Senin, 25 Februari 2013

AKU DAN MENULIS



gambar :catatangilang.blogspot.com

Menulis adalah sarana melayakkan diri untuk Allah memiliki alasan seorang Atik Setyoasih dimasukkan dalam Surga-Nya. Menulis adalah proses menguatkan iman dalam diri kepada Allah dan Rasul-Nya. Menulis adalah sarana mengais ilmu dan mengikatnya dalam kata-kata penuh syarat makna. Menulis adalah sarana menebar kebaikan kepada penghuni dunia serta saling menguatkan dalam kesabaran dalam agama-Nya.

Bagiku, menjadi Jurnalis adalah sebuah panggilan jiwa. Ya, panggilan jiwa untuk mengabdi pada-Nya mendidik diri sendiri serta saudara-saudara di dunia tuk lebih dekat pada-Nya. Mengais ilmu-Nya dan meraciknya, untuk di tebarkan kedalam jiwa tiap nafs pembacanya. Ya Rabb, berharap walau seberat biji sawi sekalipun, tiap kata yang tertumpahkan akan ada kebaikan didalamnya. Menjadi nilai penggerak untuk senantiasa mengingat Sang Maha Pencipta. Semoga Allah makin meridloi diri ini.

Bicara tentang sehat. Sehat secara fisik adalah nikmat, apalagi sehat secara iman. Itulah nikmat iman islam yang merupakan mahkota orang-orang beriman yang tak dapat digadaikan. Memang, sehat fisik juga bukan segala-galanya. Akan tetapi jika bisa di ikhtiarkan, kenapa tidak? Sehat yang bisa diupayakan lewat kehidupan sang Teladan: Rasulullah SAW. Sehat yang menjadikan kita kuat secara fisik tuk totalitas beribadah pada-Nya. Sehat untuk secara kaffah kita membela agama-Nya. Maka, jadi Jurnalis Muslim Kesehatan adalah impian sarana untuk berjuang di jalan-Nya.

Bicara tentang sehat lagi. Seperti halnya, kaya atau miskin. Tak ada yang salah didalam keduanya. Pasti ada kebaikan dari-Nya jika kita mengetahui dan mensyukurinya. Sakit juga bukan berarti keadaan buruk, akan ada nilai kebaikan jika kita beriman pada-Nya. Begitu pula saat sehat, bukan berarti kondisi terbaik. Akan ada nilai keburukan jika kita menggunakannya tidak untuk Allah semata. Ya, status kesehatatan diri yang tak hanya bergantung pada fisik saja, yang terpenting adalah iman kita.

Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada jalan Allah dan CARILAH JALAN yang mendekatkan diri kepada-Nya, dan berjihadlah pada jalan-Nya supaya kamu mendapat keberuntungan.” ( QS Al-Maidah: 35 )

Jumat, 14 Desember 2012

Bebas (tapi) amanah


gambar-lucu.com

Aku tak begitu paham kapan ketika aku mulai merasakan bebas nilai. Bebas nilai yang aku definisikan dari dibolehkannya segala hal yang aku lakukan. Sering tak pernah ada melarangku memilih ini dan memilih itu. Juga melakukan ini dan melakukan itu. Semua bebas, ya aku bebas melakukan hal apa saja yang aku anggap ini penting buatku khususnya. Termasuk orang tua yang yang tidak melarangku untuk menjadikan rumah hanya sebagai tempat rehat sejenak melepas lelah setelah dari pagi-malam melalang buana berjalan ditengah hiruk pikuk dunia.

Aku pun bebas ketika aku memilih sebuah fakultas tempat sekarang aku kuliah. Aku bebas ketika harus meninggalkan segala pekerjaan dirumah dengan berdalih ini untuk kuliah dan dakwah. Aku bebas pergi dengan tak tidur dirumah selama beberapa hari untuk urusan ini dan itu. Aku bebas menggunakan segala fasilitas rumah untuk kadang keegoisan diri.

