Jumat, 18 Mei 2012
Kesucian Dakwah
Dakwah ini begitu suci. Bagi siapa yang menodainya, maka akan langsung berurusan dengan Allah. Barang siapa yang menjadikan dakwah ini sebagai sarana tujuan bukan karena Allah, maka Allah benar-benar HANYA akan memberikan sesuai yang ia tuju. Tak lebih. Padahal, jika engkau bersungguh-sungguh kepada-Nya, maka cukuplah ridha Allah sebagai penyerta mu tuk menggapai kesuksesan dunia akhirat. Bukan kah perdagangan dengan Allah itu lebih mulia? Bukankah Allah yang akan membayar seluruh kerja keras dan tiap desah nafas kelelahan dengan kenikmatan yang tak terbayangkan?
Sungguh, Allah akan lebih professional membayar seluruh kerja kerasmu jika kau bersungguh-sungguh dakwah karena-Nya.. (annafi`ahfirdaus)
*dia karena Dia
Tak pandai beretorika, kuakui. Tapi ini benar-benar menjadi keresahan luar biasa. Keresahan yang aku pikir sudah tak wajar. Sudah cukup lama, tapi hati ini kadang sulit diajak kompromi. Sudah cukup dengan alasan itu adalah fitrahnya hati, karena aku rasa ini sangat mengganggu perjalananku.
Aku akui, dia memang lumayan. Lumayan agama, penampilan, pekerjaan, dan lumayan-lumayan yang lain. Apalagi yang membuat aku cukup terkagum ia adalah orang yang cukup berpengaruh dalam dakwah. Ya, berpengaruh dalam dakwah, yang sering menjadi alasan akan kekuatan dakwah bisa kokoh jika bersatu. Ah, itu pikiran yang sungguh aku takut juga akan menodai dakwah ini. Astaghfirullah…
Tapi, jika hati bertanya sudah siap menikah? Ah, pertanyaan yang begitu beraat untuk dijawab pula oleh hati terdalam. Merasa masih banyak dari diri yang belum bisa berkontribusi untuk ummat, memang juga pantas untuknya? Dakwah dengan menulis saja masih saja dengan passion yang rendah. Intinya, apa memang sudah pantas?
Ah, retorika yang basi jika berkutat masalah cinta pada lawan jenis. Bukankah ber-retorika tentang Cinta kepada Allah, orangtua, ummat akan lebih mulia jika memang hati ini belum siap menikah? Kesungguhan ber-retorika yang suci ini bukan kah akan berefekkan pada yang lain?
dia yang sempat menjadi memori pemblokir pikiran, tetapi dia bisa menjadi sebuah berhala yang menjadikan ibadah tak karena-Nya. Na`udzubillah…
yang susah dalam dakwah ini adalah menjaga niat.
dia karena dia: sebaik-baik pilihan yang tak menjerumuskan (af)
Minggu, 08 April 2012
Aku
Hari ini aku termenung. Sudah sejauh manakah aku berjalan tuk mengarungi kehidupan didunia ini. Sudah diposisi mana aku mencapai sebuah impian. Impian yang menjadi bara-bara api semangat tuk tetap menjalani kerasnya hidup. Entah aku yang salah setiap mempersepsikan jalan hidupku, atau memang Allah sangatlah begitu sayangnya padaku, hingga Dia memberikanku jalan hidup yang terkadang,”Allah, aku tak sanggup, aku sudah tak kuat dengan jalan yang kau berikan. Apa aku salah jika selalu menyalahkan keadaan tiap mengemban amanah?”. Begitu pikiranku terlintas tiap kelelahan jiwa dan fisik menghampiri.
Tuk membangkitkan semangat, terinspirasi dengan sebuah video bahwa “janganlah jadi penonton, tapi jadilah pemain kehidupan, semua orang bisa jadi penonton.” Ya, emang bener. Tuk jadi pemain kehidupan tak mudah, butuh perjuangan yang juga besar. Impian yang layak diperjuangkan:surga, tak mudah. Dengan jadi pemain kehidupan, kita akan bisa melesakkan goal teindah: kemenangan hakiki.
Allah, aku berharap tiap langkahku kau nilai menjadi amal yaumi yang mengantarkanku menuju-Mu, tiada yang lain. Allah, aku percaya bahwa Engkau ingin mengajarkanku akan pentingnya kesungguhan dalam proses.Kesungguhan yang akan mengantarkan pada keberhasilan. Aku percaya Engkau mengingikanku dalam keistiqomahan, hal yang akan menjadikan keberuntungan tetap berpihak. Aku percaya bahwa Engkau akan menolongku tiap ujian-Mu, memudahkan tiap kesukaran-Mu.
