Ketika kamu sibuk menunggu orang untuk bergerak, sesungguhnya itu jauh lebih melelahkan. Seharusnya, kamu putuskan untuk memulai dan bekerja. Bisa jadi, itu adalah permulaan bagi gerak-gerak berikutnya. Dinamika itu seni untuk memahami, dan seni untuk merencana gerak berikutnya.
Jika kamu merasa sendirian, bisa jadi kamu terlalu sibuk memperhatikan apa yang kamu kerjakan dan menghitung-hitung apa yang sudah kamu lakukan. Padahal terkadang kita tak menyadari bahwa kita sendirilah yang membuat pembatas antara kamu, aku, dan kita. Pantas bukan kamu merasa letih?
Kamu hanya perlu untuk membuka dan menyiapkan diri, untuk berkontribusi, tiada henti. Jangan khawatirkan masa depan, karena Allah adalah sebaik-baik perencana atas diri kita. Tugas kita adalah mempersiapkan diri, bekerja, dan berdoa. Semoga mendapat yang terbaik. Dalam hal apapun naa :)
Salam tangguh :)
Selasa, 26 Agustus 2014
Kamis, 31 Juli 2014
Siapa Wanita yang Menginspirasimu?
(Nulisnya sedikit Melow dan Belaga Nyastra, hehe)
Wanita, perannya begitu mulia bukan? Ia menguatkan keluarga,
memberikan ketenangan dan kebahagiaan setiap anggota keluarga. Dialah ibu. Tak
pernah lelah bekerja untuk mencukupi kebutuhan keluarga, semampunya.
Ibu adalah inspirasi. Hidupnya ia hibahkan untuk Allah
dengan mengurus keluarga sebagai salah satu bentuk ibadah kepada-Nya. Seluruh
jiwanya, lelah fisiknya, beban pikirannya ia gunakan dan peruntukkan untuk
keluarga. Ibu, kau begitu mulia.
Tak pernah ia berpikir akan membeli ini dan itu, kesana dan
kesitu. Kesederhanan berpikir membikin kami sekeluarga tidak ribet. Bahkan
ketika aku ingin membelikan baju dan kompor untuk memasak, beliau menolaknya.
Memintaku untuk ditabung sebagai keperluan lain. Dalam candanya, kadang minta
mentahannya. Ah, senyum kecil itu.
Ketika kami terlelap, ibu bangun duluan. Padahal kutau
begitu capeknya disiang hari untuk bekerja. Ya, ibu ikut berperan andil juga
dalam finansial keluarga. Persawahan yang menjadi topang keluarga sampai
sekarang, atas izin Allah sudah mengantarkan kami untuk sekolah sampai
sekarang. Tak heran seketika bulan-bulan bayar uang pendidikan, hasil panen
adalah penopang pertama.
Tahun ini, ibu sudah berusia 49 tahun. Dan kini aku semakin
pula menua dengan konsekuensi-konsekuensi yang harusnya semakin dewasa.
Kebahagiaan ibu sejatinya sederhana. Kala itu, pernah berbincang lirih, tentang
sebuah kebahagiaan. Beliau menginginkan kami bahagia, maka ibu akan bahagia.
Bahagiaku adalah pekerjaan saat ini ibu. Mencintai amanah
dan kerja-kerja kebaikan. Semoga Allah menguatkan ibu dalam jalan yang sudah
engkau pilih. Apapun pilihan, konsekuen itu yang kau ajarkan. Tiap pilihan
adalah ketetapan dari Allah untuk hamba-Nya sebagai kondisi terbaik. Semoga
kami, dipertemukan oleh Allah kembali dalam Surga kelak. Tentu atas kerja-kerja
kita saat ini, menghibahkan diri kepada Engkau Sang Pemilik setiap ketetapan.
Nulisnya --- *hari-hari akan KKN Mubaligh Hijrah Universitas Ahmad Dahlan
Yogyakarta
Rabu, 28 Mei 2014
Ilmu, Wajib di Buru
Kenapa harus berilmu? Tentu agar
amal dilakukan dengan benar. Sederhana begini, kita ingin menanak nasi tapi
nggak tau gimana caranya. Seberapa ukuran berasnya, air yang dibutuhkan, berapa
lama kira-kira diletakkan diatas api. Bisa jadi bukan nasi putih yang siap
disantap dengan hangat. Nasi sangat lembek atau terlalu keras bahkan gosong
yang terjadi. Sia-sia bukan?
