Selasa, 28 April 2015

Penawaran Jakarta




Keras, kata terlontar setiap terdengar
Kota Jakarta
Ah, tidak juga
Langit malam itu
Walau tak satupun tersematkan bintang
Tetap saja indah dengan gemerlap
Lampu sepanjang jalan
Begitu juga, ketika ditampakkan
Tegaknya bangunan-bangunan tinggi
Menambah kesan yang mengagumkan
Terlihat banyak kesibukan didalam gedung-gedung itu
Padahal jam sudah larut malam
Kesibukan yang tak henti
Membuatnya telah membuat hidup sepanjang hari
Jakarta
Kota ini bukan tempat “tujuan” kelak
Mungkin hanya menjadi kota perantara

Sesungguhnya ciptaan manusia saja bisa begitu indah
Apalagi ciptaanNya kelak di Surga
Bangunan yang Allah peruntukkan
Untuk mereka yang melakukan perjalanan
Demi mendekat padaNya

Ditulis di Stasiun Pasar Senen Jakarta, 26 April 2015
Sambil menunggu keberangkatan menuju kota yang istimewa, Yogyakarta

Penawaran Aceh




Yogyakarta-Aceh, ia harus ditempuh dengan waktu yang tak singkat. Kalau dari Jogja kita harus transit di Bandara Koalanamu Medan, kemudian baru ke Banda Aceh, Bandara Sultan Iskandar Muda. Ya, sebenarnya kalau mau irit berangkat dari jakarta.  Tujuan perjalanan kami satu, berusaha seoptimal mungkin menunaikan amanah Mahasiswa Kesehatan Masyarakat Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta dan memajukan Ikatan Senat Mahasiswa Kesehatan Masyarakat Indonesia. 

Aceh, Kota Serambi Mekkah begitu julukannya. Kota ini pun menawarkan banyak hal untuk kita ambil hikmahnya sebagai pelajaran. Teringat sebuah tragedi besar, Tsunami Aceh yang menelan hampir 150.000an orang dimana sepertiganya adalah anak-anak? Bencana itu pasti meninggalkan bekas di hati-hati mereka, tentu juga kita. Memberi penyaksikan betapa mudahnya Allah memerintahkan seluruh alam ini sesuai kehendakNya, sempurna. 

Kota Aceh, adalah kota yang oleh pemerintahanya menerapkan aturan-aturan Islam. Salah satunya adanya polisi WH (saya lupa nama kepanjangan). Polisi yang setiap waktu beroperasi disekitar aceh untuk memastikan warga aceh menerapkan aturan Islam. Sepanjang perjalanan di Aceh, kami pun tidak menemukan wanita tak memakai jilbab. Semua memakai jilbab. 

Sebelum berangkat ke Aceh, kami mendapat beberapa gambaran sedikit tentang aceh. Salah satunya aturan pemakaian rok bagi wanita. Ternyata memang benar. Pemakaian rok adalah wajib di Aceh, terutama di sekitar Masjid Baiturrahman. Sebuah masjid yang bersejarah bukan? Ia tetap tegak, tanpa tergenang air sedikitpun ketika Tsunami menghantam kota bagian barat Indonesia ini. Masjid yang menjadi saksi kebesaran Allah. Warga yang berlindung di masjid ini, pun Allah taqdirkan tetap selamat. 

Titik Aceh yang wajib dikunjungi menurutku adalah Masjid Baiturrahman. Bagi yang ingin shalat di Masjid Baiturrahman, pastikan memakai pakaian yang menutup aurat.  Untuk muslimah, tidak boleh celana, karena kalau tetap melanggar penjaga masjid tak segan-segan akan mengusir. Atau kalau sewaktu ada patroli polisi WH, tak segan-segan pula pulang dalam keadaan celana disobek. Ada juga sebuah aturan ikhtilat atau berdua-duaan antara wanita dan laki-laki yang bukan mahram, ia akan mendapatkan hukuman cambuk. Ada waktu khusus di Aceh untuk melakukan hukuman cambuk. 

