Kamis, 09 April 2015

Cintanya Mereka

Cinta Ali dan Fatimah luar biasa indah, terjaga kerahasiaanya dalam sikap, ekspresi, dan kata, hingga akhirnya Allah menyatukan mereka dalam suatu pernikahan. Konon saking rahasianya, setan saja tidak tahu menahu soal cinta di antara mereka. Subhanallah.

Ali terpesona pada Fatimah sejak lama, disebabkan oleh kesantunan, ibadah, kecekatan kerja, dan paras putri kesayangan Rasulullah Saw. itu. Ia pernah tertohok dua kali saat Abu Bakar dan Umar ibn Khattab melamar Fatimah sementara dirinya belum siap untuk melakukannya. Namun kesabarannya berbuah manis,lamaran kedua orang sahabat yang tak diragukan lagi kesholehannya tersebut ternyata ditolak Rasulullah Saw. Akhirnya Ali memberanikan diri. Dan ternyata lamarannya kepada Fatimah yang hanya bermodal baju besi diterima.

Di sisi lain, Fatimah ternyata telah memendam cintanya kepada Ali sejak lama. Dalam suatu riwayat dikisahkan bahwa suatu hari setelah kedua menikah, Fatimah berkata kepada Ali: “Maafkan aku, karena sebelum menikah denganmu. Aku pernah satu kali merasakan jatuh cinta pada seorang pemuda dan aku ingin menikah dengannya”. Ali pun bertanya mengapa ia tetap mau menikah dengannya, dan apakah Fatimah menyesal menikah dengannya. Sambil tersenyum Fathimah. menjawab, “Pemuda itu adalah dirimu.


(IG Dunia Jilbab) 

Rabu, 01 April 2015

Pulanglah, Tempatmu di Rumah !

 Untukmu Wanita, semuanya ...

" dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyah yang dahulu dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan taatilah Allah dan Rasul-Nya. Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, hai ahlul bait dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya."
(QS: Al-Ahzab Ayat: 33)

Ini adalah salah satu ayat Al-Quran yang sering kita tolak, begitu kata Ustadz Budi Ashari, Lc di tausyiah beliau (video Ibu, pulanglah). Jleb banget saat mendengarnya, dimana kita wanita termasuk saya yang ingin hidup mulia dimata-Nya, mau nggak mau ya harus ikut aturanNya bukan? Ya, tetap dirumah dan tidak berhias berlebihan ketika keluar rumah.

Setiap kita pasti punya cita-cita dalam yang ingin kita raih bukan? Cita-cita yang menuntut kita memberikan waktu, jiwa, semuanya dari kita. Cita-cita yang mungkin juga menuntut kita harus keluar rumah. Cita-cita yang menuntut kita harus meninggalkan keluarga, dirumah.

Tapi ketika kita kembalikan lagi kepada aturan Allah, kita muslimah diminta untuk tetap dirumah. Ya tetap dirumah dengan tugas utama dan mulianya sebagai seorang Ibu. Ia yang mengurus rumah tangga berikut isinya. ia yang mengerjakan pekerjaan (dalam video tersebut) urusan dapur, sumur dan kasur. Pekerjaan yang harusnya tidak kita tinggalkan karena alasan apapun. Disinilah letak kemuliaannya kita sebagai seorang wanita, dimata-Nya.

Lantas, bagaimana jika sebuah kondisi luar membutuhkan kita?Kondisi krusial yang sungguh membutuhkan. Tentu dokter wanita dibutuhkan bukan untuk memeriksa wanita. Guru wanita juga perlu untuk mendidik generasi supaya terbentuk generasi yang tangguh.

Maka, semoga muslimah yang memilih untuk bekerja, senantiasa meniatkan hanya untuk Allah. Tetap menjaga diri dengan selalu taat kepada Allah. :)



Senin, 09 Maret 2015

Siapa yang kamu harapkan datang?

Menikah adalah sesuatu yang harus dipersiapkan dengan baik. Tak sekedar persiapan harta tentunya, ilmu yang paling penting. Menikah ada ilmunya, sehingga ia tidak menjadi sia-sia dimata-Nya. Keputusan menikah mungkin bahkan memang oleh kebanyakan sebuah hal yang sangat penting dalam hidupnya. Karena ia tak sekedar sebentar saja jika memang diizinkan oleh Allah, namun sampai Allah menakdirkan sampai berhentinya di dunia, lanjut ke SurgaNya. 