Kenapa kita harus berilmu? Tentu ia
adalah pembenar niat dan pembetul amal. Kita tak tahu niat yang benar,
bagaimana bisa kita berniat dengan benar. Kita juga tak paham bagaimana beramal
dengan benar, bagaimana amal bisa betul?
Ilmu adalah petunjuk untuk melakukan
sesuatu dengan benar. Mengutip dari tulisannya Dr. Yusuf Al-Qardhawi dalam
bukunya Fiqih Prioritas, sesungguhnya ilmu pengetahuan mesti didahulukan atas
amal perbuatan. Pembeda antara yang haq dan bathil dalam keyakinan. Pembeda
antara benar dan salah dalam perkataan mereka. Pembetul tindakan halal dan
petunjuk tindakan haram. Nah, sangat penting bukan kita harus berilmu?
Ilmu adalah dasar kita bertindak
agar berlaku benar. Tanpa ilmu, malah kerusakan dan kesia-siaan yang kita
perbuat. Seperti ucapan khalifah Umar bin Abd al-Aziz, “Barang siapa melakukan
suatu pekerjaan tanpa ilmu pengetahuan tentang itu maka apa yang dia rusak
lebih banyak dari pada apa yang kita perbaiki. Bukankah alat penanak nasi bisa
rusak ketika kita pakai dengan tanpa ilmu? Apalagi kalau kita melakukan sesuatu
yang besar dan penting tanpa ilmu, kerusakan pasti terjadi dimana-mana.
Guru, harus Berilmu
Berdetik-detik, bermenit-menit,
berjam-jam, berhari-hari, bahkan dalam hitungan kumpulan bulan dan tahun
seorang guru mengajar dikelas. Untuk banyak pasang mata, pasang telinga, dan
terutama hati mereka. Bisa dibayangkan ketika guru mengajar tanpa landasan yang
benar? Tanpa hujjah yang nyata?
Kita sebagai guru adalah pusat ilmu
dalam kelas-kelas atau forum-forum kajian. Maka dari itu, tanpa ilmu yang
benar, apa yang kita ajarkan? Kita harus berilmu supaya tak salah mendidik.
Menyampaikan nilai-nilai kebenaran dengan cara terbaik supaya terbentuk insan
terbaik. Menjadikan pondasi-pondasi penanak nasi yang memiliki ilmu. Insan
manusia yang tidak membuat kerusakan. Justru kebaikan akan tertanam dimanapun
anak berada.
Kita harus mengetahui kemana anak
didik dibawa. Siapa Rabb mereka. Siapa pencipta mereka dan untuk apa mereka di
cipta. Kita adalah rabbani. Guru adalah sempurna ilmunya dan bertaqwa. Seorang
Guru adalah rabbani karena mengajar kitab bersebab mempelajarinya.
“…, “Hendaklah kamu menjadi
orang-orang rabbani (yang sempurna ilmu dan taqwanya kepada Allah)
, karena kamu selalu
mengajarkan al-Kitab dan disebabkan kamu
telah mengajarinya.”
(QS Al-Imran : 79)
Definisi lain rabbani yang ditulis
Dr. Yusuf Qardhawi dalam bukunya ialah orang yang mengajar dengan ilmu
kecilnya, sebelum ilmu besar. Ilmu kecil yang dimaksud adalah ilmu sederhana,
namun jelas penjelasannya. Ilmu menanak nasi juga termasuk ilmu kecil. Ilmu
yang kita butuhkan sehingga tak berbuat kerusakan. Baik pada nasi itu sendiri
atau alatnya. Ilmu yang ditulis dalam tulisan ini juga tulisan sederhana.
Mengajar adalah sebuah seni
mendidik agar dekat dengan nilai-nilai kebenaran. Membutuhkan proses dan tentu
bertahap serta memperhatikan kondisi dan kemampuan anak didik. Seorang anak berumur
masih belia, tentu ilmu sederhana bagaimana birrulwalidain
tentu lebih dibutuhkan. Kabar gembira tentang adanya Surga untuk orang beriman
tentu akan membuat anak didik semakin cinta dengan RabbNya.