Ada kendaraan khusus yang cukup terjangkau jika ingin jalan-jalan di kota Aceh dibeberapa titik. Sebut saja Labi-Labi. Kalau di Aceh, jangan terlihat seperti orang yang bingung, karena beberapa kali pengalaman, harga akan dinaikkan. Labi-labi adalah kendaraan roda empat, semacam pick up, yang sudah ada penutup bagian belakang. Ya, minimal 2 ribu bisa satu kali perjalanan dari Pasar Aceh sampai Museum Tsunami Aceh. Ingat jangan terlihat galau alias bingung. 

Karena terbatasnya waktu, kami hanya melihat adanya sebuah perahu yang sangat bersejarah kala itu. Ia menyelamatkan juga beberapa orang saat Tsunami Aceh. Ombak yang begitu besar, kapal pembangkit tenaga listrik ini terseret sepanjang 7 km dari pinggir pantai Aceh. Kota ini sekarng sudah mulai bangkit, semenjak beberapa tahu silam. 

Kota Aceh, kau menawarkan kepada kami bahwa kami ini siapa kalau berani-beraninya sombong terhadap hal-hal yang sejatinya bukan milik kami? Kami tak berdaya, atas segala apa yang terjadi kecuali atas daya-Mu karena Engkau menginginkan kami dalam kondisi yang terbaik. 

Ditulis di Stasiun Pasar Senen Jakarta, 26 April 2015
Sambil menunggu keberangkatan menuju kota yang istimewa, Yogyakarta

Kamis, 09 April 2015

Cintanya Mereka

Cinta Ali dan Fatimah luar biasa indah, terjaga kerahasiaanya dalam sikap, ekspresi, dan kata, hingga akhirnya Allah menyatukan mereka dalam suatu pernikahan. Konon saking rahasianya, setan saja tidak tahu menahu soal cinta di antara mereka. Subhanallah.

Ali terpesona pada Fatimah sejak lama, disebabkan oleh kesantunan, ibadah, kecekatan kerja, dan paras putri kesayangan Rasulullah Saw. itu. Ia pernah tertohok dua kali saat Abu Bakar dan Umar ibn Khattab melamar Fatimah sementara dirinya belum siap untuk melakukannya. Namun kesabarannya berbuah manis,lamaran kedua orang sahabat yang tak diragukan lagi kesholehannya tersebut ternyata ditolak Rasulullah Saw. Akhirnya Ali memberanikan diri. Dan ternyata lamarannya kepada Fatimah yang hanya bermodal baju besi diterima.

Di sisi lain, Fatimah ternyata telah memendam cintanya kepada Ali sejak lama. Dalam suatu riwayat dikisahkan bahwa suatu hari setelah kedua menikah, Fatimah berkata kepada Ali: “Maafkan aku, karena sebelum menikah denganmu. Aku pernah satu kali merasakan jatuh cinta pada seorang pemuda dan aku ingin menikah dengannya”. Ali pun bertanya mengapa ia tetap mau menikah dengannya, dan apakah Fatimah menyesal menikah dengannya. Sambil tersenyum Fathimah. menjawab, “Pemuda itu adalah dirimu.


(IG Dunia Jilbab) 

Rabu, 01 April 2015

Pulanglah, Tempatmu di Rumah !

 Untukmu Wanita, semuanya ...

" dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyah yang dahulu dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan taatilah Allah dan Rasul-Nya. Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, hai ahlul bait dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya."
(QS: Al-Ahzab Ayat: 33)

Ini adalah salah satu ayat Al-Quran yang sering kita tolak, begitu kata Ustadz Budi Ashari, Lc di tausyiah beliau (video Ibu, pulanglah). Jleb banget saat mendengarnya, dimana kita wanita termasuk saya yang ingin hidup mulia dimata-Nya, mau nggak mau ya harus ikut aturanNya bukan? Ya, tetap dirumah dan tidak berhias berlebihan ketika keluar rumah.

