Minggu, 28 Agustus 2011

Pekerjaan Berbalaskan Surga

Bekerja untuk hidup atau hidup untuk bekerja? Pertanyaan sederhana yang mungkin harus kita jawab sebelum melakukan sebuah pekerjaan. Entah itu berupa pekerjaan mencari nafkah atau tidak mencari nafkah. Karena alasan itulah yang akan menjadi salah satu faktor layak dan tidaknya seseorang mendapat balasan dari Sang Maha Pemberi Balasan.

Sebagai makhluk ciptaan-Nya yang diciptakan dengan sebaik-baik penciptaan*1, wajiblah kita harus selalu bersyukur. Beribadah yang sungguh-sungguh dan bermanfaat kepada orang lain adalah bentuk dari rasa syukur yang harus kita lakukan. Termasuk bekerja. Baik bekerja sebagai seorang pelajar atau seorang pengajar atau apapun itu.

Satu hal penting yang harus kita sadari, bahwa saat ini kita sedang melakukan perniagaan kepada Allah. Perniagaan yang tidak akan pernah ada yang merasa dirugikan. Allah telah memberikan banyak nikmat yang itu bisa dijadikan modal untuk berdagang dengan-Nya. Bukan sebuah transaksi uang, tapi transaksi amalan ibadah. Baik kepada Allah atau pada alam semesta (rohmatan lil`alamin).

Dan balasan dari perniagaan itu adalah surga...

Perumpamaan surga yang dijanjikan kepada orang yang bertaqwa,(ialah seperti taman),mengalir dibawahnya sungai-sungai, senantiasa berbuah dan teduh. Itulah tempat kesudahan bagi orang yang bertaqwa, ... *2

At-Tin:4*1
Ar-Ra`ad: 35*2

annafi`ah firdaus

Kamis, 02 Desember 2010

Kala Cinta Menggoda Jiwa

Di tengah riuhnya beberapa orang di dalam kelas, aku duduk diatas kursi panjang berwarna cokelat tua depan kelas 2C menghadap arah barat. Sendirian. Mata memandang arah langit bagian barat yang mulai berwarna orange. Tampak matahari sedang berjalan menuju persembunyiannya. Pertanda malam akan datang menggantikan siang. Allohuakbar. Kupejamkan mata. Angin semilir menerpa tubuhku, lembut, dan terasa begitu damai. Menikmati akan aliran darah yang menggeliak dari ujung kepala turun ke ujung kaki. Terasa nikmat. Seakan air mata akan mengalir deras merasakan begitu lelahnya hari ini.

Tapi kumerasa ada sesuatu yang menjanggal. Ya ada. Mengganggu pikiranku beberapa hari ini. Hatiku sedikit resah. Memikirkan apakah aku sudah melakukan sebuah perzinaan. Bukan pacaran. Tapi sebuah zina pikiran? Ku ingin bertanya dan berkonsultasi pada seorang teman, tapi malu.

Angin semilir masih bisa kurasakan begitu nyaman. Masuk kedalam balutan kain di tubuhku. Begitu nyaman walaupun hati ini merasakan begitu resah.

Tiba-tiba dari arah selatan, temenku datang dan mengagetkanku. Dila namanya. Temen yang lumayan deket denganku, ketua rohis SMF.

"Hayo lagi ngapain kamu di sini? Ngelamun ya?", duduk di sampingku tanpa minta izin sehingga membuat ku sedikit kaget dan terbukanya pejaman kedua mataku.

"Enggak lagi ngapa-ngapain kok Dil", sembari dalam hati ku berkata sepertinya ini adalah kesempatan untuk sedikit cerita mengenai kegalauan yang kurasa.

"Beneran?" Dila agak merunduk dan menatap wajahku penuh tanya.

"Wah, dari pada aku resah terus, lebih baik aku cerita pada Dila. Mungkin nanti dapat solusi yang syar`i. Bismillah lah", keputusanku untuk mencari solusi dari keresahan yang aku rasa dalam hati.

"Sebenarnya gini Dil, tapi Insya Alloh aku percaya sama kamu ya? Jangan bilang sama siapa-siapa. Aku ingin mencari solusi dari sedikit masalah yang sedang aku rasakan sekarang."

"Iya, Insya Alloh".

"Aku mau tanya dulu sama anti, pernah tidak suka sama seorang ikhwan?", tanyaku dengan sedikit suara lirih pada Dila.

