Jumat, 01 Mei 2015

Salah Satu Kuncinya pada Wanita

Taukah Anda tentang alasan Yahudi membenci kaum wanita hingga hampir memusnahkan seluruh kaum hawa di dunia ini?
Simak kisah berikut
“Seorang anak yang rusak masih bisa menjadi baik asal ia pernah mendapatkan pengasuhan seorang ibu yang baik. Sebaliknya, seorang ibu yang rusak akhlaknya, hanya akan melahirkan generasi yang rusak pula akhlaknya. Itulah mengapa yang dihancurkan pertama kali oleh Yahudi adalah wanita.”
Ucapan diatas dilontarkan oleh Muhammad Quthb, dalam sebuah ceramahnya puluhan tahun silam. Muhammad Quthb adalah ulama Mesir yang concern terhadap pendidikan Islam sekaligus pemikir ulung abad 20. Ia tidak hanya dikenal sebagai aktivis yang gencar melakukan perlawanan terhadap rezim Imperialisme Mesir, namun juga cendekiawan yang terkenal luas ilmunya.
Beberapa bukunya pun telah beredar di Timur Tengah dan diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa yang diantaranya adalah Shubuhāt Hawla al-Islām (literally “Misconceptions about Islam”).Hal nahnu Muslimūn (Are we Muslims?). Al-Insān bayna al-māddīyah wa-al-Islām. (Man between the Material World and Islam). Islam and the Crisis of the Modern World dan masih banyak lagi. Maka tak heran, lepas dari penjara ia pun mendapatkan gelar Profesor Kajian Islam di Arab Saudi.
Muhammad Quthb menekankan bagaimana pentingnya peran yang dimiliki seorang ibu dalam Islam. Ibu tidak saja adalah pihak yang dekat secara emosional kepada seorang anak, tapi ia juga memiliki pengaruh besar terhadap masa depan akhlak dari generasi yang dilahirkannya.
Menurut Muhammad Quthb anak yang pada kemudian hari mendapatkan ujian berupa kehancuran moral akan bisa diatasi, asal sang anak pernah mendapatkan pengasuhan ibu yang solehah. Pendidikan Islami yang terinternalisasi dengan baik, akan membuat sang anak lekas bangkit dari keterpurukannya mengingat petuah-petuah rabbani yang pernah terekam dalam memorinya.
Sebaliknya, ayah yang memiliki istri yang sudah rusak dari awalnya, maka ia pun hanya akan melahirkan sebuah keturunan yang memiliki kepribadian persis dengan wanita yang dipinangnya. Sifat alami anak yang banyak mengimitasi perilaku sang ibu akan membuka peluang transferisasi sifat alami ibu kepada anaknya.
Maka kerusakan anak akan amat tergantung dari kerusakan ibu yang mendidiknya. Oleh karena itu, dalam bukunya Ma’rakah At Taqaaliid, Muhammad Quthb mengemukakan alasan mengapa Islam mengatur konsep pendidikan yang terkait dengan arti kehadiran ibu dalam keluarga.
Ia menulis:
“Dalam anggapan Islam, wanita bukanlah sekadar sarana untuk melahirkan, mengasuh, dan menyusui. Kalau hanya sekedar begitu, Islam tidak perlu bersusah payah mendidik, mengajar, menguatkan iman, dan menyediakan jaminan hidup, jaminan hukum dan segala soal psikologis untuk menguatkan keberadaannya… Kami katakan mengapa ‘mendidik’, bukan sekedar melahirkan, membela dan menyusui yang setiap kucing dan sapi subur pun mampu melakukannya.”
Konsep inilah yang tidak terjadi di Negara Barat. Barat mengalami kehancuran total pada sisi masyarakatnya karena bermula dari kehancuran moral yang menimpa wanitanya. Wanita-wanita Barat hanya dikonsep untuk mendefinisikan arti kepribadian dalam pengertian yang sangat primitif, yakni tidak lain konsep pemenuhan biologis semata.
Dosen dan pelacur bisa jadi sama kedudukannya mirip dengan perkataan Sumanto Al Qurtubhy, kader Liberal didikan Kanada yang berujar, “Lho, apa bedanya dosen dengan pelacur? Kalau dosen mencari nafkah dengan kepintarannya, maka pelacur mencari makan dengan tubuhnya.”