Yuk selalu berburu ilmu, walau
sebatas bagaimana menanak nasi. Itu baru ilmu dunia. Ilmu yang sifatnya Fardhu harus menjadi prioritas nomor
satu. Ilmu bagaimana beribadah kepada Allah sesuai tuntunan Rasulullah. Agar
tak salah, tak sia-sia, dan tertolak. Nah!
Sumber Ilmu : Qardhawi,
Yusuf. FIQIH PRIORITAS : Sebuah Kajian
Baru Berdasarkan al-Quran dan as-Sunnah. Penj : Bahruddin F—Jakarta :
Rabbani Press
Annafi`ah Firdaus
Senin, 26 Mei 2014
Perbaiki diri, Perbaiki Sistem
Sesungguhnya niat itu sangat berpengaruh. Maksud setiap
orang tentu berpengaruh bagaimana ia melakukan kerja-kerja dalam sebuah sistem.
Bisa hanya ala sekadarnya asal tugas dari job description nya tuntas, itupun
tak sepenuh kerja dengan maksimal.
Atau ada juga seseorang yang bersikukuh
dengan maksud diri masuk dalam sebuah sistem untuk membuat perubahan, bahkan
pembaharuan. Awal mula ia masuk karena melihat sistem itu tak berjalan dengan
semestinya. Memang, jika ingin merubah sebuah sistem, mau tak mau memang harus
masuk sistem. Tentu dengan mengambil peran strategis sehingga memiliki kuasa
untuk membuat aturan.
Ya, melakukan sebuah perubahan adalah sebuah pilihan. Kenapa
disebut pilihan, ya karena setiap pilihan ada konsekuensinya bukan? Dari setiap
banyak pilihan, mulai dari bersifat pragmatis saja dengan kondisi yang ada,
sampai ada yang bersikap idealis untuk sebuah kondisi lingkungan sekitar. Ya,
itu pilihan …
Sistem, lebih suka menyebutnya begitu. Bahasa umumnya bisa
diartikan organisasi. Tentu sebuah organisasi di bentuk karena ada maksud dan
tujuan. Anggap saja yang ini kita bahas adalah sistem yang baik, bahkan
idealis. Sebagai sarana berkumpulnya orang-orang yang bervisi untuk bekerja
bersama melakukan sebuah perubahan.
Perubahan memang harus, untuk hal-hal yang bukan prinsip
keyakinan tentunya. Keyakinan bahwa akan ada balasan dari kerja-kerja kita tak
boleh berubah, bahkan ragu. Tetapi perubahan yang dimaksud disini adalah
kondisi sekitar kita. Lebih adil, sistem berfungsi seperti seharusnya, bergerak
sesuai rencana, dan lain-lain. Itu keinginan kita dalam sistem bukan? Tetapi
bagaimana jika tidak? Salahkah sistem tersebut?
Sistem sejatinya seperti sebuah sapu lidi. Tentu sapu
lidi dibikin karena ada maksud dan tujuan.
Sapu lidi adalah benda untuk membersihkan halaman, terdiri dari kumpulan lidi
yang diikat dengan sebuah ikatan. Nah kalau organisasi? Kumpulan manusia yang
diikat dalam ikatan sistem untuk bekerja bersama-sama mencapai tujuan.
Bagaimana kalau lidi itu tidak di ikat dan ia mengerjakan
pekerjaan dengan sendirian? Single
fighter bahasa kerennya. Patah dan rusak lidi itu. Struktur isi lidi-lidi
didalam sapu itu juga akan berkurang, baik secara kuantitas maupun kualitas.
Nah, begitu juga dengan organisasi. Satu orang saja memiliki masalah dalam
semangatnya, niatnya, komitmennya, dan totalitasnya tentu akan berpengaruh pada
kokohnya sebuah sistem. Bagaimana bisa membuat sebuah perubahan dalam sistem
ataupun fungsi sistem tersebut lebih baik? Nah!