Robb, ijinkan aku benar-benar memaknai sebuah proses ini, tuk menggapai sebuah tingkatan taqwa terbaik menurut-Mu. Ijinkan aku tuk bisa berkontribusi tuk ummat. Jadikan aku salah satu orang yang akan memakmurkan nama-Mu di hamparan bumi-Mu ini.
Aku hanyalah makhluk kecil yang tak berdaya, aku begitu membutuhkanMu dalam tiap nafas desahku. Ampuni aku. Begitu pula dengan bapak ibuku, ampuni mereka. Orang-orang yang menguatkan: Team Writing Nah! (aku rindu kita bisa mengguncang dunia dengan karya kita: `ainun nahar, eko mega, deniz dinamiz, m.fatan, mahfud dan mz amin, ane butuh bimbingan), sm@rt syuhada: aku rindu kita juga mengguncang dunia dengan idealism kita sebagai muslim(tim event: mb dita, mz.dimas,mbk encha, mbk unik, temen yg lain:mb dini, mb sutri, mb afi,et all), dan temen2 kampus yg memaksaku tuk berkembang lebih cepat. Afwan temen2 kampus. Limpahkanlah mereka dengan karunia-Mu.
Amin
Semoga kita di pertemukan dalam keindahan Surga, karena ukhuwah kita!
Tuk membangkitkan semangat, terinspirasi dengan sebuah video bahwa “janganlah jadi penonton, tapi jadilah pemain kehidupan, semua orang bisa jadi penonton.” Ya, emang bener. Tuk jadi pemain kehidupan tak mudah, butuh perjuangan yang juga besar. Impian yang layak diperjuangkan:surga, tak mudah. Dengan jadi pemain kehidupan, kita akan bisa melesakkan goal teindah: kemenangan hakiki.
Allah, aku berharap tiap langkahku kau nilai menjadi amal yaumi yang mengantarkanku menuju-Mu, tiada yang lain. Allah, aku percaya bahwa Engkau ingin mengajarkanku akan pentingnya kesungguhan dalam proses.Kesungguhan yang akan mengantarkan pada keberhasilan. Aku percaya Engkau mengingikanku dalam keistiqomahan, hal yang akan menjadikan keberuntungan tetap berpihak. Aku percaya bahwa Engkau akan menolongku tiap ujian-Mu, memudahkan tiap kesukaran-Mu.
Robb, ijinkan aku benar-benar memaknai sebuah proses ini, tuk menggapai sebuah tingkatan taqwa terbaik menurut-Mu. Ijinkan aku tuk bisa berkontribusi tuk ummat. Jadikan aku salah satu orang yang akan memakmurkan nama-Mu di hamparan bumi-Mu ini.
Aku hanyalah makhluk kecil yang tak berdaya, aku begitu membutuhkanMu dalam tiap nafas desahku. Ampuni aku. Begitu pula dengan bapak ibuku, ampuni mereka. Orang-orang yang menguatkan: Team Writing Nah! (aku rindu kita bisa mengguncang dunia dengan karya kita: `ainun nahar, eko mega, deniz dinamiz, m.fatan, mahfud dan mz amin, ane butuh bimbingan), sm@rt syuhada: aku rindu kita juga mengguncang dunia dengan idealism kita sebagai muslim(tim event: mb dita, mz.dimas,mbk encha, mbk unik, temen yg lain:mb dini, mb sutri, mb afi,et all), dan temen2 kampus yg memaksaku tuk berkembang lebih cepat. Afwan temen2 kampus. Limpahkanlah mereka dengan karunia-Mu.
Amin
Semoga kita di pertemukan dalam keindahan Surga, karena ukhuwah kita!
Minggu, 19 Februari 2012
EFEK KESUNGGUHAN
Ujian, kemaren semangat deh pas UTS. tapi kenapa pas UAS kali ini bener2 merasa ga semangat. Pa karena efek kecapekkan. Ah, apakah itu hanya sekedar alasan doang buat membela diri. Padahal kalo dimanage dengan baik, tentunya engga akan kayak gini.