Setiap kita pasti punya cita-cita dalam yang ingin kita raih bukan? Cita-cita yang menuntut kita memberikan waktu, jiwa, semuanya dari kita. Cita-cita yang mungkin juga menuntut kita harus keluar rumah. Cita-cita yang menuntut kita harus meninggalkan keluarga, dirumah.

Tapi ketika kita kembalikan lagi kepada aturan Allah, kita muslimah diminta untuk tetap dirumah. Ya tetap dirumah dengan tugas utama dan mulianya sebagai seorang Ibu. Ia yang mengurus rumah tangga berikut isinya. ia yang mengerjakan pekerjaan (dalam video tersebut) urusan dapur, sumur dan kasur. Pekerjaan yang harusnya tidak kita tinggalkan karena alasan apapun. Disinilah letak kemuliaannya kita sebagai seorang wanita, dimata-Nya.

Lantas, bagaimana jika sebuah kondisi luar membutuhkan kita?Kondisi krusial yang sungguh membutuhkan. Tentu dokter wanita dibutuhkan bukan untuk memeriksa wanita. Guru wanita juga perlu untuk mendidik generasi supaya terbentuk generasi yang tangguh.

Maka, semoga muslimah yang memilih untuk bekerja, senantiasa meniatkan hanya untuk Allah. Tetap menjaga diri dengan selalu taat kepada Allah. :)



Senin, 09 Maret 2015

Siapa yang kamu harapkan datang?

Menikah adalah sesuatu yang harus dipersiapkan dengan baik. Tak sekedar persiapan harta tentunya, ilmu yang paling penting. Menikah ada ilmunya, sehingga ia tidak menjadi sia-sia dimata-Nya. Keputusan menikah mungkin bahkan memang oleh kebanyakan sebuah hal yang sangat penting dalam hidupnya. Karena ia tak sekedar sebentar saja jika memang diizinkan oleh Allah, namun sampai Allah menakdirkan sampai berhentinya di dunia, lanjut ke SurgaNya. 

Ya, bagiku menikah juga menjadi keputusan yang besar, dan perlu persiapan besar. Mulai dari niat, yang hanya dan hanya ditujukan kepada Allah, senantiasa dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah. Senantiasa menjaga niat hanya untuk lebih terjaga dari dosa-dosa mata, hati, dan lain-lain, sehingga kita mudah mengingatNya, kemudian beribadah semampu kita untukNya.

Persoalan menikah memang tidak mudah, tapi nampaknya jangan pula dipikir terlalu rumit. Jika kita yakin kepada Allah tentang urusan kita yang bernama “menikah” dan kita berusaha sesuai aturanNya, Insyaallah Allah yang akan menjamin kehidupan kita lebih baik dan sholih, kelak. 

Lantas siapa yang kita (aku) harapkan datang? Tentu kita semua sudah sering memahami apa yang disampaikan oleh Allah dalam Al-Quran. Bahwa lelaki baik untuk wanita yang baik, begitu sebaliknya. Dimana ukuran baik dan tidak baik, hanya Allah yang tau. Maka ketika kita mengharapkan seseorang bernama Ali bin Abi Thalib, maka kita boleh berkaca pada Fatimah. Apabila kita menginginkan lelaki seperti Rasulullah dengan akhlaknya yang begitu mulia serta misi dalam hidupnya yang ditujukan untuk kebaikan ummat, maka bersiaplah menjadi Khadijah yang begitu tangguh dengan hartanya, akhlaknya, dan banyak hal lain darinya. Atau seperti Aisyah dengan kecerdasannya? Nah, tentu sebelum kita mengharapkan siapa yang datang, kita terlebih dahulu senantiasa memperbaiki diri. Ohya, mari luruskan niat. Bukan untuk mengharap jodoh itu siapa, tapi Allah ridho dengan apa yang kita hajatkan untuk kebaikan semuanya. 

