bismillah, berusaha menjadi lebih baik
Ujian! Memang penuh dengan keharuan ( lebay^-^). Betapa tidak, ini menjadi sarana bagi mereka yang ingin membuktikan bahwa dia menjalankan sebuah proses dengan sebaik-baik proses. Proses yang sungguh2, tentunya akan HASILNYA baik (menurut ALLOH, coz ada je yang pas ujian nyontek, na`udzubillah). Mmm, ujian hari ini ( pas ngeblog) pun menjadi evaluasi diri bgaimana proses ku selama ini berjalan.
Allohuakbar, essai semua ujian Bahasa Indonesia ku kali ini. Nulis argumentasi pula! Kan tulisan itu ntar mencerminkan bagaimana si penulis. Datanya, isinya, pilihan kata, mmmm, semua teruji disini. Berasa banget deh ini menguji skill ku buat nulis.
Mmm, dengan berusaha rileks and menganggap ini bukan ujian buat dapet nilai, tapi untuk mengetahui, sebenarnya perkembangan potensi udah sampe sejauh mana. Yah, bukan untuk nilai, tapi buat sarana lebih baik.
**satu pelajaran lagi, nilai ujian jangan dijadikan sbg patokan keberhasilan, karena tentunya hasil berkaitan dengan proses. bgaimana tidak, ALLOH menilai dari bgaimana qta ngejalanin proses, bukan hanya hasil. walopun hasil terkadang menjadi puncak dari usaha sebuah proses itu**
JANGAN HANYA BICARA, GERAKKAN PENA DAN KEMUDIAN BERKARYA…
hanya nulis, belajar nulis, nulis, yang pentingkan nulis, nulis dan nulis. maap kalo nulisnya belum pake ilmu nulis. namanya juga baru belajar nulis.
Minggu, 19 Februari 2012
Minggu, 15 Januari 2012
Teruntuk teman-teman mahasiswa yang menginginkan Indonesia sehat, tak hanya sehat fisik, tetapi secara moral dan perilaku.
“Tidak ada jalan untuk melarikan diri! Laut di belakang kalian, dan musuh di depan kalian. Demi Allah, tidak ada yang dapat kalian lakukan sekarang kecuali besungguh-sungguh penuh keikhlasan dan kesabaran!”
Begitu kata Sang Panglima Thariq bin Ziyad saat pasukan sudah terkepung oleh musuh. Memang tak ada jalan lain, kecuali maju. Mundur dengan kekalahan oleh musuh atau maju dengan lindungan Allah? Begitulah keputusan sang panglima, meyakinkan anak buahnya untuk benar-benar ikhlas berperang di jalan Allah.
Pemimpin tidak akan bisa memimpin orang lain jika dirinya saja susah untuk memimpin diri sendiri. Bagaimana tidak, memimpin sebuah aktivitas keseharian saja masih mengeluh. Banyak tugas, musti begadang ngerjain tugas, padahal kalau di ibaratkan itu bukan dari tugas kampus, melainkan tugas kampus kehidupan, apa jadinya kehidupan ini? Kondisi semrawut, tak teratur.
Ketegasan dan sikap keras yang harus ditujukan pada diri kita adalah hal utama untuk memperbaiki kehidupan sekarang ini. Ketegasan niat, siap untuk berjuang walaupun sampai berdarah-darah, beraninya untuk meninggalkan zona nyaman, adalah hal yang seharusnya ditanamkan pada tiap diri mahasiswa sekarang. Bagaimana tidak? Sekarang kita memiliki posisi yang strategis untuk membuat sebuah perubahan. Ya, perubahan. Perubahan kearah lebih baik tentunya.
Sungguh, Indonesia saat ini membutuhkan temen-temen untuk bergerak. Bergerak menggerakan kesemrawutan ini menuju keteraturan. Berharap bukan menjadi pengekor, namun PELOPOR. Juga bukan berharap akan tertinggal sejarah peadapan, namun sebagai salah satu nama-nama yang tergores dalam cetakan sejarah.
Tak ada yang instan teman, semua butuh proses. Untuk menjadi seseorang seperti halnya akhlak Tariq bin Ziyad, membutuhkan waktu untuk belajar menempa diri sehingga kuat dan tegar. Diri kita pun tak semestinya merasa “sudah cukup untuk belajar” yang terkadang berorientasi belajar dikampus, padahal sesungguhnya kampus yang sebenarnya adalah “UNIVERSITAS KEHIDUPAN”. Dimana salah satunya kita belajar untuk mengemban amanah sebagai mahasiswa, lantas kemudian berkontribusi untuk INDONESIA.
Bersama-sama meraih Ridlo-Nya dengan melakukan yang terbaik untuk negri!
Semangat Dahsyat untuk PERUBAHAN!
Atik Setyoasih
Begitu kata Sang Panglima Thariq bin Ziyad saat pasukan sudah terkepung oleh musuh. Memang tak ada jalan lain, kecuali maju. Mundur dengan kekalahan oleh musuh atau maju dengan lindungan Allah? Begitulah keputusan sang panglima, meyakinkan anak buahnya untuk benar-benar ikhlas berperang di jalan Allah.
Pemimpin tidak akan bisa memimpin orang lain jika dirinya saja susah untuk memimpin diri sendiri. Bagaimana tidak, memimpin sebuah aktivitas keseharian saja masih mengeluh. Banyak tugas, musti begadang ngerjain tugas, padahal kalau di ibaratkan itu bukan dari tugas kampus, melainkan tugas kampus kehidupan, apa jadinya kehidupan ini? Kondisi semrawut, tak teratur.
Ketegasan dan sikap keras yang harus ditujukan pada diri kita adalah hal utama untuk memperbaiki kehidupan sekarang ini. Ketegasan niat, siap untuk berjuang walaupun sampai berdarah-darah, beraninya untuk meninggalkan zona nyaman, adalah hal yang seharusnya ditanamkan pada tiap diri mahasiswa sekarang. Bagaimana tidak? Sekarang kita memiliki posisi yang strategis untuk membuat sebuah perubahan. Ya, perubahan. Perubahan kearah lebih baik tentunya.
Sungguh, Indonesia saat ini membutuhkan temen-temen untuk bergerak. Bergerak menggerakan kesemrawutan ini menuju keteraturan. Berharap bukan menjadi pengekor, namun PELOPOR. Juga bukan berharap akan tertinggal sejarah peadapan, namun sebagai salah satu nama-nama yang tergores dalam cetakan sejarah.
Tak ada yang instan teman, semua butuh proses. Untuk menjadi seseorang seperti halnya akhlak Tariq bin Ziyad, membutuhkan waktu untuk belajar menempa diri sehingga kuat dan tegar. Diri kita pun tak semestinya merasa “sudah cukup untuk belajar” yang terkadang berorientasi belajar dikampus, padahal sesungguhnya kampus yang sebenarnya adalah “UNIVERSITAS KEHIDUPAN”. Dimana salah satunya kita belajar untuk mengemban amanah sebagai mahasiswa, lantas kemudian berkontribusi untuk INDONESIA.