**Pas ngerjain diruangan, seharian kemaren ngapain aja sih, soal kayak gini aja ga bisa. Udah di kasih tau kisi2, tapi kok ya ga di hapal2. Apa mau bergulat lagi dengan alasan dakwah? acara ini lah, itulah, yang memang si menguras tenaga dan pikirn, tentunya uang deng. uhh, memang musti di balikkan lagi gmana sih sebenarnya apa itu arti dakwah. Ya, amal ma`ruf nahi munkar. mengajak orang lain dlam kebaikan. And tentunya ada hadis, yang intinya menyeru diri sendiri dulu baru terus nyeru ke orang lain. Menyuruh orang lain berbuat kebaikan, masak yang nyeru enggak melakukan itu. KAN ANEH? (iklan apa ya, hehe)
lagi dan lagi, emang kesungguhan deh yang akan menentukan suksesnya ujian, anak aktifis kok kagak prestatif…IRONIS. Alloh menciptakan kamu dalam sebaik2 penciptaan lho, kamu engga bersyukur?
ini hanya sepenggal kisahku yang ingin dilanjutkan ngesok ceritanya dengan kondisi lebih baik. Belajar dan belajar. belajar lagi, (1) untuk nulis dan nulis, minimal jadi diri sendiri, entah bentuk tulisan atau apapun itu, yang penting niatnya belajar. (2), aktifis musti prestatif..
iya nggak ???
aukhhh, biasanya tulisan ku bahasana nggak kayak gini, tapi namanya lagi belajar, buat tidak hanya memikirkan keindahan dari tulisan namun, gmana isi yang mau disampaikan.
###surga dan kesenangan dunia adalah efek dari kesungguhan tiap apa yang kita lakukan, dan tentunya karena ALLOH azza wa jalla###
3 Robbiul Awal 1433H
**Pas ngerjain diruangan, seharian kemaren ngapain aja sih, soal kayak gini aja ga bisa. Udah di kasih tau kisi2, tapi kok ya ga di hapal2. Apa mau bergulat lagi dengan alasan dakwah? acara ini lah, itulah, yang memang si menguras tenaga dan pikirn, tentunya uang deng. uhh, memang musti di balikkan lagi gmana sih sebenarnya apa itu arti dakwah. Ya, amal ma`ruf nahi munkar. mengajak orang lain dlam kebaikan. And tentunya ada hadis, yang intinya menyeru diri sendiri dulu baru terus nyeru ke orang lain. Menyuruh orang lain berbuat kebaikan, masak yang nyeru enggak melakukan itu. KAN ANEH? (iklan apa ya, hehe)
lagi dan lagi, emang kesungguhan deh yang akan menentukan suksesnya ujian, anak aktifis kok kagak prestatif…IRONIS. Alloh menciptakan kamu dalam sebaik2 penciptaan lho, kamu engga bersyukur?
ini hanya sepenggal kisahku yang ingin dilanjutkan ngesok ceritanya dengan kondisi lebih baik. Belajar dan belajar. belajar lagi, (1) untuk nulis dan nulis, minimal jadi diri sendiri, entah bentuk tulisan atau apapun itu, yang penting niatnya belajar. (2), aktifis musti prestatif..
iya nggak ???
aukhhh, biasanya tulisan ku bahasana nggak kayak gini, tapi namanya lagi belajar, buat tidak hanya memikirkan keindahan dari tulisan namun, gmana isi yang mau disampaikan.
###surga dan kesenangan dunia adalah efek dari kesungguhan tiap apa yang kita lakukan, dan tentunya karena ALLOH azza wa jalla###
3 Robbiul Awal 1433H
UJIAN MENULIS
bismillah, berusaha menjadi lebih baik
Ujian! Memang penuh dengan keharuan ( lebay^-^). Betapa tidak, ini menjadi sarana bagi mereka yang ingin membuktikan bahwa dia menjalankan sebuah proses dengan sebaik-baik proses. Proses yang sungguh2, tentunya akan HASILNYA baik (menurut ALLOH, coz ada je yang pas ujian nyontek, na`udzubillah). Mmm, ujian hari ini ( pas ngeblog) pun menjadi evaluasi diri bgaimana proses ku selama ini berjalan.
Allohuakbar, essai semua ujian Bahasa Indonesia ku kali ini. Nulis argumentasi pula! Kan tulisan itu ntar mencerminkan bagaimana si penulis. Datanya, isinya, pilihan kata, mmmm, semua teruji disini. Berasa banget deh ini menguji skill ku buat nulis.
Mmm, dengan berusaha rileks and menganggap ini bukan ujian buat dapet nilai, tapi untuk mengetahui, sebenarnya perkembangan potensi udah sampe sejauh mana. Yah, bukan untuk nilai, tapi buat sarana lebih baik.