Ya, bagiku menikah juga menjadi keputusan yang besar, dan perlu persiapan besar. Mulai dari niat, yang hanya dan hanya ditujukan kepada Allah, senantiasa dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah. Senantiasa menjaga niat hanya untuk lebih terjaga dari dosa-dosa mata, hati, dan lain-lain, sehingga kita mudah mengingatNya, kemudian beribadah semampu kita untukNya.

Persoalan menikah memang tidak mudah, tapi nampaknya jangan pula dipikir terlalu rumit. Jika kita yakin kepada Allah tentang urusan kita yang bernama “menikah” dan kita berusaha sesuai aturanNya, Insyaallah Allah yang akan menjamin kehidupan kita lebih baik dan sholih, kelak. 

Lantas siapa yang kita (aku) harapkan datang? Tentu kita semua sudah sering memahami apa yang disampaikan oleh Allah dalam Al-Quran. Bahwa lelaki baik untuk wanita yang baik, begitu sebaliknya. Dimana ukuran baik dan tidak baik, hanya Allah yang tau. Maka ketika kita mengharapkan seseorang bernama Ali bin Abi Thalib, maka kita boleh berkaca pada Fatimah. Apabila kita menginginkan lelaki seperti Rasulullah dengan akhlaknya yang begitu mulia serta misi dalam hidupnya yang ditujukan untuk kebaikan ummat, maka bersiaplah menjadi Khadijah yang begitu tangguh dengan hartanya, akhlaknya, dan banyak hal lain darinya. Atau seperti Aisyah dengan kecerdasannya? Nah, tentu sebelum kita mengharapkan siapa yang datang, kita terlebih dahulu senantiasa memperbaiki diri. Ohya, mari luruskan niat. Bukan untuk mengharap jodoh itu siapa, tapi Allah ridho dengan apa yang kita hajatkan untuk kebaikan semuanya. 

Siapa yang kita (aku) harapkan? Tentu dimulai dari agamanya. Ia paham bahwa hidup ini termasuk menikah adalah sesuatu yang harus dikerjakan sesuai aturan Islam. Bahwa hidup ini semata hanya untuk beribadah kepadaNya. Mulai dari membahagiakan pasangan, bekerja untuk keluarga, mendidik anak, menafkahi secara lahir dan batin bagi keluarganya, semuanya hanya diniatkan untuk Allah. Ya, mulai dari sini, semua akan baik-baik saja Insyaallah. Hidup bersama mereka yang selalu menghibahkan diri untuk urusan-urusan kebaikan. 

Siapa yang kita harapkan? Tentu lagi mulai dari agamanya. Ia paham bahwa dirinya adalah lelaki, pemimpin keluarganya. Ia adalah nahkoda kapal yang akan memimpin kemana arah kapal ini berlayar. Ia paham bahwa kedua pundaknya harus siap untuk anak dan istrinya. Ia paham bahwa dia adalah seseorang yang menjadi guru dalam keluarganya, mengajarkan apapun yang baik untuk keluarganya. Ia paham bahwa istrinya adalah seorang wanita yang tidak cukup tangguh setangguh dirinya, sehingga ia perlu mendukung apapun yang dikerjakan istrinya asalkan sesuai batasan-batasan aturan Allah. Ia sadar bahwa istrinya adalah seseorang wanita yang memiliki tugas utamanya didalam rumah, mengurus anak dan segala isinya. 

Siapa yang kita harapkan? Dia yang juga punya cita-cita dalam hidupnya. Cita-cita yang tidak hanya untuk dirinya saja, tapi keluarganya, bahkan ummat. Dengan apapun ilmunya ia miliki, ia hanya berfikir bagaimana dengan ilmu yang ia usahakan dan pahami untuk kebaikan banyak orang. Menjadi tauladan dengan ilmunya bahwa ummat muslim harus hidup mulia dengan ilmu. 

Minggu, 08 Maret 2015

Allah Meminta Tanggungjawab Atas Kepemimpinanku





Atha` menuturkan bahwa ia datang menemui Fathimah binti Abdul malik, istri Umar bin Abdul Aziz, setelah suaminya itu wafat, lalu bertanya, “Wahai putri Abdul Malik, ceritakanlah kepadaku tentang Amirul Mukminin Umar bin Abdul Aziz.”