Maka mengutip dari tulisan Dr Yusuf Qardhawi dalam bukunya
Fiqih Prioritas bahwa diantara prioritas yang dianggap penting dalam usaha
perbaikan (ishlah) ialah memberikan perhatian terhadap pembinaan individu
sebelum membangun masyarakat, atau memperbaiki dulu sebelum memperbaiki sistem
dan institusi.
Usaha perbaikan lingkungan harus dimulai dari diri sendiri.
Pondasi berupa individu-individu yang kuat dan tangguh inilah yang akan
menjadikan bangunan kuat. Siapkah kita? Yakinkah kita?
Maka tak selayaknya mencela sebuah sistem begini dan begitu
sebelum kita koreksi diri. Luruskan niat kita? Sanggupkah dengan konsekuensi
pilihan kita? Maukah kita tak lelah belajar dan tak putus asa? Sudikah segala
waktu, tenaga, dan pikiran harus kita bagi untuk mengurus urusan kolektif?
Pekerjaan sapu lidi besar, maka ia perlu lidi-lidi yang kuat
dan tak mudah putus. Begitu pula sebuah sistem, sejatinya ia dibentuk untuk
mengemban amanah. Maka, yuk perbaiki diri terlebih dahulu sebelum memperbaiki
sistem. Nah!
Untukku, untuk Adik-adik :)
Fight!!!
Fight!!!
Rabu, 07 Mei 2014
Awal Mula Mencinta Kesmas ( Part 1)
Intinya konsisten. Saatnya belajar ya belajar, saatnya
ibadah ya ibadah. Bukankah Sholat adalah salah satu cara Allah begitu sayang
dengan kita? Dia menginginkan agar hidup kita lebih rapi. Tertata, agar tak
berantakan dengan begitu banyaknya urusan, tapi tak terselesaikan dengan baik. Maka
perhatikan tiap sholat kita. Sudah sesuai tuntunan? Sudah tepat waktu? Bukankah
itu amal pertama yang dihisap kelak?
NAH !
Ingin sekali berkisah, semoga yang baca blog ini tergugah.
Sungguh menjadi penulis adalah sebuah pekerjaan yang mulia, bagi mereka yang
punya niat mulia. Menjadi mulia memang perlu diperjuangkan, dengan menjadi
penulis, begitu salah satunya. Penulis dengan segenap ikhtiar terbaik,
menyajikan deretan kosa kata, minimal untuk hatinya. Berharap pula untuk hati
orang disekitarnya. Makanan hati adalah ilmu. Tentu ilmu yang membuat makin
dekat dengan Allah.
Mengingat beberapa tahun yang lalu, sebuah sekolah menengah
kejuruan bisa dibilang begitu. Satu niat kuat masuk ke sekolah itu adalah lulus
dan bisa bekerja di sebuah perusahaan : minimal Apotek. Bekerja dan bisa
membahagiakan kedua orang tua. Jadi inget waktu itu, harus nge-Kost dan jauh
dari bapak ibu. Begitu sedih, harus jauh dengan ponakan, kakak, adik, dan yang
paling utama adalah bapak ibu. Alhamdulillah, sudah terlewati . Termasuk
kejadian dehidrasi karena nggak bisa minum air kota yang pakai kaporit.
Kalau inget emang bisa ketawa, nggak tau bener sebenarnya
itu sekolah adalah sekolah ngapain. Yang jelas, kata tetangga dan guru SMP,
kalau sekolah di situ bisa cepet dapat kerja. Bayangan awal memang agak geli,
asisten apoteker. Dalam hati, apa bakal jadi pembantu. Ternyata, bukan …
Saat itu, makin lama memang makin paham. Oh, ternyata
tentang obat. Lingkungan sekolah saat itu pun sangat kondusif. Banyak senior
yang membimbing, dan mereka begitu menikmati segala macam mata pelajaran.
Farmakologi, farmakognosi, sinonim, semua mereka sukai. Melihat mereka begitu
mencintai, ternyata berpengaruh pada perspesi, semangat, sikap dan belajar.