Bersama-sama meraih Ridlo-Nya dengan melakukan yang terbaik untuk negri!
Semangat Dahsyat untuk PERUBAHAN!
Atik Setyoasih
Teruntuk teman-teman mahasiswa yang menginginkan Indonesia sehat, tak hanya sehat fisik, tetapi secara moral dan perilaku.
“Tidak ada jalan untuk melarikan diri! Laut di belakang kalian, dan musuh di depan kalian. Demi Allah, tidak ada yang dapat kalian lakukan sekarang kecuali besungguh-sungguh penuh keikhlasan dan kesabaran!”
Begitu kata Sang Panglima Thariq bin Ziyad saat pasukan sudah terkepung oleh musuh. Memang tak ada jalan lain, kecuali maju. Mundur dengan kekalahan oleh musuh atau maju dengan lindungan Allah? Begitulah keputusan sang panglima, meyakinkan anak buahnya untuk benar-benar ikhlas berperang di jalan Allah.
Pemimpin tidak akan bisa memimpin orang lain jika dirinya saja susah untuk memimpin diri sendiri. Bagaimana tidak, memimpin sebuah aktivitas keseharian saja masih mengeluh. Banyak tugas, musti begadang ngerjain tugas, padahal kalau di ibaratkan itu bukan dari tugas kampus, melainkan tugas kampus kehidupan, apa jadinya kehidupan ini? Kondisi semrawut, tak teratur.
Ketegasan dan sikap keras yang harus ditujukan pada diri kita adalah hal utama untuk memperbaiki kehidupan sekarang ini. Ketegasan niat, siap untuk berjuang walaupun sampai berdarah-darah, beraninya untuk meninggalkan zona nyaman, adalah hal yang seharusnya ditanamkan pada tiap diri mahasiswa sekarang. Bagaimana tidak? Sekarang kita memiliki posisi yang strategis untuk membuat sebuah perubahan. Ya, perubahan. Perubahan kearah lebih baik tentunya.
Sungguh, Indonesia saat ini membutuhkan temen-temen untuk bergerak. Bergerak menggerakan kesemrawutan ini menuju keteraturan. Berharap bukan menjadi pengekor, namun PELOPOR. Juga bukan berharap akan tertinggal sejarah peadapan, namun sebagai salah satu nama-nama yang tergores dalam cetakan sejarah.
Tak ada yang instan teman, semua butuh proses. Untuk menjadi seseorang seperti halnya akhlak Tariq bin Ziyad, membutuhkan waktu untuk belajar menempa diri sehingga kuat dan tegar. Diri kita pun tak semestinya merasa “sudah cukup untuk belajar” yang terkadang berorientasi belajar dikampus, padahal sesungguhnya kampus yang sebenarnya adalah “UNIVERSITAS KEHIDUPAN”. Dimana salah satunya kita belajar untuk mengemban amanah sebagai mahasiswa, lantas kemudian berkontribusi untuk INDONESIA.
Bersama-sama meraih Ridlo-Nya dengan melakukan yang terbaik untuk negri!
Semangat Dahsyat untuk PERUBAHAN!
Atik Setyoasih
Begitu kata Sang Panglima Thariq bin Ziyad saat pasukan sudah terkepung oleh musuh. Memang tak ada jalan lain, kecuali maju. Mundur dengan kekalahan oleh musuh atau maju dengan lindungan Allah? Begitulah keputusan sang panglima, meyakinkan anak buahnya untuk benar-benar ikhlas berperang di jalan Allah.
Pemimpin tidak akan bisa memimpin orang lain jika dirinya saja susah untuk memimpin diri sendiri. Bagaimana tidak, memimpin sebuah aktivitas keseharian saja masih mengeluh. Banyak tugas, musti begadang ngerjain tugas, padahal kalau di ibaratkan itu bukan dari tugas kampus, melainkan tugas kampus kehidupan, apa jadinya kehidupan ini? Kondisi semrawut, tak teratur.
Ketegasan dan sikap keras yang harus ditujukan pada diri kita adalah hal utama untuk memperbaiki kehidupan sekarang ini. Ketegasan niat, siap untuk berjuang walaupun sampai berdarah-darah, beraninya untuk meninggalkan zona nyaman, adalah hal yang seharusnya ditanamkan pada tiap diri mahasiswa sekarang. Bagaimana tidak? Sekarang kita memiliki posisi yang strategis untuk membuat sebuah perubahan. Ya, perubahan. Perubahan kearah lebih baik tentunya.
Sungguh, Indonesia saat ini membutuhkan temen-temen untuk bergerak. Bergerak menggerakan kesemrawutan ini menuju keteraturan. Berharap bukan menjadi pengekor, namun PELOPOR. Juga bukan berharap akan tertinggal sejarah peadapan, namun sebagai salah satu nama-nama yang tergores dalam cetakan sejarah.
Tak ada yang instan teman, semua butuh proses. Untuk menjadi seseorang seperti halnya akhlak Tariq bin Ziyad, membutuhkan waktu untuk belajar menempa diri sehingga kuat dan tegar. Diri kita pun tak semestinya merasa “sudah cukup untuk belajar” yang terkadang berorientasi belajar dikampus, padahal sesungguhnya kampus yang sebenarnya adalah “UNIVERSITAS KEHIDUPAN”. Dimana salah satunya kita belajar untuk mengemban amanah sebagai mahasiswa, lantas kemudian berkontribusi untuk INDONESIA.
Bersama-sama meraih Ridlo-Nya dengan melakukan yang terbaik untuk negri!
Semangat Dahsyat untuk PERUBAHAN!
Atik Setyoasih
BBELAJAR DARI IBU MENGHADAPI KEHIDUPAN …
Malam itu, hujan mengguyur Jogja sangat deras. Sejak sore hingga malam sekitas jam sembilan malam hujan belum reda. Tak bertanda hujan akan reda, malah semakin deras. Membuat diri ini ditakdirkan kehujanan lagi setelah tiga malam beturut-turut basah kedinginan sepulang dari bekerja di apotek dekat tugu jogja.
Aktifitas kuliah sejak pagi sampai sore yang kemudian dilanjutkan bekerja diapotek hari itu, membuat pikiran dan fisik lumayan terkuras. Aliran darah dari ujung kaki sampai ujung kepala begitu terasa. Membuat hatipun ikut merasakan kelelahan yang luar biasa. Perjalanan pulang bekerja yang seharusnya bisa ditempuh dalam setengah jam, harus ditempuh satu jam karena derasnya hujan dan tiupan angin sepanjang perjalanan. Pelan-pelan sambil bermuhasabah.
Pintu depan rumah masih membuka seperti biasa sehingga dari luar, motor langsung bisa masuk. Menandakan memang masih ditunggu oleh bapak ibu dirumah. Ternyata memang benar, dalam keadaan terbaring tidur dengan lampu dan televisi yang masih menyala, Emak menungguiku. Terlihat kantuk sedang menyelimuti ibu setelah seharian beraktivitas.