"Maksudmu Tik?", Dila terlihat kaget melihat pertanyaan ku.

"Itu hal yang sekarang aku rasakan. Hatiku sedang resah Dil. Memikirkan apakah aku sekarang sedang zina. Zina pikiran. Aku bingung menyikapi perasaan ini. Aduuuuuuuh...Jadi sedikit pusing," dada terasa sesak, mengangkat badan dan memegangi kepala yang terasa pusing.

Dikala kita berdua lagi mau serius, Yanti, seorang temanku datang menghampiri kami. Membuat suasana menjadi tak serius.

"Cie...Tika curhat ni yeee. Curhat apa Tik? Aku tau lho yang dirasakan Tika sekarang", mendesak duduk di samping kiriku.

"Iiiiih...pergi sana. Ini rahasia aku sama Dila. Mau tau aja," Kudorong Yanti sampai badannya condong ingin jatuh.

"Aku tau, aku tau," Yanti semakin menjadikan aku salah tingkah.

"Terpesona...kepada pandangan pertama, haha," Yanti nyanyi dengan suara yang cukup merdu dan kemudian pergi dan melanjutkan geguyonnanya dengan teman-teman di kelas.

"Sampai mana tadi Dil?", lanjutku bertanya kepada Dila untuk menyambung diskusi.

"Kalau menurutku begini. Karena kita sekarang masih sekolah dan kalau secara pribadi aku sendiri belum siap untuk menikah, kita gunakan waktu sebelum menikah itu untuk melakukan perbaikan diri. Perbaikan diri menjadi insan berkualitas yang lebih baik. Insya Alloh orang yang baik itu akan mendapatkan jodoh yang baik kok. Lebih baik sekarang kita menciptakan prestasi-prestasi. Baik prestasi dunia kayak akademis, ataupun prestasi akhirat, kayak ngajinya ditambah. Seperti itu pendapatku. Lakukanlah hal-hal yang membuatmu bisa menjadi lebih baik. Jadikanlah harapan menjadi pendamping orang sholeh itu salah satu diantara banyak motivasi untuk lebih baik. Wanita sholehah Insya Alloh dapat laki-laki sholeh. Emang siapa Tik ikhwan itu? Boleh nebak Gak? Jangan-jangan...?", belum selesai Dila melanjutkan pertanyaannya, langsung kupotong pembicaraannya.

"Gak usah gak usah aja. Tambah malu aku nanti," ku berdiri dari dudukku dan agak salah tingkah karena takut tebakan Dila itu benar.

"Bagaimana? Udah sedikit tenang?"

"Insya Alloh sudah lebih tenang, yach...perbaikan diri."
Bel tanda masuk jam ke-7 berbunyi. Masuk kelas. Tapi alhamdulillah, kosong. Ingin segera rebahan di kamar kos. Memikirkan kembali hal apa yang harus aku perbaiki.

***

Penantian itu satu penyiksaan.
kepastian membunuh kerisauan.
ketabahan pendamai keresahan.
(Firdaus, Cinta dan Harapan)

Sepenggal lagu yang baru saja aku dengar secara tidak sengaja di radio kesayanganku, membuatku tau apa yang harus aku lakukan. Ya, kepastian. Aku butuh kepastian. Tapi kepastian apa? Kepastian menikah? Tidak! Belum siap! Sekolah aja belum lulus. Nilai ulangan aja pas-pas-an!.

Besok pagi kuputuskan mau cari buku. Mungkin ada buku yang bisa menjawab kegalauanku. Alhamdulillah memang besok tidak ada jadwal pagi, jadi bisa ke toko buku.

***

Ku mencari-cari dibagian buku islami. Ku berdiri di samping jejeran-jejeran buku terbitan Pro-U. Jalan Cinta Para Pejuang, Bikin Belajar Selezat Cokelat, Nikmatnya Pacaran Setelah Pernikahan, Ramadhan Return, Saatnya untuk Menikah, adalah beberapa dari sebagian banyaknya buku terbitan Pro-U. Batinku bertanya, "Kenapa kebanyakan tentang nikah ya?hehe."

Terlihat di tengah-tengah hamparan buku, "Kujemput Jodohku", sebuah buku yang pertama kali aku membaca judulnya saja membuatku mengkerutkan wajah terheran-heran. Hah? Kujemput jodohku? Alamaak. Enggak-enggak. Masih kecil. Masih sekolah. Tidak!