Bebas telah mengkontaminasiku tak terampunkan. Bebas membuatku lebih menuntut berpikir mendalam. Bebas terfinisikan sebuah dakwah bagiku. Bebas yang mengandung konsekuensi logis terhadap sebuah petanggungjawaban. Bebas yang aku rasakan begitu menuntut sebuah bukti tak sekedar janji. Bebas!

Bebas nilai yang aku pikul hari ini adalah bagaimana membuktikan aku bisa hidup dengan nilai-nilai yang syar`i. Nilai yang membuktikan bahwa dakwah adalah sebaik-baik jalan untuk mengarungi hiruk pikuk dunia ini. Hiruk pikuk ketika sebuah “globalisasi” yang selalu digembor-gemborkan mata kuliah sosiologi menjadi suasana kehidupan terkini. Menuntut bagi siapa yang ingin hidup dikerasnya kehidupan ini, maka keraslah terhadap diri sendiri. Keras untuk menegakkan aturan dan pedoman syar`I yang telah ada. Hingga akhirnya diri ini benar-benar terkontaminasi dengan sebuah kebaikan hingga berujung sebagai bagian dari sebuah peradaban kejayaan Iman.

Terimakasih kedua orang tuaku yang membebaskanku melakukan apa saja. Semoga kesabaran penantian anakmu ini untuk membuktikan jalan yang anakmu pilih adalah sebaik-baik
jalan kehidupan mendapatkan pahala sesuai apa yang dilakukan anakmu ini. []




Minggu, 11 November 2012

KENAPA MEMILIH FKM?

Menurutku, tak ada profesi yang buruk. Semua baik. Asal, ada satu syarat: melakukan profesionalisme secara utuh. Ya, bisa dibayangkan jika semua profesi melakukan amanahnya sesuai dengan kode etik Al-Quran dan Sunnah, aku yakin kehidupan bangsa ini akan lebih baik. Tak ada yang merasa sombong, atau bahkan tak ada yang memandang sebelah mata profesi tertentu. Semua profesi sesungguhnya memiliki peran dan kontribusi sesuai dengan kemampuannya kan ?

Ku memilih profesi sebagai Sarjana Kesehatan Masyarakat, bukan berarti pula memandang sebelah pofesi lain. Atau bahkan sudah kesasar masuk lantas menganggap FKM paling bagus diantara profesi lain. Bukan itu. Tapi aku merasa ada kecocokan dengan jiwa dan ruh dari profesi ini. Profesi yang menuntut untuk mengelola sebuah komunitas untuk bersama-sama menjadikan kehidupan lebih baik. Baik yang selalu aku identikkan dengan sehat. Sehat yang tidak hanya secara fisik saja, tetapi secara sosial dan mental. Sehat yang aku harap dimengerti setiap elemen masyarakat untuk kemudian diupayakan untuk mencapai tingkat totalitas tertinggi menjadi kafillah di bumi. Berharap bersama-sama menjadi manusia secara utuh untuk mengabdikan diri pada Allah dan alam semesta.

Masuk ke kampus ini pun tak serta merta dengan usaha yang biasa saja. Butuh pemikiran dan pertimbangan yang lama untuk masuk ke kampus. Hingga akhirnya, aku bersama impian berharapkan menjadi ghirah dalam tiap step-step pencapaian itu. Menjadi The Great International Trainer and Writer of Public Health especially Sex Education in Islam. Berusaha menjadi sebaik-baik manusia dengan kemanfaatan yang banyak. Ah, jangan terpana dengan impian itu. Untuk mengembannya sangat berat. Berharap impian itu menjadi amal yaumi yang mengantakan pribadi ini dekat dengan kebaikan dan Surga.