**satu pelajaran lagi, nilai ujian jangan dijadikan sbg patokan keberhasilan, karena tentunya hasil berkaitan dengan proses. bgaimana tidak, ALLOH menilai dari bgaimana qta ngejalanin proses, bukan hanya hasil. walopun hasil terkadang menjadi puncak dari usaha sebuah proses itu**
JANGAN HANYA BICARA, GERAKKAN PENA DAN KEMUDIAN BERKARYA…
hanya nulis, belajar nulis, nulis, yang pentingkan nulis, nulis dan nulis. maap kalo nulisnya belum pake ilmu nulis. namanya juga baru belajar nulis.
Ujian! Memang penuh dengan keharuan ( lebay^-^). Betapa tidak, ini menjadi sarana bagi mereka yang ingin membuktikan bahwa dia menjalankan sebuah proses dengan sebaik-baik proses. Proses yang sungguh2, tentunya akan HASILNYA baik (menurut ALLOH, coz ada je yang pas ujian nyontek, na`udzubillah). Mmm, ujian hari ini ( pas ngeblog) pun menjadi evaluasi diri bgaimana proses ku selama ini berjalan.
Allohuakbar, essai semua ujian Bahasa Indonesia ku kali ini. Nulis argumentasi pula! Kan tulisan itu ntar mencerminkan bagaimana si penulis. Datanya, isinya, pilihan kata, mmmm, semua teruji disini. Berasa banget deh ini menguji skill ku buat nulis.
Mmm, dengan berusaha rileks and menganggap ini bukan ujian buat dapet nilai, tapi untuk mengetahui, sebenarnya perkembangan potensi udah sampe sejauh mana. Yah, bukan untuk nilai, tapi buat sarana lebih baik.
**satu pelajaran lagi, nilai ujian jangan dijadikan sbg patokan keberhasilan, karena tentunya hasil berkaitan dengan proses. bgaimana tidak, ALLOH menilai dari bgaimana qta ngejalanin proses, bukan hanya hasil. walopun hasil terkadang menjadi puncak dari usaha sebuah proses itu**
JANGAN HANYA BICARA, GERAKKAN PENA DAN KEMUDIAN BERKARYA…
hanya nulis, belajar nulis, nulis, yang pentingkan nulis, nulis dan nulis. maap kalo nulisnya belum pake ilmu nulis. namanya juga baru belajar nulis.
Minggu, 15 Januari 2012
Teruntuk teman-teman mahasiswa yang menginginkan Indonesia sehat, tak hanya sehat fisik, tetapi secara moral dan perilaku.
“Tidak ada jalan untuk melarikan diri! Laut di belakang kalian, dan musuh di depan kalian. Demi Allah, tidak ada yang dapat kalian lakukan sekarang kecuali besungguh-sungguh penuh keikhlasan dan kesabaran!”
Begitu kata Sang Panglima Thariq bin Ziyad saat pasukan sudah terkepung oleh musuh. Memang tak ada jalan lain, kecuali maju. Mundur dengan kekalahan oleh musuh atau maju dengan lindungan Allah? Begitulah keputusan sang panglima, meyakinkan anak buahnya untuk benar-benar ikhlas berperang di jalan Allah.
Pemimpin tidak akan bisa memimpin orang lain jika dirinya saja susah untuk memimpin diri sendiri. Bagaimana tidak, memimpin sebuah aktivitas keseharian saja masih mengeluh. Banyak tugas, musti begadang ngerjain tugas, padahal kalau di ibaratkan itu bukan dari tugas kampus, melainkan tugas kampus kehidupan, apa jadinya kehidupan ini? Kondisi semrawut, tak teratur.
Ketegasan dan sikap keras yang harus ditujukan pada diri kita adalah hal utama untuk memperbaiki kehidupan sekarang ini. Ketegasan niat, siap untuk berjuang walaupun sampai berdarah-darah, beraninya untuk meninggalkan zona nyaman, adalah hal yang seharusnya ditanamkan pada tiap diri mahasiswa sekarang. Bagaimana tidak? Sekarang kita memiliki posisi yang strategis untuk membuat sebuah perubahan. Ya, perubahan. Perubahan kearah lebih baik tentunya.
Sungguh, Indonesia saat ini membutuhkan temen-temen untuk bergerak. Bergerak menggerakan kesemrawutan ini menuju keteraturan. Berharap bukan menjadi pengekor, namun PELOPOR. Juga bukan berharap akan tertinggal sejarah peadapan, namun sebagai salah satu nama-nama yang tergores dalam cetakan sejarah.
