Rabu, 30 April 2014

Bekerja, Maka Keajaiban

Iman itu terkadang menggelisahkan.

Atau setidaknya menghajatkan ketenangan yang mengguyuri hati dengan terkuaknya keajaiban. Mungkin itu yang dirasakan Ibrahim ketika dia meminta kepada Rabbnya untuk ditunjukkan bagaimana yang mati dihidupkan. Maka saat Rabbnya bertanya, “Belum yakinkah engkau akan kuasaKu?”, dia menjawab sepenuh hati, “Aku yakin. Hanya saja agar hati ini menjadi tenteram.”

Tetapi keajaiban itu tak datang serta merta di hadapannya. Meski Allah bisa saja menunjukkan kuasaNya dalam satu kata “Kun!”, kita tahu, bukan itu yang terjadi. Ibrahim harus bersipayah untuk menangkap lalu mencincang empat ekor burung. Lalu disusurnya jajaran bukit-berbukit dengan lembah curam untuk meletakkan masing-masing cincangan. Baru dia bisa memanggilnya. Dan beburung itu mendatanginya segera.
Di sinilah rupanya keajaiban itu. Setelah kerja yang menguras tenaga.

Tetapi apakah selalu kerja-kerja kita yang akan ditaburi keajaiban?

Hajar dan bayinya telah ditinggalkan oleh Ibrahim di lembah itu. Sunyi kini menyergap kegersangan yang membakar. Yang ada hanya pasir dan cadas yang membara. Tak ada pepohon tempat bernaung. Tak terlihat air untuk menyambung hidup. Tak tampak insan untuk berbagi kesah. Keculai bayi itu. Isma’il. Dia kini mulai menangis begitu keras karena lapar dan kehausan.

Maka Hajar pun berlari, mencoba mengais jejak air untuk menjawab tangis putera semata wayangnya. Ada dua bukit di sana. Dan dari ujung ke ujung coba ditelisiknya dengan seksama. Tak ada. Sama sekali tak ada tanda. Tapi dia terus mencari. Berlari. Bolak-balik tujuh kali. Mungkin dia tahu, tak pernah ada air di situ. Mungkin dia hanya ingin menunjukkan kesungguhannya pada Allah. Sebagaimana telah ia yakinkan sang suami, “Jika ini perintah Allah, Dia takkan pernah menyia-nyiakan kami!”

Maka kejaiban itu memancar. Zam zam! Bukan. Bukan dari jalan yang dia susuri atau jejak-jejak yang dia torehkan di antara Shafa dan Marwa. Air itu muncul justru dari kaki Isma’il yang bayi. Yang menangis. Yang haus. Yang menjejak-jejak. Dan Hajar pun takjub. Begitulah keajaiban datang. Terkadang tak terletak dalam ikhtiar-ikhtiar kita.

Mari belajar pada Hajar bahwa makna kerja keras itu adalah menunjukkan kesungguhan kita kepada Allah. Mari bekerja keras seperti Hajar dengan gigih, dengan yakin. Bahwa Dia tak pernah menyia-nyiakan iman dan amal kita. Lalu biarkan keajaiban itu datang dari jalan yang tak kita sangka atas kehendakNya yang Maha Kuasa. Dan biarkan keajaiban itu menenangkan hati ini dari arah manapun Dia kehendaki.
Bekerja saja. Maka keajaiban akan menyapa dari arah tak terduga.

Di lintas sejarah berikutnya, datanglah seorang lelaki pengemban da’wah untuk menjadi ‘ibrah. Dari Makkah, dia berhijrah ke Madinah. Tak sesuatupun dia bawa dari kekayaan melimpah yang pernah memudahkannya. Dia, ‘Abdurrahman ibn ‘Auf. Dan Rasulullah yang tahu gaya hidupnya di Makkah mempersaudarakannya dengan seorang lelaki Anshar kaya raya. Sa’d ibn Ar Rabi’.

