Rabu, 16 September 2015
Berjalanlah sesuai aturanNya
Kita semua akan RUGI.
Kecuali mereka yang memiliki IMAN
Kecuali mereka yang menempuh jalan ILMU terlebih dahulu sebelum AMAL
Lantas, mereka saling bernasehat dalam kebaikan dan kesabaran ..
Apa kabar iman kita hari ini?
Iman akan senantiasa menguat dengan ILMU
Lantas ILMU harus kita praktekkan
agar senantiasa berbuah, lebat, dan bermanfaat
Al-Ashr 1-3
Tempat Kamu ...
At-Tirmidzi al-Hakim rahimahullaah mengatakan,
"Tempat yang cocok bagi anak adalah sekolah. Tempat yang cocok untuk perampok adalah di penjara. Tempat yang cocok bagi wanita adalah di rumah."
(Ath-Thabaqat al-Kubra, karya asy-Sya`rani ) ---Prophetic Parenting
Jumat, 01 Mei 2015
Salah Satu Kuncinya pada Wanita
Taukah Anda tentang alasan Yahudi membenci kaum wanita hingga hampir memusnahkan seluruh kaum hawa di dunia ini?
Simak kisah berikut
Simak kisah berikut
“Seorang anak yang rusak masih bisa menjadi baik asal ia pernah mendapatkan pengasuhan seorang ibu yang baik. Sebaliknya, seorang ibu yang rusak akhlaknya, hanya akan melahirkan generasi yang rusak pula akhlaknya. Itulah mengapa yang dihancurkan pertama kali oleh Yahudi adalah wanita.”
Ucapan diatas dilontarkan oleh Muhammad Quthb, dalam sebuah ceramahnya puluhan tahun silam. Muhammad Quthb adalah ulama Mesir yang concern terhadap pendidikan Islam sekaligus pemikir ulung abad 20. Ia tidak hanya dikenal sebagai aktivis yang gencar melakukan perlawanan terhadap rezim Imperialisme Mesir, namun juga cendekiawan yang terkenal luas ilmunya.
Beberapa bukunya pun telah beredar di Timur Tengah dan diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa yang diantaranya adalah Shubuhāt Hawla al-Islām (literally “Misconceptions about Islam”).Hal nahnu Muslimūn (Are we Muslims?). Al-Insān bayna al-māddīyah wa-al-Islām. (Man between the Material World and Islam). Islam and the Crisis of the Modern World dan masih banyak lagi. Maka tak heran, lepas dari penjara ia pun mendapatkan gelar Profesor Kajian Islam di Arab Saudi.
Muhammad Quthb menekankan bagaimana pentingnya peran yang dimiliki seorang ibu dalam Islam. Ibu tidak saja adalah pihak yang dekat secara emosional kepada seorang anak, tapi ia juga memiliki pengaruh besar terhadap masa depan akhlak dari generasi yang dilahirkannya.
Menurut Muhammad Quthb anak yang pada kemudian hari mendapatkan ujian berupa kehancuran moral akan bisa diatasi, asal sang anak pernah mendapatkan pengasuhan ibu yang solehah. Pendidikan Islami yang terinternalisasi dengan baik, akan membuat sang anak lekas bangkit dari keterpurukannya mengingat petuah-petuah rabbani yang pernah terekam dalam memorinya.
Sebaliknya, ayah yang memiliki istri yang sudah rusak dari awalnya, maka ia pun hanya akan melahirkan sebuah keturunan yang memiliki kepribadian persis dengan wanita yang dipinangnya. Sifat alami anak yang banyak mengimitasi perilaku sang ibu akan membuka peluang transferisasi sifat alami ibu kepada anaknya.
Maka kerusakan anak akan amat tergantung dari kerusakan ibu yang mendidiknya. Oleh karena itu, dalam bukunya Ma’rakah At Taqaaliid, Muhammad Quthb mengemukakan alasan mengapa Islam mengatur konsep pendidikan yang terkait dengan arti kehadiran ibu dalam keluarga.
Ia menulis:
“Dalam anggapan Islam, wanita bukanlah sekadar sarana untuk melahirkan, mengasuh, dan menyusui. Kalau hanya sekedar begitu, Islam tidak perlu bersusah payah mendidik, mengajar, menguatkan iman, dan menyediakan jaminan hidup, jaminan hukum dan segala soal psikologis untuk menguatkan keberadaannya… Kami katakan mengapa ‘mendidik’, bukan sekedar melahirkan, membela dan menyusui yang setiap kucing dan sapi subur pun mampu melakukannya.”