Siapa yang kita (aku) harapkan? Tentu dimulai dari agamanya. Ia paham bahwa hidup ini termasuk menikah adalah sesuatu yang harus dikerjakan sesuai aturan Islam. Bahwa hidup ini semata hanya untuk beribadah kepadaNya. Mulai dari membahagiakan pasangan, bekerja untuk keluarga, mendidik anak, menafkahi secara lahir dan batin bagi keluarganya, semuanya hanya diniatkan untuk Allah. Ya, mulai dari sini, semua akan baik-baik saja Insyaallah. Hidup bersama mereka yang selalu menghibahkan diri untuk urusan-urusan kebaikan. 

Siapa yang kita harapkan? Tentu lagi mulai dari agamanya. Ia paham bahwa dirinya adalah lelaki, pemimpin keluarganya. Ia adalah nahkoda kapal yang akan memimpin kemana arah kapal ini berlayar. Ia paham bahwa kedua pundaknya harus siap untuk anak dan istrinya. Ia paham bahwa dia adalah seseorang yang menjadi guru dalam keluarganya, mengajarkan apapun yang baik untuk keluarganya. Ia paham bahwa istrinya adalah seorang wanita yang tidak cukup tangguh setangguh dirinya, sehingga ia perlu mendukung apapun yang dikerjakan istrinya asalkan sesuai batasan-batasan aturan Allah. Ia sadar bahwa istrinya adalah seseorang wanita yang memiliki tugas utamanya didalam rumah, mengurus anak dan segala isinya. 

Siapa yang kita harapkan? Dia yang juga punya cita-cita dalam hidupnya. Cita-cita yang tidak hanya untuk dirinya saja, tapi keluarganya, bahkan ummat. Dengan apapun ilmunya ia miliki, ia hanya berfikir bagaimana dengan ilmu yang ia usahakan dan pahami untuk kebaikan banyak orang. Menjadi tauladan dengan ilmunya bahwa ummat muslim harus hidup mulia dengan ilmu. 

Minggu, 08 Maret 2015

Allah Meminta Tanggungjawab Atas Kepemimpinanku





Atha` menuturkan bahwa ia datang menemui Fathimah binti Abdul malik, istri Umar bin Abdul Aziz, setelah suaminya itu wafat, lalu bertanya, “Wahai putri Abdul Malik, ceritakanlah kepadaku tentang Amirul Mukminin Umar bin Abdul Aziz.”

Ia menjawab,”Baik, aku ceritakan. Seandainya ia masih hidup, pasti aku enggan menceritakannya. Sesungguhnya Umar bin Abdul Aziz Radhiyallahu Anhu telah mempersembahkan jiwa dan raganya untuk kepentingan rakyat. Ia bekerja mengurusi kepentingan mereka disiang hari. Pada sore harinya, jika ia masih mempunyai kebutuhan pribadi, maka ia berhenti lalu melanjutkan bekerja hingga malam hari hingga sore harinya. Ia mengkhususkan lampu penerang dari dana pribadinya. Dimalam hari ia tidur sebentar lalu shalat dua rakaat. Setelah itu ia merebahkan diri berbantalkan tangan membaca dzikir, air matanya pun membasahi kedua pipinya. Begitu yang ia lakukan antara shalat dan dzikir, seolah jiwanya keluar dan hatinya lepas, hingga fajar tiba. Lalu, pada siang harinya ia berpuasa. 

Pernah suatu kali Fathimah bertanya,”Wahai Amirul Mukminin, apa yang sebenarnya engkau alami kemarin malam?”

Ia menjawab,”Baiklah, biarkan aku dengan urusanku dan engkau dengan urusanmu.”