“Walah, uwes jam sepuluh. Kok lagi bali?”
“Enggeh Mak, udan deres. Alon-alon anggone numpak motor.”
Kaki yang basah serta tangan yang masih terasa sedikit sakit karena hantaman hujan deras membuatku bergegas segera membersihkan diri. Sementara itu, seperti biasa pula, Emak mengambilkan makanan dan membuatkanku segelas teh hangat untukku. Batinku, “Allohuakbar”. Emak begitu perhatian.
“Mamak meng olah-olah kuwi. Lek di ma`em,” kemudian kembali lagi tidur.
###
Kelelahanku secara fisik serta sedikit sesaknya nafas karena banyak hal yang dipikiran, menumbuhkan keingingin tubuh ini berebahan di samping Emak. Terlihat kerutan kulit di wajah serta kelelahan yang penuh makna telah menjadikannya penuh pesona untukku. Emak mengajarkanku bahwa Aku tidak sendiirian. Ada beliau dan Allah tentunya yang selalu membersamai. Kelelahan yang kurasakan belum tentu juga seperti kelelahan yang dialami Emak. Kemungkinan Emak lebih lelah, tak hanya fisik, tapi hati dan pikiran.
“Emak, Atik mau Tanya. Emak pingin nopo supoyo seneng? “
“Ono opo to? “
“Iya, Emak pingin Atik pripun supoyo Emak seneng? “
“Yo le sinau seng tenan. Le sekolah mbayare larang. Wes direwangi nyambut gawe mlaku rena-rene nganthi awakmu cilik, ditenani. Emak pingin sesuk uripmu kepenak, ora rekoso. Emak ora arep njalok nalika awakmu duwe duwet, seng tak jalok le sinau kudu pinter terus sukses. Emak ora iso menehi duwet, meng doa supaya sukses.”
Nggeh Mak.
Kesabaran menghadapi kehidupan, kesederhanaan hidup, tak matearialistis, penuh perhatian, kerja keras tiap hari tanpa henti, mengajarkan totalitas terhadap amanah, “melayani” penuh kasih sayang, menjadi hal dari Emak yang menjadi pelajaran berharga untukku menghadapi kehidupan. Memang sekarang, Emak sudah tak secantik seperti difoto kala muda dulu, tak berkulit putih seperti kebanyakan ibu-ibu yang sering kuliat, kulitnya tak sehalus sutera dikarenakan pekerjaannya yang berat, Tapi Emak adalah inspirasiku, mengajarkan diri ini menghadapi kerasnya hidup.
Jika kita keras terhadap hidup, maka hidup ini akan lunak terhadap diri kita, tapi jika kita lemah terhadap hidup, hidup akan membuatmu lemah. Itu kata Ustadku.
Keikhlasan “melayani” keluarga tanpa mengharap imbalan kecuali Ridla-Nya, mengajarkanku akan hakikatnya diri ini adalah milik Allah yang sejatinya menjadi “pelayan” umat untuk kehidupan lebih baik.
Membahagiakan orang tua bukanlah sebuah cita-cita yang direncanakan beberapa tahun kemudian, tetapi membahagiakan kedua oang tua terutama ibu adalah hal yang diharuskan saat ini juga.
Aku sayang Emak, semoga diri kita akan bersua di Surga-Nya bersama bahagia.
Teuntuk Ibuku yang menjadi salah satu penguatku untuk tetap dijalan-Nya.
Aktifitas kuliah sejak pagi sampai sore yang kemudian dilanjutkan bekerja diapotek hari itu, membuat pikiran dan fisik lumayan terkuras. Aliran darah dari ujung kaki sampai ujung kepala begitu terasa. Membuat hatipun ikut merasakan kelelahan yang luar biasa. Perjalanan pulang bekerja yang seharusnya bisa ditempuh dalam setengah jam, harus ditempuh satu jam karena derasnya hujan dan tiupan angin sepanjang perjalanan. Pelan-pelan sambil bermuhasabah.
Pintu depan rumah masih membuka seperti biasa sehingga dari luar, motor langsung bisa masuk. Menandakan memang masih ditunggu oleh bapak ibu dirumah. Ternyata memang benar, dalam keadaan terbaring tidur dengan lampu dan televisi yang masih menyala, Emak menungguiku. Terlihat kantuk sedang menyelimuti ibu setelah seharian beraktivitas.
“Walah, uwes jam sepuluh. Kok lagi bali?”
“Enggeh Mak, udan deres. Alon-alon anggone numpak motor.”
Kaki yang basah serta tangan yang masih terasa sedikit sakit karena hantaman hujan deras membuatku bergegas segera membersihkan diri. Sementara itu, seperti biasa pula, Emak mengambilkan makanan dan membuatkanku segelas teh hangat untukku. Batinku, “Allohuakbar”. Emak begitu perhatian.
“Mamak meng olah-olah kuwi. Lek di ma`em,” kemudian kembali lagi tidur.
###
Kelelahanku secara fisik serta sedikit sesaknya nafas karena banyak hal yang dipikiran, menumbuhkan keingingin tubuh ini berebahan di samping Emak. Terlihat kerutan kulit di wajah serta kelelahan yang penuh makna telah menjadikannya penuh pesona untukku. Emak mengajarkanku bahwa Aku tidak sendiirian. Ada beliau dan Allah tentunya yang selalu membersamai. Kelelahan yang kurasakan belum tentu juga seperti kelelahan yang dialami Emak. Kemungkinan Emak lebih lelah, tak hanya fisik, tapi hati dan pikiran.
“Emak, Atik mau Tanya. Emak pingin nopo supoyo seneng? “
“Ono opo to? “
“Iya, Emak pingin Atik pripun supoyo Emak seneng? “
“Yo le sinau seng tenan. Le sekolah mbayare larang. Wes direwangi nyambut gawe mlaku rena-rene nganthi awakmu cilik, ditenani. Emak pingin sesuk uripmu kepenak, ora rekoso. Emak ora arep njalok nalika awakmu duwe duwet, seng tak jalok le sinau kudu pinter terus sukses. Emak ora iso menehi duwet, meng doa supaya sukses.”
Nggeh Mak.
Kesabaran menghadapi kehidupan, kesederhanaan hidup, tak matearialistis, penuh perhatian, kerja keras tiap hari tanpa henti, mengajarkan totalitas terhadap amanah, “melayani” penuh kasih sayang, menjadi hal dari Emak yang menjadi pelajaran berharga untukku menghadapi kehidupan. Memang sekarang, Emak sudah tak secantik seperti difoto kala muda dulu, tak berkulit putih seperti kebanyakan ibu-ibu yang sering kuliat, kulitnya tak sehalus sutera dikarenakan pekerjaannya yang berat, Tapi Emak adalah inspirasiku, mengajarkan diri ini menghadapi kerasnya hidup.