Kita hafal kemuliaan kedua orang ini. Yang satu menawarkan membagi rata segala miliknya yang memang berjumlah dua; rumah, kebun kurma, dan bahkan isterinya. Yang satu dengan bersahaja berkata, “Tidak saudaraku.. Tunjukkan saja jalan ke pasar!”

Dan kita tahu, dimulai dari semangat menjaga ‘izzah, tekadnya untuk mandiri, serta tugas suci menerjemahkan nilai Qurani di pasar Madinah, terbitlah keajaiban itu. ‘Abdurrahman ibn ‘Auf memang datang ke pasar dengan tangan kosong, tapi dadanya penuh iman, dan akalnya dipenuhi manhaj ekonomi Qurani. Dinar dan dirham yang beredar di depan matanya dia pikat dengan kejujuran, sifat amanah, kebersihan dari riba, timbangan yang pas, keadilan transaksi, transparansi, dan akad-akad yang tercatat rapi.
Sebulan kemudian dia telah menghadap Sang Nabi dengan baju baru, mewangi oleh tebaran minyak khaluq yang membercak-bercak. “Ya Rasulallah, aku telah menikah!”, katanya dengan sesungging senyum. Ya, seorang wanita Anshar kini mendampinginya. Maharnya emas seberat biji kurma. Walimahnya dengan menyembelih domba. Satu hari, ketika 40.000 dinar emas dia letakkan di hadapan Sang Nabi, beliau bersabda, “Semoga Allah memberkahi yang kau infaqkan juga yang kau simpan!”

Kita mengenangnya kini sebagai lelaki yang memasuki surga sambil merangkak.

Di mana titik mula keajaiban itu? Mungkin justru pada keberaniannya untuk menanggalkan segala kemudahan yang ditawarkan. Dalam pikiran kita, memulai usaha dengan seorang isteri, sebuah rumah tinggal, dan sepetak kebun kurma seharusnya lebih menjanjikan daripada pergi ke pasar dengan tangan kosong. Tetapi bagi ‘Abdurrahman ibn ‘Auf agaknya itu justru terlihat sebagai belenggu. Itu sebuah beban yang memberati langkahnya untuk menggapai kemuliaan yang lebih tinggi. Keajaiban itu datang dalam keterbatasan ikhtiyar keras si tangan kosong. Bukan pada kelimpahan yang ditawarkan saudaranya.

Memulai dengan tangan kosong seperti ‘Abdurrahman ibn ‘Auf seharusnya menjadi penyemangat kita bahwa itu semua mudah. Mungkin dan bisa. Tetapi apakah kemudahan itu? Suatu hari dalam perjamuan Raja Ferdinand dan Ratu Isabella, semua orang mencibir perjalanan Columbus menemukan dunia baru sebagai hal yang sebenarnya sangat mudah. Tinggal berlayar terus ke barat. Lalu ketemu.

Christopher Columbus tersenyum dari kursinya. Diambil dan ditimangnya sebutir telur rebus dari piring di depannya. “Tuan-tuan”, suaranya menggelegar memecah ricuh bebisikan. “Siapa di antara kalian yang mampu memberdirikan telur ini dengan tegak?”

“Christopher”, kata seorang tua di sana, “Itu adalah hal yang tidak mungkin!”
Semua mengangguk mengiyakan.
“Saya bisa”, kata Columbus. Dia menyeringai sejenak lalu memukulkan salah satu ujung telurnya sampai remuk. Lalu memberdirikannya.
“Oh.. Kalau begitu, kami juga bisa!”, kata seseorang. “Ya.. ya.. ya..”, seru yang lain. Dan senyum Columbus makin lebar. Katanya, “Itulah bedanya aku dan kalian Tuan-tuan! Aku memang hanya melakukan hal-hal yang mudah dalam kehidupan ini. Tetapi aku melakukannya di saat semua orang mengatakan bahwa hal mudah itu mustahil!”