Qurthuby hanyalah muqollid (pengikut) dari Sigmund Freud, psikolog kenamaan asal Austria yang membumikan konsep psikoanalisis. Ia mengatakan ketika dorongan seksual sudah menggelora dalam diri pria maupun wanita, maka sudah selayaknya mereka tuntaskan lewat jalan perzinahan, tanpa harus melalui alur pernikahan. Maka itu Freud menuding orang yang senantiasa menjaga akhlaknya rentan terserang gangguan psikologis seperti neurosis.
Kini Freud memang telah mati, namun gagasan itu membekas dalam pribadi orang Barat. Jika anda kerap menyaksikan berita Olahraga, pembawa acara sering memberitakan bahwa salah seorang pemain sepakbola di Inggris telah memiliki anak dari pacarnya, ya pacar dan bukan istri. Karena konsep pernikahan sudah mendebu di benua biru.
Pasca kematian Freud, muncul banyak pengganti yang tidak lebih ekstrem, salah satunya Lawrence Kohlberg. Ia adalah pengusung metode pendidikan Karakter. Metode ini sudah gagal di Barat dan sekarang diimpor ke negeri-negeri muslim, termasuk Indonesia.
Wajah pendidikan Karakter terlihat manis. Ia mentitah agar para siswa berperilaku jujur dan memegang komitmen. Namun ia tidak memliki dasar agama, jika seorang remaja memilih untuk hidup tanpa tuhan, tidak menjadi persoalan dalam pendidikan karakter, asal itu dapat dipertanggungjawabkan.
Begitu pula masalah hubungan seks. Bagi Kohlbergian, kita tidak boleh menyalahkan seorang anak perempuan yang hamil di luar nikah, sebab masalah baik atau buruk menjadi relative. Pendidikan Karakter pun tidak boleh menghakiminya, karena anak akan jatuh salah jika ia tidak bisa mempertanggungjawabkan hubungan seksnya. Jadi jika remaja perempuan hamil masih bisa terbebas dari “dosa”, asal ia siap menjadi ibu. Urusan benar atau salah tergantung tanggung jawab, bukan agama.
Maka tak heran, ketika Lawrence Kohlberg lebih memilih bunuh diri dengan menyelam di laut yang dingin pun disambut gembira oleh masyarakat Barat. Alasannya bisa membuat kita sebagai umat muslim tertawa: Kohlberg telah memilih jalan yang memang ia kehendaki. Ya terlepas dari dia yang akan masuk neraka jahnam. Sebuah metode berfikir yang terlalu konyol untuk kita fahami.
Kita kembali lagi ke masalah perempuan. Kehidupan Barat yang bebas sejatinya diawali dari kehendak dari kalangan wanita untuk hidup bebas dan meredeka sesukanya. M. Thalib, cendekiawan muslim yang telah menulis puluhan buku tentang pendidikan Islam juga menekankan bagaimana proyek Zionis dibalik wacana pembebasan wanita di Barat. Menurutnya kaum Yahudi memiliki peran kuat dibalik slogan Liberty, Egality dan Fraiternity (kebebasan, persamaan dan persaudaraan) kepada bangsa Perancis.
Hal ini dipropagandakan oleh Zionis dan disebarkan ke penjuru dunia hingga kita bisa merasakan apa yang disebut Hak Asasi Manusia dan Feminisme pada saat ini. Dalam bukunya, “Pergaulan Bebas, Prostitusi, dan Wanita”, M. Thalib menulis,
“Slogan-slogan inilah yang membuat orang-orang bodoh turut serta mengulang-ulanginya di seluruh penjuru dunia di kemudian hari, tanpa berfikir dan memakai akalnya lagi.”
Mungkin terasa ganjil bagi kita, mengapa Yahudi sebagai bangsa yang pongah begitu takut dengan perempuan? Jawabannya sederhana: membiarkan seorang wanita tumbuh menjadi solihah adalah alamat “kiamat” bagi mereka.
Jika seorang ibu yang solehah bisa mengasuh 5 anak muslim di keluarganya untuk tumbuh menjadi generasi mujahid. Kita bisa hitung berapa banyak generasi yang bisa dihasilkan dari 800 juta perempuan muslim saat ini?
Seorang sahabat pernah bertanya kepada Rasulullah, “Siapakah manusia di muka Bumi ini yang harus diperlakukan dengan cara yang paling baik ?”. Rasul menjawab, “Ibumu”. “Setelah itu siapa lagi ya Rasul”. Sekali lagi Rasul menjawab, “Ibumu”. Sahabat bertanya kembali, “Kemudian siapa?”. Lagi-lagi Rasul menjawab “Ibumu, baru Ayahmu”. [Shahih, Diriwayatkan oleh Imam Bukhari).
by admin ( www.facebook.com/IkrAmZz )

sumber tulisan : 
https://id-id.facebook.com/KehebatanIlmuPengetahuanYangLuas/posts/611778712167667:0