Tapi rasa penasaran memuncak. "Apa sich isinya?", batinku bertanya.

Kubaca bagian sampul belakang. Paragraf pertama bertuliskan, "Ya Akhi, jika engkau saat ini sedang mengalami kesendirian dalam menanti sang pujaan, yakinlah bahwa dirinya yang akan segera diberikan sedang melakukan hal yang sama. Si dia sedang dididik dan di tempa oleh-Nya untuk menjadi pendamping lelaki pilihan sepertimu". Paragraf kedua," Ya Ukhti, engkaupun demikian. Jangan berkecil hati dan sempit pandangan hanya karena si dia yang pernah menjadi pujaan, diyakini menjadi teman perjuangan, justru bukan sebaik-baik pilihan. Alloh pasti sudah menyiapkan gantinya yang jauh lebih baik, jauh lebih shaleh, jika engkau berupaya menjaga dirimu."

Heh? Ku menggaruk-garuk kepala. "Pikiran belum sampai", pikirku. Tapi kalimat yang ditujukan seorang ukhti, di bagian akhir, jika engkau berupaya menjaga dirimu membuatku berpikir sejenak. Menjaga? Menjaga dengan melakukan perbaikan diri mungkin maksud dari penulis. Mungkin akan aku temukan dalam buku ini bagaimana menjaga diri. Ya udah deh, kuputuskan untuk membeli buku ini.

Di samping buku Kujemput Jodohku, terlihat buku bagian atas bewarna orange, sampul bergambarkan laki-laki membuka baju sehingga terlihat kaos dalam berwarna merah dan bertuliskan "Buktikan Cintamu". Buku yang seakan menantang pembaca. "Bicara tentang cinta tidak harus masalah pacaran, bicara cinta tidak harus masalah seks, ada yang lebih dahsyat dari itu, dan itu ada di sini, buktikan cintamu!!", kalimat yang tertuliskan di sampul bagian depan membuatku tersihir membeli buku itu. "Kayaknya menarik kalau buku ini aku baca", batinku meyakinkan memang aku harus beli buku ini.

Aku pulang dengan membawa dua buku itu.

***

Sampai kos, rasanya aku ingin sekali cepat-cepat membaca buku itu, Ingin ku temukan solusi-solusi keresahanku beberapa hari ini. Walaupun sebenarnya perut sudah meminta untuk diisi. Tak kupikirkan.

Ku buka kata pengantar dari penulis buku "Buktikan Cintamu" karya Muhammad Nazhif Masykur. Sebuah kalimat yang aku garis bawahi dengan tinta hitam, Tapi ingat, ada cinta yang terukir indah dalam naungan cinta Alloh dan Rosul-Nya. Apa itu? Cinta kepada Islam, cinta kepada sesama saudara seiman, cinta pada keadilan, cinta akan amanah waktu, cinta terhadap pemberantasan segala level kejahatan dan perampasan hak asasi manusia, cinta pada ajaran dan tuntunan yang benar. Subhanalloh. Ini yang aku cari. Inilah nasehat yang aku inginkan. Cinta. Bagaimana aku harus meletakkan cintaku. Bukan pada seorang anak adam yang tidak tau itu baik atau burukkah untukku. Cinta yang hakiki. Cinta yang hanya untuk Alloh. Cinta yang meneguhkanku untuk terus istiqomah di jalan-Nya. Cinta yang akan melahirkan karya-karya besar untuk membuat perubahan dalam peradapan Islam. Peradapan Islam yang modern tapi tetap berpegang teguh pada Al-Quran dan hadist sebagai landasan kehidupan.

Buku kedua yang aku beli, Kujemput Jodohku karya Fadlan Al-Ikhwani. Kubuka daftar isi. Kutemukan judul sub bab, Dari Prestasi Menjadi Prasasti. Yach. Gali potensi, menjadi rajawali yang mencari jati diri, punya sebuah karya yang bermanfaat bagi orang lain, dan menjadi orang yang berpengaruh dalam sejarah. Beberapa point penting yang kemudian aku tulis di sebuah kertas bekas kalender dengan tinta merah dan kutempelkan di dinding kamar kos menghadap arah tempat tidurku.