Jika kita keras terhadap hidup, maka hidup ini akan lunak terhadap diri kita, tapi jika kita lemah terhadap hidup, hidup akan membuatmu lemah. Itu kata Ustadku.
Keikhlasan “melayani” keluarga tanpa mengharap imbalan kecuali Ridla-Nya, mengajarkanku akan hakikatnya diri ini adalah milik Allah yang sejatinya menjadi “pelayan” umat untuk kehidupan lebih baik.
Membahagiakan orang tua bukanlah sebuah cita-cita yang direncanakan beberapa tahun kemudian, tetapi membahagiakan kedua oang tua terutama ibu adalah hal yang diharuskan saat ini juga.
Aku sayang Emak, semoga diri kita akan bersua di Surga-Nya bersama bahagia.
Teuntuk Ibuku yang menjadi salah satu penguatku untuk tetap dijalan-Nya.
Minggu, 28 Agustus 2011
Pekerjaan Berbalaskan Surga
Bekerja untuk hidup atau hidup untuk bekerja? Pertanyaan sederhana yang mungkin harus kita jawab sebelum melakukan sebuah pekerjaan. Entah itu berupa pekerjaan mencari nafkah atau tidak mencari nafkah. Karena alasan itulah yang akan menjadi salah satu faktor layak dan tidaknya seseorang mendapat balasan dari Sang Maha Pemberi Balasan.
Sebagai makhluk ciptaan-Nya yang diciptakan dengan sebaik-baik penciptaan*1, wajiblah kita harus selalu bersyukur. Beribadah yang sungguh-sungguh dan bermanfaat kepada orang lain adalah bentuk dari rasa syukur yang harus kita lakukan. Termasuk bekerja. Baik bekerja sebagai seorang pelajar atau seorang pengajar atau apapun itu.
Satu hal penting yang harus kita sadari, bahwa saat ini kita sedang melakukan perniagaan kepada Allah. Perniagaan yang tidak akan pernah ada yang merasa dirugikan. Allah telah memberikan banyak nikmat yang itu bisa dijadikan modal untuk berdagang dengan-Nya. Bukan sebuah transaksi uang, tapi transaksi amalan ibadah. Baik kepada Allah atau pada alam semesta (rohmatan lil`alamin).
Dan balasan dari perniagaan itu adalah surga...
Perumpamaan surga yang dijanjikan kepada orang yang bertaqwa,(ialah seperti taman),mengalir dibawahnya sungai-sungai, senantiasa berbuah dan teduh. Itulah tempat kesudahan bagi orang yang bertaqwa, ... *2
At-Tin:4*1
Ar-Ra`ad: 35*2
annafi`ah firdaus
Sebagai makhluk ciptaan-Nya yang diciptakan dengan sebaik-baik penciptaan*1, wajiblah kita harus selalu bersyukur. Beribadah yang sungguh-sungguh dan bermanfaat kepada orang lain adalah bentuk dari rasa syukur yang harus kita lakukan. Termasuk bekerja. Baik bekerja sebagai seorang pelajar atau seorang pengajar atau apapun itu.
Satu hal penting yang harus kita sadari, bahwa saat ini kita sedang melakukan perniagaan kepada Allah. Perniagaan yang tidak akan pernah ada yang merasa dirugikan. Allah telah memberikan banyak nikmat yang itu bisa dijadikan modal untuk berdagang dengan-Nya. Bukan sebuah transaksi uang, tapi transaksi amalan ibadah. Baik kepada Allah atau pada alam semesta (rohmatan lil`alamin).
Dan balasan dari perniagaan itu adalah surga...
Perumpamaan surga yang dijanjikan kepada orang yang bertaqwa,(ialah seperti taman),mengalir dibawahnya sungai-sungai, senantiasa berbuah dan teduh. Itulah tempat kesudahan bagi orang yang bertaqwa, ... *2
At-Tin:4*1
Ar-Ra`ad: 35*2
annafi`ah firdaus
Kamis, 02 Desember 2010
Kala Cinta Menggoda Jiwa
Di tengah riuhnya beberapa orang di dalam kelas, aku duduk diatas kursi panjang berwarna cokelat tua depan kelas 2C menghadap arah barat. Sendirian. Mata memandang arah langit bagian barat yang mulai berwarna orange. Tampak matahari sedang berjalan menuju persembunyiannya. Pertanda malam akan datang menggantikan siang. Allohuakbar. Kupejamkan mata. Angin semilir menerpa tubuhku, lembut, dan terasa begitu damai. Menikmati akan aliran darah yang menggeliak dari ujung kepala turun ke ujung kaki. Terasa nikmat. Seakan air mata akan mengalir deras merasakan begitu lelahnya hari ini.
Tapi kumerasa ada sesuatu yang menjanggal. Ya ada. Mengganggu pikiranku beberapa hari ini. Hatiku sedikit resah. Memikirkan apakah aku sudah melakukan sebuah perzinaan. Bukan pacaran. Tapi sebuah zina pikiran? Ku ingin bertanya dan berkonsultasi pada seorang teman, tapi malu.
Angin semilir masih bisa kurasakan begitu nyaman. Masuk kedalam balutan kain di tubuhku. Begitu nyaman walaupun hati ini merasakan begitu resah.
Tiba-tiba dari arah selatan, temenku datang dan mengagetkanku. Dila namanya. Temen yang lumayan deket denganku, ketua rohis SMF.
"Hayo lagi ngapain kamu di sini? Ngelamun ya?", duduk di sampingku tanpa minta izin sehingga membuat ku sedikit kaget dan terbukanya pejaman kedua mataku.
"Enggak lagi ngapa-ngapain kok Dil", sembari dalam hati ku berkata sepertinya ini adalah kesempatan untuk sedikit cerita mengenai kegalauan yang kurasa.
"Beneran?" Dila agak merunduk dan menatap wajahku penuh tanya.
"Wah, dari pada aku resah terus, lebih baik aku cerita pada Dila. Mungkin nanti dapat solusi yang syar`i. Bismillah lah", keputusanku untuk mencari solusi dari keresahan yang aku rasa dalam hati.
"Sebenarnya gini Dil, tapi Insya Alloh aku percaya sama kamu ya? Jangan bilang sama siapa-siapa. Aku ingin mencari solusi dari sedikit masalah yang sedang aku rasakan sekarang."
"Iya, Insya Alloh".
"Aku mau tanya dulu sama anti, pernah tidak suka sama seorang ikhwan?", tanyaku dengan sedikit suara lirih pada Dila.
"Maksudmu Tik?", Dila terlihat kaget melihat pertanyaan ku.
"Itu hal yang sekarang aku rasakan. Hatiku sedang resah Dil. Memikirkan apakah aku sekarang sedang zina. Zina pikiran. Aku bingung menyikapi perasaan ini. Aduuuuuuuh...Jadi sedikit pusing," dada terasa sesak, mengangkat badan dan memegangi kepala yang terasa pusing.