Selasa, 28 April 2015

Jakarta – Jogja



Kali ini kita putuskan untuk naik kereta, soalnya lebih irit. Yang sebenarnya, naik kereta itu ada sensasi tersendiri. Dengan kereta, kita bisa berjalan selayaknya bus untuk melewati titik demi titik menuju titik tujuan. Memakai kereta kelas ekonomi juga sudah cukup nyaman, tidak terlalu mahal dan cukup kondusif untuk melakukan banyak hal saat perjalanan.
 
Sebelumnya, ada yang tak suka menjalani perjalanan? Sebuah proses panjang yang terkadang membutuhkan kesabaran. Bukan terkadang, jelas iya butuh. Ya ini satukan persepsi perjalanan yang bisa dibilang jarak jauh dulu ya. Perjalanan yang bisa membuat kita lebih mendekat atau lebih menjauh dari-Nya. 

Sebuah perjalanan adalah proses. Dimana kita dikondisikan diberi nikmat untuk tetap berada dalam kendaraan, bisa bus atau kereta atau pesawat. Nah perjalanan terkadang menjadi satu ujian bagi mereka yang menjalaninya.

Pertama sebelum perjalanan, ujian niat. Apa niat kita dalam perjalanan? Dilain hal kita mengunjungi suatu tempat untuk sebuah urusan tentu kita harus memahami bahwa apapun niatnya itu yang kita dapatkan. Misal saja kita melakukan perjalanan untuk sebuah urusan amanah, tentu hal yang harus kita luruskan adalah niatnya, Lillah. Benar-benar kita melakukan perjalanan untuk menunaikan amanah.

Kedua saat perjalanan, kamu melakukan apa? Proses perjalanan terkadang kita harus pintar-pintar mengatur semuanya. Urusan makan, urusan sholat, urusan kesehatan. Semua adalah ujian bagi yang melakukannya. Urusan yang ingin aku bahas disini adalah urusan sholat yang mungkin saja terkadang jadwa keberangkatan tidak sesuai dengan waktu-waktu sholat. Maka sebelum melakukan perjalanan jauh, seharusnya kita mengilmui supaya perjalanan kita barokah dan baik. Sesuai aturanNya. Sehingga jangan sampai kita melalaikan hak-hak Allah saat perjalanan. Begitu juga urusan makan, dimana harus memperhatikan halal dan baiknya. Sebelum perjalanan kita juga bisa melakukan banyak hal yang bermanfaat. Misalnya memiliki target membaca buku, membaca Al-Quran, atau berbicara dengan orang disamping duduk kita untuk silaturakhim. Begitu naa...

Perjalanan adalah hal yang menyenangkan dan membahagiakan bagi mereka yang bersiap. Apalagi kita bisa melatih kepekaan hati, mata, telinga untuk melihat setiap ciptaan-Nya. Dan kita bisa berdoa untuk kebaikan yang bisa kita berikan untuk orang-orang disekitar kita. BarokaLlahu fii safarik ...

Ditulis disaat perjalanan menggunakan kereta Jakatingkir, Jakarta-Jogja
26 April 2015

Penawaran Jakarta




Keras, kata terlontar setiap terdengar
Kota Jakarta
Ah, tidak juga
Langit malam itu
Walau tak satupun tersematkan bintang
Tetap saja indah dengan gemerlap
Lampu sepanjang jalan
Begitu juga, ketika ditampakkan
Tegaknya bangunan-bangunan tinggi
Menambah kesan yang mengagumkan
Terlihat banyak kesibukan didalam gedung-gedung itu
Padahal jam sudah larut malam
Kesibukan yang tak henti
Membuatnya telah membuat hidup sepanjang hari
Jakarta
Kota ini bukan tempat “tujuan” kelak
Mungkin hanya menjadi kota perantara