Nah, para pengemban da’wah, bekerjalah. Maka keajaiban akan menyapa dari arah tak terduga. Mulailah. Karena dalam keberanian memulai itulah terletak kemudahannya. Bukan soal punya dan tak punya. Mampu atau tak mampu. Miskin atau kaya. Kita bekerja, karena bekerja adalah bentuk kesyukuran yang terindah. Seperti firmanNya;

..Bekerjalah hai keluarga Daud, untuk bersyukur. Dan sedikit sekali di antara hambaKu yang pandai bersyukur. (QS Saba’: 13)

sepenuh cinta,

Salim A. Fillah 
diambil dari  salimafillah.com/bekerja-maka-keajaiban/

Sabtu, 12 April 2014

Teruntuk Almamater




Salam semangat penuh cinta untuk seluruh mahasiswa terutama mahasiswa kesehatan masyarakat di Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta, 

Untuk rekan-rekan dan adik-adik satu almamater Kesmas UAD, almamater orange yang akan menjadi kebanggaan kita. Karena, kalau bukan kita yang bangga, siapa lagi …

Sebentar lagi ujian. Sebuah rutinitas agenda akademik untuk mengukur bagaimana hasil belajar selama kita kuliah. Kenapa hasil belajar? Dan kenapa selama kita kuliah. 

Sejatinya, pekerjaan utama kita Mahasiswa sekarang adalah belajar, satu hal (belajar) yang sering dilupakan karena bisa jadi tujuan kita kuliah belum kuat. Apa itu kesmas? Apa untungnya belajar kesmas? Dan apa hubungannya kesmas untuk negri? Dan kenapa kita harus benar-benar menguasai apa itu ilmu kesmas sehingga bisa “bekerja” dalam kondisi layak suatu saat nanti. Maka bisa jadi PR untuk kita sekarang, sebelum semua terlambat, sebelum semua terlewat. 

Pernyataan kedua, kenapa hasil belajar selama kuliah? Maka perlu kita sadari bahwa ilmu dari semester satu sampai selanjutnya akan selalu bersinambung. Satu kesatuan tiap mata kuliah yang akan dipelajari tahap demi tahap akan menjadikan satu ilmu kesmas yang utuh. Sedari dulu itu rumus cross sectional, kohort, case control saat di berikan di semester 2 atau sebelumnya, akan sama di semester 6, bahkan 7 bahkan seterusnya. Analisis SWOT dalam sebuah organisasi, prinsip-prinsip untuk mengetahui posisi organisasi akan selalu sama. Ya, setiap waktu sebenarnya kita memiliki konsekuensi untuk semakin mendalaminya. 

Rekan-rekan dan adik-adik satu almamater Kesmas UAD 

Tahun 2015 adalah tahun pembuktian bahwa Indonesia harus mampu memiliki SDM yang ber-kapasitas. Termasuk seluruh tenaga kesehatan, tidak terkecuali tenaga kesehatan masyarakat yang harus mampu menguasai kompetensi untuk melakukan pelayanan kesehatan. Aku, kamu, dan kita semua. WTO (World Trade Organization) adalah sebuah perjanjian tata-perdagangan barang, jasa dan trade related intellectual property rights (TRIPS) atau hak atas kepemilikan intelektual yang terkait dengan perdagangan. Indonesia ikut perjanjian itu semenjak tahun 1995. Tahun 2015, tenaga kesehatan masyarakat dari manca negara akan masuk ke Indonesia, begitu sebaliknya. Maka hal yang perlu direnungi, sudahkah kita siap? 

Ujian Tengah Semester akan segera dimulai. Maka harapannya, UTS ini menjadi langkah kecil untuk mengukur kemampuan kita, serta tingkat kepahaman kita. Kalau kita lemah, tentu dunia akan memperdaya kita. Kalau kita berbuat buruk saat ujian, misal mencontek, sesungguhnya itu perbuatan menciderai diri kita sendiri.

 Untuk menghadapi hari esok yang lebih baik, pastinya kita mempersiapkan hari ini dengan cara yang baik, dan usaha terbaik. 

Selamat belajar,
Jaga semangat dan kesehatan, 

Keep Fight & Learn ...