Tak ada yang instan teman, semua butuh proses. Untuk menjadi seseorang seperti halnya akhlak Tariq bin Ziyad, membutuhkan waktu untuk belajar menempa diri sehingga kuat dan tegar. Diri kita pun tak semestinya merasa “sudah cukup untuk belajar” yang terkadang berorientasi belajar dikampus, padahal sesungguhnya kampus yang sebenarnya adalah “UNIVERSITAS KEHIDUPAN”. Dimana salah satunya kita belajar untuk mengemban amanah sebagai mahasiswa, lantas kemudian berkontribusi untuk INDONESIA.
Bersama-sama meraih Ridlo-Nya dengan melakukan yang terbaik untuk negri!
Semangat Dahsyat untuk PERUBAHAN!
Atik Setyoasih
Begitu kata Sang Panglima Thariq bin Ziyad saat pasukan sudah terkepung oleh musuh. Memang tak ada jalan lain, kecuali maju. Mundur dengan kekalahan oleh musuh atau maju dengan lindungan Allah? Begitulah keputusan sang panglima, meyakinkan anak buahnya untuk benar-benar ikhlas berperang di jalan Allah.
Pemimpin tidak akan bisa memimpin orang lain jika dirinya saja susah untuk memimpin diri sendiri. Bagaimana tidak, memimpin sebuah aktivitas keseharian saja masih mengeluh. Banyak tugas, musti begadang ngerjain tugas, padahal kalau di ibaratkan itu bukan dari tugas kampus, melainkan tugas kampus kehidupan, apa jadinya kehidupan ini? Kondisi semrawut, tak teratur.
Ketegasan dan sikap keras yang harus ditujukan pada diri kita adalah hal utama untuk memperbaiki kehidupan sekarang ini. Ketegasan niat, siap untuk berjuang walaupun sampai berdarah-darah, beraninya untuk meninggalkan zona nyaman, adalah hal yang seharusnya ditanamkan pada tiap diri mahasiswa sekarang. Bagaimana tidak? Sekarang kita memiliki posisi yang strategis untuk membuat sebuah perubahan. Ya, perubahan. Perubahan kearah lebih baik tentunya.
Sungguh, Indonesia saat ini membutuhkan temen-temen untuk bergerak. Bergerak menggerakan kesemrawutan ini menuju keteraturan. Berharap bukan menjadi pengekor, namun PELOPOR. Juga bukan berharap akan tertinggal sejarah peadapan, namun sebagai salah satu nama-nama yang tergores dalam cetakan sejarah.
Tak ada yang instan teman, semua butuh proses. Untuk menjadi seseorang seperti halnya akhlak Tariq bin Ziyad, membutuhkan waktu untuk belajar menempa diri sehingga kuat dan tegar. Diri kita pun tak semestinya merasa “sudah cukup untuk belajar” yang terkadang berorientasi belajar dikampus, padahal sesungguhnya kampus yang sebenarnya adalah “UNIVERSITAS KEHIDUPAN”. Dimana salah satunya kita belajar untuk mengemban amanah sebagai mahasiswa, lantas kemudian berkontribusi untuk INDONESIA.
Bersama-sama meraih Ridlo-Nya dengan melakukan yang terbaik untuk negri!
Semangat Dahsyat untuk PERUBAHAN!
Atik Setyoasih
Teruntuk teman-teman mahasiswa yang menginginkan Indonesia sehat, tak hanya sehat fisik, tetapi secara moral dan perilaku.
“Tidak ada jalan untuk melarikan diri! Laut di belakang kalian, dan musuh di depan kalian. Demi Allah, tidak ada yang dapat kalian lakukan sekarang kecuali besungguh-sungguh penuh keikhlasan dan kesabaran!”
Begitu kata Sang Panglima Thariq bin Ziyad saat pasukan sudah terkepung oleh musuh. Memang tak ada jalan lain, kecuali maju. Mundur dengan kekalahan oleh musuh atau maju dengan lindungan Allah? Begitulah keputusan sang panglima, meyakinkan anak buahnya untuk benar-benar ikhlas berperang di jalan Allah.
Pemimpin tidak akan bisa memimpin orang lain jika dirinya saja susah untuk memimpin diri sendiri. Bagaimana tidak, memimpin sebuah aktivitas keseharian saja masih mengeluh. Banyak tugas, musti begadang ngerjain tugas, padahal kalau di ibaratkan itu bukan dari tugas kampus, melainkan tugas kampus kehidupan, apa jadinya kehidupan ini? Kondisi semrawut, tak teratur.