Hatiku mulai tenang mendapatkan solusi atas keresahan ini. Ku dapatkan inspirasi baru untuk membuat prioritas dalam menaruh cinta. Cinta kepada Alloh dan Rosul adalah cinta di atas segalanya. Cinta yang melahirkan semangat untuk berprestasi, membuat karya, dan menjadi orang yang memberi manfaat kepada orang lain.

"Ya. Aku harus lebih bersemangat, terutama semangat beribadah. Belajar juga. Harus fokus dengan impian. Menjadi "The Great Internatinal Pharmacist Community". Dari pada pikiran selalu berzina, lebih baik untuk memikirkan akan kekuasaan Alloh. Dari pada Hati selalu merasakan hal yang 'munkar', lebih baik untuk merasakan perjuangan-perjuangan yang harus aku lakukan untuk memberikan yang terbaik untuk semua orang."

"Kala cinta dunia mengoda, kau harus beristighfar dan jadikanlah sarana untuk lebih dekat pada-Nya dengan melakukan perbaikan diri. Kala kau tergoda dengan cinta akhirat, maka bersyukurlah dan beribadahlah dengan sebaik-baiknya ibadah. Masih banyak orang yang menunggu kesuksesanmu Tik. Buktikan cintamu!", nasehat untuk diriku sendiri dari hati.

Oke, aku berjanji pada diriku sendiri bahwa akan ku buktikan cintaku pada Alloh, orang tua, agama, bangsa. Akan ku mulai dari detik ini. Hari ini ulangan Farmakognosi, Ilmu resep, adminitrasi, sinonim. Insya Alloh, Alloh akan memberikanku kemudahan.

Suara adzan memanggil. Ku terperanjak dari duduk dan kusegerakan mengambil air wudhu untuk menyegarkan kembali pikiran-pikiran tidak baik yang pernah terlintas. Kan buktikan cintaku pada semua orang dengan terus melakukan perbaikan diri sehingga kan kujemput jodohku dengan senyuman bahagia. Semoga Alloh memperkenankan. Amin.


Kutulis, 30 November 2010 19.30 ( Rumah, Pajangan Bantul) sampai 1 Desember 2010 12.30 (Posko Tim Tombo Ati, karangwaru Lor TR/2 No.376)

Kisah ini untuk diikutsertakan dalam Lomba Kisah Menggugah Pro-U Media 2010 di http://proumedia.blogspot.com/2010/10/lomba-kisah-pendek-menggugah-pro-u.html

Senin, 30 Agustus 2010

Because of Alloh and Jannah`s Alloh

Seorang ibu mempunyai 3 anak. Anak pertama dikirimnya ke medan juang. Kemudian dikabarkan anak tersebut meninggal. Tetapi Si Ibupun tidak menangis ataupun merasa sedih, Bahkan malah tersenyum. Begitupun seterusnya terjadi pada anak ke-2 dan anak ke-3.

Tau tak kenapa Si Ibu tidak menangis atas meninggalnya si anak pertama, kedua, bahkan sampai ketiga??

That is the power of motivation. Mother`s Motivation for ALLOH, Jannah`s Alloh. Motivasi yang benar dan memang BENAR serta BESAR yaitu karena ALLOH. Kekuatan motivasi yang melahirkan JIWA PEMENANG dunia akhirat. Kekuatan motivasi yang menjadikan jiwa-jiwa tegar dan ikhlas menjalankan perintah-Nya. Kekuatan motivasi Si Ibu yang rela membiarkan anaknya ke medan perang dengan tujuan mengantarkan anaknya menuju mati Syahid.

Dari Amirul Mukminin Abu Hafsh Umar Bin Khatab Ra, ia berkata: ‘Aku mendengar Rasululloh SAW bersabda:” Sesungguhnya segala amal itu tergantung apa yang diniatkannya. Barang siapa hijrahnya menuju Alloh dan Rasul-Nya, maka hijrahnya akan sampai kepada Alloh dan Rosul-Nya dan barang siapa hijrahnya untuk dunia atau wanita yang dinikahinya, maka hijrahnya akan sampai kepada apa yang diniatkanya.”(HR Al Bukhori, Muslim, Abu Dawud, At Tirmidzi, An Nasai, dan Ibnu Majah).
Oke lah kalau begitu, harrusss dan sepatutnya dong kita sekarang mengoreksi diri kita. Motivasi apakah yang mendorong kita untuk melangkah?Karena Alloh atau karena manusia?

