Selasa, 25 November 2014

KRISTAL PERTAMA



Engkau Adalah Seorang Muslimah 
(tulisan kedua)
 
Berikut ini adalah seorang wanita Muslimah berkebangsaan Jerman :
“Tak seyogyanya engkau terpesona dengan gaya hidup Barat. Semuanya itu hanyalah tipu daya agar kita meninggalkan agama kita secara perlahan-lahan, dan kemudian mereka akan menguasai kekayaan kita. Islam, dengan aturan-aturan hidup berkeluarga yang diajarkannya itu sesungguhnya sangat sesuai dengan fitrah wanita. Karena, sesuai dengan tabiatnya, wanita itu senang tinggal dirumah. Mungkin kalian bertanya,” Mengapa demikian?” Tak lain, karena Allah menciptakan kaum pria lebih kuat dari kaum wanita dalam hal ketegaran, kecerdasan, dan kekuatan fisik. Sementara itu, kaum wanita diciptakan dengan tabiat yang berbeda : perasaan mereka sangat lembut, mudah tersinggung, dan tidak memiliki kekuatan fisik seperti yang dimiliki kaum pria. Kaum wanita, pada batas tertentu memang bisa meledak-ledak emosinya. Namun, hal itu tak akan berlangsung lama dan segera cepat berubah. Oleh karenanya, wanita lebih pantas menetap di rumah demi ketenangan dan ketentraman batinnya. Seorang wanita yang mencintai suami dan anak-anaknya tentu tidak akan meninggalkan rumah tanpa alasan dan tidak akan pernah membaur dengan pria lain di luar rumahnya. Perlu diketahui, bahwa 99% wanita Barat telah terjangkiti dekadensi moral yang sangat kritis. Dan itu terjadi karena mereka berani menggadaikan harga diri mereka dan tidak lagi memiliki rasa kepada Allah.” 

Keluarnya kaum wanita Barat untuk bekerja diluar rumah, ternyata merupakan salah satu penyebab beralihnya fungsi dan perannya kaum pria sebagai kepala rumah tangga menjadi ibu rumah tangga.
Walhasil, tak sedikit kaum pria di barat yang tinggal di rumag untuk mencuci piring, merawat bayi dan menenggak minuman keras. Aku tahu bahwa Islam tidak melarang pria membantu istrinya dirumah, bahkan dianjurkan. Hanya saja jangans ampai terjadi pergeseran peran antara kaum wanita dan prianya. 

*di tulis di sela-sela ngerjain skripsi bab II di Perpustakaan Daerah Yogyakarta, Senin, 24 November 2014 Selamat menginspirasi, untuk wanita muslimah Indonesia, Dunia ... 

La Tahzan For Smart Muslimah Sepenuh Hati menjadi Wanita Teladan, Cerdas, dan Mulia – Dr `Aidh Abdullah Al-Qarni

Senin, 24 November 2014

SAFIR KEEMPAT



(tulisan pertama)
Wanita yang Bahagia Adalah yang Bisa Membahagiakan Orang-Orang di Sekitarnya 

Orizon Sweat menuturkan,’Agaknya, nasib baik telah berpihak pada Napoleon. Sebab, ia mempersunting puteri Josephine sebagai istrinya sebelum ia menjadi pemimpin besar dan melakukan banyak penaklukan. Josephine memiliki tutur kata yang lembut dan kepribadian yang mempesona. Bahkan, boleh dikata loyalitasnya terhadap Napoleon itu lebih besar dari kesetiaan para pasukan dan pengikutnya. Ia juga bisa membahagiakan orang-orang yang ada disekitarnya. Ia tidak pernah memerintah orang lain secara langsung, sekalipun pada pelayannya. Hal ini terungkap dari ucapannya kepada salah seorang teman wanitanya berikut ini:” Aku tidak pernah memakai kata aku ingin kecuali pada satu kalimat : Aku ingin semua orang yang ada disekitarku bahagia.”

Sementara itu, seorang penyair Inggris menggambarkan kepribadiannya itu seperti ini:”Bila ia berjalan disuatu pagi yang cerah, maka kecerahan itu terus mewarnai setiap jalan yang dilewatinya hingga siang hari.” 

Inilah bukti, bahwa kelembutan akan menebarkan kebahagiaan pada diri kita dan orang-orang disekitar kita, bahkan pada benda mati disekitar kita. Kelembutan adalah kecantikan tak terbatas. Dan bagi laki-laki, kelembutan itu sama pentingnya dengan kecantikan perempuan. Maka dari itu, bagi perempuan, kelembutan pun akan semakin menambah keantikannya.