Hidup sehat adalah hidup Rasulullah. Bisa dibayangkan dengan mengemban amanah yang berat, Rasul tetap saja sehat. Peperangan yang begitu berat serta penghinaan kaum kafir akan dirinya, tak menjadikan beliau frustasi ataupun stress. Itulah beliau. Dengan jiwa dan fisik yang sehat, terbukti Rasul, membawa kehidupan ini terarah sampai sekarang. Itulah sebahagian dari beliau yang patut dicontoh dan menjadi PR kita untuk membagikannya kepada manusia. Bukankah berarti SKM juga membawa orang yang mengembannya lebih dekat dengan kebaikan?

Nah, itulah kenapa aku masuk FKM. Dan ini adalah alasanku Apa alasanmu? Temukan alasanmu sehingga menjadi sesuatu yang tak menjadikan dirimu bermain-main disaat kuliah ataupun sudah lulus.

aku tulis ni nakah tanggal 25/5/2012, semoga juga makin semangat kuliahnya :)

selamat hari Kesehatan Nasional :) 12 NOVEMBER 2012
dedicate for all my friends in Faculty of Public Health in University of Ahmad Dahlan Yogyakarta

Senin, 29 Oktober 2012

asuransi


Kali ini, forum yg menurutku benar0benar berkah. Forum yang makin menambah keimanan dan ilmu ditiap aktifitas didalamnya. Forum yang aku relakan ijin makarya serta H-1 ujian karena Aku berharap akan sarapan jiwa untuk makin tega di Jalan-Nya.

Berawal dari sebuah sharing, masing2 sahabat, makin menguatkan pula ukhuwah diantara kita. dengan prinsip, akrab namun dominan sesuai adab islam, berharap isi cerita makin menjadi ilmu dan penyemangat di Jalan yang Allah tunjukkan.

Bermula dari sebuah cerita seorang ikhwan beranakkan satu tentang kebimbangannya di jalan ini, akan kehidupannya, keluarganya, anaknya, yang dirasa memang sangat dilematis antar memilih diantara banyak jalan kehidupan. Hiruk pikuk dunia seakan menggoda tak terampunkan untuk tak ikut jalur Surga yang penuh dengan kelelahan dan butuh kesabaran. Berpiki dan berpikir. Bukan Galau, jujur yang kata ini sebenarnya kurang aku sukai, namun sebuah moment untuk benar-benar memikirkan bagaimana untuk tetap hidup diatas jalan idealisme kita diatara hegemoni kemewahan dunia ini.

Terbesit dipikiranku, apa aku juga sudah memikirkan kehidupanku di masa yang akan datang. ketika saatnya harus tidak bergantung pada orang tua, harus bisa tegak berdiri diatas kaki sendiri, bahkan harus menopang orang yang harusnya kita topang. Mungkin sekarang aku masih nebeng dengan orang tua, makan ngikut, tidur ngikut orang tua, apa2 orang tua, dan ternyata aku belum merencanakan secara detail mau jadi apa ketika waktu tiba dimana idelisme ku harus tetap aku pegang.

Ya, aku bisa merasakan perasaan bapak itu, teman seukhuwah yang nyatanya selalu ada ditiap agenda seperti halnya teman yang lain belum nikah. tapi dipikir2, ternyata akan ada banyak perbedaan tentang hal yang dipikirkan bapak itu dengan aku misalnya karena sekarang statusku masih benar2 belajar belum bersuami dan beranak.

Lagi-lagi masalah jaminan yang jadi ujung2nya. Jaminan hidup anak-anak, keluarga, pendidikan, kesehatam di dunia. Dan sekarang nyatanya aku juga mulai memikirkannya, dengan tetap meraihnya seta tetap memegang idealisme ku seorang aktivis. Allah..

sebuah pernyataan yang aku lupa kala itu menyeletuk, bahwa pegawai negeri sipil aja dijamin kehidupannya oleh Negara, masak kita yang pegawai nya Allah khawatir akan jaminan atas-Nya. Butuh kesabaran mungkin. Tapi tak tanggung2, jaminan yang pasti oleh Allah yang akan diberikan kepada hambanya ang berjuang diatas jalannya adalaha Surga. Sudahkah kita merasakan itu semua..