Kalau karena manusia, sudah tentu seperti dalam hadist. Kita hanya akan mendapatkan apa yang sekedar kita inginkan di dunia. Tetapi jika kita meniatkan segala sesuatu itu karena Alloh, Insya Alloh, Alloh akan memberikan sesuai yang kita inginkan, bahkan bisa lebih, ditambah lagi mendapatkan Ridho-Nya. Wallohuallam bishowab.

Minggu, 11 Juli 2010

INGIN SUKSES???

1.Rajin Sembahyang dan Berdoa

Mau sukses, mintalah yang memberi sukses. Alloh azzawajalla tentunya, penguasa seluruh alam semesta. Sang pemilik setiap hembusan nafas kehidupan di dunia ini.
Alloh itu Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Setiap nikmat yang Alloh berikan kepada seluruh umat di dunia, walaupun mereka(semoga bukan saya dan Anda yang membaca) tidak mensyukurinya, tapi Alloh dengan sifat Maha Pemurahnya tetap memberi nikmat yang begitu besar. Bahkan seorang ahli matematika pun tidak akan pernah bisa menghitung jumlah nikmat yang Alloh berikan.

Lihat dan perhatikanlah!!! orang yang tidak meminta bahkan tidak mensyukuri nikmat saja diberi nikmat oleh Allah. Entah itu nikmat kesehatan, waktu luang, ataupun uang berlebih. Apalagi kalau kita memintanya dengan sungguh-sungguh! Insya Alloh, Dia akan memberi apapun yang kita minta. Gampangkan???

Kupikir gampang kalau hanya meminta. Hanya meminta tanpa usaha??? Berdoa dan berdoa saja tanpa ikhtiar. Bukan begitu maksudku.

Dalam Al-Quran dituliskan pada Surat Ar-Rad:11,”Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri”.

Disamping selalu bersembahyang dan berdoa dengan sungguh-sungguh, berprasangka pada Allah akan mengabulkan setiap doa kita, benar-benar mengharap rido-Nya dari apa yang kita minta, kita harus berikhtiar dengan apa yang apa yang kita impiankan. Impian yang bisa membawa kesuksesan dunia maupun akhirat.

“Berdoa bukanlah untuk memberi tahu Allah tentang kebutuhan kita, tapi doa adalah ibadah, amal yang disukainya, maka berdoalah dengan penuh kesungguhan dan ketawadhuan serta ketulusan.”

Orang yang tak mau berdoa dianggap manusia angkuh oleh Alloh. “Berdoalah kepadaKu, niscahya Ku-perkenankan, sesungguhnya orang yang angkuh kepada-Ku akan masuk Jahannam yang hina”.(QS.40:60)

Berdoalah kepada Tuhanmu dengan merendahkan hati dan suara yang lembut, sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampui batas. (QS 7:55)

Sesungguhnya telah amat banyak yang Alloh berikan kepada kita tak meminta, lalu bagaimana mungkin Alloh yang menyuruh kita berdoa, tak memberi bila kita meminta.

Jangan ragukan sama sekali janji Allah tentang terkabulnya doa, justru yang harus kita khawatirkan adalah kita yang merusak doa kita, pikirian kita, hati, dan perbuatan yang haram.


Berniatlah untuk berubah, dan kemudian bergeraklah untuk berubah, karena kalau hanya niat tapi tidak bergerak, niscahya tidak akan berubah, tidak berubah menjadi pribadi yang lebih baik.


2.Orang Tua

Rasululloh SAW bersabda,”Doa yang terkabulkan tanpa diragukan adalah doa orang tua, doa orang safar/ bepergian, dan doa orang yang terzhalimi”
Rido Alloh tergantung rido orang tua. Subhanalloh. Begitu pentingnya mereka dalam peraihan kesuksesan kita.

3.Berusaha

Mau jadi anak sholeh/ sholehah? Ngaji. Mau pintar? Belajar. Mau kaya? Bekerja. Segala sesuatu yang kita inginkan, sepatutnya kita usahan.

Berusaha dengan sungguh-sungguh akan berbeda hasilnya dengan berusaha yang tidak sungguh-sungguh. Kita kembalikan saja ke niat awal. Apakah impian itu memang benar-benar impian yang sesuai dengan hati nurani kita? Bukan karena paksaan orang tua dan bukan juga karena hanya ikut-ikutan orang lain? Benar-benar karena keinginan kita. Keinginan yang kuat menancap di dada untuk meraihnya.