*di tulis di sela-sela ngerjain skripsi bab II di Perpustakaan Daerah Yogyakarta, Senin, 24 November 2014 Selamat menginspirasi, untuk wanita muslimah Indonesia, Dunia ... 

La Tahzan For Smart Muslimah Sepenuh Hati menjadi Wanita Teladan, Cerdas, dan Mulia – Dr `Aidh Abdullah Al-Qarni
 

Selasa, 18 November 2014

Buat Adik





Sudah lama sekali tidak buka Blog dan mencoret coretnya dengan deretan kata yang semoga bagi siapapun yang membaca akan memperoleh manfaatnya
Walaupun dari pengalaman pribadi, atau hikmah-hikmah yang bisa aku pahami dari setiap kejadian. Pantas, hikmah memang harta berharga bagi seorang muslim

Kali ini aku ingin berbicara tentang adikku, seorang laki-laki yang sekarang sudah tidak kecil lagi. Tahun besok (2015) adalah tahun terakhir menyandang sebagai pelajar SMA. Itu artinya, ia akan menapaki jalan yang akan berbeda. Jalan yang didepannya banyak pilihan untuk ia tempuh. Jalan yang kami sekeluarga berharap adalah jalan terbaik untuk setiap kondisinya. Jalan yang bisa kita samakan dengan usaha untuk meraih cita-citanya. Jalan yang kelak akan ia dapati harus secara mandiri, tangguh dan tak bergantung pada siapapun kecuali pertolongan-Nya. Semoga ...

Semoga kau tak pernah mengeluh dan patah semangat
Karena dengan itu, modalmu untuk terus berjalan bahkan berlari
Berlari mengejar cita-cita kamu
Berlari menjadi insan pilihan
Menjadi orang yang tak sekedar sukses didunia, tapi sampai Surga-Nya

Ayok bareng-bareng sama Mbak buat membahagiakan minimal bapak - ibu
Menjadi kakak adik yang membawa kebaikan dimanapun itu
Dengan kemampuan yang Allah kasih kepada kita masing-masing
Semoga Mbak bisa mendampingi kamu sampai kamu mampu,
Untuk tangguh dan mengabdi !!!

*buat mas Aan yg sedang sibuk sekali jarang dirumah -_-



Kamis, 30 Oktober 2014

Jalan Cinta



Inilah sudut kunci dalam segitiga cinta Stenberg. Membangun komitmen. Jalan cinta para pejuang adalah jalan kesetiaan dan pengorbanan. Komitmen adalah ikrar berkorban, memberi bukan meminta, berinisiatif tanpa menunggu, memahami dan bukan menuntut. Komitmen adalah ikrar kesetiaan.  Komitmen-lah yang akan menjadi tapak langkah pertama cinta kita ...
-Salim A Fillah-  

Di Jalan Cinta Para Pejuang, kelak mungkin kita akan menghadapi para “pejuang” yang lain. Seperti kita meyakini Allah, mereka juga meyakini sesuatu. Sesuatu itu menggerakkan mereka. Mereka berjuang sebagaimana kita berjuang. Maka mungkin saja akan ada perbenturan. Dan pertempurannya adalah pertempuran iman. Bersiap-siagalah selalu di jalan cinta para pejuang ...
-Salim A Fillah- 

Di Jalan Cinta Para Pejuang, kita tak mudah percaya bahwa suatu peristiwa hanyalah persitiwa ekonomi, politik, atau militer saja. Maka tak layak kita meniadakan kata permusuhan dari hidup kita. Untuk itu izinkan saya mengajukan satu alasan lagi. Yakni, karena Al-Quran, kitab suci di jalan cinta para pejuang itu mengulang kosakata musuh dan permusuhan lebih dari 80 kali. Karena Al-Quran menegaskan bahwa iman dan kebatilan mustahil berdamai, Di Jalan Cinta Para Pejuang membaca Al-Quran menjadikan musuh-musuh cinta hanya berselimut kaca ...
-Salim A Fillah- 

Lalu, alangkah sedihnya jika cinta tak punya visi. Ia kecil. Mengerdil. Tak melewati batas-batas syahwat. Tak melampui rasam-rasam emosi. Tak menjangkau ufuk-ufuk tinggi. Ia hanya menjadi kenangan lampau. Kenangan manis kini telah pergi, tapi yang pahit terus menghantui. ...
“Masa depan milik Islam.” Di jalan cinta para pejuang, kalimat itu seperti suluh nan jauh. Sungguh, hanya dengan visi yang besar, tinggi, dan bening kita bisa menyusulnya. Maka pandanglah ke ujung perjalanan. Dan, mari kita berangkat ...