“Dalam anggapan Islam, wanita bukanlah sekadar sarana untuk melahirkan, mengasuh, dan menyusui. Kalau hanya sekedar begitu, Islam tidak perlu bersusah payah mendidik, mengajar, menguatkan iman, dan menyediakan jaminan hidup, jaminan hukum dan segala soal psikologis untuk menguatkan keberadaannya… Kami katakan mengapa ‘mendidik’, bukan sekedar melahirkan, membela dan menyusui yang setiap kucing dan sapi subur pun mampu melakukannya.”
Konsep inilah yang tidak terjadi di Negara Barat. Barat mengalami kehancuran total pada sisi masyarakatnya karena bermula dari kehancuran moral yang menimpa wanitanya. Wanita-wanita Barat hanya dikonsep untuk mendefinisikan arti kepribadian dalam pengertian yang sangat primitif, yakni tidak lain konsep pemenuhan biologis semata.
Dosen dan pelacur bisa jadi sama kedudukannya mirip dengan perkataan Sumanto Al Qurtubhy, kader Liberal didikan Kanada yang berujar, “Lho, apa bedanya dosen dengan pelacur? Kalau dosen mencari nafkah dengan kepintarannya, maka pelacur mencari makan dengan tubuhnya.”
Qurthuby hanyalah muqollid (pengikut) dari Sigmund Freud, psikolog kenamaan asal Austria yang membumikan konsep psikoanalisis. Ia mengatakan ketika dorongan seksual sudah menggelora dalam diri pria maupun wanita, maka sudah selayaknya mereka tuntaskan lewat jalan perzinahan, tanpa harus melalui alur pernikahan. Maka itu Freud menuding orang yang senantiasa menjaga akhlaknya rentan terserang gangguan psikologis seperti neurosis.
Kini Freud memang telah mati, namun gagasan itu membekas dalam pribadi orang Barat. Jika anda kerap menyaksikan berita Olahraga, pembawa acara sering memberitakan bahwa salah seorang pemain sepakbola di Inggris telah memiliki anak dari pacarnya, ya pacar dan bukan istri. Karena konsep pernikahan sudah mendebu di benua biru.
Pasca kematian Freud, muncul banyak pengganti yang tidak lebih ekstrem, salah satunya Lawrence Kohlberg. Ia adalah pengusung metode pendidikan Karakter. Metode ini sudah gagal di Barat dan sekarang diimpor ke negeri-negeri muslim, termasuk Indonesia.
Wajah pendidikan Karakter terlihat manis. Ia mentitah agar para siswa berperilaku jujur dan memegang komitmen. Namun ia tidak memliki dasar agama, jika seorang remaja memilih untuk hidup tanpa tuhan, tidak menjadi persoalan dalam pendidikan karakter, asal itu dapat dipertanggungjawabkan.
Begitu pula masalah hubungan seks. Bagi Kohlbergian, kita tidak boleh menyalahkan seorang anak perempuan yang hamil di luar nikah, sebab masalah baik atau buruk menjadi relative. Pendidikan Karakter pun tidak boleh menghakiminya, karena anak akan jatuh salah jika ia tidak bisa mempertanggungjawabkan hubungan seksnya. Jadi jika remaja perempuan hamil masih bisa terbebas dari “dosa”, asal ia siap menjadi ibu. Urusan benar atau salah tergantung tanggung jawab, bukan agama.
Maka tak heran, ketika Lawrence Kohlberg lebih memilih bunuh diri dengan menyelam di laut yang dingin pun disambut gembira oleh masyarakat Barat. Alasannya bisa membuat kita sebagai umat muslim tertawa: Kohlberg telah memilih jalan yang memang ia kehendaki. Ya terlepas dari dia yang akan masuk neraka jahnam. Sebuah metode berfikir yang terlalu konyol untuk kita fahami.
Kita kembali lagi ke masalah perempuan. Kehidupan Barat yang bebas sejatinya diawali dari kehendak dari kalangan wanita untuk hidup bebas dan meredeka sesukanya. M. Thalib, cendekiawan muslim yang telah menulis puluhan buku tentang pendidikan Islam juga menekankan bagaimana proyek Zionis dibalik wacana pembebasan wanita di Barat. Menurutnya kaum Yahudi memiliki peran kuat dibalik slogan Liberty, Egality dan Fraiternity (kebebasan, persamaan dan persaudaraan) kepada bangsa Perancis.