Ketegasan dan sikap keras yang harus ditujukan pada diri kita adalah hal utama untuk memperbaiki kehidupan sekarang ini. Ketegasan niat, siap untuk berjuang walaupun sampai berdarah-darah, beraninya untuk meninggalkan zona nyaman, adalah hal yang seharusnya ditanamkan pada tiap diri mahasiswa sekarang. Bagaimana tidak? Sekarang kita memiliki posisi yang strategis untuk membuat sebuah perubahan. Ya, perubahan. Perubahan kearah lebih baik tentunya.
Sungguh, Indonesia saat ini membutuhkan temen-temen untuk bergerak. Bergerak menggerakan kesemrawutan ini menuju keteraturan. Berharap bukan menjadi pengekor, namun PELOPOR. Juga bukan berharap akan tertinggal sejarah peadapan, namun sebagai salah satu nama-nama yang tergores dalam cetakan sejarah.
Tak ada yang instan teman, semua butuh proses. Untuk menjadi seseorang seperti halnya akhlak Tariq bin Ziyad, membutuhkan waktu untuk belajar menempa diri sehingga kuat dan tegar. Diri kita pun tak semestinya merasa “sudah cukup untuk belajar” yang terkadang berorientasi belajar dikampus, padahal sesungguhnya kampus yang sebenarnya adalah “UNIVERSITAS KEHIDUPAN”. Dimana salah satunya kita belajar untuk mengemban amanah sebagai mahasiswa, lantas kemudian berkontribusi untuk INDONESIA.
Bersama-sama meraih Ridlo-Nya dengan melakukan yang terbaik untuk negri!
Semangat Dahsyat untuk PERUBAHAN!
Atik Setyoasih
Begitu kata Sang Panglima Thariq bin Ziyad saat pasukan sudah terkepung oleh musuh. Memang tak ada jalan lain, kecuali maju. Mundur dengan kekalahan oleh musuh atau maju dengan lindungan Allah? Begitulah keputusan sang panglima, meyakinkan anak buahnya untuk benar-benar ikhlas berperang di jalan Allah.
Pemimpin tidak akan bisa memimpin orang lain jika dirinya saja susah untuk memimpin diri sendiri. Bagaimana tidak, memimpin sebuah aktivitas keseharian saja masih mengeluh. Banyak tugas, musti begadang ngerjain tugas, padahal kalau di ibaratkan itu bukan dari tugas kampus, melainkan tugas kampus kehidupan, apa jadinya kehidupan ini? Kondisi semrawut, tak teratur.
Ketegasan dan sikap keras yang harus ditujukan pada diri kita adalah hal utama untuk memperbaiki kehidupan sekarang ini. Ketegasan niat, siap untuk berjuang walaupun sampai berdarah-darah, beraninya untuk meninggalkan zona nyaman, adalah hal yang seharusnya ditanamkan pada tiap diri mahasiswa sekarang. Bagaimana tidak? Sekarang kita memiliki posisi yang strategis untuk membuat sebuah perubahan. Ya, perubahan. Perubahan kearah lebih baik tentunya.
Sungguh, Indonesia saat ini membutuhkan temen-temen untuk bergerak. Bergerak menggerakan kesemrawutan ini menuju keteraturan. Berharap bukan menjadi pengekor, namun PELOPOR. Juga bukan berharap akan tertinggal sejarah peadapan, namun sebagai salah satu nama-nama yang tergores dalam cetakan sejarah.
Tak ada yang instan teman, semua butuh proses. Untuk menjadi seseorang seperti halnya akhlak Tariq bin Ziyad, membutuhkan waktu untuk belajar menempa diri sehingga kuat dan tegar. Diri kita pun tak semestinya merasa “sudah cukup untuk belajar” yang terkadang berorientasi belajar dikampus, padahal sesungguhnya kampus yang sebenarnya adalah “UNIVERSITAS KEHIDUPAN”. Dimana salah satunya kita belajar untuk mengemban amanah sebagai mahasiswa, lantas kemudian berkontribusi untuk INDONESIA.
Bersama-sama meraih Ridlo-Nya dengan melakukan yang terbaik untuk negri!
Semangat Dahsyat untuk PERUBAHAN!
Atik Setyoasih
Langganan:
Postingan (Atom)