Sesungguhnya ciptaan manusia saja bisa begitu indah
Apalagi ciptaanNya kelak di Surga
Bangunan yang Allah peruntukkan
Untuk mereka yang melakukan perjalanan
Demi mendekat padaNya

Ditulis di Stasiun Pasar Senen Jakarta, 26 April 2015
Sambil menunggu keberangkatan menuju kota yang istimewa, Yogyakarta

Penawaran Aceh




Yogyakarta-Aceh, ia harus ditempuh dengan waktu yang tak singkat. Kalau dari Jogja kita harus transit di Bandara Koalanamu Medan, kemudian baru ke Banda Aceh, Bandara Sultan Iskandar Muda. Ya, sebenarnya kalau mau irit berangkat dari jakarta.  Tujuan perjalanan kami satu, berusaha seoptimal mungkin menunaikan amanah Mahasiswa Kesehatan Masyarakat Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta dan memajukan Ikatan Senat Mahasiswa Kesehatan Masyarakat Indonesia. 

Aceh, Kota Serambi Mekkah begitu julukannya. Kota ini pun menawarkan banyak hal untuk kita ambil hikmahnya sebagai pelajaran. Teringat sebuah tragedi besar, Tsunami Aceh yang menelan hampir 150.000an orang dimana sepertiganya adalah anak-anak? Bencana itu pasti meninggalkan bekas di hati-hati mereka, tentu juga kita. Memberi penyaksikan betapa mudahnya Allah memerintahkan seluruh alam ini sesuai kehendakNya, sempurna. 

Kota Aceh, adalah kota yang oleh pemerintahanya menerapkan aturan-aturan Islam. Salah satunya adanya polisi WH (saya lupa nama kepanjangan). Polisi yang setiap waktu beroperasi disekitar aceh untuk memastikan warga aceh menerapkan aturan Islam. Sepanjang perjalanan di Aceh, kami pun tidak menemukan wanita tak memakai jilbab. Semua memakai jilbab. 

Sebelum berangkat ke Aceh, kami mendapat beberapa gambaran sedikit tentang aceh. Salah satunya aturan pemakaian rok bagi wanita. Ternyata memang benar. Pemakaian rok adalah wajib di Aceh, terutama di sekitar Masjid Baiturrahman. Sebuah masjid yang bersejarah bukan? Ia tetap tegak, tanpa tergenang air sedikitpun ketika Tsunami menghantam kota bagian barat Indonesia ini. Masjid yang menjadi saksi kebesaran Allah. Warga yang berlindung di masjid ini, pun Allah taqdirkan tetap selamat. 

Titik Aceh yang wajib dikunjungi menurutku adalah Masjid Baiturrahman. Bagi yang ingin shalat di Masjid Baiturrahman, pastikan memakai pakaian yang menutup aurat.  Untuk muslimah, tidak boleh celana, karena kalau tetap melanggar penjaga masjid tak segan-segan akan mengusir. Atau kalau sewaktu ada patroli polisi WH, tak segan-segan pula pulang dalam keadaan celana disobek. Ada juga sebuah aturan ikhtilat atau berdua-duaan antara wanita dan laki-laki yang bukan mahram, ia akan mendapatkan hukuman cambuk. Ada waktu khusus di Aceh untuk melakukan hukuman cambuk. 

Ada kendaraan khusus yang cukup terjangkau jika ingin jalan-jalan di kota Aceh dibeberapa titik. Sebut saja Labi-Labi. Kalau di Aceh, jangan terlihat seperti orang yang bingung, karena beberapa kali pengalaman, harga akan dinaikkan. Labi-labi adalah kendaraan roda empat, semacam pick up, yang sudah ada penutup bagian belakang. Ya, minimal 2 ribu bisa satu kali perjalanan dari Pasar Aceh sampai Museum Tsunami Aceh. Ingat jangan terlihat galau alias bingung. 

Karena terbatasnya waktu, kami hanya melihat adanya sebuah perahu yang sangat bersejarah kala itu. Ia menyelamatkan juga beberapa orang saat Tsunami Aceh. Ombak yang begitu besar, kapal pembangkit tenaga listrik ini terseret sepanjang 7 km dari pinggir pantai Aceh. Kota ini sekarng sudah mulai bangkit, semenjak beberapa tahu silam. 