Berangkat nge-Nol (jam 06.30) pulang maghrib. Itu rutinitas
sekolah, terutama kelas 2. Waw, sekolah bagai rumah ke-2. Apalagi teman-teman
sudah seperti keluarga sendiri. Begitu menyenangkan dan bahagia …
Sebenarnya terlepas dari kenangan yang ada di SMA, ohya
sudah ada yang tau sekolahku? Yap, Sekolah Menengah Farmasi Yogyakarta,
sekarang menjadi SMK Indonesia Jurusan Farmasi. Satu-satunya alasan yang selalu
ditanyakan kepadaku, kenapa nggak melanjutkan saja di Fakultas Farmasi? Mungkin
tulisan ini bisa menjawab.
Kenangan itu akan selalu menjadi hikmah. Lingkungan
kondusif, senior yang selalu membimbing, lampu malam yang sering terjaga dengan
hafalan nama tanaman obat, simplisia, efek farmakologi obat, praktikum,
kenangan yang semoga tetap menjadi hikmah, kisah yang insyaallah akan ku
ceritakan kepada anak-anakku, suami juga.
Kenangan paling indah, salah satunya : Seorang guru. Beliau
adalah Bapak Mustamir Ibnu Hajar. Lebih suka menyebutnya guru, bener mungkin di
gugu lan ditiru. Beliau mengajar mata pelajaran “Ilmu Kesehatan Masyarakat.”
Biasa kami singkat juga dg IKM agar mudah menulisnya.
Seingatku, beliau hanya pernah marah sekali saja. Di kelas C
( DCMC), karena memang begitu keterlaluannya kita yang nggak belajar lagi
setelah di ajar. Aku pun ikut di”usir” diluar kelas karena nggak bisa jawab
pertanyaan. Menyedihkan waktu itu. Buku handout IKM pun beliau tulis dengan
tulisan sendiri, dengan huruf capital spidol hitam diatas kertas HVS. Beliau
mengajar dengan begitu memesona. Tak pernah bawa buku, tapi apa yang beliau
sampaikan sangat lengkap. Kangen beliau …
Semenjak itu, aku pun jatuh cinta dengan Kesmas. Beliau
menjabarkan ilmu itu tak sekedar jabaran, tapi mampu menginspirasi.
Sampai-sampai, waktu itu aku tak begitu ingat dengan awal mula kejadian, tapi
aku mengangkat tangan sambil menangis, berkata “Insyaallah setelah lulus dari
SMF, kuliah S1 Farmasi dan S2 IKM.” Hahaha, entah hatiku tertawa, tentu tertawa
lega sudah meluapkan apa yang ada dalam hati. Di doakan beliau, teman-teman dan
insyaallah malaikat yang ada disitu.
Itulah awal mula aku mencintai kesmas…
Dari seorang Guru- Pak Mustamir Ibnu Hajar …
Beliau pun pernah berkisah didalam kelas tentang seorang
Ibnu Hajar Asqalani. “Tes tes tes,” air menetes dapat menjadikan batu terkikis.
Konsisten dan istiqomah jika ingin memahami ilmu, bersabar dalam mengabdi …
Tetapi beliau kini tiada, dan yang disayangkan belum pernah
silaturakhim di rumah beliau, Insyaallah di Surga kelak, Aamiin
“Sehat itu kondisi yang baik bukan hanya fisik saja, tetapi sosial
dan psikis. Ia pun akan produktif”
“Kesmas adalah ilmu dan seni, sarana untuk mengajak
masyarakat untuk hidup sehat”
-----begitu kosakata yang selalu teringat dari (alm) Pak
Mus-------
“Agama ini akan
tegak, salah satunya ditegakkan oleh mereka yang imannya, dan badannya kuat”
--------------------( Annafi`ah Firdaus--Nama ini begitu berat, tapi Firdaus layak diperjuangkan)
Rabu, 30 April 2014
Bekerja, Maka Keajaiban
Iman itu terkadang menggelisahkan.
Atau setidaknya menghajatkan
ketenangan yang mengguyuri hati dengan terkuaknya keajaiban. Mungkin itu yang
dirasakan Ibrahim ketika dia meminta kepada Rabbnya untuk ditunjukkan bagaimana
yang mati dihidupkan. Maka saat Rabbnya bertanya, “Belum yakinkah engkau akan
kuasaKu?”, dia menjawab sepenuh hati, “Aku yakin. Hanya saja agar hati ini
menjadi tenteram.”