Ia menjawab,”Baik, aku ceritakan. Seandainya ia masih hidup, pasti aku enggan menceritakannya. Sesungguhnya Umar bin Abdul Aziz Radhiyallahu Anhu telah mempersembahkan jiwa dan raganya untuk kepentingan rakyat. Ia bekerja mengurusi kepentingan mereka disiang hari. Pada sore harinya, jika ia masih mempunyai kebutuhan pribadi, maka ia berhenti lalu melanjutkan bekerja hingga malam hari hingga sore harinya. Ia mengkhususkan lampu penerang dari dana pribadinya. Dimalam hari ia tidur sebentar lalu shalat dua rakaat. Setelah itu ia merebahkan diri berbantalkan tangan membaca dzikir, air matanya pun membasahi kedua pipinya. Begitu yang ia lakukan antara shalat dan dzikir, seolah jiwanya keluar dan hatinya lepas, hingga fajar tiba. Lalu, pada siang harinya ia berpuasa. 

Pernah suatu kali Fathimah bertanya,”Wahai Amirul Mukminin, apa yang sebenarnya engkau alami kemarin malam?”

Ia menjawab,”Baiklah, biarkan aku dengan urusanku dan engkau dengan urusanmu.”

Fathimah lalu menjelaskan bahwa ia menanyakan hal itu karena berharap bisa mengambil pelajaran. Umar bin Abdul Aziz pun berkata,”Aku melihat dan merenungi diri, ternyata aku mempunyai tugas mengurusi umat ini, baik yang kecil maupun yang besar, yang hitam maupun yang merah. Kemudian aku ingat perantau asing yang terdampar, fakir yang papa, tawanan yang nestapa dan orang-orang yang menderita lainnya diseluruh penjuru negri dan dunia, lalu aku menyadari betapa Allah akan meminta tanggungjawabku atas mereka semua dan Muhammad Shallalahu Alaihi wa Sallam akan menjadi hujjah atasku. Ini semua membuatku takut kepada-Nya dan meneteskan air mata, hatiku gemetar lalu setiap kali bertambah ingat, bertambah pula rasa takut. Demikianlah sudah aku sampaikan, maka maklumilah semua itu, atau tinggalkanlah.”

Setiap diri kita pasti akan diminti pertanggungjawab atas yang kita kerjakan. Sudah siapkah kita? 


Sumber : Buku 1000 Kisah Teladan (Pustaka Al-Kautsar)


Selasa, 03 Maret 2015

Hari ini ...



Alhamdulillah. Segala puja dan syukur hanya untuk Engkau, yang telah menjaga kami supaya tetap mengingatmu. Semoga kita selalu disibukkan dalam kebaikan, dan diberi kemudahan untuk menjalaninya. Sedang sibuk apa sekarang? Semoga kita tetep bisa menjalankan hak-hak pekerjaan yg harus kita kerjakan. Mulai dari pekerjaan untuk diri sendiri, untuk keluarga, dan untuk orang-orang disekitar kita. 

Siapa yang nggak suka anak-anak. Pasti semua suka kan? Apalagi mereka yang masih gampang untuk diarahkan sesuai adab-adabnya. Nah, kalau kita bertemu dengan mereka yang masih belum tahu adab dan akhlaknya yg belum terjaga, berati itu kesempatan kita untuk menguatkannya.
Hari ini adalah kedua kalinya membersamai adek2 BCB atau bimbingan cinta belajar. Bersama mereka untuk cinta ilmu dan berusaha semampuya untuk mencintai belajar. Banyak hal yang dapat kita jadikan bareng2 belajar ...

Mendengar adanya forum yang dikerjakan oleh seorang bapak beserta istrinya beserta teman2 satu daerah rumahnya adalah sebuah hal yang sangat baik, dan pasti Allah menyukainya. Bagaimana tidak, bapak ibu ini sengaja membuatnya untuk alasan utama dan pertama, dakwah kepada anak-anak. Biasanya kalau bimbel kan Cuma ngajarin gimana kerjain PR dan persiapan ujian. Ini beda. BCB ini tujuannya untuk lebih mendekatkan anak-anak pada Islam. 

