selalu bersama kita. Allah melihat kita. Dan Allah akan selalu menempatkan diri kita dengan parameter terbaik menurut-Nya.

Teringat lagi, satu nasihat : jika kita memulai karena Allah, jangan pula mengakhiri karena manusia. Sungguh, niat yang didalam sharah Arba`in itu didefinisikan kita melakukan dan tidak melakukan sesuatu karena Allah. Mari kita cek !!

gambar : inspirasidaily.com

Rabu, 26 Juni 2013

Ralat Amanah


Tujuh tahun lebih lamanya, seorang wanita berkepala empat itu terlihat jarang menampakkan kesedihan, penyesalan, kelelahan bahkan mengeluh dengan apa yang disebut nasib. Ia, dengan ke “sendiri” nya sudah tak seperti kebanyakan istri yang lain.

“Ya, ini mungkin sudah menjadi jalan hidup saya dan suami”


Wanita berkerudung itu melanjutkan ceritanya. Tiap pekan, sebanyak 3 kali, yakni hari Senin, Rabu, dan Jumat harus membersamai sang Suami tuk Cuci darah. Penyakit gagal ginjal yang menjangkit Sang Suami 52 tahun itu terjadi akibat penumpukan kinerja ginjal yang overload. Di lain hal, tiap hari Sang Suami memang harus mengonsumsi obat penyakit warisan orang tuanya : hipertensi.

Ibu itu masih cantik, ditambah dengan kerudung yang masih modis bagi seusia beliau. Selalu ceria dan tak menampakkan wajah sedih dan keluh kesahnya. Tak sungkan beliau cerita tentang keluarganya padaku. Sang suami yang membutuhkannya tiap waktu, serta kedua anaknya yang selalu bersikap manja. Entah, begitu penasaran diriku tentang apa yang membuatnya begitu kuat. Bayangkan, sudah tujuh tahun Ibu itu merawat Sang Suami yang ia harapkan seharusnya melindungi dan mendekapnya. Tapi selama tujuh tahun itu beliau rasa berbalik seratus delapan puluh derajat.

Ah, pikiranku saat iku memang tak jernih mungkin. Bisa-bisa nya aku berfikir, “Ibu secantik ini kok tidak berfikir meninggalkan Sang Suami saja”, ampuni aku Rabb. Benar-benar tak jernih fikiranku saat itu. Hingga sebuah statement itu keluar dan langsung menampar secara lembut dan menyejukkan, “Ya, semoga ini menjadi Ibadah. Merawat suami kan Ibadah seorang Istri.”

Deg. Ibu itu pun terlihat lega dan semakin cantik dengan senyumnya. Jawaban yang tak ada tawar menawar untuk di bantah. Ya, dalam kondisi apapun, ibu itu akan tetap setia. Tak lari bahkan semakin mendekap erat dalam ikatan karena-Nya. Hanya Allah yang ia harapkan sebagai sebaik-baik pemberi balasan. Hanya Dia, sebaik-baik tempat mengadu dan mengokohkan diri untuk tetap yakin akan jalan hidupnya.

Ya. Semua itu karena cinta. Jika kita sudah cinta, sesuai proporsinya, Allah pun akan mencintai kita lebih apapun dari bayangan kita. Begitu pula dengan amanah, apapun itu, jika kita mencintainya, tak selayaknya kita meninggalkannya dalam kondisi apapun. Pun sesuai dengan proporsi dan kemampuan. Tapi pertanyaannya, sudahkah kita mencintai amanah itu ?

Hasil ngobrol di dingklik depan kamar opname Bapak 18/6/13
RS PKU Muhammadiyah

gambar : http://satufikr.wordpress.com

Selasa, 25 Juni 2013

Berpindah Mulia


Cinta. Banyak definisinya. Ia bisa di jabarkan oleh siapapun yang sedang tergila-gila olehnya. Entah cinta yang mana. Cinta yang bagiku “cengeng” atau cinta yang begitu dahsyat hingga jiwanya ia pertaruhkan demi yang ia cintai. Yang kedua inilah yang aku sebut perjuangan. Kosa kata yang sejenak berfikir lalu tertawa, betapa masih dangkalnya definisi perjuangan dalam kamusku. Apalagi dalam penerapannya.