Dikala kita berdua lagi mau serius, Yanti, seorang temanku datang menghampiri kami. Membuat suasana menjadi tak serius.
"Cie...Tika curhat ni yeee. Curhat apa Tik? Aku tau lho yang dirasakan Tika sekarang", mendesak duduk di samping kiriku.
"Iiiiih...pergi sana. Ini rahasia aku sama Dila. Mau tau aja," Kudorong Yanti sampai badannya condong ingin jatuh.
"Aku tau, aku tau," Yanti semakin menjadikan aku salah tingkah.
"Terpesona...kepada pandangan pertama, haha," Yanti nyanyi dengan suara yang cukup merdu dan kemudian pergi dan melanjutkan geguyonnanya dengan teman-teman di kelas.
"Sampai mana tadi Dil?", lanjutku bertanya kepada Dila untuk menyambung diskusi.
"Kalau menurutku begini. Karena kita sekarang masih sekolah dan kalau secara pribadi aku sendiri belum siap untuk menikah, kita gunakan waktu sebelum menikah itu untuk melakukan perbaikan diri. Perbaikan diri menjadi insan berkualitas yang lebih baik. Insya Alloh orang yang baik itu akan mendapatkan jodoh yang baik kok. Lebih baik sekarang kita menciptakan prestasi-prestasi. Baik prestasi dunia kayak akademis, ataupun prestasi akhirat, kayak ngajinya ditambah. Seperti itu pendapatku. Lakukanlah hal-hal yang membuatmu bisa menjadi lebih baik. Jadikanlah harapan menjadi pendamping orang sholeh itu salah satu diantara banyak motivasi untuk lebih baik. Wanita sholehah Insya Alloh dapat laki-laki sholeh. Emang siapa Tik ikhwan itu? Boleh nebak Gak? Jangan-jangan...?", belum selesai Dila melanjutkan pertanyaannya, langsung kupotong pembicaraannya.
"Gak usah gak usah aja. Tambah malu aku nanti," ku berdiri dari dudukku dan agak salah tingkah karena takut tebakan Dila itu benar.
"Bagaimana? Udah sedikit tenang?"
"Insya Alloh sudah lebih tenang, yach...perbaikan diri."
Bel tanda masuk jam ke-7 berbunyi. Masuk kelas. Tapi alhamdulillah, kosong. Ingin segera rebahan di kamar kos. Memikirkan kembali hal apa yang harus aku perbaiki.
***
Penantian itu satu penyiksaan.
kepastian membunuh kerisauan.
ketabahan pendamai keresahan.
(Firdaus, Cinta dan Harapan)
Sepenggal lagu yang baru saja aku dengar secara tidak sengaja di radio kesayanganku, membuatku tau apa yang harus aku lakukan. Ya, kepastian. Aku butuh kepastian. Tapi kepastian apa? Kepastian menikah? Tidak! Belum siap! Sekolah aja belum lulus. Nilai ulangan aja pas-pas-an!.
Besok pagi kuputuskan mau cari buku. Mungkin ada buku yang bisa menjawab kegalauanku. Alhamdulillah memang besok tidak ada jadwal pagi, jadi bisa ke toko buku.
***
Ku mencari-cari dibagian buku islami. Ku berdiri di samping jejeran-jejeran buku terbitan Pro-U. Jalan Cinta Para Pejuang, Bikin Belajar Selezat Cokelat, Nikmatnya Pacaran Setelah Pernikahan, Ramadhan Return, Saatnya untuk Menikah, adalah beberapa dari sebagian banyaknya buku terbitan Pro-U. Batinku bertanya, "Kenapa kebanyakan tentang nikah ya?hehe."
Terlihat di tengah-tengah hamparan buku, "Kujemput Jodohku", sebuah buku yang pertama kali aku membaca judulnya saja membuatku mengkerutkan wajah terheran-heran. Hah? Kujemput jodohku? Alamaak. Enggak-enggak. Masih kecil. Masih sekolah. Tidak!
Tapi rasa penasaran memuncak. "Apa sich isinya?", batinku bertanya.
Kubaca bagian sampul belakang. Paragraf pertama bertuliskan, "Ya Akhi, jika engkau saat ini sedang mengalami kesendirian dalam menanti sang pujaan, yakinlah bahwa dirinya yang akan segera diberikan sedang melakukan hal yang sama. Si dia sedang dididik dan di tempa oleh-Nya untuk menjadi pendamping lelaki pilihan sepertimu". Paragraf kedua," Ya Ukhti, engkaupun demikian. Jangan berkecil hati dan sempit pandangan hanya karena si dia yang pernah menjadi pujaan, diyakini menjadi teman perjuangan, justru bukan sebaik-baik pilihan. Alloh pasti sudah menyiapkan gantinya yang jauh lebih baik, jauh lebih shaleh, jika engkau berupaya menjaga dirimu."
Heh? Ku menggaruk-garuk kepala. "Pikiran belum sampai", pikirku. Tapi kalimat yang ditujukan seorang ukhti, di bagian akhir, jika engkau berupaya menjaga dirimu membuatku berpikir sejenak. Menjaga? Menjaga dengan melakukan perbaikan diri mungkin maksud dari penulis. Mungkin akan aku temukan dalam buku ini bagaimana menjaga diri. Ya udah deh, kuputuskan untuk membeli buku ini.
Di samping buku Kujemput Jodohku, terlihat buku bagian atas bewarna orange, sampul bergambarkan laki-laki membuka baju sehingga terlihat kaos dalam berwarna merah dan bertuliskan "Buktikan Cintamu". Buku yang seakan menantang pembaca. "Bicara tentang cinta tidak harus masalah pacaran, bicara cinta tidak harus masalah seks, ada yang lebih dahsyat dari itu, dan itu ada di sini, buktikan cintamu!!", kalimat yang tertuliskan di sampul bagian depan membuatku tersihir membeli buku itu. "Kayaknya menarik kalau buku ini aku baca", batinku meyakinkan memang aku harus beli buku ini.
Aku pulang dengan membawa dua buku itu.
***
Sampai kos, rasanya aku ingin sekali cepat-cepat membaca buku itu, Ingin ku temukan solusi-solusi keresahanku beberapa hari ini. Walaupun sebenarnya perut sudah meminta untuk diisi. Tak kupikirkan.