Semoga, mereka yang memilih jalan hidupnya untuk dakwah, peduli dengan urusan-urusan orang lain, peduli dengan hajat orang banyak, mereka yang yakin akan janji Allah, mereka yang tak pernah lelah berbenah, Allah mudahkan jalanNya untuk mendapat kenikmatan tertinggi yaitu bertemu denganNya.

Satu pernyataan yang juga tak lupa dari bapak itu,”Kita nggak tau kelak anak-anak akan jadi apa. Namun Allah akan mencatat apa yang ada dalam niat dan apa yang kita korbankan.”

Nah !!

Spesial alhamdulillah menjadi salah satu bagian dari JANTraining dan redaktur Buletin Nah!
Ohya, setelah agenda hari ini, jadi semakin kuat semoga Allah kelak menjadikan rumahku (bersama keluarga kecilku ^___^) untuk mengumpulkan anak-anak belajar banyak hal, terutama untuk mencintaiNya. Aamin #harapan

Tulisan hari Ahad, 1 Maret 2015

Minggu, 15 Februari 2015

Deadline !!!

sumber : tips-triks-ilmu-komputer.blogspot.com

Setiap orang butuh deadline untuk konkret sebuah perubahan lebih baik dari sebelumnya. Baik target secara personal, baik untuk urusan kolektif. Sebenarnya kita belajar tentang deadline di hadist arba`in no 2, tentang hari kiamat. Seharusnya kita tidak santai saja dengan yang kita kerjakan. Santai yang diartikan seadanya saja tanpa perbaikan kualitas dalam setiap pekerjaan, atau mengabaikan waktu-waktu yang seharusnya bisa produktif hanya dengan mengerjakan dan memikirkan sesuatu yang tak ada manfaatnya. 

Deadline !!! Sesuatu yang harus kita tetapkan saat-saat akan memulai pekerjaan. Baik pekerjaan-pekerjaan kecil sampai besar. Sederhananya saja nih, hari ini kita deadlinenya mencuci baju dipagi hari dimusim penghujan. Berfikirnya, kalau pagi akan kering dan setelah selesai mencuci bisa mengerjakan urusan-urusan yang lain. Atau setelah itu sekedar bermain dengan adek ponakan atau pekerjaan yang lain. Akan tetapi, bagaimana kalau godaan di pagi itu sangat banyak sekali dan kita tidak bisa mengatur godaan tersebut. Misalnya tergoda untuk menonton acara TV yang tidak ada manfaatnya terus menunda pekerjaan nyuci. Hehe. Semua akan mundur, akibat tidak mampunya kita mencegah diri mengerjakan mana yang penting dan tidak penting. Cucian pun tidak kering, mmm lainnya, waktu buat maen bareng ponakan tersita banyak. Nah kan ... 

Deadline !!! Sesuatu yang harus kita upayakan. Ada tiga hal yang bisa kita upayakan.
Pertama, yakin. Yakin bahwa setiap urusan kita hanya untuk ibadah tentunya. Semua sia-sia bukan jika mempersembahkannya selain untuk Dia? Urusan tidur hal paling dekat. Jika untuk ibadah, maka berbuah pahala, bonusnya? Allah akan menguatkan lagi setelah bangun tidur. Kalau hanya meniatkan untuk memejamkan mata, tanpa menyadari harusnya meniatkan untuk Allah, yaa cukup sekian. Hanya itu yang didapat. Yakinlah bahwa kita bisa melakukan setiap apapun yang kita targetkan. Tentu atas izin Allah SWT. Target lulus tahun sekian, bulan sekian. Yakin saja Allah akan membantunya, dan atas pertolongan Dia lah semua terwujud. Laa haula walaa quwwata illa billah

Kedua, butuh waktu. Allah akan mengubah kondisi seseorang, jika makhluknya juga mengubah dirinya. Berikhtiar terhadap target yang kita bikin adalah keharusan, setelah itu doa. Misal nih kita pingin luluskan? Atau punya target nulis buku? Tentu kita butuh waktu untuk mengerjakan hal tersebut. Sediakan waktu khusus untuk mengerjakan target itu. Dan seperti yang agama kita kerjakan, bukan aktsaru `amala, tapi ahsanu `amala. Bahwa kita sangat memperhatikan kualitas pekerjaan dengan baik. Sediakan waktu khusus !!! Misalkan setelah shalat shubuh kamu harus duduk di atas meja belajar untuk mengerjakan makhluk bernama skripsi hehe J. Untuk target nikah? Mungkin salah satunya harus baca buku tentang persiapan menujunya di waktu yang udah kita tentuin juga hehe 

