Minggu, 15 Februari 2015

Deadline !!!

sumber : tips-triks-ilmu-komputer.blogspot.com

Setiap orang butuh deadline untuk konkret sebuah perubahan lebih baik dari sebelumnya. Baik target secara personal, baik untuk urusan kolektif. Sebenarnya kita belajar tentang deadline di hadist arba`in no 2, tentang hari kiamat. Seharusnya kita tidak santai saja dengan yang kita kerjakan. Santai yang diartikan seadanya saja tanpa perbaikan kualitas dalam setiap pekerjaan, atau mengabaikan waktu-waktu yang seharusnya bisa produktif hanya dengan mengerjakan dan memikirkan sesuatu yang tak ada manfaatnya. 

Deadline !!! Sesuatu yang harus kita tetapkan saat-saat akan memulai pekerjaan. Baik pekerjaan-pekerjaan kecil sampai besar. Sederhananya saja nih, hari ini kita deadlinenya mencuci baju dipagi hari dimusim penghujan. Berfikirnya, kalau pagi akan kering dan setelah selesai mencuci bisa mengerjakan urusan-urusan yang lain. Atau setelah itu sekedar bermain dengan adek ponakan atau pekerjaan yang lain. Akan tetapi, bagaimana kalau godaan di pagi itu sangat banyak sekali dan kita tidak bisa mengatur godaan tersebut. Misalnya tergoda untuk menonton acara TV yang tidak ada manfaatnya terus menunda pekerjaan nyuci. Hehe. Semua akan mundur, akibat tidak mampunya kita mencegah diri mengerjakan mana yang penting dan tidak penting. Cucian pun tidak kering, mmm lainnya, waktu buat maen bareng ponakan tersita banyak. Nah kan ... 

Deadline !!! Sesuatu yang harus kita upayakan. Ada tiga hal yang bisa kita upayakan.
Pertama, yakin. Yakin bahwa setiap urusan kita hanya untuk ibadah tentunya. Semua sia-sia bukan jika mempersembahkannya selain untuk Dia? Urusan tidur hal paling dekat. Jika untuk ibadah, maka berbuah pahala, bonusnya? Allah akan menguatkan lagi setelah bangun tidur. Kalau hanya meniatkan untuk memejamkan mata, tanpa menyadari harusnya meniatkan untuk Allah, yaa cukup sekian. Hanya itu yang didapat. Yakinlah bahwa kita bisa melakukan setiap apapun yang kita targetkan. Tentu atas izin Allah SWT. Target lulus tahun sekian, bulan sekian. Yakin saja Allah akan membantunya, dan atas pertolongan Dia lah semua terwujud. Laa haula walaa quwwata illa billah

Kedua, butuh waktu. Allah akan mengubah kondisi seseorang, jika makhluknya juga mengubah dirinya. Berikhtiar terhadap target yang kita bikin adalah keharusan, setelah itu doa. Misal nih kita pingin luluskan? Atau punya target nulis buku? Tentu kita butuh waktu untuk mengerjakan hal tersebut. Sediakan waktu khusus untuk mengerjakan target itu. Dan seperti yang agama kita kerjakan, bukan aktsaru `amala, tapi ahsanu `amala. Bahwa kita sangat memperhatikan kualitas pekerjaan dengan baik. Sediakan waktu khusus !!! Misalkan setelah shalat shubuh kamu harus duduk di atas meja belajar untuk mengerjakan makhluk bernama skripsi hehe J. Untuk target nikah? Mungkin salah satunya harus baca buku tentang persiapan menujunya di waktu yang udah kita tentuin juga hehe 

Ketiga, target. Seorang ponakan saja untuk bisa jalan sendiri diatas kakinya yang mungil hehe tidak langsung bisa jalan. Semua butuh tahapan, dan butuh proses. Tentukan tahapan-tahapan yang ingin dicapai perharinya, harus ada peningkatan tentunya. Perhatikan rentang waktu yang ada sampai deadline, dan tentu kerjakan urusan-urusan yang benar-benar penting. Main dan liburan boleh, asal ada porsinya. Karena, Allah memberikan waktu istirahat sebenarnya bukan secara santai di dunia. Akan tetapi disaat kedua kakinya menginjakkan pintu surga. 

Jadi jangan mengeluh dan berputus asa. Keep hamasah dan istiqomah. Tetap melakukan semuanya dengan lillah, fillah ...

Kamis, 12 Februari 2015

Perempuan Penjual Susu





Umar bin Al-Khatab Radhiyallahu Anhu adalah orang yang tak memandang seseorang dari pekerjaannya, keturunannya, atau hartanya, atau yang lainnya. Menurut beliau kepribadian adalah hal paling utama dalam menilai seseorang. Saat memilihkan istri untuk anaknya; Ashim, ia menunjukkan seorang gadis penjual susu. 

Gadis penjual susu itu bukan sekedar wanita yang biasa saja. Gadis itu tetap punya kepribadian yang baik dan beriman meski papa harta, keadaanya sulit dan rendah kedudukan. Tapi derajat ihsan kepada penciptanya telah membuatnya mulia. Seorang gadis yang bersungguh-sungguh beribadah kepada Allah seolah-olah Allah melihatnya, kalaupun tidak begitu ia yakin bahwa Allah melihatnya. Dalam kondisi apapun. 

Suatu malam, Umar bin Khatab Radhiyallahu Anhu meninjau keadaan rakyatnya. Beliau berjalan dalam malam untuk mengetahui kondisi rakyatnya. Kemudian, ia mendengar percakapan dua orang perempuan dalam sebuah rumah. Percakapan itu berisikan seorang perempuan yang menyuruh anak perempuannya mencampur susu dengan air sebelum dijual. 