Ku buka kata pengantar dari penulis buku "Buktikan Cintamu" karya Muhammad Nazhif Masykur. Sebuah kalimat yang aku garis bawahi dengan tinta hitam, Tapi ingat, ada cinta yang terukir indah dalam naungan cinta Alloh dan Rosul-Nya. Apa itu? Cinta kepada Islam, cinta kepada sesama saudara seiman, cinta pada keadilan, cinta akan amanah waktu, cinta terhadap pemberantasan segala level kejahatan dan perampasan hak asasi manusia, cinta pada ajaran dan tuntunan yang benar. Subhanalloh. Ini yang aku cari. Inilah nasehat yang aku inginkan. Cinta. Bagaimana aku harus meletakkan cintaku. Bukan pada seorang anak adam yang tidak tau itu baik atau burukkah untukku. Cinta yang hakiki. Cinta yang hanya untuk Alloh. Cinta yang meneguhkanku untuk terus istiqomah di jalan-Nya. Cinta yang akan melahirkan karya-karya besar untuk membuat perubahan dalam peradapan Islam. Peradapan Islam yang modern tapi tetap berpegang teguh pada Al-Quran dan hadist sebagai landasan kehidupan.
Buku kedua yang aku beli, Kujemput Jodohku karya Fadlan Al-Ikhwani. Kubuka daftar isi. Kutemukan judul sub bab, Dari Prestasi Menjadi Prasasti. Yach. Gali potensi, menjadi rajawali yang mencari jati diri, punya sebuah karya yang bermanfaat bagi orang lain, dan menjadi orang yang berpengaruh dalam sejarah. Beberapa point penting yang kemudian aku tulis di sebuah kertas bekas kalender dengan tinta merah dan kutempelkan di dinding kamar kos menghadap arah tempat tidurku.
Hatiku mulai tenang mendapatkan solusi atas keresahan ini. Ku dapatkan inspirasi baru untuk membuat prioritas dalam menaruh cinta. Cinta kepada Alloh dan Rosul adalah cinta di atas segalanya. Cinta yang melahirkan semangat untuk berprestasi, membuat karya, dan menjadi orang yang memberi manfaat kepada orang lain.
"Ya. Aku harus lebih bersemangat, terutama semangat beribadah. Belajar juga. Harus fokus dengan impian. Menjadi "The Great Internatinal Pharmacist Community". Dari pada pikiran selalu berzina, lebih baik untuk memikirkan akan kekuasaan Alloh. Dari pada Hati selalu merasakan hal yang 'munkar', lebih baik untuk merasakan perjuangan-perjuangan yang harus aku lakukan untuk memberikan yang terbaik untuk semua orang."
"Kala cinta dunia mengoda, kau harus beristighfar dan jadikanlah sarana untuk lebih dekat pada-Nya dengan melakukan perbaikan diri. Kala kau tergoda dengan cinta akhirat, maka bersyukurlah dan beribadahlah dengan sebaik-baiknya ibadah. Masih banyak orang yang menunggu kesuksesanmu Tik. Buktikan cintamu!", nasehat untuk diriku sendiri dari hati.
Oke, aku berjanji pada diriku sendiri bahwa akan ku buktikan cintaku pada Alloh, orang tua, agama, bangsa. Akan ku mulai dari detik ini. Hari ini ulangan Farmakognosi, Ilmu resep, adminitrasi, sinonim. Insya Alloh, Alloh akan memberikanku kemudahan.
Suara adzan memanggil. Ku terperanjak dari duduk dan kusegerakan mengambil air wudhu untuk menyegarkan kembali pikiran-pikiran tidak baik yang pernah terlintas. Kan buktikan cintaku pada semua orang dengan terus melakukan perbaikan diri sehingga kan kujemput jodohku dengan senyuman bahagia. Semoga Alloh memperkenankan. Amin.
Kutulis, 30 November 2010 19.30 ( Rumah, Pajangan Bantul) sampai 1 Desember 2010 12.30 (Posko Tim Tombo Ati, karangwaru Lor TR/2 No.376)
Kisah ini untuk diikutsertakan dalam Lomba Kisah Menggugah Pro-U Media 2010 di http://proumedia.blogspot.com/2010/10/lomba-kisah-pendek-menggugah-pro-u.html
Tapi kumerasa ada sesuatu yang menjanggal. Ya ada. Mengganggu pikiranku beberapa hari ini. Hatiku sedikit resah. Memikirkan apakah aku sudah melakukan sebuah perzinaan. Bukan pacaran. Tapi sebuah zina pikiran? Ku ingin bertanya dan berkonsultasi pada seorang teman, tapi malu.
Angin semilir masih bisa kurasakan begitu nyaman. Masuk kedalam balutan kain di tubuhku. Begitu nyaman walaupun hati ini merasakan begitu resah.
Tiba-tiba dari arah selatan, temenku datang dan mengagetkanku. Dila namanya. Temen yang lumayan deket denganku, ketua rohis SMF.
"Hayo lagi ngapain kamu di sini? Ngelamun ya?", duduk di sampingku tanpa minta izin sehingga membuat ku sedikit kaget dan terbukanya pejaman kedua mataku.
"Enggak lagi ngapa-ngapain kok Dil", sembari dalam hati ku berkata sepertinya ini adalah kesempatan untuk sedikit cerita mengenai kegalauan yang kurasa.
"Beneran?" Dila agak merunduk dan menatap wajahku penuh tanya.
"Wah, dari pada aku resah terus, lebih baik aku cerita pada Dila. Mungkin nanti dapat solusi yang syar`i. Bismillah lah", keputusanku untuk mencari solusi dari keresahan yang aku rasa dalam hati.
"Sebenarnya gini Dil, tapi Insya Alloh aku percaya sama kamu ya? Jangan bilang sama siapa-siapa. Aku ingin mencari solusi dari sedikit masalah yang sedang aku rasakan sekarang."
"Iya, Insya Alloh".
"Aku mau tanya dulu sama anti, pernah tidak suka sama seorang ikhwan?", tanyaku dengan sedikit suara lirih pada Dila.
"Maksudmu Tik?", Dila terlihat kaget melihat pertanyaan ku.
"Itu hal yang sekarang aku rasakan. Hatiku sedang resah Dil. Memikirkan apakah aku sekarang sedang zina. Zina pikiran. Aku bingung menyikapi perasaan ini. Aduuuuuuuh...Jadi sedikit pusing," dada terasa sesak, mengangkat badan dan memegangi kepala yang terasa pusing.
Dikala kita berdua lagi mau serius, Yanti, seorang temanku datang menghampiri kami. Membuat suasana menjadi tak serius.
"Cie...Tika curhat ni yeee. Curhat apa Tik? Aku tau lho yang dirasakan Tika sekarang", mendesak duduk di samping kiriku.
"Iiiiih...pergi sana. Ini rahasia aku sama Dila. Mau tau aja," Kudorong Yanti sampai badannya condong ingin jatuh.
"Aku tau, aku tau," Yanti semakin menjadikan aku salah tingkah.
"Terpesona...kepada pandangan pertama, haha," Yanti nyanyi dengan suara yang cukup merdu dan kemudian pergi dan melanjutkan geguyonnanya dengan teman-teman di kelas.
"Sampai mana tadi Dil?", lanjutku bertanya kepada Dila untuk menyambung diskusi.