Hal ini dipropagandakan oleh Zionis dan disebarkan ke penjuru dunia hingga kita bisa merasakan apa yang disebut Hak Asasi Manusia dan Feminisme pada saat ini. Dalam bukunya, “Pergaulan Bebas, Prostitusi, dan Wanita”, M. Thalib menulis,
“Slogan-slogan inilah yang membuat orang-orang bodoh turut serta mengulang-ulanginya di seluruh penjuru dunia di kemudian hari, tanpa berfikir dan memakai akalnya lagi.”
“Slogan-slogan inilah yang membuat orang-orang bodoh turut serta mengulang-ulanginya di seluruh penjuru dunia di kemudian hari, tanpa berfikir dan memakai akalnya lagi.”
Mungkin terasa ganjil bagi kita, mengapa Yahudi sebagai bangsa yang pongah begitu takut dengan perempuan? Jawabannya sederhana: membiarkan seorang wanita tumbuh menjadi solihah adalah alamat “kiamat” bagi mereka.
Jika seorang ibu yang solehah bisa mengasuh 5 anak muslim di keluarganya untuk tumbuh menjadi generasi mujahid. Kita bisa hitung berapa banyak generasi yang bisa dihasilkan dari 800 juta perempuan muslim saat ini?
Jika seorang ibu yang solehah bisa mengasuh 5 anak muslim di keluarganya untuk tumbuh menjadi generasi mujahid. Kita bisa hitung berapa banyak generasi yang bisa dihasilkan dari 800 juta perempuan muslim saat ini?
Seorang sahabat pernah bertanya kepada Rasulullah, “Siapakah manusia di muka Bumi ini yang harus diperlakukan dengan cara yang paling baik ?”. Rasul menjawab, “Ibumu”. “Setelah itu siapa lagi ya Rasul”. Sekali lagi Rasul menjawab, “Ibumu”. Sahabat bertanya kembali, “Kemudian siapa?”. Lagi-lagi Rasul menjawab “Ibumu, baru Ayahmu”. [Shahih, Diriwayatkan oleh Imam Bukhari).
by admin ( www.facebook.com/IkrAmZz )
sumber tulisan :
https://id-id.facebook.com/KehebatanIlmuPengetahuanYangLuas/posts/611778712167667:0
Selasa, 28 April 2015
Jakarta – Jogja
Kali
ini kita putuskan untuk naik kereta, soalnya lebih irit. Yang sebenarnya, naik
kereta itu ada sensasi tersendiri. Dengan kereta, kita bisa berjalan selayaknya
bus untuk melewati titik demi titik menuju titik tujuan. Memakai kereta kelas
ekonomi juga sudah cukup nyaman, tidak terlalu mahal dan cukup kondusif untuk
melakukan banyak hal saat perjalanan.
Sebelumnya,
ada yang tak suka menjalani perjalanan? Sebuah proses panjang yang terkadang
membutuhkan kesabaran. Bukan terkadang, jelas iya butuh. Ya ini satukan
persepsi perjalanan yang bisa dibilang jarak jauh dulu ya. Perjalanan yang bisa
membuat kita lebih mendekat atau lebih menjauh dari-Nya.
Sebuah
perjalanan adalah proses. Dimana kita dikondisikan diberi nikmat untuk tetap
berada dalam kendaraan, bisa bus atau kereta atau pesawat. Nah perjalanan
terkadang menjadi satu ujian bagi mereka yang menjalaninya.
Pertama
sebelum perjalanan, ujian niat. Apa niat kita dalam perjalanan? Dilain hal kita
mengunjungi suatu tempat untuk sebuah urusan tentu kita harus memahami bahwa
apapun niatnya itu yang kita dapatkan. Misal saja kita melakukan perjalanan
untuk sebuah urusan amanah, tentu hal yang harus kita luruskan adalah niatnya,
Lillah. Benar-benar kita melakukan perjalanan untuk menunaikan amanah.
Kedua
saat perjalanan, kamu melakukan apa? Proses perjalanan terkadang kita harus
pintar-pintar mengatur semuanya. Urusan makan, urusan sholat, urusan kesehatan.