“Ibu, apakah engkau tidak pernah mendengar apa yang dikatakan Amirul Umar bin Khatab radhiyallahu Anhu?” tanya si anak perempuan kepada ibunya.

“Apa yang dikatakannya?” 

”Ia melarang untuk mencampur susu dengan air sebelum dijual!” Jawabnya
Mendengar jawaban putrinya, si ibu tidak memperdulikannya. Bahkan menyuruh kembali si anak untuk mencampur susu dan air. Ibu yakin bahwa Umar tidak tau. Gadis itu kemudian berbicara lagi kepada Ibunya. 

“Ibu, Khalifah Umar memang tidak tahu apa yang kita lakukan, tapi Allahlah yang melihat. Demi Allah aku tidak akan patuh dihadapannya, sementara dibelakangnya aku menentang.”

Setelah mendengar percakapan itu, Umar pulang dengan hati menyimpan sesuatu. Pagi harinya, Umar memanggil anaknya; Ashim. Kemudian meminta Ashim mendatangi gadis tersebut.
“Pergilah ketempat ini dan itu. Disana ada seorang gadis. Jika ia belum menikah, maka nikahilah. Semoga Allah akan memberikan keturunan yang diberkahi.”

Allah menaqdirkan mereka menikah. Hingga dikemudian hari, benarlah doa Umar bin Khatab bahwa akan lahir seseorang yang akan membawa kebaikan. Mereka dikaruniai anak bernama Ummu Ashim, yang kelak nikah dengan Abdul Aziz bin Marwan. Bagaimana kemudian? Lahirlah Umar bin Abdul Aziz; seorang khalifah yang dikenal keadilan dan kesalehannya. 

Bagaimana muslimah? Bagaimana dengan kita?

Rabu, 11 Februari 2015

Dialah Aisyah*





Setiap orang pasti punya sosok yang ia kagumi. Dari wataknya, perangainya, caranya berbicara, caranya berpakaian, semua yang melekat padanya. Tapi perlu di ingat bahwa ada sosok yang begitu luar biasa untuk patut di teladani. Ialah wanita-wanita yang langsung dididik oleh Rasulullah, hingga setiap apa yang baik dari mereka patut kita contoh.

Urwah bin ZubairRadhiyallahu Anhu menuturkan bahwa suatu kali Muawiyah mengutus seseorang untuk menyampaikan seratus ribu dirham kepada Aisyah. Ia tidak sedikitpun menyisakan uang itu karena segera ia bagikan untuk fakir miskin.

“Apakah tidak sebaiknya mengambil satu dirham saja dari uang itu untuk mengambil daging?” tanya pembantunya yang heran dengan tak bersisa uang tersebut.

“Tidak. Mereka lebih membutuhkan uang itu,” Jawab Aisyah.

Kejadian serupa terjadi kembali. Pelayan perempuannya; ummu Dzar menuturkan pernah ketika Ibnu Az-Zubair mengirim uang kepadanya dua bungkus yang jumlahnya seratus dirham. Kemudian Aisyah meminta bungkusan tersebut di hitung kembali, lantas membagikannya kepada fakir miskin. Tak bersisa.

Sorenya, Aisyah meminta pelayannya untuk menyiapkan makanan buka puasa. Pelayan kemudian bertanya kepada beliau,”Mengapa engkau tidak mengingatkan itu kepadaku?”

Dialah Aisyah, perempuan didikan Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam dalam hal kedermawanan. Ketika ada uang di tangannya, dibenaknya adalah untuk menshadaqahkannya. Beliau tidak membiarkan sepeserpun uang untuk menginap di rumahnya.

Bagaimana dengan kita? (af)

*diolah kembali dari buku 1001 Kisah Teladan karangan Hani Al-Haj (Penerbit Pustaka Al-Kautsar)

                                                                                                                                                           

Jumat, 23 Januari 2015

Kehadiranmu







Blognya berdebu, hehe, mungkin sok sibuk. Bukan-bukan, mmmmmm yah nggak ada cerita yang perlu di ceritain aja. Bukan juga kayaknya. Entahlah, mari bercerita. 

Ceritanya, detik ini, saat ini, menit ini, aku lagi diluar. Tepatnya depan ruangan seminar proposal skripsi, telat 5 menit bikin nggak bisa masuk lihat semprop, ya (parah). Ya sudah, mari bercerita saja. 

Ini refleksi, dan mari saling berefleksi. Ini tentang sebuah kehadiran, keberadaan. Tenang, aku nggak bahas tentang keberadaan seseorang yang ada dalam hatiku, eh, juga hatimu. (maaf ya lebay)
Ini intronya panjang banget, kebanyakan lisan yang penting adalah sia-sia. Oke dimulai. 

Kehadiran. Pernah nggak memikirkan kebermanfaatan kita dalam suatu tempat? Suatu waktu? Juga di sebuah kerumunan atau sekelompok orang? Kita ngapain gitu? Melakukan apa? Apa pengaruh yang kita bawa? Cerminan apa yang kita bawa? 

Maka, perlu kita refleksi masing-masing nafs diri kita. Sudahkah kita membawa sebuah nilai-nilai kebaikan? Lisan kita? Perbuatan kita? Pakaian kita? Kerja-kerja kita? Kontribusi kita? Semangat belajar kita? 

Jadi inget beberapa hukum dalam Islam. Ada wajib, sunnah, haram, dan makruh. Semoga kita menjadi seseorang yang wajib dalam hal kehadiran. Kita mampu melakukan kebaikan sesuai kemampuan. Dengan ilmu yang kita miliki, dengan apa yang kita miliki. Laa haula walaa quwwata illa billah :0 Semangat menginspirasi untuk setiap orang yang ada disekitarmu .