-Salim A Fillah-
Mimi hari ini adalah kenyataan hari esok, kata Hasan Al-Banna. Di jalan cinta para pejuang mungkin kita terjaga sebelum mimpi kita selesai. Dan tugas kitalah untuk segera bangun, bangkit menyelesaikannya di alam nyata ..
-Salim A Fillah- 

Visi di jalan cinta para pejuang awal-awal bermodal kesadaran. Sadar bahwa kita manusia akan menuntun kita manusia akan menuntun kita memanfaatkan berjuta karunia Alah Ta`aalaa untuk  mengabdi padaNya. Sadar bahwa kita seorang muslim memandu kita untuk menjadi rahmat bagi alam semesta. Sadar bahwa kita seotang mujahid, memantapkan langkah kita di jalan cinta para pejuang. Sadarlah !
-Salim A Fillah-

Ah... Di jalan cinta para pejuang, kita hanya berurusan dengan hal-hal besar. Atau setidaknya kita memikirkan hal-hal yang besar. Di dalam pikiran, yang setitik harus jadi lautan. Yang sekepal harus dijadikan gunung.
-Salim A Fillah- 

Apakah  di jalan cinta pejuang tak ada rehat untuk mereguk jeda-jeda nikmat? Mungkin memang tidak. Atau belum. Jika cinta kita tak di isi dengan visi-visi besar untuk peradaban dan kejayaan agama Allah, maka yang remeh temeh tak bermakna akan menghantui dan mengisi ruang yang terbentang antara mata dan hati.
-Salim A Fillah- 

Inilah jalan cinta para pejuang. Jalan yang mempertemukan cinta dan semua perasaan dengan tanggungjawab. Dan disini, cinta tak pernah meminta untuk menanti. Seperti `Ali. Ia mempersilakan. Atau mengambil kesempatan. Yang pertama adalah pengorbanan. Yang kedua adalah keberanian. Dan bagi para pecinta sejati, selalu ada yang manis dalam mencecap keduanya
-Salim A Fillah- 

Di jalan cinta pejuang, selalulah sucikan hati, lalu bertanyalah padanya. Di jalan cinta para pejuang, berkawanah dengan nurani meski kau tersunyi, meski kau sendiri
-Salim A Fillah-

Sampai kau lelah, sampai kau payah. Hingga di titik akhir kau rasakan begitu lemah di hadapan-Nya.Untuk berserah, pasrah ...

MENDIDIK ADALAH URUSAN KITA


Oleh : Ustadz M Fatan Arifil Ulum

Menjadi pendidik, adalah menjadi murabbi, mu'allim, sekaligus muaddib.
Sebagai murabbi, pendidik bertugas membimbing anak didik, setahap demi setahap, menuju kesempurnaan sebagai hambaNya
Sebagai mu'allim, pendidik mengajarkan ilmu dari sumber yg benar, diiringi penanaman rasa takut padaNya, sehingga berbuah amal shalih
Sebagai muaddib, pendidik berkewajiban menanamkan adab-adab yg benar lagi baik kepada anak didik, sehingga menjadi perilaku sehari-hari
Maka, pendidik tidak hanya mengajar. Apalagi hanya sibuk mengejar nilai bagus di rapor.
Oleh karena itu, mendidik bukan hanya urusan guru. Bila kita inginkan generasi penerus yang unggul, mendidik harus menjadi urusan KITA.
Mendidik adalah urusan KITA : setiap orang yang menginginkan kebaikan bagi bangsa dan ummat ini.
Mendidik adalah urusan KITA : setiap orang yang memiliki anak, adik, saudara, tetangga.
Mendidik adalah urusan setiap "profesi" : guru, dosen, penulis, pedagang, tentara, polisi, hingga para sopir dan kernet.
Mendidik tak hanya urusan guru di dalam kelas; ia juga urusan para penjual di warung sekolah, satpam, hingga tukang kebun.
Mendidik tah hanya urusan sekolah dan tempat kuliah; ia juga urusan para pemilik warung makan, maupun para pemakai jalan.
Mendidik tak hanya urusan kementerian pendidikan dasar&menengah maupun kementrian pendidikan tinggi; ia juga urusan setiap pejabat negri
Mendidik adalah urusan KITA semua, yang berharap kehormatan diri dan bangsa terjaga di mata manusia, apalagi di mata Rabb kita

Sumber : Twitter @emfatan