Semua adalah ujian bagi yang melakukannya. Urusan yang ingin aku bahas disini
adalah urusan sholat yang mungkin saja terkadang jadwa keberangkatan tidak
sesuai dengan waktu-waktu sholat. Maka sebelum melakukan perjalanan jauh,
seharusnya kita mengilmui supaya perjalanan kita barokah dan baik. Sesuai
aturanNya. Sehingga jangan sampai kita melalaikan hak-hak Allah saat
perjalanan. Begitu juga urusan makan, dimana harus memperhatikan halal dan
baiknya. Sebelum perjalanan kita juga bisa melakukan banyak hal yang
bermanfaat. Misalnya memiliki target membaca buku, membaca Al-Quran, atau
berbicara dengan orang disamping duduk kita untuk silaturakhim. Begitu naa...
Perjalanan
adalah hal yang menyenangkan dan membahagiakan bagi mereka yang bersiap. Apalagi
kita bisa melatih kepekaan hati, mata, telinga untuk melihat setiap
ciptaan-Nya. Dan kita bisa berdoa untuk kebaikan yang bisa kita berikan untuk
orang-orang disekitar kita. BarokaLlahu
fii safarik ...
Ditulis disaat perjalanan menggunakan
kereta Jakatingkir, Jakarta-Jogja
26 April 2015
Penawaran Jakarta
Keras,
kata terlontar setiap terdengar
Kota
Jakarta
Ah,
tidak juga
Langit
malam itu
Walau
tak satupun tersematkan bintang
Tetap
saja indah dengan gemerlap
Lampu
sepanjang jalan
Begitu
juga, ketika ditampakkan
Tegaknya
bangunan-bangunan tinggi
Menambah
kesan yang mengagumkan
Terlihat
banyak kesibukan didalam gedung-gedung itu
Padahal
jam sudah larut malam
Kesibukan
yang tak henti
Membuatnya
telah membuat hidup sepanjang hari
Jakarta
Kota
ini bukan tempat “tujuan” kelak
Mungkin
hanya menjadi kota perantara
Sesungguhnya
ciptaan manusia saja bisa begitu indah
Apalagi
ciptaanNya kelak di Surga
Bangunan
yang Allah peruntukkan
Untuk
mereka yang melakukan perjalanan
Demi
mendekat padaNya
Ditulis di Stasiun Pasar Senen Jakarta,
26 April 2015
Sambil menunggu keberangkatan menuju
kota yang istimewa, Yogyakarta
Penawaran Aceh
Yogyakarta-Aceh,
ia harus ditempuh dengan waktu yang tak singkat. Kalau dari Jogja kita harus
transit di Bandara Koalanamu Medan, kemudian baru ke Banda Aceh, Bandara Sultan
Iskandar Muda. Ya, sebenarnya kalau mau irit berangkat dari jakarta. Tujuan perjalanan kami satu, berusaha
seoptimal mungkin menunaikan amanah Mahasiswa Kesehatan Masyarakat Universitas
Ahmad Dahlan Yogyakarta dan memajukan Ikatan Senat Mahasiswa Kesehatan
Masyarakat Indonesia.
Aceh, Kota
Serambi Mekkah begitu julukannya. Kota ini pun menawarkan banyak hal untuk kita
ambil hikmahnya sebagai pelajaran. Teringat sebuah tragedi besar, Tsunami Aceh
yang menelan hampir 150.000an orang dimana sepertiganya adalah anak-anak?
Bencana itu pasti meninggalkan bekas di hati-hati mereka, tentu juga kita. Memberi
penyaksikan betapa mudahnya Allah memerintahkan seluruh alam ini sesuai
kehendakNya, sempurna.
Kota Aceh,
adalah kota yang oleh pemerintahanya menerapkan aturan-aturan Islam. Salah
satunya adanya polisi WH (saya lupa nama kepanjangan). Polisi yang setiap waktu
beroperasi disekitar aceh untuk memastikan warga aceh menerapkan aturan Islam.
Sepanjang perjalanan di Aceh, kami pun tidak menemukan wanita tak memakai
jilbab. Semua memakai jilbab.
Titik Aceh
yang wajib dikunjungi menurutku adalah Masjid Baiturrahman. Bagi yang ingin
shalat di Masjid Baiturrahman, pastikan memakai pakaian yang menutup
aurat. Untuk muslimah, tidak boleh
celana, karena kalau tetap melanggar penjaga masjid tak segan-segan akan
mengusir. Atau kalau sewaktu ada patroli polisi WH, tak segan-segan pula pulang
dalam keadaan celana disobek. Ada juga sebuah aturan ikhtilat atau berdua-duaan
antara wanita dan laki-laki yang bukan mahram, ia akan mendapatkan hukuman
cambuk. Ada waktu khusus di Aceh untuk melakukan hukuman cambuk.