Kota Aceh, kau menawarkan kepada kami bahwa kami ini siapa kalau berani-beraninya sombong terhadap hal-hal yang sejatinya bukan milik kami? Kami tak berdaya, atas segala apa yang terjadi kecuali atas daya-Mu karena Engkau menginginkan kami dalam kondisi yang terbaik. 

Ditulis di Stasiun Pasar Senen Jakarta, 26 April 2015
Sambil menunggu keberangkatan menuju kota yang istimewa, Yogyakarta

Kamis, 09 April 2015

Cintanya Mereka

Cinta Ali dan Fatimah luar biasa indah, terjaga kerahasiaanya dalam sikap, ekspresi, dan kata, hingga akhirnya Allah menyatukan mereka dalam suatu pernikahan. Konon saking rahasianya, setan saja tidak tahu menahu soal cinta di antara mereka. Subhanallah.

Ali terpesona pada Fatimah sejak lama, disebabkan oleh kesantunan, ibadah, kecekatan kerja, dan paras putri kesayangan Rasulullah Saw. itu. Ia pernah tertohok dua kali saat Abu Bakar dan Umar ibn Khattab melamar Fatimah sementara dirinya belum siap untuk melakukannya. Namun kesabarannya berbuah manis,lamaran kedua orang sahabat yang tak diragukan lagi kesholehannya tersebut ternyata ditolak Rasulullah Saw. Akhirnya Ali memberanikan diri. Dan ternyata lamarannya kepada Fatimah yang hanya bermodal baju besi diterima.

Di sisi lain, Fatimah ternyata telah memendam cintanya kepada Ali sejak lama. Dalam suatu riwayat dikisahkan bahwa suatu hari setelah kedua menikah, Fatimah berkata kepada Ali: “Maafkan aku, karena sebelum menikah denganmu. Aku pernah satu kali merasakan jatuh cinta pada seorang pemuda dan aku ingin menikah dengannya”. Ali pun bertanya mengapa ia tetap mau menikah dengannya, dan apakah Fatimah menyesal menikah dengannya. Sambil tersenyum Fathimah. menjawab, “Pemuda itu adalah dirimu.


(IG Dunia Jilbab) 

Rabu, 01 April 2015

Pulanglah, Tempatmu di Rumah !

 Untukmu Wanita, semuanya ...

" dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyah yang dahulu dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan taatilah Allah dan Rasul-Nya. Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, hai ahlul bait dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya."
(QS: Al-Ahzab Ayat: 33)

Ini adalah salah satu ayat Al-Quran yang sering kita tolak, begitu kata Ustadz Budi Ashari, Lc di tausyiah beliau (video Ibu, pulanglah). Jleb banget saat mendengarnya, dimana kita wanita termasuk saya yang ingin hidup mulia dimata-Nya, mau nggak mau ya harus ikut aturanNya bukan? Ya, tetap dirumah dan tidak berhias berlebihan ketika keluar rumah.

Setiap kita pasti punya cita-cita dalam yang ingin kita raih bukan? Cita-cita yang menuntut kita memberikan waktu, jiwa, semuanya dari kita. Cita-cita yang mungkin juga menuntut kita harus keluar rumah. Cita-cita yang menuntut kita harus meninggalkan keluarga, dirumah.

Tapi ketika kita kembalikan lagi kepada aturan Allah, kita muslimah diminta untuk tetap dirumah. Ya tetap dirumah dengan tugas utama dan mulianya sebagai seorang Ibu. Ia yang mengurus rumah tangga berikut isinya. ia yang mengerjakan pekerjaan (dalam video tersebut) urusan dapur, sumur dan kasur. Pekerjaan yang harusnya tidak kita tinggalkan karena alasan apapun. Disinilah letak kemuliaannya kita sebagai seorang wanita, dimata-Nya.

Lantas, bagaimana jika sebuah kondisi luar membutuhkan kita?Kondisi krusial yang sungguh membutuhkan. Tentu dokter wanita dibutuhkan bukan untuk memeriksa wanita. Guru wanita juga perlu untuk mendidik generasi supaya terbentuk generasi yang tangguh.

Maka, semoga muslimah yang memilih untuk bekerja, senantiasa meniatkan hanya untuk Allah. Tetap menjaga diri dengan selalu taat kepada Allah. :)



Senin, 09 Maret 2015

Siapa yang kamu harapkan datang?