"Kalau menurutku begini. Karena kita sekarang masih sekolah dan kalau secara pribadi aku sendiri belum siap untuk menikah, kita gunakan waktu sebelum menikah itu untuk melakukan perbaikan diri. Perbaikan diri menjadi insan berkualitas yang lebih baik. Insya Alloh orang yang baik itu akan mendapatkan jodoh yang baik kok. Lebih baik sekarang kita menciptakan prestasi-prestasi. Baik prestasi dunia kayak akademis, ataupun prestasi akhirat, kayak ngajinya ditambah. Seperti itu pendapatku. Lakukanlah hal-hal yang membuatmu bisa menjadi lebih baik. Jadikanlah harapan menjadi pendamping orang sholeh itu salah satu diantara banyak motivasi untuk lebih baik. Wanita sholehah Insya Alloh dapat laki-laki sholeh. Emang siapa Tik ikhwan itu? Boleh nebak Gak? Jangan-jangan...?", belum selesai Dila melanjutkan pertanyaannya, langsung kupotong pembicaraannya.
"Gak usah gak usah aja. Tambah malu aku nanti," ku berdiri dari dudukku dan agak salah tingkah karena takut tebakan Dila itu benar.
"Bagaimana? Udah sedikit tenang?"
"Insya Alloh sudah lebih tenang, yach...perbaikan diri."
Bel tanda masuk jam ke-7 berbunyi. Masuk kelas. Tapi alhamdulillah, kosong. Ingin segera rebahan di kamar kos. Memikirkan kembali hal apa yang harus aku perbaiki.
***
Penantian itu satu penyiksaan.
kepastian membunuh kerisauan.
ketabahan pendamai keresahan.
(Firdaus, Cinta dan Harapan)
Sepenggal lagu yang baru saja aku dengar secara tidak sengaja di radio kesayanganku, membuatku tau apa yang harus aku lakukan. Ya, kepastian. Aku butuh kepastian. Tapi kepastian apa? Kepastian menikah? Tidak! Belum siap! Sekolah aja belum lulus. Nilai ulangan aja pas-pas-an!.
Besok pagi kuputuskan mau cari buku. Mungkin ada buku yang bisa menjawab kegalauanku. Alhamdulillah memang besok tidak ada jadwal pagi, jadi bisa ke toko buku.
***
Ku mencari-cari dibagian buku islami. Ku berdiri di samping jejeran-jejeran buku terbitan Pro-U. Jalan Cinta Para Pejuang, Bikin Belajar Selezat Cokelat, Nikmatnya Pacaran Setelah Pernikahan, Ramadhan Return, Saatnya untuk Menikah, adalah beberapa dari sebagian banyaknya buku terbitan Pro-U. Batinku bertanya, "Kenapa kebanyakan tentang nikah ya?hehe."
Terlihat di tengah-tengah hamparan buku, "Kujemput Jodohku", sebuah buku yang pertama kali aku membaca judulnya saja membuatku mengkerutkan wajah terheran-heran. Hah? Kujemput jodohku? Alamaak. Enggak-enggak. Masih kecil. Masih sekolah. Tidak!
Tapi rasa penasaran memuncak. "Apa sich isinya?", batinku bertanya.
Kubaca bagian sampul belakang. Paragraf pertama bertuliskan, "Ya Akhi, jika engkau saat ini sedang mengalami kesendirian dalam menanti sang pujaan, yakinlah bahwa dirinya yang akan segera diberikan sedang melakukan hal yang sama. Si dia sedang dididik dan di tempa oleh-Nya untuk menjadi pendamping lelaki pilihan sepertimu". Paragraf kedua," Ya Ukhti, engkaupun demikian. Jangan berkecil hati dan sempit pandangan hanya karena si dia yang pernah menjadi pujaan, diyakini menjadi teman perjuangan, justru bukan sebaik-baik pilihan. Alloh pasti sudah menyiapkan gantinya yang jauh lebih baik, jauh lebih shaleh, jika engkau berupaya menjaga dirimu."
Heh? Ku menggaruk-garuk kepala. "Pikiran belum sampai", pikirku. Tapi kalimat yang ditujukan seorang ukhti, di bagian akhir, jika engkau berupaya menjaga dirimu membuatku berpikir sejenak. Menjaga? Menjaga dengan melakukan perbaikan diri mungkin maksud dari penulis. Mungkin akan aku temukan dalam buku ini bagaimana menjaga diri. Ya udah deh, kuputuskan untuk membeli buku ini.
Di samping buku Kujemput Jodohku, terlihat buku bagian atas bewarna orange, sampul bergambarkan laki-laki membuka baju sehingga terlihat kaos dalam berwarna merah dan bertuliskan "Buktikan Cintamu". Buku yang seakan menantang pembaca. "Bicara tentang cinta tidak harus masalah pacaran, bicara cinta tidak harus masalah seks, ada yang lebih dahsyat dari itu, dan itu ada di sini, buktikan cintamu!!", kalimat yang tertuliskan di sampul bagian depan membuatku tersihir membeli buku itu. "Kayaknya menarik kalau buku ini aku baca", batinku meyakinkan memang aku harus beli buku ini.
Aku pulang dengan membawa dua buku itu.
***
Sampai kos, rasanya aku ingin sekali cepat-cepat membaca buku itu, Ingin ku temukan solusi-solusi keresahanku beberapa hari ini. Walaupun sebenarnya perut sudah meminta untuk diisi. Tak kupikirkan.
Ku buka kata pengantar dari penulis buku "Buktikan Cintamu" karya Muhammad Nazhif Masykur. Sebuah kalimat yang aku garis bawahi dengan tinta hitam, Tapi ingat, ada cinta yang terukir indah dalam naungan cinta Alloh dan Rosul-Nya. Apa itu? Cinta kepada Islam, cinta kepada sesama saudara seiman, cinta pada keadilan, cinta akan amanah waktu, cinta terhadap pemberantasan segala level kejahatan dan perampasan hak asasi manusia, cinta pada ajaran dan tuntunan yang benar. Subhanalloh. Ini yang aku cari. Inilah nasehat yang aku inginkan. Cinta. Bagaimana aku harus meletakkan cintaku. Bukan pada seorang anak adam yang tidak tau itu baik atau burukkah untukku. Cinta yang hakiki. Cinta yang hanya untuk Alloh. Cinta yang meneguhkanku untuk terus istiqomah di jalan-Nya. Cinta yang akan melahirkan karya-karya besar untuk membuat perubahan dalam peradapan Islam. Peradapan Islam yang modern tapi tetap berpegang teguh pada Al-Quran dan hadist sebagai landasan kehidupan.
Buku kedua yang aku beli, Kujemput Jodohku karya Fadlan Al-Ikhwani. Kubuka daftar isi. Kutemukan judul sub bab, Dari Prestasi Menjadi Prasasti. Yach. Gali potensi, menjadi rajawali yang mencari jati diri, punya sebuah karya yang bermanfaat bagi orang lain, dan menjadi orang yang berpengaruh dalam sejarah. Beberapa point penting yang kemudian aku tulis di sebuah kertas bekas kalender dengan tinta merah dan kutempelkan di dinding kamar kos menghadap arah tempat tidurku.