Kalau belum, mari kita saling mengingatkan dalam kesabaran dan kebaikan, sehingga kita akan termasuk orang2 yang akan beruntung. Dan saran buat diri sendiri, hanya butuh kesungguhan benar2 berjuang diatas Jalan Allah, dengan potensi masing. Tentu janji Allah takkan lengah, yang siapapun menolong Agama Allah secara sungguh2, maka Allah akan menolong hamba itu. Buat bapak itu, aku tidak bisa mebnasehati kaena sejatinya aku juga masih belajar dan masih ammah dalam menghadapai kehidupan ini, satu statement: berjuanglah karena Allah dengan ikhtiar sesempurna mungkin. Insya Allah, akan dimudahkan :)

Sudah jelas asuransi atau jaminan hidup bagi orang yang bersungguh2 berjalan dan berjuang karena Allah adalah Surga yang tentu akan berefekkan kesuksesan dunia jika memang Allah ijinkan, kenapa kamu masih ragu ?

gambar : http://kangfuad.wordpress.com

Selasa, 23 Oktober 2012

AGAIN

L-A-G-I : LAGI yang kalo dalam bahasa inggris salah satu terjemahnya adalah AGAIN. Kata berjejer huruf yang menurutku luar biasa kandungannya jika dipikirkan lebih mendalam. Sebuah perbuatan berulang yang diharapkan makin hari makin baik sehingga mencapai tingkatan ikhtiar yang baik.

AGAIN. Berulang kali yang jika sebuah sikap dan keterampilan di lakukan, entah terpaksa atau bukan barangkali akan menjadi kebiasaan. AGAIN, lagi dan lagi kebiasaan itu beulang yang akan berujung pada sebuah karakter.

Kali ini so simple, tidak akan membahas tentang banyak hal. Yang terdekat saja (bagiku) yakni WRITE. Ya, menulis sodara2. Bagiku menulis adalah sarana pengabdian yang aku yakin dengan jalan itu aku bisa memberikan kemanfaatan kepada banyak orang lewat tulisan2 itu. Tapi, kadang jika persepsi itu sudah ada namun tidak di barengi dengan tindakan nyata, ternyata,,kosong.

WRITE, WRITE, WRITE, WRITE, WRITE, WRITE, WRITE, WRITE, WRITE, WRITE, WRITE, WRITE, WRITE, WRITE, WRITE, WRITE, WRITE, WRITE, WRITE, WRITE, WRITE, WRITE, WRITE, WRITE, WRITE, WRITE, …

AGAIN, AGAIN, AGAIN, AGAIN, AGAIN, AGAIN, AGAIN, AGAIN, AGAIN, AGAIN, AGAIN, AGAIN, AGAIN, AGAIN, AGAIN, AGAIN, AGAIN, AGAIN, AGAIN, AGAIN, AGAIN, AGAIN, AGAIN, AGAIN, AGAIN, AGAIN, ..

WRITE AGAIN, WRITE AGAIN, WRITE AGAIN, WRITE AGAIN, WRITE AGAIN, WRITE AGAIN, WRITE AGAIN, WRITE AGAIN, WRITE AGAIN, WRITE AGAIN, WRITE AGAIN, WRITE AGAIN , WRITE AGAIN, WRITE AGAIN..

Maka ketika sebuah agenda literasi belum menjadi sebuah karakter, yang perlu dibenahi adalah ADAB belajar menulis..mengenai :niatnya, passionnya, tujuannya, impiannya, ghirahnya, dan yang tak kalah penting adalah menulis terus tanpa henti 

Lagi dan lagi memang harus memperbaharui niat dalam kesungguhan berikhtiar kala sebelum, saat dan setelah menulis.