Tetapi keajaiban itu tak datang
serta merta di hadapannya. Meski Allah bisa saja menunjukkan kuasaNya dalam
satu kata “Kun!”, kita tahu, bukan itu yang terjadi. Ibrahim harus bersipayah
untuk menangkap lalu mencincang empat ekor burung. Lalu disusurnya jajaran
bukit-berbukit dengan lembah curam untuk meletakkan masing-masing cincangan.
Baru dia bisa memanggilnya. Dan beburung itu mendatanginya segera.
Di sinilah rupanya keajaiban itu.
Setelah kerja yang menguras tenaga.
Tetapi apakah selalu kerja-kerja
kita yang akan ditaburi keajaiban?
Hajar dan bayinya telah ditinggalkan
oleh Ibrahim di lembah itu. Sunyi kini menyergap kegersangan yang membakar.
Yang ada hanya pasir dan cadas yang membara. Tak ada pepohon tempat bernaung.
Tak terlihat air untuk menyambung hidup. Tak tampak insan untuk berbagi kesah. Keculai
bayi itu. Isma’il. Dia kini mulai menangis begitu keras karena lapar dan
kehausan.
Maka Hajar pun berlari, mencoba
mengais jejak air untuk menjawab tangis putera semata wayangnya. Ada dua bukit
di sana. Dan dari ujung ke ujung coba ditelisiknya dengan seksama. Tak ada.
Sama sekali tak ada tanda. Tapi dia terus mencari. Berlari. Bolak-balik tujuh
kali. Mungkin dia tahu, tak pernah ada air di situ. Mungkin dia hanya ingin
menunjukkan kesungguhannya pada Allah. Sebagaimana telah ia yakinkan sang
suami, “Jika ini perintah Allah, Dia takkan pernah menyia-nyiakan kami!”
Maka kejaiban itu memancar. Zam zam!
Bukan. Bukan dari jalan yang dia susuri atau jejak-jejak yang dia torehkan di
antara Shafa dan Marwa. Air itu muncul justru dari kaki Isma’il yang bayi. Yang
menangis. Yang haus. Yang menjejak-jejak. Dan Hajar pun takjub. Begitulah
keajaiban datang. Terkadang tak terletak dalam ikhtiar-ikhtiar kita.
Mari belajar pada Hajar bahwa makna
kerja keras itu adalah menunjukkan kesungguhan kita kepada Allah. Mari bekerja
keras seperti Hajar dengan gigih, dengan yakin. Bahwa Dia tak pernah
menyia-nyiakan iman dan amal kita. Lalu biarkan keajaiban itu datang dari jalan
yang tak kita sangka atas kehendakNya yang Maha Kuasa. Dan biarkan keajaiban
itu menenangkan hati ini dari arah manapun Dia kehendaki.
Bekerja saja. Maka keajaiban akan
menyapa dari arah tak terduga.
Di lintas sejarah berikutnya,
datanglah seorang lelaki pengemban da’wah untuk menjadi ‘ibrah. Dari Makkah,
dia berhijrah ke Madinah. Tak sesuatupun dia bawa dari kekayaan melimpah yang
pernah memudahkannya. Dia, ‘Abdurrahman ibn ‘Auf. Dan Rasulullah yang tahu gaya
hidupnya di Makkah mempersaudarakannya dengan seorang lelaki Anshar kaya raya.
Sa’d ibn Ar Rabi’.
Kita hafal kemuliaan kedua orang
ini. Yang satu menawarkan membagi rata segala miliknya yang memang berjumlah
dua; rumah, kebun kurma, dan bahkan isterinya. Yang satu dengan bersahaja
berkata, “Tidak saudaraku.. Tunjukkan saja jalan ke pasar!”