Fathimah lalu menjelaskan bahwa ia menanyakan hal itu karena berharap bisa mengambil pelajaran. Umar bin Abdul Aziz pun berkata,”Aku melihat dan merenungi diri, ternyata aku mempunyai tugas mengurusi umat ini, baik yang kecil maupun yang besar, yang hitam maupun yang merah. Kemudian aku ingat perantau asing yang terdampar, fakir yang papa, tawanan yang nestapa dan orang-orang yang menderita lainnya diseluruh penjuru negri dan dunia, lalu aku menyadari betapa Allah akan meminta tanggungjawabku atas mereka semua dan Muhammad Shallalahu Alaihi wa Sallam akan menjadi hujjah atasku. Ini semua membuatku takut kepada-Nya dan meneteskan air mata, hatiku gemetar lalu setiap kali bertambah ingat, bertambah pula rasa takut. Demikianlah sudah aku sampaikan, maka maklumilah semua itu, atau tinggalkanlah.”

Setiap diri kita pasti akan diminti pertanggungjawab atas yang kita kerjakan. Sudah siapkah kita? 


Sumber : Buku 1000 Kisah Teladan (Pustaka Al-Kautsar)


Selasa, 03 Maret 2015

Hari ini ...



Alhamdulillah. Segala puja dan syukur hanya untuk Engkau, yang telah menjaga kami supaya tetap mengingatmu. Semoga kita selalu disibukkan dalam kebaikan, dan diberi kemudahan untuk menjalaninya. Sedang sibuk apa sekarang? Semoga kita tetep bisa menjalankan hak-hak pekerjaan yg harus kita kerjakan. Mulai dari pekerjaan untuk diri sendiri, untuk keluarga, dan untuk orang-orang disekitar kita. 

Siapa yang nggak suka anak-anak. Pasti semua suka kan? Apalagi mereka yang masih gampang untuk diarahkan sesuai adab-adabnya. Nah, kalau kita bertemu dengan mereka yang masih belum tahu adab dan akhlaknya yg belum terjaga, berati itu kesempatan kita untuk menguatkannya.
Hari ini adalah kedua kalinya membersamai adek2 BCB atau bimbingan cinta belajar. Bersama mereka untuk cinta ilmu dan berusaha semampuya untuk mencintai belajar. Banyak hal yang dapat kita jadikan bareng2 belajar ...

Mendengar adanya forum yang dikerjakan oleh seorang bapak beserta istrinya beserta teman2 satu daerah rumahnya adalah sebuah hal yang sangat baik, dan pasti Allah menyukainya. Bagaimana tidak, bapak ibu ini sengaja membuatnya untuk alasan utama dan pertama, dakwah kepada anak-anak. Biasanya kalau bimbel kan Cuma ngajarin gimana kerjain PR dan persiapan ujian. Ini beda. BCB ini tujuannya untuk lebih mendekatkan anak-anak pada Islam. 

Semoga, mereka yang memilih jalan hidupnya untuk dakwah, peduli dengan urusan-urusan orang lain, peduli dengan hajat orang banyak, mereka yang yakin akan janji Allah, mereka yang tak pernah lelah berbenah, Allah mudahkan jalanNya untuk mendapat kenikmatan tertinggi yaitu bertemu denganNya.

Satu pernyataan yang juga tak lupa dari bapak itu,”Kita nggak tau kelak anak-anak akan jadi apa. Namun Allah akan mencatat apa yang ada dalam niat dan apa yang kita korbankan.”

Nah !!

Spesial alhamdulillah menjadi salah satu bagian dari JANTraining dan redaktur Buletin Nah!
Ohya, setelah agenda hari ini, jadi semakin kuat semoga Allah kelak menjadikan rumahku (bersama keluarga kecilku ^___^) untuk mengumpulkan anak-anak belajar banyak hal, terutama untuk mencintaiNya. Aamin #harapan

Tulisan hari Ahad, 1 Maret 2015