Dediacate to my friends : Eko Megawati dan Amin Novianto (TIM WRITING NAH!) . Temen seperjuangan untuk mengubah dunia dengan pena  afwan jika koor selalu KALUT 

Kamis, 11 Oktober 2012

BOSAN



ketika aku menulis blog ini, hari yang begitu dinantikan berjuta umat: Jumat, menjadi hari akan perenungan yang kian mendalam. Apa saja yang sudah Aku lakukan sepekan ini? dan sudahkah ku rencanakan untuk sepekan besok? Ya Robb, hati ini kian makin menangis tanpa suara sudahkah pula hari-hari ini selalu mengingat-Mu kala berbaring, berdiri, jalan, naik motor, dalam kelas,apalah itu.

Bosan. Kata yang kadang menjadi hegemoni pikiran yang menyelimuti pikian. Aku rasa hati mungkin juga. Sebuah perasaan bosan yang Aku artikan sendiri ketika jiwa dan pikiran mengalami sebuah kelelahan. Benar2 kelelahan yang sempat membuat badan tak se sehat seperti biasanya.

Bagaimana tidak,
1. Aku bosan ketika aku kuliah dari pagi jam 7 teng, dan akan menanggung malu kalau telat masuk kelas, hampir tiap hari, dan hampir tiap hari juga sampai rumah sekitar jam 10 malam. Bayangkan aja ketika aku merasa diri seorang Akhwat harus pulang malam menempuh jarak hampir 100 KM. Maka dikala siang yang indah ini, beriring khotbah Kampus Muhammadiyah ternama di kota kelahiranku, Aku berpikir, memang kamu pake niat apa melakukan semua itu? uang? materi? atau apa? bahkan jodoh, belumlah. Niat yang harus kamu perbarui selalu

2. Aku bosan banget ketika melihat diriku yang kian lama tidak segera bertaubat. Selalu menyesali kesalahan yang sama.Kerjaan numpuk, cucian numpuk, maka solusinya ingatlah maknannya dari surat Al-Ashr bahwa waktu mu akan bermanfaat jika kau beriman dan berilmu, terus mengajak yang lain kedalam kebaikan. Contohnya nie, kamu nyuruh teman2 setor naskah tapi kamu ndak nulis-nulis.

3. Aku bosan melihat selalu ada sms yang mampir ke hp, dan kamu tanggapi. Solusinya: biarkan. Allah maha tau yang terbaik buatmu. waktunya sekarang mikirin gimana tetap dekat dan mendekat dengan Allah. Menulis, kuliah, kerja, perbaiki diri, perbaiki sholat, zakat. Ingin yang Sholeh ya Mensholehkan diri terlebih dahulu.

4. Aku bosan kadang mataku selalu melihat sebuah kesuksesan itu punya motor bagus. dan selalu membandingkan yang aku pakai. Padahal, ampuni Aku Allah, semoga Engkau mengampuniku jika Aku tidak besyukur atas pemberian bapak ibu. Bukan kah motor yang Aku pakai sekarang menjadi hal terbaik menurut-Mu? ya sebuah keseimbangan Lah,,,tidak punya uang cukup banyak buat beli bensin, makanya pake motor irit.

5.Aku bosan tidak punya uang banyak yang bisa Aku gunakan untuk keperluan banyak hal. Bukan (aku bepikir ni) kalo punya uang bisa sedekah, bisa digunakan buat kebaikan? Ah, retorika hati tak berilmu. karena tidak punya uang banyak, pertanggung jwaban juga akan sedikit. Maka bersyukurlah menjadi orang "miskin", miskin harta, bukan miski ilmu. Tetep Allah tau yang terbaik.

itulah kebosananku. Berharap Allah akan memberikan hikmah dalam tiap kebosannanku hingga aku tetap istiqomah. Maka aku menyimpulkan pula, ujian keistiqomahan adalah BOSAN.

Kamis, 20 September 2012

Pilihlah Jalanmu

Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah dan CARILAH JALAN yang mendekatjan diri kepada-Nya, dan berjihadlah pada jalan-Nya supaya kamu mendapatkan keberuntungan. (QS Al-Maidah :35)