Dan kita tahu, dimulai dari semangat
menjaga ‘izzah, tekadnya untuk mandiri, serta tugas suci menerjemahkan nilai
Qurani di pasar Madinah, terbitlah keajaiban itu. ‘Abdurrahman ibn ‘Auf memang
datang ke pasar dengan tangan kosong, tapi dadanya penuh iman, dan akalnya
dipenuhi manhaj ekonomi Qurani. Dinar dan dirham yang beredar di depan matanya
dia pikat dengan kejujuran, sifat amanah, kebersihan dari riba, timbangan yang
pas, keadilan transaksi, transparansi, dan akad-akad yang tercatat rapi.
Sebulan kemudian dia telah menghadap
Sang Nabi dengan baju baru, mewangi oleh tebaran minyak khaluq yang
membercak-bercak. “Ya Rasulallah, aku telah menikah!”, katanya dengan
sesungging senyum. Ya, seorang wanita Anshar kini mendampinginya. Maharnya emas
seberat biji kurma. Walimahnya dengan menyembelih domba. Satu hari, ketika
40.000 dinar emas dia letakkan di hadapan Sang Nabi, beliau bersabda, “Semoga
Allah memberkahi yang kau infaqkan juga yang kau simpan!”
Kita mengenangnya kini sebagai
lelaki yang memasuki surga sambil merangkak.
Di mana titik mula keajaiban itu? Mungkin
justru pada keberaniannya untuk menanggalkan segala kemudahan yang ditawarkan.
Dalam pikiran kita, memulai usaha dengan seorang isteri, sebuah rumah tinggal,
dan sepetak kebun kurma seharusnya lebih menjanjikan daripada pergi ke pasar
dengan tangan kosong. Tetapi bagi ‘Abdurrahman ibn ‘Auf agaknya itu justru
terlihat sebagai belenggu. Itu sebuah beban yang memberati langkahnya untuk
menggapai kemuliaan yang lebih tinggi. Keajaiban itu datang dalam keterbatasan
ikhtiyar keras si tangan kosong. Bukan pada kelimpahan yang ditawarkan
saudaranya.
Memulai dengan tangan kosong seperti
‘Abdurrahman ibn ‘Auf seharusnya menjadi penyemangat kita bahwa itu semua
mudah. Mungkin dan bisa. Tetapi apakah kemudahan itu? Suatu hari dalam
perjamuan Raja Ferdinand dan Ratu Isabella, semua orang mencibir perjalanan
Columbus menemukan dunia baru sebagai hal yang sebenarnya sangat mudah. Tinggal
berlayar terus ke barat. Lalu ketemu.
Christopher Columbus tersenyum dari
kursinya. Diambil dan ditimangnya sebutir telur rebus dari piring di depannya.
“Tuan-tuan”, suaranya menggelegar memecah ricuh bebisikan. “Siapa di antara
kalian yang mampu memberdirikan telur ini dengan tegak?”
“Christopher”, kata seorang tua di
sana, “Itu adalah hal yang tidak mungkin!”
Semua mengangguk mengiyakan.
“Saya bisa”, kata Columbus. Dia
menyeringai sejenak lalu memukulkan salah satu ujung telurnya sampai remuk.
Lalu memberdirikannya.
“Oh.. Kalau begitu, kami juga
bisa!”, kata seseorang. “Ya.. ya.. ya..”, seru yang lain. Dan senyum Columbus
makin lebar. Katanya, “Itulah bedanya aku dan kalian Tuan-tuan! Aku memang
hanya melakukan hal-hal yang mudah dalam kehidupan ini. Tetapi aku melakukannya
di saat semua orang mengatakan bahwa hal mudah itu mustahil!”
Nah, para pengemban da’wah,
bekerjalah. Maka keajaiban akan menyapa dari arah tak terduga. Mulailah. Karena
dalam keberanian memulai itulah terletak kemudahannya. Bukan soal punya dan tak
punya. Mampu atau tak mampu. Miskin atau kaya. Kita bekerja, karena bekerja
adalah bentuk kesyukuran yang terindah. Seperti firmanNya;
..Bekerjalah hai keluarga Daud,
untuk bersyukur. Dan sedikit sekali di antara hambaKu yang pandai
bersyukur. (QS Saba’: 13)
sepenuh cinta,
Salim A. Fillah
diambil dari salimafillah.com/bekerja-maka-keajaiban/
Langganan:
Postingan (Atom)