Keyakinan dan keinginan kuat yang akan menjadikan kita bersungguh-sungguh dalam berikhtiar menggapainya. Sampai 80% waktunyapun akan kita gunakan untuk melakukan segala aktifitas yang berhubungan dengan impian jika kita yakin akan impian tersebut. Baik itu buku bacaan, ataupun target-target yang berhubungan dengan
impian.

4.Selalu Bersemangat

Semangat Pagi!!!

Merasa bosan dan ngantuk di kelas pelajaran sejarah jam tujuh pagi? Perlu dipertanyakan lagi, apa niat ke sekolah. Niatnya hanya sebagai aktifitas rutin yang harus dilakukan tiap hari tanpa diresapi manfaatnya atau sebagai sebuah aktifitas yang membuat diri kita menjadi lebih baik. Perlu diluruskan kembali apa niat kita setiap melakukan aktifitas.

Niat yang tulus ikhlas tiap langkah kita untuk hanya jihad dijalan-Nya, tidak akan menjadikan segala aktifitas sebagai hal yang rutin harus kita lakukan. Setiap aktifitas itu akan memberikan pembelajaran-pembelajaran yang berguna untuk diri kita. Walaupun dari pagi sampai malam punya agenda yang padat, kalau kita tidak punya niat yang hanya karena ALLOH, kuyakin semua akan sia-sia. Sia-sia karena kita tidak mendapat pahala dan rido dari ALLOH dan kita hanya mendapat capeknya saja, manfaatnya tidak.

Niat yang menjadikan ekspresi wajah kita terlihat bersemangat atau tidak. Kalau niat ke sekolah atau ke kampus untuk mencari ilmu karena tau manfaat ilmu tersebut, akan terlihat dia bersemangat dalam menerima pelajaran. Tidak hanya pasif dalam belajar, tetapi dia akan aktif. Aktif diri sebagai usaha untuk lebih paham dalam setiap materi.

So, kembali ke niat lagi ya…Because of Alloh.
Manfaatkanlah hari-harimu dengan selalu bersemangat dalam beraktifitas, karena semangat akan membawa perubahan pada dirimu. Semangat yang bisa menular karena begitu kuat memancar kuat keorang lain. Semangat yang tidak hanya membawa perubahan untuk diri sendiri, tetapi juga pada orang lain, bahkan dunia. WAW…

TUNGGU BENTAR YA,,,,MASIH ADA LAGI HAL-HAL YANG BISA MEMBUATMU SUKSES. Yang dating ke BLOGQ, kumohon beri saran yang konstruktif. jzk khoir

Kamis, 08 Juli 2010

Yakinlah Bisa...

“Kalau Anda saja tidak merasa hebat, mengapa orang lain harus berfikir begitu?”cetus Mae West, aktris terkenal yang suka bicara ceplas-ceplos itu. Sikap percaya diri sang legendaris itu tidak muncul begitu saja, ternyata dia benar-benar berjuang untuk mendapatkannya.

Anthony Howard seorang pengamat politik terkemuka di Inggris yang sering tampil di layar kaca, mempunyai rasa percaya diri yang tinggi walaupun wajahnya buruk rupa dan fisiknya tidak menarik. Apabila dia sudah berbicara, pengaruh pribadinya akan memancar. Pengaruh pribadi yang bisa mempengaruhi orang lain untuk membuat orang lain mau mendengarkan apa yang dia katakannya.

Percaya diri dapatlah tumbuh karena dalam dadanya terdapat KEYAKINAN untuk bisa. YAKIN akan pada dirinya, akan kemampuanya, akan kelebihannya, dan akan kekurangannya yang tidak dijadikan factor penghambat untuk meraih misi dan cita-citanya.
Ingatkah wahai sahabatku ketika kalian masih kecil? Pasti kalian pernah mengalami hal ini.
Ketika kalian BELUM BISA berdiri, kalian ingin BISA berdiri. Ketika kalian BELUM BISA bicara, kalian ingin BISA bicara. Ketika kalian BELUM BISA berjalan, kalian ingin BISA berjalan. Keinginan yang kuat berkobar-kobar dalam hati ketika kalian masih kecil.