Ada
kendaraan khusus yang cukup terjangkau jika ingin jalan-jalan di kota Aceh
dibeberapa titik. Sebut saja Labi-Labi. Kalau di Aceh, jangan terlihat seperti
orang yang bingung, karena beberapa kali pengalaman, harga akan dinaikkan.
Labi-labi adalah kendaraan roda empat, semacam pick up, yang sudah ada penutup
bagian belakang. Ya, minimal 2 ribu bisa satu kali perjalanan dari Pasar Aceh
sampai Museum Tsunami Aceh. Ingat jangan terlihat galau alias bingung.
Karena
terbatasnya waktu, kami hanya melihat adanya sebuah perahu yang sangat
bersejarah kala itu. Ia menyelamatkan juga beberapa orang saat Tsunami Aceh.
Ombak yang begitu besar, kapal pembangkit tenaga listrik ini terseret sepanjang
7 km dari pinggir pantai Aceh. Kota ini sekarng sudah mulai bangkit, semenjak
beberapa tahu silam.
Kota Aceh,
kau menawarkan kepada kami bahwa kami ini siapa kalau berani-beraninya sombong
terhadap hal-hal yang sejatinya bukan milik kami? Kami tak berdaya, atas segala
apa yang terjadi kecuali atas daya-Mu karena Engkau menginginkan kami dalam
kondisi yang terbaik.
Ditulis di Stasiun Pasar Senen Jakarta,
26 April 2015
Sambil menunggu keberangkatan menuju
kota yang istimewa, Yogyakarta
Kamis, 09 April 2015
Cintanya Mereka
Cinta
Ali dan Fatimah luar biasa indah, terjaga kerahasiaanya dalam sikap,
ekspresi, dan kata, hingga akhirnya Allah menyatukan mereka dalam suatu
pernikahan. Konon saking rahasianya, setan saja tidak tahu menahu soal
cinta di antara mereka. Subhanallah.
Ali terpesona pada Fatimah sejak lama, disebabkan oleh kesantunan, ibadah, kecekatan kerja, dan paras putri kesayangan Rasulullah Saw. itu. Ia pernah tertohok dua kali saat Abu Bakar dan Umar ibn Khattab melamar Fatimah sementara dirinya belum siap untuk melakukannya. Namun kesabarannya berbuah manis,lamaran kedua orang sahabat yang tak diragukan lagi kesholehannya tersebut ternyata ditolak Rasulullah Saw. Akhirnya Ali memberanikan diri. Dan ternyata lamarannya kepada Fatimah yang hanya bermodal baju besi diterima.
Di sisi lain, Fatimah ternyata telah memendam cintanya kepada Ali sejak lama. Dalam suatu riwayat dikisahkan bahwa suatu hari setelah kedua menikah, Fatimah berkata kepada Ali: “Maafkan aku, karena sebelum menikah denganmu. Aku pernah satu kali merasakan jatuh cinta pada seorang pemuda dan aku ingin menikah dengannya”. Ali pun bertanya mengapa ia tetap mau menikah dengannya, dan apakah Fatimah menyesal menikah dengannya. Sambil tersenyum Fathimah. menjawab, “Pemuda itu adalah dirimu.
(IG Dunia Jilbab)
Ali terpesona pada Fatimah sejak lama, disebabkan oleh kesantunan, ibadah, kecekatan kerja, dan paras putri kesayangan Rasulullah Saw. itu. Ia pernah tertohok dua kali saat Abu Bakar dan Umar ibn Khattab melamar Fatimah sementara dirinya belum siap untuk melakukannya. Namun kesabarannya berbuah manis,lamaran kedua orang sahabat yang tak diragukan lagi kesholehannya tersebut ternyata ditolak Rasulullah Saw. Akhirnya Ali memberanikan diri. Dan ternyata lamarannya kepada Fatimah yang hanya bermodal baju besi diterima.
Di sisi lain, Fatimah ternyata telah memendam cintanya kepada Ali sejak lama. Dalam suatu riwayat dikisahkan bahwa suatu hari setelah kedua menikah, Fatimah berkata kepada Ali: “Maafkan aku, karena sebelum menikah denganmu. Aku pernah satu kali merasakan jatuh cinta pada seorang pemuda dan aku ingin menikah dengannya”. Ali pun bertanya mengapa ia tetap mau menikah dengannya, dan apakah Fatimah menyesal menikah dengannya. Sambil tersenyum Fathimah. menjawab, “Pemuda itu adalah dirimu.
(IG Dunia Jilbab)
Langganan:
Postingan (Atom)