Ketiga, target. Seorang ponakan saja untuk bisa jalan sendiri diatas kakinya yang mungil hehe tidak langsung bisa jalan. Semua butuh tahapan, dan butuh proses. Tentukan tahapan-tahapan yang ingin dicapai perharinya, harus ada peningkatan tentunya. Perhatikan rentang waktu yang ada sampai deadline, dan tentu kerjakan urusan-urusan yang benar-benar penting. Main dan liburan boleh, asal ada porsinya. Karena, Allah memberikan waktu istirahat sebenarnya bukan secara santai di dunia. Akan tetapi disaat kedua kakinya menginjakkan pintu surga. 

Jadi jangan mengeluh dan berputus asa. Keep hamasah dan istiqomah. Tetap melakukan semuanya dengan lillah, fillah ...

Kamis, 12 Februari 2015

Perempuan Penjual Susu





Umar bin Al-Khatab Radhiyallahu Anhu adalah orang yang tak memandang seseorang dari pekerjaannya, keturunannya, atau hartanya, atau yang lainnya. Menurut beliau kepribadian adalah hal paling utama dalam menilai seseorang. Saat memilihkan istri untuk anaknya; Ashim, ia menunjukkan seorang gadis penjual susu. 

Gadis penjual susu itu bukan sekedar wanita yang biasa saja. Gadis itu tetap punya kepribadian yang baik dan beriman meski papa harta, keadaanya sulit dan rendah kedudukan. Tapi derajat ihsan kepada penciptanya telah membuatnya mulia. Seorang gadis yang bersungguh-sungguh beribadah kepada Allah seolah-olah Allah melihatnya, kalaupun tidak begitu ia yakin bahwa Allah melihatnya. Dalam kondisi apapun. 

Suatu malam, Umar bin Khatab Radhiyallahu Anhu meninjau keadaan rakyatnya. Beliau berjalan dalam malam untuk mengetahui kondisi rakyatnya. Kemudian, ia mendengar percakapan dua orang perempuan dalam sebuah rumah. Percakapan itu berisikan seorang perempuan yang menyuruh anak perempuannya mencampur susu dengan air sebelum dijual. 

“Ibu, apakah engkau tidak pernah mendengar apa yang dikatakan Amirul Umar bin Khatab radhiyallahu Anhu?” tanya si anak perempuan kepada ibunya.

“Apa yang dikatakannya?” 

”Ia melarang untuk mencampur susu dengan air sebelum dijual!” Jawabnya
Mendengar jawaban putrinya, si ibu tidak memperdulikannya. Bahkan menyuruh kembali si anak untuk mencampur susu dan air. Ibu yakin bahwa Umar tidak tau. Gadis itu kemudian berbicara lagi kepada Ibunya. 

“Ibu, Khalifah Umar memang tidak tahu apa yang kita lakukan, tapi Allahlah yang melihat. Demi Allah aku tidak akan patuh dihadapannya, sementara dibelakangnya aku menentang.”

Setelah mendengar percakapan itu, Umar pulang dengan hati menyimpan sesuatu. Pagi harinya, Umar memanggil anaknya; Ashim. Kemudian meminta Ashim mendatangi gadis tersebut.
“Pergilah ketempat ini dan itu. Disana ada seorang gadis. Jika ia belum menikah, maka nikahilah. Semoga Allah akan memberikan keturunan yang diberkahi.”

Allah menaqdirkan mereka menikah. Hingga dikemudian hari, benarlah doa Umar bin Khatab bahwa akan lahir seseorang yang akan membawa kebaikan. Mereka dikaruniai anak bernama Ummu Ashim, yang kelak nikah dengan Abdul Aziz bin Marwan. Bagaimana kemudian? Lahirlah Umar bin Abdul Aziz; seorang khalifah yang dikenal keadilan dan kesalehannya. 

Bagaimana muslimah? Bagaimana dengan kita?