Disaat proses ingin berdiri, proses yang seluruh anggota terlibat, berdiri kemudian jatuh, berdiri lagi dan jatuh lagi. Berulang-ulang. Tertawa dan tersenyum disaat kaki sudah menopang tubuh untuk berdiri, menangis dan rasa sakit disaat terjatuh. Sebuah tekad yang besar untuk bisa berdiri telah melekat dalam dada dan pikiran.

Saat ingin bisa bicara, segala perkataan yang telah didengar, di coba untuk ditiru. Tak mengerti apakah itu baik atau buruk. Keinginannya untuk selalu “nyambung” pembicaraan orang lain cukup besar. Bahkan terkadang, jika merasa di “cuekin” orang tidak diajak untuk bicara, suara tangis akan terdengar. Seperti ada rasa keinginan yang kuat untuk bergabung dan meniru setiap apa yang ada di sekitarnya.

Saat ingin bisa berjalan, “Ah, aku sudah bisa berdiri dan tinggal memindahkan kaki ke depan sehingga aku sudah bisa berjalan seperti yang lain”, gumamnya dalam hati. Ternyata tidak seperti yang dibayangkan, dan kalian menghadapi rasa frustasi dan putus asa. Tetapi keinginan untuk bisa berjalan dan berlari membuat kalian begitu bersemangat untuk berlatih berjalan. Walaupun harus berulang-ulang kali terjatuh, kalian tetap berusaha keras untuk bisa berjalan. Ditambah lagi ayah bunda yang tidak henti-hentinya memberi semangat dan oplosan tangan yang keras membuat kalian semakin bersemangat dan bertekad untuk bisa berjalan.

“Oh Ya Alloh, terima kasih Ya Alloh, Anakku sudah bisa berdiri, anakku sudah bisa berjalan”, suara ayah bunda telah menyemarakkan perjuangan kalian untuk bisa berjalan. Menambah semangat.
Disaat sendiri pun, tiada orang di situ, kalian tetap mencoba berlatih berjalan. Keinginan yang kuat dalam hati membuat kalian ingin terus dan terus berlatih berjalan. Kalian sendiri cukup menjadi motivator untuk diri kalian sendiri.
Ingatlah, bahwa kita bisa melakukan apa yang kita pikirkan. Asalkan kita mau mencoba dan mencoba. Seperti halnya mencoba untuk berdiri. Kita harus memiliki keyakinan dan tekad untuk BISA. Keyakinan yang akan bisa memunculkan rasa percaya diri, percaya diri yang akan mengantarkan kita untuk tidak merasa malu dan minder untuk meraih misi kita. Misi yang kita yakini akan bisa mengantar kita ke Syurga-Nya. Begitu pula dengan tekad, keinginan yang berapi-api di dalam dada untuk bisa meraih misi dan cita-cita kita.

Kalau Anda merasa bisa, Anda pasti bisa
Kalau Anda merasa tidak bisa, pasti Anda tidak bisa
(Mary Kay Ash, wanita sukses pemimpin perusahaan caliber fortune 100, dan penulis)

Tauladan yang paling sempurna di dunia ini adalah Baginda Nabi Muhammad SAW. Sifat-sifatnya yang begitu mulia dapat kita contoh untuk menguatkan pencapaian misi atau cita-cita kita. Tokoh inspiratif yang dapat memberi safaat kepada kita suatu kelak nanti.(So, jangan salah tauladan ya, artis mah tdk bisa beri safaat pada kita)
Berdiri, melangkah, dan jatuh. Berdiri, melangkah, dan jatuh lagi. Berulang-ulang. Tak menyerah pada satu kegagalan. Kegagalan dijadikan pembelajaran. Kegagalan adalah bagian dari perjuangan. Kegagalan jangan dijadikan penghambat, tapi jadikanlah pemacu untuk lebih “greget” memperjuangkan cita-cita. Cita-cita layak untuk diperjuangkan.
Diri kita sendiri pun bisa cukup dijadikan sebagai motivator untuk diri kita. Keyakinan akan Surga yang menanti hamba-hamba-Nya yang bertaqwa cukup menjadi motivasi kita. Dengan mengharap Rido-Nya, Insya Alloh, kita dimasukkan dalam golongan hamba yang bertaqwa.

So, yakinlah bisa. Karena Alloh akan selalu menguatkan kita.