Hatiku mulai tenang mendapatkan solusi atas keresahan ini. Ku dapatkan inspirasi baru untuk membuat prioritas dalam menaruh cinta. Cinta kepada Alloh dan Rosul adalah cinta di atas segalanya. Cinta yang melahirkan semangat untuk berprestasi, membuat karya, dan menjadi orang yang memberi manfaat kepada orang lain.
"Ya. Aku harus lebih bersemangat, terutama semangat beribadah. Belajar juga. Harus fokus dengan impian. Menjadi "The Great Internatinal Pharmacist Community". Dari pada pikiran selalu berzina, lebih baik untuk memikirkan akan kekuasaan Alloh. Dari pada Hati selalu merasakan hal yang 'munkar', lebih baik untuk merasakan perjuangan-perjuangan yang harus aku lakukan untuk memberikan yang terbaik untuk semua orang."
"Kala cinta dunia mengoda, kau harus beristighfar dan jadikanlah sarana untuk lebih dekat pada-Nya dengan melakukan perbaikan diri. Kala kau tergoda dengan cinta akhirat, maka bersyukurlah dan beribadahlah dengan sebaik-baiknya ibadah. Masih banyak orang yang menunggu kesuksesanmu Tik. Buktikan cintamu!", nasehat untuk diriku sendiri dari hati.
Oke, aku berjanji pada diriku sendiri bahwa akan ku buktikan cintaku pada Alloh, orang tua, agama, bangsa. Akan ku mulai dari detik ini. Hari ini ulangan Farmakognosi, Ilmu resep, adminitrasi, sinonim. Insya Alloh, Alloh akan memberikanku kemudahan.
Suara adzan memanggil. Ku terperanjak dari duduk dan kusegerakan mengambil air wudhu untuk menyegarkan kembali pikiran-pikiran tidak baik yang pernah terlintas. Kan buktikan cintaku pada semua orang dengan terus melakukan perbaikan diri sehingga kan kujemput jodohku dengan senyuman bahagia. Semoga Alloh memperkenankan. Amin.
Kutulis, 30 November 2010 19.30 ( Rumah, Pajangan Bantul) sampai 1 Desember 2010 12.30 (Posko Tim Tombo Ati, karangwaru Lor TR/2 No.376)
Kisah ini untuk diikutsertakan dalam Lomba Kisah Menggugah Pro-U Media 2010 di http://proumedia.blogspot.com/2010/10/lomba-kisah-pendek-menggugah-pro-u.html
Senin, 30 Agustus 2010
Because of Alloh and Jannah`s Alloh
Seorang ibu mempunyai 3 anak. Anak pertama dikirimnya ke medan juang. Kemudian dikabarkan anak tersebut meninggal. Tetapi Si Ibupun tidak menangis ataupun merasa sedih, Bahkan malah tersenyum. Begitupun seterusnya terjadi pada anak ke-2 dan anak ke-3.
Tau tak kenapa Si Ibu tidak menangis atas meninggalnya si anak pertama, kedua, bahkan sampai ketiga??
That is the power of motivation. Mother`s Motivation for ALLOH, Jannah`s Alloh. Motivasi yang benar dan memang BENAR serta BESAR yaitu karena ALLOH. Kekuatan motivasi yang melahirkan JIWA PEMENANG dunia akhirat. Kekuatan motivasi yang menjadikan jiwa-jiwa tegar dan ikhlas menjalankan perintah-Nya. Kekuatan motivasi Si Ibu yang rela membiarkan anaknya ke medan perang dengan tujuan mengantarkan anaknya menuju mati Syahid.
Dari Amirul Mukminin Abu Hafsh Umar Bin Khatab Ra, ia berkata: ‘Aku mendengar Rasululloh SAW bersabda:” Sesungguhnya segala amal itu tergantung apa yang diniatkannya. Barang siapa hijrahnya menuju Alloh dan Rasul-Nya, maka hijrahnya akan sampai kepada Alloh dan Rosul-Nya dan barang siapa hijrahnya untuk dunia atau wanita yang dinikahinya, maka hijrahnya akan sampai kepada apa yang diniatkanya.”(HR Al Bukhori, Muslim, Abu Dawud, At Tirmidzi, An Nasai, dan Ibnu Majah).
Oke lah kalau begitu, harrusss dan sepatutnya dong kita sekarang mengoreksi diri kita. Motivasi apakah yang mendorong kita untuk melangkah?Karena Alloh atau karena manusia?
Kalau karena manusia, sudah tentu seperti dalam hadist. Kita hanya akan mendapatkan apa yang sekedar kita inginkan di dunia. Tetapi jika kita meniatkan segala sesuatu itu karena Alloh, Insya Alloh, Alloh akan memberikan sesuai yang kita inginkan, bahkan bisa lebih, ditambah lagi mendapatkan Ridho-Nya. Wallohuallam bishowab.
Tau tak kenapa Si Ibu tidak menangis atas meninggalnya si anak pertama, kedua, bahkan sampai ketiga??
That is the power of motivation. Mother`s Motivation for ALLOH, Jannah`s Alloh. Motivasi yang benar dan memang BENAR serta BESAR yaitu karena ALLOH. Kekuatan motivasi yang melahirkan JIWA PEMENANG dunia akhirat. Kekuatan motivasi yang menjadikan jiwa-jiwa tegar dan ikhlas menjalankan perintah-Nya. Kekuatan motivasi Si Ibu yang rela membiarkan anaknya ke medan perang dengan tujuan mengantarkan anaknya menuju mati Syahid.
Dari Amirul Mukminin Abu Hafsh Umar Bin Khatab Ra, ia berkata: ‘Aku mendengar Rasululloh SAW bersabda:” Sesungguhnya segala amal itu tergantung apa yang diniatkannya. Barang siapa hijrahnya menuju Alloh dan Rasul-Nya, maka hijrahnya akan sampai kepada Alloh dan Rosul-Nya dan barang siapa hijrahnya untuk dunia atau wanita yang dinikahinya, maka hijrahnya akan sampai kepada apa yang diniatkanya.”(HR Al Bukhori, Muslim, Abu Dawud, At Tirmidzi, An Nasai, dan Ibnu Majah).
Oke lah kalau begitu, harrusss dan sepatutnya dong kita sekarang mengoreksi diri kita. Motivasi apakah yang mendorong kita untuk melangkah?Karena Alloh atau karena manusia?
Kalau karena manusia, sudah tentu seperti dalam hadist. Kita hanya akan mendapatkan apa yang sekedar kita inginkan di dunia. Tetapi jika kita meniatkan segala sesuatu itu karena Alloh, Insya Alloh, Alloh akan memberikan sesuai yang kita inginkan, bahkan bisa lebih, ditambah lagi mendapatkan Ridho-Nya. Wallohuallam bishowab.
Langganan:
Postingan (Atom)