Salam kontribusi tiada henti untuk Negri
-ISMKMI-



Kamis, 10 April 2014

Allah, Ajari untuk lelah dan payah, Agar Aku ikhlas




Saat kau terpuruk dan terjatuh
pakai pundakku dan kita lawan terpuruk itu
karena TUHAN TAHU KITA MAMPU, KITA MAMPU
saat beban penuhi pundakmu
genggam bahuku dan kita bagi bebanmu itu
karena TUHAN TAHU KITA MAMPU, KITA MAMPU
(Tuhan Tahu Kita Mampu by Ali Sastra ft. The Jenggot)

Hanya kepada Allah kita berpasrah, memanjatkan segala lelah. Dengan begitu hati tetap terjaga, niat terus selalu teringat bahwa segala apapun akan sirna kecuali hanya tertuju kepada Allah. Niat urusan kita dengan Allah, sehingga sedikit saja hati memohon sebuah penilaian kepada makhluk terhadap apa yang kita lakukan, kholas. Selesai. 

Pernah merasa terpuruk? Dengan jalan yang sudah kau pilih. Pernah merasa capek? Dengan beban pundak yang kau rasakan berat. Pernah merasa ingin menghilang dengan apa yang harus dihadapi? Maka ingatlah Allah, sebaik-baik penguat hati kita. Dia, sebaik-baik “pundak” untuk meletakkan segala hati. 

Jalan cinta ini memang akan terasa nikmat ketika kita lelah. Ini aku sebut jalan cinta, bukanlah sembarang jalan. Sebuah jalan yang tak hanya meminta sedikit pengorbanan, tapi pikiranmu, fisikmu, waktumu, bahkan seluruh apa yang kamu miliki. Akan terkuras habis selayaknya seorang pedagang yang dagangannya habis dibeli pembeli. 

Di jalan ini, akan kita temui saat-saat kondisi yang membuat kita bimbang. Antara kebutuhan pribadi atau kebutuhan kolektif yang harus kita tunaikan. Akan ada saat ketika teman kita berjalan-jalan, sedang kita harus menghadiri forum-forum diskusi untuk sebuah langkah eksekusi. Ada saatnya pula, teman yang lain terlelap, kita masih harus terjaga dengan aktifitas tanggungjawab pekerjaan lain. Disaat yang lain layaknya berjalan normal untuk urusan-urusan akademis, kita harus berlari sekencang mungkin untuk menyamakan ritme agar kita pun tetap tak tertinggal. Pernahkah atau sudah merasakan?

Ada saatnya memang hati maupun fisik bisa lelah. Ia membutuhkan energi untuk tetap semangat.  Mungkin, dengan menjadi anak kecil yang selalu tersenyum dengan bahagia. Berlari sekencang mungkin dipelataran rerumput hijau mengejar kupu-kupu. Bermain ayunan, merasakan betapa banyaknya nikmat yang Allah kepada kita. 

Maka, yang perlu dilakukan ketika kita lelah dan merasa tak mampu, hanya butuh merenung. Mengingat segala apa yang Allah beri, mensyukuri setiap ketetapan apa yang ditetapkan kepada kita. Meningkatkan kualitas hubungan kita kepada Allah. Boleh jadi, hati lelah karena ia begitu jauh dengan Sang Pemilik hati. Mengingat sebuah mimpi-mimpi mulia yang hanya dapat didapatkan dengan kerja ikhlas, cerdas, dan kerja keras. Lelah itu nikmat ketika kita merasakan dengan sepenuh jiwa, hanya dengan lelah kita dapat merasakan, “Oh begini jalan sebuah cinta.” Cinta perjuangan dan kedudukan kemuliaan di hadapan-Nya. 

“Jangan bersedih,
 niscahya Allah mudahkan segala urusanmu karena engkau memudahkan urusan-Nya”
Tugas kita berdoa, berikhtiar terbaik dan terakhir menyerahkan segala hasil urusan kepada-Nya