Menikah adalah sesuatu yang harus dipersiapkan dengan baik. Tak sekedar persiapan harta tentunya, ilmu yang paling penting. Menikah ada ilmunya, sehingga ia tidak menjadi sia-sia dimata-Nya. Keputusan menikah mungkin bahkan memang oleh kebanyakan sebuah hal yang sangat penting dalam hidupnya. Karena ia tak sekedar sebentar saja jika memang diizinkan oleh Allah, namun sampai Allah menakdirkan sampai berhentinya di dunia, lanjut ke SurgaNya. 

Ya, bagiku menikah juga menjadi keputusan yang besar, dan perlu persiapan besar. Mulai dari niat, yang hanya dan hanya ditujukan kepada Allah, senantiasa dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah. Senantiasa menjaga niat hanya untuk lebih terjaga dari dosa-dosa mata, hati, dan lain-lain, sehingga kita mudah mengingatNya, kemudian beribadah semampu kita untukNya.

Persoalan menikah memang tidak mudah, tapi nampaknya jangan pula dipikir terlalu rumit. Jika kita yakin kepada Allah tentang urusan kita yang bernama “menikah” dan kita berusaha sesuai aturanNya, Insyaallah Allah yang akan menjamin kehidupan kita lebih baik dan sholih, kelak. 

Lantas siapa yang kita (aku) harapkan datang? Tentu kita semua sudah sering memahami apa yang disampaikan oleh Allah dalam Al-Quran. Bahwa lelaki baik untuk wanita yang baik, begitu sebaliknya. Dimana ukuran baik dan tidak baik, hanya Allah yang tau. Maka ketika kita mengharapkan seseorang bernama Ali bin Abi Thalib, maka kita boleh berkaca pada Fatimah. Apabila kita menginginkan lelaki seperti Rasulullah dengan akhlaknya yang begitu mulia serta misi dalam hidupnya yang ditujukan untuk kebaikan ummat, maka bersiaplah menjadi Khadijah yang begitu tangguh dengan hartanya, akhlaknya, dan banyak hal lain darinya. Atau seperti Aisyah dengan kecerdasannya? Nah, tentu sebelum kita mengharapkan siapa yang datang, kita terlebih dahulu senantiasa memperbaiki diri. Ohya, mari luruskan niat. Bukan untuk mengharap jodoh itu siapa, tapi Allah ridho dengan apa yang kita hajatkan untuk kebaikan semuanya. 

Siapa yang kita (aku) harapkan? Tentu dimulai dari agamanya. Ia paham bahwa hidup ini termasuk menikah adalah sesuatu yang harus dikerjakan sesuai aturan Islam. Bahwa hidup ini semata hanya untuk beribadah kepadaNya. Mulai dari membahagiakan pasangan, bekerja untuk keluarga, mendidik anak, menafkahi secara lahir dan batin bagi keluarganya, semuanya hanya diniatkan untuk Allah. Ya, mulai dari sini, semua akan baik-baik saja Insyaallah. Hidup bersama mereka yang selalu menghibahkan diri untuk urusan-urusan kebaikan. 

Siapa yang kita harapkan? Tentu lagi mulai dari agamanya. Ia paham bahwa dirinya adalah lelaki, pemimpin keluarganya. Ia adalah nahkoda kapal yang akan memimpin kemana arah kapal ini berlayar. Ia paham bahwa kedua pundaknya harus siap untuk anak dan istrinya. Ia paham bahwa dia adalah seseorang yang menjadi guru dalam keluarganya, mengajarkan apapun yang baik untuk keluarganya. Ia paham bahwa istrinya adalah seorang wanita yang tidak cukup tangguh setangguh dirinya, sehingga ia perlu mendukung apapun yang dikerjakan istrinya asalkan sesuai batasan-batasan aturan Allah. Ia sadar bahwa istrinya adalah seseorang wanita yang memiliki tugas utamanya didalam rumah, mengurus anak dan segala isinya. 

Siapa yang kita harapkan? Dia yang juga punya cita-cita dalam hidupnya. Cita-cita yang tidak hanya untuk dirinya saja, tapi keluarganya, bahkan ummat. Dengan apapun ilmunya ia miliki, ia hanya berfikir bagaimana dengan ilmu yang ia usahakan dan pahami untuk kebaikan banyak orang. Menjadi tauladan dengan ilmunya bahwa ummat muslim harus hidup mulia dengan ilmu.