Baiklah. Aku tak akan membahas yang pertama. Cinta yang cengeng, cinta yang mendzolimi, cinta yang rapuh, cinta yang bagiku tak perlu dibahas ketika memang kita belum siap membahasnya untuk kehidupan kita sekarang. Bukankah masih banyak cinta-cinta yang bisa kita bahas. Cinta tuk gapai asa, impian, kebahagiaan dan kesuksesan di masa mendatang. Itulah cinta yang terwujud dalam perjuangan. Sebuah ikhtiar untuk membahagiakan orang-orang yang layak kita beri apa yang membuat bahagia. Dan tentu membuat mereka tambah mencintai kita. Rela selalu mendoakan sebuah kebaikan untuk kita ditiap kondisi apapun. Siapakah dia?

Jadi teringat kisah seorang yang begitu mudah berlain hati :“Ya Rasullullah”, kata Umar, “Mulai saat ini engkau lebih kucintai daripada apapun di dunia ini.”

Taukah, padahal sebelumnya Umar bin Khatab berbicara pada Rasulullah bahwa ia mencintai Baginda Nabi seperti dirinya sendiri. Ya, seperti dirinya sendiri. Tetapi, Rasullah memintanya agar ia lebih mencintai Rasul daripada dirinya sendiri dan bahkan keluarganya. Begitu mudah kemudian Umar mengubah cintanya dari yang pertama. Tanpa pikir panjang, apalagi kali lebar. Tak menghiraukan keluarganya, yang ia yakini bahwa mencintai Rasulullah adalah sebuah kemuliaan. Ya, kemuliaan baginya yang merupakan harga diri yang harus dijaga untuk Rabb dan Rasul-Nya. Pernah kita melakukannya? Mengubah perasaan cinta karena sebab mulia itu.

Cinta memang seni. Seni untuk mencintai. Ya, bagiku hanya mencintai saja. Tak memedulikan apakah ia mencintai kita atau tidak. Ia? Bentar, ia siapa maksudnya. Nah inilah. Cinta berseni membutuhkan pengetahuan dan perjuangan. Tak serta merta dengan hanya melihat paras wajahnya tanpa mengetahui apa yang ada didalam hatinya. Kemudian dengan dangkal kita dengan mudah mencintainya.

Butuh pengetahuan serta alasan apakah ia (seorang manusia itu) lebih pantas di cintai, sedangkan Allah dan orang-orang yang sudah berjasa pada kita tak kita cintai melebihi cinta yang cengeng itu. Orang tua, sahabat sejenis kita, dan impian kita.

Cinta selalu datang disertai alasan. Maka mari kita selalu tilik, apakah alasan kita mencintai sudah benar. Maka jika alasan itu begitu rapuh dan cengeng, mari kita beranjak menuju alasan-alasan yang begitu menegakkan dan mengokohkan kita sebagai seseorang yang bisa menjaga kehormatan kita. Sebuah harga diri (izzah) untuk kita tak perlu bersusah-susah menebar pesona luar saja. Karena dengan sendirinya, pesona dalam yang kuat dan tak tergadaikan dengan cinta yang cengeng itu, akan dengan sendirinya menjadi indah di mata-Nya dan semua makhluk.

Hanya ada satu kegilaan cinta yang pantas kita rasakan. Cinta pada-Nya, Rasul-Nya, ilmu, belajar, kebaikan, impian, dan perjuangan itu sendiri. Susah memang. Dan itulah mengapa Cinta yang suci dan bening itu kita upayakan dengan sepenuh jiwa dan raga kita. Cinta adalah kata kerja. Bukan kata benda yang menjadikan kita diperbudak oleh nafsu kita.
Sedang cinta kepada apapun yang menjadi titipan dari-Nya cukup sekedarnya saja. Tak berlebihan ataupun kekurangan. Karena Allah mengetahui apa yang terbaik kita. Hanya ikhitiar dan doa yang bisa kita lakukan untuk kebahagian diri kita dan orang-orang yang layak kita cintai.

“… Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal itu amat buruk bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu amat buruk bagimu…” QS [1: 216]

Terisnpirasi dari Jalan Cinta Para Pejuang -Salim A Fillah
dan terpantik menuliskannya untuk seorang sahabat. Pun aku selalu berusaha mengindahkan dan menghidupi apa yang kutulis.